Tuti Malas Sekolah

Tuti Malas Sekolah
65. Sekolah Baruku (Bonus!)


__ADS_3

Sekarang aku sudah tak Sekolah Dasar lagi. Aku sudah Sekolah Menengah Pertama atau yang disingkat (SMP). Aku sudah pulang dari medan beberapa waktu lalu. Dan aku mendaftar di SMP di temani dengan Mamak. Aku melihat banyak sekali teman SD ku yang mendaftar di sekolah itu. Tapi aku tak melihat Lily disitu. Aku pun menelepon dirinya, untuk memastikan nya.


(Tut-tut-tut...) Suara telepon berbunyi. Lalu tiba-tiba diangkat Lily.



"Halo?" Sapa Lily.


"Hai Lily, ini aku, Tuti."


Ia teringat, dan menjawab, namun banyak suara angin terdengar dari voice nya. "Ohh, Tuti, ada apa, Tut?"


"Kau ga mendaftar SMP 04 Mekar Jaya?" Tanyaku.


"Engga Tut, aku daftar di SMP dekat rumah ku. Namanya SMP 02 Sari Manis. Di SMP Sari Manis besok buka pendaftarannya. Kalau kesana ga dikasih Bundaku. Padahal searah sih kalo mau ke SD. Tapi yaudahlah, ikut omongan Bundaku aja."


"Oh gitu, kau dimananya itu? Kok berisik kali angin-angin." Aku sedikit kesal.


"Ehh maaf-maaf, ini aku lagi dekat kipas angin. Makanya kayak gitu." Lily tertawa kecil.


"Oalah, kirain lagi jalan kemana gitu. Kok banyak angin nya." Aku tertawa balik.


"Ehh yaudah ya Lily, aku mau daftar dulu." Jawabku cepat.


"Ehh, iya-iya. Semoga diterima, Tut.


Assalamualaikum..." Tutup salamnya.


"Iya, Walaikumsalam. Bye..." Lirih ku.


"Bye...~" Nadanya panjang, seperti orang menyanyi.

__ADS_1


*Dia menutup telepon.*


Tiba-tiba ada Hendra, yang sekian lama tak mau bicara padaku. Kini ia mengeluarkan sepatah dua patah kata "Eh, Tuti. Daftar disini juga ya?"


"Iya, nih." Jawabku ketus.


"Ohh..." Hendra canggung, lalu pergi.


Di sana banyak sekali orang-orang yang tak aku kenal. Dari berbagai Sekolah Dasar lain, dan berbagai anak pindahan bersekolah di sini. Aku mendaftar dan melakukan beberapa test. Aku melihat pengumuman kembali beberapa hari kedepan.


.........


Aku bangun lebih awal, segera kesekolah baruku. Dan aku melihat nama-nama yang acak-acakan. Aku melihat dengan teliti, pengelihatan pertama ku tak dapat. Lalu ku ulang lagi dan ketemu nama ku. Aku segera memberitahukan pada Mamak. Lalu aku pun pulang.


Setelah satu harinya, aku pun MPLS, Atau yang disebut 'Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah.' Kalau dulu sih di sebut dengan MOS. Kami di bimbing dengan para guru melihat-lihat sekitar kelas, ruang perpustakaan, ruang kantor, ruang kepsek, ruang dapur, dan ruang-ruang lainnya. Juga menyebutkan visi dan misi dari sekolah itu, yang membuatku pusing dan berbelit-belit. Teman baruku sangat freindly dengan ku. Awalnya aku menolak, sebab ga mau kejadian seperti sebelumnya. Aku enggak mau sekali pun berbaur dengan mereka untuk beberapa waktu. Seiring waktu berjalan, aku mulai menerima mereka. Dan tak lagi berprasangka buruk. "Oh ternyata, mereka ga seburuk yang aku kira." Gumamku.


Lily mengirim pesan beberapa waktu lalu. Tapi aku belum sempat baca, karena selama MPLS, aku tak melihat handphone sedetik pun. Lalu aku sempat-sempatkan dengan membalas pesan Lily.



.........


Beberapa bulan berlalu, aku mendengar kabar bahwa Mifthi keluar dari pesantren nya. Sebab ia di bully habis-habisan di pesantren itu. Aku dapat info itu dari Hendra.


"Tut, tau engga?"


"Apa?" Aku berdalih, melihat kearahnya.


"Si Mifthi baru satu bulan kan, udah keluar dari pesantren. Ga tahan dia katanya." Muka Hendra terlihat serius.


"Wihh kok bisa?" Aku tersenyum menyeringai.

__ADS_1


"Engga tau juga, kau kenapa senyam-senyum?" Ia heran melihatku.


"Ga apa-apa kok." Lalu ia pergi.


Tinh berbisik lirih padaku. "Itu balasan nya dahulu, malah lebih pedih dari masa lalu mu."


"Ohh gitu ya?" Aku keceplosan, lagi-lagi teman kelas ku melihat ku dan bertanya. "Kau kenapa, Ti?"


"Engga, aku gitu ya maksudnya aku karena aku baru setengah-setengah ngerti di soal pelajaran matematika ini, gitu hehe..." Aku membuat alasan yang riweh dan aneh.


"Ohh gitu..." Lalu teman kelas ku tak menghiraukan ku.


Aku tiba-tiba ingin ke toilet, tak sengaja aku melihat kekelas Reini. Ia terlihat di sudutkan oleh teman kelasnya. Lalu aku tanya beberapa teman kelasnya.


"Itu, si Reini, kenapa?"


"Di bully dia, gegara cepu sm guru." Salah satu teman cowok yang kurang ku kenal berbisik padaku.


"Masalah apa?"


Ia menggelengkan kepalanya. "Kurang tau."


"Oh, Makasih." Jawabku singkat, karena aku sudah kebelet ke kamar mandi.


.........


Setelah pulang sekolah. Aku memberi tahukan perihal ini pada Lily. Lily tertawa puas. Dan ia berkata "Selama ini orang itu yang tindas kau, biarkan aja orang itu dapat karmanya sendiri." Ia tertawa dengan girang. Begitu pula aku, secara teleponan. Aku pun menulis puisi terahkir ku dan inilah aku sekarang. Apapun masalahnya, ku tulis di sebuah sajak. Sajak adalah pedoman ku dikala susah. Aku suka sajak dan puisi.


...----------------...


...Inilah kisahku, semoga kalian senang membaca novel ku....

__ADS_1


...Tuti Malas Sekolah....


__ADS_2