Tuti Malas Sekolah

Tuti Malas Sekolah
24. Dendam Telah Membutakan Ku


__ADS_3

Seorang anak remaja tampak kusam dan kurus kering. Ia sering datang ke rumahku dan sering membantu pekerja tetap di bengkelku. Nama anak itu ialah Tom. Tom tinggal bersama Paman dan Bibi nya, tapi Paman dan Bibi nya ini agak kejam pada Tom. Sebab itu Mamak dan Bapak yang komunikasi dari kejauhan menerima Tom sebagai anggota baru.


"Jadi namamu Tom?" Tegas Mamak.


Merunduk malu-malu "Iya kak, kerjaku disini apa kak?"


"Ya bisa bantu-bantu anggota kakak yang lain sama antar-jemput madrasah Tuti."


"Oh, i-iya kak." Ia membungkuk seraya hormat.


Aku menghampiri mamak dan bergegas mau ke Madrasah pagi itu.


"Mak, minta uang jajan" Aku menjulurkan tangan ku.


Mamak mengambil dompet nya "Nih, jangan beli es!"


"Iya Mak!" Aku pergi di depan pintu menunggu di antar Mamak.


"Sana Tom, antar Tuti. Nanti dikasih tau dimana nya sekolahnya itu."


"Oh iya kak." Ia bergegas.


Om Tom pun mengeluarkan sepeda motor milik Mamak dan berkata


"Ayo."


"Lho? Om? Emang om tau dimana Madrasah sekolah Tuti?" Aku celingak-celinguk menoleh atas kebawah.


"Ya ga tau, makanya tunjukan jalannya." Mukanya datar dan suaranya ketus.


"Nanti abis ini kita kejalan Raya, belok kanan sampe 200 meter kurang lebih baru ada Jln.Salak belok kiri lurus sampe 100 meter baru di situlah Madrasah Tuti sekolah." Aku menunjuk menjelaskan dengan saksama.


"Oh yaudah, Yok."


Aku naik ke bangku belakang sepeda motor "Dah, berangkat."

__ADS_1


Om Tom pun bergegas mengantarku, dia naik sepeda motor secepat kilat. Bahkan mengalahkan Kereta Api Shinkansen. Aku sampai ketakutan karena Bapak sendiri sekencang apapun tak pernah segitunya. Toh belum terlambat juga. Aku sampai turun dari sepeda motor dan sampai ku nasehati


"Om, lain kali mengendarai motornya pelan-pelan. Aku takut tadi, kencang kali."


"Oh ya maaf-maaf." Ia meninggalkan ku dan pergi kencang-kencang lagi naik kendaraan tersebut.


Hari ini pelajaran Al-Qur'an dan Hadits. Namun aku terlupa menyusun buku pelajaran ku, malah yang kubawa buku Fiqih dari Minggu lalu. Aku panik bukan kepalang. Sedangkan waktu tuk pulang lagi sudah tak sempat lagi. Jadi aku memakai buku Fiqih itu. Sebenernya ga masalah juga bukunya campur, tapi aku dah ga sempat lagi buat balik.


.........


Aku pulang, dan ketika jalan ada beberapa anak-anak kecil nakal mengejek ku


"Huu.. Gendut!"


"Ahahaha, kayak babi. Huu gendut!" Padahal dia juga gendut, tapi ga sadar diri.


"Awas kalian ya!" Aku mengambil batu dari bawah tanah hendak melempar mereka.


"Ihh awas gentong minyak mau buat hujan meteor." Mereka berlari, teriak mengejek ku tanpa dosa.


"Ehh awas, nanti ada gempa bumi" Salah satu abang-abang mengejekku juga membantu anak kecil itu bilang hal yang tak sepantasnya di katakan.


Aku kembali pulang dan melihat Om Tom sedang mengganti oli sepeda motor orang lain, tapi dia di marahi mamak karena melakukan kecerobohan yakni naik sepeda motor kencang-kencang, tanpa memakai helm, dan juga tak memakai baju. Lalu ku masuk dan aku hiraukan. Jujur tadi dia ga pakai baju itu bau badannya sungguh menyengat asam. Aku selalu tahan nafas karena bau badan nya itu. Tapi aku tak mau bilang sebab tak mau buat dia sakit hati.


Kejadian tadi terkadang buat aku sakit hati, ga cuma itu aja sih. Jadi aku tahan saja, sebenarnya aku benar-benar sakit hati. Wak Sari datang entah dari mana langsung kerumahku


Memarkirkan sepeda motor nya "Assalamualaikum, ouy.." Menyapa Mamakku.


