Tuti Malas Sekolah

Tuti Malas Sekolah
59. Gotong Royong


__ADS_3

Hari ini Buk Eriana mengusulkan tuk bergotong-royong di hari ini. Kami pun mengiyakan. Di pagi yang lumayan cerah dan panas menurut kami, kebanyakan dari teman ku mengeluh karena panas. Tapi Buk Eriana menyangkal karena ini masih pagi dan bagus untuk kesehatan kami. Aku sih tak menghiraukan panas pagi. Karena kata Mamak panas pagi itu menyehatkan tuk badan kita. Aku mengikuti saja dan tak menghiraukan, walaupun memang panas terik padahal masih di pagi hari


"Kalian ada berapa siswa? 29 atau 30?" Buk Eriana menanyakan.


Lily mengacungkan tangan nya, seraya berkata "Baru saya hitung, ada 30 siswa Buk!" Tegas Lily.


"30 Siswa kan? Nah perempuan berbaris disini. Lelaki berbaris di sebelah sini." Kami di bagi dua barisan. Yakni laki-laki di posisi kiri dan perempuan di posisi kanan.


"Yang perempuan coba acungkan tangannya mau ibuk bentuk regu nya. 1,2,3-" Buk Eriana menghitung kami. "Oke, sekarang laki-laki nya. 1,2,3 ...dan seterusnya."


Laki-laki ada 16 orang dan perempuan ada 14 orang. Kami dibagi menjadi 4 kelompok. Dicampur perempuan dan laki-laki. Dari 4 kelompok tadi ada yang dibagi Tim A diberikan tugas membersihkan kelas, Tim B diberikan tugas membersihkan jendela kelas, Tim C diberikan tugas membersihkan halaman dan Tim D yang aku ditunjuk di kelompok ini; Yakni membersihkan pekarangan bunga di taman kecil samping kelas kami. Di dalam tim itu ada Aku, Lily, dan beberapa lelaki dan perempuan lainnya. Sedangkan Reini di Tim B dan Mifthi di Tim C. Aku pun fokus membantu Lily yang membersihkan dan memupuk bunga itu


"Ini pupuk yang kau suruh bawakan dari Ruang Kantor Guru tadi, Lily." Aku memberikan pupuk itu padanya.


Ia berbalik, menatapku dengan mata yang menyipit. "Oh, terima kasih." Ia mengambil pupuk yang ku pegang barusan.


Aku menyapu-nyapu ringan, membersih kan sampah dedaunan kecil diantara pot-pot bunga itu "Ihh banyak juga ya sampahnya."


Lily menjawab "Iya nih, padahal kita sering bersihkan. Apalagi aku. Aku rajin menyirami bunga-bunga ini lho, Ti."


Aku tertawa kecil "Aku sih jarang menyirami bunga-bunga ini. Ya palingan temen-temen yang lain, yang menyirami bunga ini. Aku rada malas, sebab kamar mandinya jauh." Aku menunjuk kamar mandi yang berjarak 200 meter disana.


"Ya makanya, pinjem ember sebelah. Biar kau ga bolak-balik angkat air. Encok lah badan mu. Kau kira ga cape? Kalo ngarep dari ember kelas kita dah berkarat kau, Ti." Lily tertawa. Teman-teman di Tim kami pun tertawa.


"Oalah iya juga ya. Bodohnya aku. Malah ga mikir kesana. Kok bisa ya kau kepikiran kesana?" Aku tertawa akan kebodohan diriku sendiri.


"Ya pake ini lah, Ti." Ia menunjuk-nunjuk tempurung kepalanya.


Aku menyerungut sedikit kesal "Ya bener sih, iya deh kau paling pinter deh. Ehh cepat beresin, nanti kita ga dikasih masuk sama Buk Eriana kayak mana?" Aku berkata dengan terputus-putus.

__ADS_1


Reini kabur akan tanggung jawabnya, dan menyasar di kelompok kami "Wih seru banget nih. Nimbrung juga ahh..." Ia duduk di samping ku, sedangkan aku tengah sibuk bekerja sambil bercanda dengan Tim ku.


"Emangnya kau ga bantuin kerja?" Lily menanyakan.


Tangannya melambai, menolak "Engga ahh, malas, capek juga." Ia mengibas-ngibaskan tangannya dengan merasa gerah.


"Kau kira kau aja yang capek? Kami juga tau." Aku beradu nasib dengannya.


"Ihh udah kau kalo mau kerja, yah kerja aja. Aku lagi sembunyi disini."


