
Kini, sekolah tidaklah seperti kemarin-kemarin lalu. Sekolah kami sudah aman, tak ada lagi kerasukan massal. Dan setiap Jum'at diadakan Yasinan. Arwah penasaran, roh jahat atau apapun itu kini tak terdengar lagi di telinga-ketelinga atau mulut-kemulut. Pak Harto pun izin sakit karena kewalahan perihal kemarin. Mamak pun sudah tak ragu lagi menyekolahkan ku di SD SERIBU KUBAH 001 itu. Mamak berkata kalau dia akan mendoakanku dimana pun itu agar selalu dilindungi oleh Allah SWT yakni Yang Maha Kuasa atas segala masalah nan perihal apapun. Kini SD ku telah dijauhi dengan gangguan gaib tersebut. Ini hari Sabtu. Sekolah Madrasah ku pun juga libur. Hehe kan cuma sampe hari Jum'at aja sih. Tapi hari ini kelas kami ga belajar, karena Pak Harto sakit jadi kami bebas bermain di kelas kami walaupun kelas kami berisiknya kayak orang-orang di pasar. Manggut-manggut, ku toleh kepalaku kanan dan kiri kunjung tak melihat batang hidungnya Ningsih. Aku heran "Kemana Ningsih ya?" Lirih isi hatiku berbisik pelan. Lalu aku tanya ke Isa
"Sa, Ningsih mana?" Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal itu.
"Kau ga tau emang?" Dia menggelengkan kepalanya.
Ku menggelengkan kepalaku juga "Ngga, emang kenapa?"
"Aku pun ga tau." Dia tertawa lepas.
"Ihh serius Isa! Kau tau ga?" Geramku kesal menghembus nafas. "Iya-iya, Ningsih kan ruqyah." Dia menepis tanganku.
"Hah? Kapan?" Aku heran terbenganga.
"Ihh dari Jum'at kemarin, dengar-dengar ya dia dibawa ke Duri sana buat ruqyah." Dia meyakinkanku.
"Ahh masa? Ntar kucoba tanya Yanti aja deh." Aku sedikit ragu.
"Tanya aja sama dia, palingan ntar kau heran sendiri sama perkataan Yanti." Isa pergi meninggalkan ku keluar kelas.
Pada bel istirahat aku menanyai Yanti tentang entah kemananya si Ningsih.
"Ehh Yanti!" Aku berlari memanggi dan ia berada di kantin sekolah yang tengah makan dengan lahap.
"Um, Yes, what is up? Wait ya i'm mamam manja duluh." Dia menggigit dari sendok makannya dengan slay juga anggun-anggunan.
"Hmmph.. Sempat-sempatnya kau ini. Ada yang mau ku tanyain lo!" Aku cemberut masam.
"Wow, tentang apa? please tell me now!" Mata Yanti bersinar cerah memohon.
"Iya, Jadi aku mau tanya nih.. Ningsih kemana ya? Kok ga nampak?" Aku menatap mata Yanti.
"Ouh.. So because of that. Sini biar i kasih tau you. So kemarin kan Ningsih ituch go ke Duriyy, aku intip dari outside my window. Nah dia pake mobil ada hampir sekeluarga dia pergi. Miss Lasmine ask Mamak Ningsih Ehh mau kemana ningsih? Mamaknya jawab mau ke Duri. Jadi gitu kronologi nya. until here understand? Kalau paham bagus dech. Ouh ya you tak lapar? come eat with me!" Yanti menjelaskan yang membuat rada bingung tapi sedikit kupahami juga menolak ajakan makan Yanti.
__ADS_1
"Ngga, duluan aja. Yaudah ya, makasih Yanti!" Aku sambil berlari pergi.
"Eum, You're welcome." Dia berteriak dan melambaikan tangan nya yang anggun.
Aku berjalan menuju kelas dan memahami, tapi aku tanyakan besok saja pada Ningsih langsung. Biar tau juga kronologi sebenernya dia mau kemana dan mengapa? Kenapa juga mendadak dan ga kasih tau diriku? Ku pendam saja dahulu karena orangnya juga pergi. Ga bisa di tanya-tanyain.
.........
