
Tak terasa tapi kerap ku jalani, Ujian semester 1 telah mendekati. Sudah lama ku idam-idamkan, ahkirnya libur telah tiba, meskipun harus melewati tes ujian dahulu, baru bonus nya libur hehehe. Aku belakangan ini mengurangi bermainku dan fokus belajar dahulu.
( Tok-Tok-Tok ) Suara ketukan pintu.
Aku mengintip dari jerjak pintu rumahku "S-siapa?"
"Putri. Ini aku Putri!" Sayup-sayup terdengar di telinga ku.
Membuka pintu, melihat sekilas "Ohh Putri, ada apa Put?"
"Kau ngapain? Yuk main!" Ia mencengkram tanganku, meyakinkanku.
Aku melepas cengkraman nya "Ehh maaf nih ya, aku lagi belajar buat Ujian Semester."
Dia mengeles "Alah, buat apa belajar. Ga dapat apa-apa juga. Aku aja ga belajar dapat ranking." Menyombongkan diri nya.
Aku sedikit iri "Ya itukan kau bukan aku. Lagian kemampuan orang beda-beda. Yaudah ya, maaf nih ga bisa. Aku belajar buat bekal ujian nanti biar bisa menjawab soal-soal yang diberikan di lembar ujian itu." Aku sesegera mungkin menutup pintu dan ia pergi ketempat lain.
Aku segera menghafal yang sebisaku, ya kisi-kisi yang diberikan Pak Harto karena Ujian Madrasah nanti diadakan setelah Ujian di SD. Dari buku Matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Arab Melayu, dan lain sebagainya ku pelajari. Walaupun sedikit tertekan dengan semua pelajaran yang ku pelajari. Namanya juga siswa, mau ga mau ya diikuti. Berselang itu, ternyata ada beberapa catatan yang tak ada di catatan ku, yakni catatan di Bahasa Indonesia. Mungkin saja aku tak hadir sakit atau izin di waktu itu. Lalu aku meminjam catatan itu pada Isa, kalo Ningsih sih kadang malas mencatat bahkan sering di tegur Pak Harto. Lalu karena ku malas kerumahnya, ku chat saja ia dari Facebook
__ADS_1
Lalu aku ahkiri chatku dengan Isa.
Setelah belajar yang cukup panjang, ahkirnya selesai juga. Kini aku siap untuk ujian buat besok. Karena materi nya sudah kuambil dari buku ku dan catatanku yang kurang ku lengkapi.
.........
Ujian pun tiba. Aku benar-benar menjawabnya dengan seksama. Ku tidak toreh kanan dan kiri. Bila merasa sulit, ku lewati saja soal itu dan ku tandai. Lalu Ningsih berbisik pelan padaku
"Ssst! Sstt!" Bisikan Ningsih bertubi-tubi menghampiri di telingaku.
Menoleh ke belakang "Ihh apa Ning?" Bisikku, kesal dan wajah memerah padam.
Aku ngeles "Aku aja ga tau, ku langkahi tadi." Berbalik dan mengisi lembar jawabanku.
Selang beberapa waktu, bisikan itu terdengar lagi di telingaku. Memang benar-benar, Ningsih ga ada berubahnya
"Ssst.. Yang essay letakkan disini ya!" Dia membuat secercah kertas kosong agar memberi jawaban essay nya.
Aku sedikit kesal pada Ningsih. Jadi ku buat saja asal-asalan di kertas itu. Dia ga ada satupun mau berusaha sendiri. Mau menyontek saja kerjaannya. Terahkirnya dia kena tegur Pak Harto, sebab membuat kebisingan dan menyontek. Jikalau sekali lagi dia ulangi maka dia keluar dan tak mengikuti sesi ujian itu.
__ADS_1
Aku pun menyelesaikan ujian, setelah di koreksi bersama tadi nilaiku tidak begitu buruk. Malah sebaliknya Ningsih yang kuberi nilai sesat atau nilai asal-asalan. Dia sedikit geram dan kesal padaku. Sebab banyak ujiannya yang salah. Aku pun tertawa puas dan berkata
"Kau pun bukannya belajar malah tah kemana-mana aja kerjaan mu. Sibuk meniru aku, aku ya ga tau entah benar kah entah salah kah. Padahal yang kau pinta tadi aku belum jawab sama sekali." Ngelesku, menggaruk kepalaku yang gak gatal sama sekali.