"Ohh, Sari. Ada apa Sar?"


"Engga apa-apa, sehatnya kau?" Suaranya ku dengar sayup-sayup, suara Wak Sari.


Aku keluar dan aku berada di dekatnya


"Ehh Wak!" Aku menyalaminya.

__ADS_1


"Iya,.. Ehh tadi kenapa kau diam aja di ejek orang itu. Anak-anak lagi yang ejek."


"Kau diejek anak-anak? Memang bodoh kau! Masa kau kalah dari anak-anak." Mamakku memarahiku.


"Orang anak-anak itu dilindungi sama abangnya, ada mamaknya. Kayak mana aku mau ngelawan?" Aku nangis sesenggukan.


"Jadi? Kenapa ga kau bilangi?" Wak Sari mengompori ku.


"Mau kubilang malah diejek aku sama abang-abang itu. Tengok ajalah ga ada siapa-siapa nya ku buat sama apa yang dibuat orang itu samaku."


"Ehh jangan, nanti kau diapa-apain mamaknya?!" Mamak mencegah.


"Gara-gara orang itu aku dipermalukan, aku buat apa yang mereka buat." Dendam menyelimuti ku dan panas membara-bara.


"Iya Ti, hati-hati kau. Nanti salah langkah, kau pula yang dituduh." Om Tom menasehati ku.


Aku pun mengabaikan mereka dan bertekad untuk suatu hari membalas dendam pada mereka yang berhati busuk. Aku heran kenapa ya Wak Sari itu selalu saja datang dan mengompori Mamakku? Selalu saja cari gara-gara juga.


.........


Kala itu, tepatnya di hari Jum'at siang. Aku disuruh mamak membeli garam, kulihat anak-anak kemarin lalu kembali mengejeknya. Awalnya aku hiraukan, kali kedua aku kembali membeli garam mereka masih tetap mengejekku. Aku langsung pura-pura berjalan di gang sebelah rumahnya, kukejar dia, dia tak bisa mengelak, langsung ku hajar dan ku tabok mulutnya dan ku masukan paksa dengan garam yang kubeli tadi. Salah satu anak itu menangis, mulutnya berdarah, karena aku tabok dengan pedas dan tanpa ampun. Aku menghajar dengan membabi buta dan tanpa pandang bulu. Gelap dan dendam jadi satu. Tak perduli mamaknya mau bagaimana, dan akhirnya dendam itu terbalaskan. Dan abang-abang yang mengejekku menghampiri ku, langsung kuambil seonggok pasir dari bawah tanah ku siram matanya dengan itu dan aku pun pergi pulang dengan puas dan menangis bahagia


"Mampus kalian, kalian yang selalu mengejekku. Aku gak ada salah, aku ga ada salah, aku ga ada salah! Kalian lah yang selalu cari gara-gara. Memang apa salahku? Adanya aku rakus ke makanan kalian? Memang sialan kalian!" Aku marah dan pulang kerumah, meninggalkan tempat kejadian perkara.


Salah satu mamak dari anak yang aku habisi tadi datang dan meminta pertanggungjawaban.


"Woy, Tuti! Tuti! Keluar kau!" Mamak itu marah dan membawa anaknya.


Aku menceritakan semuanya dan mamak kini membelaku.


"Ada apa? Anak kau itu yang salah. Dia dah cerita samaku. Anakmu selalu cari gara-gara. Taunya dia anak-anak, tapi ga ada etikanya."


"Kayak mana ini mulutnya dah berdarah-darah, kau tanggung jawab!"


Mamak meludah jijik "Cuih.. Ehh, bagus-bagus kau. Ga akan aku obati anakmu. Memang anakmu yang salah kok. Mampus situ, kau obati sana sendiri. Udah salah kau pula yang minta tanggung jawab. Ga sudi aku. Anakku ga akan kayak gini kalo dia ga salah. Selama ini dia emang gitu, memang pendendam sifatnya. Makanya kau ajari anak kau tata krama dan sopan santun." Mamak pergi kedalam rumah, tak acuh, dan meninggalkan mamak si korban tadi dengan jengkel.

__ADS_1


Lalu mamaknya tadi pun memarahi anak nya dan kejadian itu berlalu begitu saja. Diam bukan berarti tak punya perlawanan, namun diam yang sesungguhnya adalah revenge buat membalikan keadaan. Hati-hati tutur kata, sopan santun lah pada yang muda maupun tua. Jangan kita diam jikalau kita tidak salah. Kita lawan balik, hajar dan terjang.


(BERSAMBUNG...)


__ADS_2