Mumpung hari Ahad alias hari Minggu yang libur. Ku mantapkan jejak langkah kakiku berjalan menuju rumah Ningsih. Tapi setelah sampai ku pun disana dan berhenti. Hanya ku lihat Nenek nya Si Ningsih saja. Lalu aku berkata demikian.
"Nek, permisi.." Aku membangunkan sedikit Nenek Ningsih yang tertidur di kursi rotan tersebut.
"Eh-eh-eh ayam-ayam..
Ohh Tuti, Ih terkejut Nenek Ti. Eneng opo Ti?" Neneknya terkejut padahal kubanguni pelan tangannya.
"Ini Nek, mau tanya. Ningsih ada ga?" Hmm Ningsih? Ning... Ningsih!?" Ia berteriak memanggil cucunya itu.
"Lho, saya kira dah balik Nek. Jadi kapan Ningsih balik?" Aku keheranan.
"Hmm.. Selasa atau Rabu gitu. Kurang tau juga Nenek lengkapnya. Nenek sendirian disini ha." Dia menunjukkan sekitarnya yang sepi karena pergi berobat dengan Ningsih.
"Oh gitu ya Nek, Yaudahlah aku pergi dulu ya Nek." Ucap pergi sambil menyalami Nenek itu.
"Iya, hati-hati yo ndok." Nenek itu pun melanjutkan tidur nya lagi padahal masih pagi jam sepuluhan.
Aku pun langsung pergi pulang kerumah dan membersihkan rumahku. Belum terlagi kamarku yang seperti kapal pecah. Aku membersihkan setiap sisinya. Dari langit-langit, lantai, perabotan dan sebagainya. Dan aku pun menghabiskan waktu ku dirumah pada Minggu itu menonton televisi saja dengan acara kesukaanku.
Keesokannya sudah hari Senin saja. Dan aku harus segera Madrasah. Jujur, Madrasah ketika pagi itu kayak kurang menyenangkan. Enakan pas siang gitu, walaupun siangnya agak mengantuk sih.. Tapi no problem lah. Suatu ku lihat ada kantin keliling dan seperti orang baru. Belum terlagi logatnya seperti dari jawa asli sana. Lalu aku membeli dagangnya yakni gorengan.
"Berapa satu buk?" Aku menanyakan harga dagangannya.
"Seribuan aja kak,.." Senyumnya yang lebar dan penuh ramah tamah.
__ADS_1
"Pendatang ya buk? Baru nampak soalnya.." Aku menggaruk kepalaku yang tiba-tiba gatal.
"Iya kak, baru dua hari ini. Namanya siapa kak?" Ibuk itu sambil membungkus miso seribuannya juga.
"Tuti buk, Nama lengkapnya Tuti Lasmani." Aku sambil memberikan uang saku ku tadi yang kubelikan jajan dari dagangannya.
Dia meraih uangku "Iya, makasih yo Ti."
"Iya buk sama-sama." Ucapku pergi meninggalkan ibuk itu.
Aku pun kembali kekelas dan mengikuti pelajaran. Tiba-tiba ku melihat sosok yang tak asing bagiku
"Lho? Ningsih!" Terkejut sambil menepis lengannya.
"Ehh, iya Tuti. Kenapa?"
"Darimana aja kau? Aku khawatir beberapa hari ini? Gimana keadaanmu?" Aku menanyakannya tak terasa jatuh sudah air mataku.
"Baik kok, aku juga udah sembuh. Udah ga bisa lihat-lihat hal gaib." Dia menghela nafas lega.
"Syukurlah Ning, kemarin itu aku bener-bener takut. Ditambah kau kayak penari belum lagi kayak Noni Belanda." Aku memeluknya karena terharu.
"Ha? Noni? Noni apa, Noni Belanda?" Dia heran terpaku sejenak.
"Iya, dia lewat perantara badanmu dirasuki karena dia tersesat didunia mencari ayahnya tak kunjung pulang. Dia menangis-nangis sampai-sampai dia ga sadar kalo udah tiada." Aku menceritakan panjang lebar dengan perihal nya di hari Jum'at itu.
"Hmm.. Gitu ya." Memanggut-manggut setuju akan yang ku bicarakan.
"Iya, ehh udah mau mulai tuh kelasnya." Aku melihat Pak Sahya Masuk dan mengajar kami.
Kami pun duduk ditempat duduk masing-masing.
(BERSAMBUNG...)
__ADS_1