Tuti Malas Sekolah

Tuti Malas Sekolah
42. Aneh


__ADS_3

Tak lama lagi mungkin aku sudah tak di Sekolah Dasar ini lagi. Karena sebentar lagi saja tinggal hitungan bulan sudah mau semester dua. Aku masih melihat Ningsih yang lewat di hadapan ku tanpa sedikitpun berpaling dan menyahut atau menyapa ku. Di situ aku mulai mempercayai kata Isa. Ternyata yang selama ini yang ia katakan benar adanya. Aku mikir kan nya hingga melamun


"Ehh Tut, jangan melamun. Kau suka kali melamun, nanti ke sambet lho." Reini menepis bahu ku, menyadarkan ku.


"Ah? Oh iya maaf. Aku emang begitu, suka ngelamun ehe." Aku ngeles, padahal aku sedang banyak pikiran saja.


"Ohh gitu, kantin yuk." Reini menggenggam tangan ku dan mengajak ku.


"Yuk." Aku menyetujui nya.


Aku kekantin bareng Reini, disitu aku melihat ada Ningsih bersama teman yang kurang ku kenali. Dan ia sekali pun tak menyapaku, lalu aku berbalik kearahnya dan nada marah


"Ningsih!" Nada ku meninggi.

__ADS_1


Ningsih merasa tak tahu diri "Wihh kalem nih, ada apa boss? Santai-santai." Ia tertawa dengan teman baru nya.


"Kau kenapa sama mereka? Kau engga ingat sama persahabatan kita?" Air mataku ku bendung agar tak keluar, namun mata ku sudah berkaca-kaca.


"Hah sahabat? Kapan?" Ia tertawa lagi.


Air mata ku tak bisa di tahan lagi, dan berkata terahkir padanya "Gitu ya, oke. Cukup Tahu aja aku sama mu Ningsih." Aku mengurungkan niat untuk kekantin tadi, dan meninggalkan Reini di sana.


Reini mengejar balik kekelas dan ia menanya dengan nafas yang sedikit terengah-engah "Kau ngapain balik lagi kesini Ti? Bukannya mau kekantin tadi?"


Aku pun kembali ke rumah ku. Aku masuk ke kamar ku dan hendak tidur. Di dalam mimpi itu aku serasa déjàvu. Aku seperti mengulangi kejadian yang sama, aku kira itu hanya mimpi satu kali saja. Dan tanpa ku sadari itu secara berulang-kali. Aku menobatkan bangun, aku kira sudah bangun. Aku beranjak dan bangun, ternyata aku terbangun lagi, dan begitu seterusnya. Aku paksa bangun, ternyata ga bisa. Dan aku berdoa kepada Tuhan agar semua ini cepat selesai. Terahkirnya aku di kejutkan dengan suara tangis dari koridor kamar ku, tepatnya di sebelah kamarku. Kurang lebih lima belas menit berlangsung suara tangis itu lambat laun hilang. Aku membuka kamar pintu itu, ternyata tak ada siapa-siapa disana. Aku takut, cemas dan mungkin aku hanya kecapean. Aku langsung bergegas ke kamarku sendiri.


Setelah itu aku terbangun di jam tiga pagi. Hal yang sama terjadi lagi, kali ini secara kenyataan. Suara tangisan gaib itu terdengar dari kamar yang sama. Aku membuka pintu itu ternyata, tak ada siapa pun. Bulu kuduk ku berdiri, merinding terus menyelimuti dan aku berdoa lagi pada-Nya. Agar dijauhkan dari hal-hal begitu. Aku heran, kenapa aku diganggu dan apa sebabnya aku juga ga tau.

__ADS_1


Pagi itu aku ceritakan pada Reini. Reini mendengar apa yang terjadi. Tiba-tiba Ningsih langsung menyerobot kisah ku tadi diganti dengannya, dan dia entah datang dari mana memotong pembicaraanku


"Eh Ren, kemarin aku ada denger suara orang nangis di rumah ku lho."


"Ohh rumahmu itu? Wajar orang udah lama di tinggalin. Jadi banyak penunggunya."


"Kau kok tau? dia nangisnya kayak (hu...huhu...)" Sambil ku peragaan suara tangisan tadi siang dan pagi buta tadi.


"Jadi?"


"Pas aku beraniin diri buat buka rupanya.."


Ningsih menyerobot dan memotong pembicaraan ku "Ihh aku kan pernah juga kayak di pohon sawit nampak putih-putih..." Dan ia bercerita panjang lebar dan Reini lupa akan cerita ku tadi. Aku pun meninggalkan mereka berdua disana.

__ADS_1


Tapi dalam pikiranku selalu kepikiran akan hal kemarin. Kok bisa ya bisa ada hal begitu? Tanda nya apaan? Sampai-sampai aku bingung. Dan aku tak memikirkannya Ningsih lagi, aku dan Isa pun menjadi renggang juga. Namun Isa masih bisa kalau aku mau dekat lagi. Tapi ya gitu, hal aneh terjadi dua kali pada satu waktu.


(BERSAMBUNG...)


__ADS_2