TUAN MUDA POSESIF

TUAN MUDA POSESIF
Untung Atau Buntung?


__ADS_3

Antara cinta, benci, dan obsesi itu berbeda tipis, tidak jarang terkadang kita salah mengartikan apa yang sedang kita rasakan.


Setelah Daniel menyebutkan nama Azkia, suasana lenggang di restoran itu terasa semakin hening dalam sekejap, semua orang sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Azkia yang terkejut mendengar namanya dipanggil dengan suara orang yang tidak asing, semakin mengeratkan pegangan tangannya di genggaman tangan Deffin.


Sedangkan Deffin perasaannya sudah tidak karuan, merasakan Azkia menggenggam erat tangannya, hatinya juga ikut terasa diremas.


Berarti Azkia masih sangatlah ingat dengan orang ini, begitu pikirnya.


Azkia yang sudah bisa menguasai perasaannya, segera menoleh ke arah suara itu dengan wajah yang dibuat sedatar mungkin.


Azkia bisa melihat wajah senang milik Daniel, lalu mengedarkan pandangannya di sekitar Daniel, Azkia semakin terkejut ketika melihat ada Elma di sana yang tersenyum canggung ke arahnya.


"Oh, hai Daniel ..." Lalu dengan ragu azkia juga menyapa Elma.


Daniel dengan antusias melangkahkan kakinya ke arah Azkia, tanpa mempedulikan tatapan dingin Deffin, Daniel mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Azkia.


"Lama tidak berjumpa, bagaimana kabarmu Azkia?"


Melihat Deffin tidak memberikan reaksi apa-apa, Azkia mengira bahwa Deffin tidak tahu tentang Daniel. "Baik," balas Azkia singkat, dia juga menerima uluran tangan Daniel dengan sopan, mengingat ada orang lain di restoran ini, Azkia tidak mau semakin menjadi sorotan rasa penasaran pengunjung yang lain.


Pandangan Daniel pindah ke lelaki di samping Azkia. "Ini ...."


Azkia yang mengerti maksud perkataan Daniel, dengan segera mengenalkan Deffin.


"Oh, perkenalkan ini suamiku, Deffin."


"Oh, senang bertemu dengan Anda, saya Daniel teman Azkia dari SMA," ujar Daniel sambil mengulurkan tangannya ke arah Deffin.


Deffin menyambutnya dengan perasaan malas, dia tidak menjawab hanya menganggukkan kepalanya, dia bukan tipe lelaki yang suka berbasa-basi.


Setelah cukup berkenalan dan berbasa-basi mereka semua duduk di meja yang berbeda, jika dilihat Daniel tampak biasa saja, dia terlihat seperti figur suami yang hangat seperti aktingnya selama ini jika di tempat umum.


Namun yang membuat Azkia tidak nyaman, karena sikap aneh Elma yang seperti ingin bicara sesuatu. Dan di sebelah Daniel yang Azkia perkirakan itu mungkin istrinya sedari tadi tanpa tahu sebabnya memandanginya dengan sinis.

__ADS_1


"Apakah kita perlu pindah?" tanya Deffin ketika melihat Azkia makan dengan tidak nyaman.


"Tidak perlu Sayang, sepertinya aku hanya butuh ke toilet saja." Azkia langsung berdiri setelah mendapat anggukan dari Deffin, Azkia tadi mendapatkan kode dari Elma, sebelum Elma pergi terlebih dahulu.


Setelah Azkia sampai di toilet Elma langsung berlari memeluk Azkia, dia menangis karena merindukan Azkia, mereka berdua saling berpelukan sambil menangis.


Setelah mereka menghapus jejak air mata masing-masing, Elma memberikan surat kepada Azkia.


"Baca surat ini dengan Deffin, mungkin nanti jam sepuluh malam aku akan datang ke villa kalian, ada banyak hal yang tidak bisa kujelaskan sekarang."


Azkia mengangguk tanpa bertanya, lalu Elma segera keluar dari toilet itu, setelah Azkia memperbaiki penampilannya agar tidak terlihat sehabis menangis, Azkia kembali lagi ke mejanya untuk melanjutkan menikmati makan malamnya.


...****************...


Azkia, Deffin dan yang lainnya baru tiba di villa jam sembilan malam, Azkia hampir lupa dengan surat yang diberikan Elma, lalu dengan segera dia mengambil surat itu dari dalam tasnya.


"Sayang, tadi Elma kasih aku surat. Kita berdua disuruh membacanya."


Deffin mengernyitkan dahinya, lalu menarik Azkia agar duduk di atas pangkuannya.


"Ayo kita baca, aku ingin tahu apa yang ingin disampaikan temanmu."


"Kamu temui saja dia, aku malas melihat wajah penghianat."