Salah satu teman perempuan kami, yang berada di Tim lain mencari-cari keberadaan Reini "Ehh Tuti, nampak kau Si Reini?"


Aku menunjuk ke samping ku, dan ia sedang bersembunyi diantara beberapa bunga-bunga yang besar "Yahh, ketahuan." Celetuk nya.


Aku menggelengkan kepalaku "Hadeh Reini, Reini... Ada-ada saja beliau ini." Aku tertawa akan tingkah laku nya yang membuatku tepok jidat.


Tak terasa kami pun siap bergotong-royong. Kami pun kembali lagi kekelas. Mengingat Tim kami yang sudah siap. Lalu Buk Eriana memberikan tugas kelompok mengenai keterampilan tentang tema Budaya Indonesia Melayu Riau. Kelompok nya dibuat sama dengan tim yang tadi diberikan Buk Eriana. Dengan contoh seperti, Membuat miniatur Kapal Lancang Kuning, Tanjak, Rumah Adat dan sebagainya. Setelah ia menyampaikan tugas itu, kami pun Istirahat. Istirahat kali ini lebih panjang karena lelah, setelah kami bergotong-royong tadi.


Kami pun berbicara secara kelompok. Seperti tempat bertemu, di jam berapa bertemu, dan apa saja alat yang mau dibuat, media apa yang mau dibuat. Kini kami sudah putuskan. Bahwa semua itu dibuat dirumahnya Lily para hari pekan nanti, yakni di hari Sabtu jam 12:00 Siang hari.


Kini di percepat di hari Jum'at. Soalnya kami rata-rata tak bisa datang diakhir pekan nanti karena punya kesibukan masing-masing. Berbicara tentang masalah ini kami pun setuju di percepat saja. Toh lebih cepat kan lebih bagus. Kami setuju untuk membuatnya di rumah Lily. Kami buat janji temu dan menetapkan nya di jam 13:00 Siang, dan tak jadi di jam 12:00. Selain pamali, ya juga buat yang mau ibadah ya ibadah dam makan dulu. Aku datang di jam 12:45, lebih awal dari jam yang ditentukan. Karena ku tak mau terlambat dan mengecewakan nya. Jadi aku datang lebih awal


Aku naik kereta yang di bonceng Mamak. Aku menunjukkan arah sesuai perkataan Lily. "Mak, Mak belok kanan. Ehh abis ini belok kiri. Baru kiri lagi."


Mamak protes dan kesal "Ihh jauhnya rumah kawan mu."


"Ya kayak manalah Mak, kalo ga pergi nanti aku ga dapat nilai. Namanya juga kelompok..." Kataku lirih. "Ehh awas lobang Mak!" Aku menunjuk kearah lubang jalan besar dalam yang kami tak sadari.


Grubakk..!! Suara ban memasuki lubang, motor kami masuk ke lubang besar dalam itu dan hampir saja jatuh.

__ADS_1


"Aduhh..!" Perutku sakit karena masuk lubang jalan yang besar dalam itu.


"Duh, Ti. Maaf ya Mamak ga nampak—" Aku menyela pembicaraan Mamak.


"Iya Mak, gak apa-apa. Tapi perut Tuti sakit, Mak." Aku merengek karena sakit sesaat.


Salah satu teman ku yang lewat, ia menyapaku "Woy, Tuti."


"Itu Mak, Ikuti dia."


"Ya ampun, kencang kali tuh anak bawa motor. Sampe ga nampak batang hidungnya."


Aku menepuk-nepuk bahu Mamak. "Makanya cepetan dikit Mak. Jangan lamban kali kita. Nanti ketinggalan."


Mamak berdalih kebelakang, melihat ku sekilas "Lah katanya kau ingat?"


Aku menggaruk kepalaku "Sebenarnya aku agak lupa, tapi cepat aja ikuti dia!" Aku menunjuk teman ku tadi, yang lewat secepat kilat itu.


Lily teriak memanggil namaku "Tuti!"


Aku berpaling "Ehh itu Mak, dah sampe."


Mamak mengerem mendadak "Ihh kau ini lah, Kebiasaan." Mamak terlihat kesal.


"Ehe namanya juga lupa."


"Jadi kau di jemput jam berapa?"


Aku melihat jam "Jam lima sore aja, Mak."

__ADS_1


Mamak mengangguk "Hmm, yaudahlah." Mamak pun pergi. Aku pun pergi berlari kecil kerumah Lily yang didepan pasar itu.


(BERSAMBUNG...)


__ADS_2