"Ihh kurang ajar kau Tut, remedial lah aku ini." Dia menepis ku dengan wajah cemberut.
"Udahlah gak apa-apa, masih bisa belajar-belajar lagi besok hari kau. Mumpung masih banyak juga yang bisa kau perbaiki."
Dia heran kebingungan "Ihh kayak mana, catatanku pun semerawut, bukunya campur, dah gitu ga lengkap." keluh kesahnya Ningsih.
"Ya ga tau kok tanya saya. Derita kau lah Ningsih, Ningsih." Aku tertawa, menepis bahunya dan pergi meninggalkan kelas untuk kekantin.
Selang dari kantin, tiba-tiba Ningsih menemui ku dan berkata
"Tuti, pinjam lah aku catatanmu."
"Kok punyaku, masih ku pakai lho. Tapi catatanku ga lengkap seratus persen. Mending punya Isa. Datang kerumahnya kau, fotoin lah itu catatannya sampai muak kau. Dimana mau hari-h disitu lah kau lalu-lalang. Dah ya, mau kekelas aku. Bye." Aku terburu-buru karena haus dari kantin yang kehabisan air di situ.
Setelah dari kejadian yang panjang. Aku pun pulang kerumah dan membaca tuk ujian esok harinya. Terus ku lakukan dan ku kaji ulang selama satu semester ku pelajari.
Dan tak terasa hari demi hari ku jalani. Ujian di Sekolah Dasar ku telah berahkir. Kini telah masuk menuju Ujian Madrasah. Ujian pertama ialah mata pelajarannya Buk Lasmine. Heh.. paling malas sebenarnya kalau dia lagi yang masuk. Apalagi itu pelajaran pertama kali ujian dari empat hari ujian berlangsung. Entah drama apalagi yang beraksi nantinya. Mungkin seperti Cinderella dan Ibu serta sanak-saudara nya. Haha mengkhayal jadi Putri di negeri dongeng di dunia nyata itu hal yang mustahil yah. Jikalau saja aku punya kebebasan seperti karakter Elsa Frozen, pasti aku punya kebebasan untuk melakukan yang aku mau dan mampu. Tapi, semua itu di tampar oleh ke kehidupan nyata. Dan harus mengikuti ujian yang berlangsung itu. Disitulah Buk Lasmine masuk, tapi bedanya tanpa hafalan, catatan, maupun hal-hal yang memuakkan lainnya. Kelas itu lebih hening daripada sebelumnya. Dan dia tak membuat ulah. Kulihat mukanya pucat dan seperti orang lelah. Tapi semua itu ku hiraukan.
__ADS_1
Hari demi hari berlangsung, tak terasa ujianku sudah berakhir. Dan aku senang karena sebentar lagi libur panjang mungkin tiba. Dan aku bisa pulang kampung, kalau bisa xixixi. Tapi semoga saja ku pulang kampung. Kalau tidak yah menunggu sampai Lebaran tiba. Aku sampai terbawa mimpi akan libur di tahun ini akan sepanjang apa, dan seseru apa. Kisah apa yang bisa aku curahkan di buku diary ku. Dan apa hikmah dari apa semua yang terjadi di libur panjang ku ini. Bapak? Oh ya! Bapak pulang atau engga aku juga ga tau sih. Dah lama Bapak ga pulang, udah dua bulanan. Tapi mungkin nanti Bapak pulang. Walaupun kami hanya teleponan lewat Handphone saja. Tapi aku kangen sekali dengan kehadirannya. Dan rencananya Om Tom juga mau pulang ke kampungnya di Tebingtinggi. Aku memang pengen kesana, tapi siapa lagi yang mau ku jumpai disana? Ada Nenek sih tapi mungkin Nenek akan menetap di rumahku. Tapi aku akan menunggu kehadiran mereka semua. ^_^
(BERSAMBUNG...)