Mendengar ucapan Deffin Azkia sudah tidak bisa membujuk lebih jauh, apa lagi suara di bawah semakin ribut, Azkia dengan segera keluar dari kamar.


Ketika sampai di bawah Azkia melihat Roy dan Elma duduk di sofa dengan aura permusuhan, setelah mendekat Azkia terkejut melihat ada sedikit darah di sudut bibir Roy, sedangkan Elma dengan rambut yang sudah acak-acakan, namun ada rona merah di pipi mereka masing-masing.


"Kalian habis melakukan apa?" tanya Azkia ambigu.


"Sekretaris Roy, jangan bilang kalau kamu akan-"


"Anda berpikiran apa Nona," Lalu pandangannya beralih ke Elma, "Cepat kausampaikan saja keperluanmu gadis bar-bar." Roy segera berlalu dengan wajah memerah karena teringat kejadian tadi.


Roy sama sekali tidak berniat mendengarkan Elma yang sudah mulai menceritakan tentang maksud kedatangannya, dia sedang menyembunyikan senyum yang susah di sembunyikan sedari tadi.

__ADS_1


Dan malam itu hanya Azkia yang mendengar semua penjelasan dan rencana Daniel selanjutnya, yaitu rencana untuk memisahkan Azkia dan Deffin yang sepertinya akan berhasil bagi Daniel.


Elma keluar dari villa Azkia sampai larut malam, lalu ketika sudah sampai di rumah Daniel, dia segera menuju kamarnya, Elma yang kesal mengingat kejadian tadi dengan Roy, segera menyembunyikan wajahnya ke bantal lalu berteriak keras untuk menyalurkan rasa kesalnya.


Flashback


Elma yang baru sampai di villa Azkia dan Deffin segera menaiki pohon untuk bisa meloncati tembok samping yang tidak terlalu tinggi.


Di depan ada beberapa penjaga yang sudah pasti Deffin akan mempersulitnya untuk masuk, dan dia tidak ingin usahanya mengecoh Daniel dan anak buahnya ketahuan, maka dari itu dia memilih meloncati tembok.


Setelah berhasil mendarat di taman samping, sialnya kelakuannya diketahui Sekretaris Roy. Sekretaris Roy yang sedang duduk melamun memikirkan bagaimana nasib cintanya terkejut ketika mendengar seperti benda jatuh.


Dengan segera dia menghampiri asal suara itu, dan ternyata yang jatuh adalah seorang gadis yang memakai jaket dan celana berwarna hitam ,dengan rambut yang dikuncir kuda yang semakin menambah pesona gadis itu.


Karena posisinya yang membelakangi Roy, dan Roy yang jalannya mengendap-endap membuat gadis itu tidak sadar. Dengan santainya Elma akan melangkah namun dia terkejut ketika ada orang yang menarik rambutnya.


"Siapa kau, berani-beraninya masuk villa ini tanpa izin," geram Roy.


"Enak saja, aku Elma aku sudah janjian sama Azkia, sekarang lepaskan rambutku!" sahut Elma.


Roy yang sudah tahu siapa Elma, tapi dia curiga dengan kedatangan gadis yang sudah dianggap tuan mudanya sebagai penghianat, membuat Roy tidak mudah melepaskannya.


"Hei, kau kira aku percaya, jawab dengan jujur ada maksud apa kau datang kemari."


Dengan kesal Elma melepaskan tangan Roy dari rambutnya, setelah berhasil dia langsung memelintir tangan yang berukuran lebih besar darinya.


"Kau ini malah membuatku semakin susah saja, aku datang kesini untuk membantu Azkia agar pernikahannya dengan Deffin awet --" Elma yang terus mengomel menjelaskan maksud kedatangannya membuat telinga Roy panas.


Roy yang sudah paham meminta Elma segera berhenti, namun Elma yang masih kesal tidak mempedulikan ucapan Roy, dia terus saja mengoceh tidak ada habisnya.


Lalu entah mendapat ide konyol dari mana, dia tiba-tiba teringat waktu Deffin membuat Azkia bisa berhenti mengomel, dengan segera tanpa aba-aba dia mempraktikkannya.


Satu kecupan namun cukup lama membuat Roy bisa merasakan sedikit rasa manis bibir Elma, meski berakhir dengan mendapat satu tonjokan namun itu sebanding dengan apa yang dia sudah rasakan, karena Elma yang ingin menonjok Roy dengan membabi buta membuat Roy yang memiliki tinggi jauh dari Elma menghadangnya dengan menarik rambut Elma hingga acak-acakan.


Dan kejadian yang menimpa mereka entah bisa disebut untung atau buntung?

__ADS_1


Bersambung.


Maafkan jika up nya tidak menentu, harap maklum lagi bulan puasa, paling enak hanya rebahan saja🤭


__ADS_2