
"Tuti, Ga lama lagi nanti Nenek mau pulang ke Tebingtinggi lagi."
"Hah kapan kok cepet kali?" Aku terkejut, menghampiri Nenek.
Nenek meyakinkan ku "Iya, soalnya ada berkas dan barang Nenek yang mau Nenek urus."
"Nenek lama gak?" Mukaku memelas dan berlutut agar ia tak pergi.
"Engga kok." Nenek mengelus rambutku.
Saat itu aku melihat dari kamar Nenek yang sedang mengemasi barang-barangnya. Padahal Nenekku baru beberapa minggu disini. Sudah mau pulang aja. Kalau ga ada Nenek entar aku merasa kurang dirumah. Aku memohon-mohon pada Nenek agar ia tak jadi pergi. Nenek tahu kalau aku melarangnya karena aku memang manja pada Nenek.
.........
Hari ini Nenekku pulang. Karena mengurus berkas-berkas almarhumah Buyutku yang tak kunjung selesai. Aku berkata pada Nenek
"Nek, pulangnya jangan lama-lama ya!" Aku memegang lengan Nenek, tatapanku berkaca-kaca menahan tangis.
"Iya, Cucu Nenek yang rajin belajar nya ya. Jangan ngelawan Mamak Bapak mu. Jangan berkelahi terus sama adiknya. Nenek pergi dulu ya." Nenek mengelus pipiku. Lalu mengangkat koper dan barang bawaannya.
"Da Nenek!" Aku melambaikan tanganku sambil membendung air mata yang ku tahan.
"Nanti ketemu lagi kita ya Ti!" Nenek melambai balik.
Lambat laun Nenek menghilang dari kejauhan menaiki bus. Aku berharap Nenekku segera datang lagi. Sedari dulu ketika aku tinggal di Tebingtinggi, aku sudah bersama Nenek. Dulu seru banget sama Nenek. Tapi sekarang udah ga sama Nenek lagi. Dan aku tinggal bersama orang tuaku.
__ADS_1
"Mak, kira-kira Nenek dah sampai belum ya?" Aku melamuni nya.
"Ya belum lah, palingan masih Kota Pinang atau Aek Nabara" Mamak yang tengah bersantai sambil menonton TV.
"Kenapa? Mau telepon Nenek kau?" Mamak menoreh kearah ku.
Aku mengangguk "Iya, mau." Lalu kuraih handphone Mamak diatas lemari dan ku sambungkan.
(Tut-tut-tut..) Suara telepon berdering.
Nenek menjawab "Halo Tuti, ada apa?" Suara Nenek yang lembut dan susah di lupakan itu terngiang-ngiang di dalam pikiranku.
Nenek tertawa kecil "Nanti, palingan bulan depan, soalnya Nenek mau ada urusan juga di Medan sana."
"Ohh gitu ya Nek." Aku kehilangan topik pembicaraan.
"Iya..." Lalu hening.
"Ehm.. Yaudah lah ya Nek, kalau misalnya udah sampai kabarin Tuti." Aku cepat-cepat menutup telepon.
"Iya, assalamualaikum."
"Walaikumsalam." Nenek menutup telepon nya.
__ADS_1
Lalu aku pun untuk menghilangkan suntuk ku ngechat dengan Isa.
*Kamipun mengakhiri percakapan*
Aku pun bergegas kerumah Isa. Mungkin dia sudah menungguku dirumahnya. Lalu aku melihatnya didepan rumahnya
"Ouy!" Aku teriak, mempercepat langkahku menuju rumahnya.
"Datang juga kau, kukira kau tipu tadi. Tumben kerumahku kau ada gerangan apa nich?" Isa termangu.
"Aku suntuk tadi, Nenekku pulang kan. Aku tulah keberatan aku. Padahal dah lumayan lama Nenekku disini. Enak lho ada Nenek, dimanjain kita, dikasih uang jajan, dimasakin, enak bet lah. Pas Nenekku pulang kek merasa kehilangan. Padahal masih bisa teleponan sih." Gelisah ku.
Ia menepisku dan menawariku bermain "Ck, alah... Ga usah di pikirkan itu. Nanti terbayang-bayang kau, mendingan kita main monopoli yuk. Aku barusan beli dari pasar tadi." Ia menunjukkan permainan monopoli nya.
"Wih yuk lah. Ajak adik mu juga biar ramai."
"Yaudah." Isa mengiyakan.
Kami pun bermain dan aku ahkirnya lupa akan kepulangan Nenekku tadi. Dan bermain hingga sore.
(BERSAMBUNG...)
__ADS_1