Tuti Malas Sekolah

Tuti Malas Sekolah
25. Selamat Jalan, Buyutku


__ADS_3

Di suatu sore hari. Aku yang pulang sehabis dari Sekolah Dasar ku dan sedang bermain pasir di samping halaman rumah. Ya seperti anak-anak umumnya, tak ada letih nya. Mamak menangis memanggil namaku, dan akupun


"Tuti, Tuti!" Mamak menangis sambil menggenggam erat handphone itu.


"Iya apa Mak? Mamak kenapa."


Mamak memegang erat bahuku dan meyakinkanku "Jangan nangis ya nak, yok kita bereskan barang-barang kita." Sambil Mamak nangis sesenggukan, mengusap air matanya.


"Iya Mak, Memang kenapa?"


"Uyutmu.." Jeda mamak, "Uyutmu meninggal dunia."


"U.. yut?" Tangis itu tak bisa aku tahankan lagi.


"Kapan mak, kapan uyut meninggal?" Aku mengoyah-ngoyahkan tangan Mamak.


"Barusan Nenek mu mengabari mamak, jam 17:09 Sore ini." Mamakku memelukku, mencium keningku.


"Yok mak kita bereskan barang kita." Aku menangis, derai air mata tak kunjung henti. Tak menyangka Buyutku pergi tiba-tiba dan tidak di duga.


Malam itu aku membereskan barang-barang ku, sedangkan bapak segera pulang dari kantornya dan bergegas dari sana untuk pergi ke Tebingtinggi. Aku menyusul dengan Mamak dan Tanteku. Dari tadi siang aku memang ingin sekali melihat Buyut ku, tapi tidak diizinkan mamak. Sebab aku harus sekolah. Tapi sekarang, sekolah itu ku tunda sementara waktu karena kepergian Buyutku. Aku naik ke bus mengenang-ngenang kejadian masa lampau. Aku ingat raut wajah bahagianya, terkadang kala cerewet nya, tapi semua itu tidak bisa aku lihat lagi. Semua itu hanyalah butiran debu yang diterpa angin lalu. Yang bisa ku kirim hanyalah doa. Aku tak akan melihatnya lagi, semoga saja aku masih sempat melihat nya untuk yang terakhir kalinya sebelum dia dimakamkan. Sekiranya, naiki bus, aku termimpi


Buyut menciumku "Cicit Buyut udah besar ya. Jangan ngelawan sama Mamak dan Bapak ya. Maaf Buyut ga bisa lama-lama sama Tuti. Tuti bisa jaga diri dan bergaul sama temannya ya. Jangan kayak dulu lagi." Sambil senyum dan melepaskan air matanya.


"Uyut, Uyut, Uyuut!" Teriakku histeris.


... Samar-samar ku mendengar suara "Tuti, tut.."


Aku tersentak, bangun dengan keringat dingin "Mak,.."

__ADS_1


"Mimpi ya? Kok manggil-manggil Uyut. Ini kita dah mau sampai. Siap-siap yok buat turun." Mamak menenangkan ku.


Aku melihat kota yang tak asing bagiku. Yakni Tebingtinggi. Aku ingat pesan yang Buyut sampaikan padaku. Heran nya Buyut di dalam mimpiku tampak gemuk dan berisi, tidak seperti yang kulihat di dunia nyata. Semua yang kulihat dalam mimpi ku ceritakan pada Mamak. Aku menangis, merangkul mamak dan memeluknya.


"Udah-udah, inikan kita mau jumpa Uyut. Udahah baiknya Uyut masuk kedalam mimpimu." Mamak jelaskan, mengelus rambutku, dan memelukku.


.........


Kami Tiba di tempat pukul 05:54 dini hari. Aku melihat ada bapak-bapak dan ibu-ibu yang sedang berada di teras depan rumah Buyut. Banyak sekali yang melayat dan datang. Suara sendu dan duka menyelimuti ruangan itu. Terpampang jelas bahwa Buyut di tutupi kain gandong dan kain putih menutupi muka dan sekujur tubuhnya. Aku setibanya langsung menangis karena melihat Buyutku yang sudah tak cerah lagi, melainkan pucat dan terbujur kaku. Aku mengirimkan surat pendek dan membaca yasin untuknya. Setelah jam 08.00 siang, Ika tiba. Ia sama juga denganku. Kami berpelukan saat itu. Luna dan Kak Wulan melihatku dan berkata


"Udah, yang sabar ya Tut.. Jangan ditangisi terus, ga baik." Kak Wulan mengusap-usap pundakku.


"Udah yok Tuti, kita doain Uyut." Ucap Ika.


Aku pun segera menurutinya, lalu setelah aku baca dan berkirim doa. Buyutku dimandikan. "Aku melihat hamparan sawah yang luas. Dan teringat akan ocehan Buyutku saat itu. Tak terasa setetes dua tetes air mata mengalir menerpa pipi ku. Aku ingat kala itu, bahwa Buyutku menanti kami pulang. Lihatlah Buyut, sekarang kami sudah tiba disini. Hanya menunggu bapak kapan ia datang sahaja. Kami sudah tunaikan janji kami Yut." Lirih isi hatiku bergumam.


"Woy, Tuti!" Ika menyeru.


"Itu Bapakmu datang, Paman datang maksudnya." Ia ngos-ngosan mengejarku yang sedang berada di tengah sawah.


Aku berlari "Ya, tunggu."


Mengejar, memeluk, dan menangis ke Bapak "Pak, Uyut dah ga ada."


"Ssst.. Iya udah, jangan nangis lagi. Kasian Uyut, udah besar kok. Jangan nangis lagi." Bapak mengusap air mataku.


Bapak masuk kedalam, melihat jenazah Buyut yang terbaring kaku dan pucat. Aku hanya melihat nya dari luar, dan aku melihat Mamak ku yang dari Pematang Siantar telah tiba.


"Yang sabar ya Ti, udah gitu dia jalannya. Yang kuat ya." Mamak memelukku.

__ADS_1


"Iya Mak, Tuti dah ikhlaskan kok." Aku tersenyum pura-pura, seakan-akan tidak terjadi apa-apa.


Tepat pukul jam 11:49, Buyut di makamkan. Aku menangis lagi karena tak bisa kulihat lagi. Hanya tanah kuburan, batu nisan, dan bunga-bunga yang indah menghiasi kuburannya saja. Itulah terahkir kalinya ku melihatnya. Tak sempat berkata-kata, senda gurau, maupun yang lainnya. Tak akan terkenang lagi ocehan yang cerewet keluar dari mulutnya. Tak terasa lagi genggaman erat belas kasih dari sentuhan tangannya. Dan tak terasa lagi Lebaran tahun depan dengan acara yang ramai serta sanak-saudara berdatangan kunjung kemari. Tak ada lagi kebahagiaan tanpa Buyut ku saat ini. Yang terlukis kan di benakku hanyalah kenangan indah bersama Buyutku.


"Uyut, yang tenang ya disana. Aku akan setiap saat mengirimi Uyut doa kok. Sekarang Tuti akan mencoba tuk ikhlaskan Uyut." Gumamku, mengelus-elus batu nisannya, meninggalkan nya saat itu.


.........


Setiba aku dirumah, aku melihat rumah yang hening dan tanpa suara lirih Buyutku tak terdengar kian. Aku pun bahkan tak ingat makan. Nenekku mengingatkan ku makan, tapi ia sendiri tak karuan. Aku makan disamping Nenekku berharap ia makan juga. Dan Ika aku lihat dia sudah makan di dapur sedari tadi, ia pulang dari makam bergegas mengambil piring dan makan.


"Ehh, sejak kapan kau disini?"


Menghabiskan makanan di mulutnya, tetapi mulutnya penuh "Dari tadi"


"Ngeri nya kau makan, sampe kayak kumur-kumur gitu." Tertawa kecil ku, melihat nya makan seperti tak makan dua hari.


"Aku pun makan didekat Nenek, kasian dari tadi Nenek ga makan." Iba ku.


"Iya Ti, Nenek belum makan. Tawari sana." Dia memberi asupan.


Aku pun makan didekat Nenekku yang termenung mengantuk. Ia terlihat musam dari kemarin, ga seperti biasanya. Ia melihatku makan, namun tak kunjung selera. Tapi terkecoh ketika aku makan dengan lahap nya. Dan meminta sedikit makanan di piringku tadi dan menyingkirkan sementara dari duka cita tadi.


.........


Setelah kejadian lusa kemarin. Kami bergegas pulang. Karena sudah lama tak sekolah, takut ketinggalan pelajaran juga. Jadi tinggal Ika disini bersama keluarga nya saja. Kami pun berpamitan untuk pulang. Nenek kulihat menangis karena cepat sekali kami pulang. Tetapi Nenek, aku yakin akan ketemu lagi kok. Dan Nenek tak merasa kesepian akan tiadanya Buyut didekat Nenek. Ya,.. sampai nanti Nenek.


..."Untuk Buyutku.."...


..."Selamat jalan, Buyut ku."...

__ADS_1


(BERSAMBUNG...)


__ADS_2