
"Aku sumpahi kalian akan sama seperti aku sekarang. Mifthi dan Reini!" Amarah bergemuruh di hati ku, dendam dan dongkol terus bergejolak di lubuk pikiranku. Sambil ku tatap tajam mata Mifthi dan Reini. Mereka meninggalkan ku, termasuk para Tedebah itu. Meninggalkan ku seorang diri di kelas.
Hari ini aku sekolah. Aku memasang wajah yang penuh amarah dan dendam. Lily yang menatapku sekilas saja enggan berbincang tipis-tipis dengan ku. Juga aku tak melihat komplotan para Tedebah, beserta ketua dan panglima mereka Reini dan Mifthi. Sekretaris kelas begitu mendapatkan banyak surat sakit dan izin. Dan itu termasuk para Tedebah.
"Ihh banyak nya surat-surat ini. Orang ini cabut sekolah apa gimana?" Sekretaris kelas membaca surat beruntun itu satu persatu.
"Banyak juga suratnya, dari siapa aja ini?" Jawab ku ketus, membuka surat-surat itu juga.
"Oh, Tuti, bisa bantuin aku engga? Ini banyak kali surat mereka. Rata-rata ada yang sakit, kecelakaan, halangan dan lainnya." Sekretaris kelas menghela nafas panjang, karena pagi-pagi buta sudah disuguhi surat sebanyak itu. Dan mungkin kurang lebih ada 13-15 Siswa yang tak hadir, dan izin dan sakit.
Kelas itu hening, Buk Eriana memasuki kelas. "Lho, yang lain pada kemana?"
Kami menggelengkan kepala, dan merujuk pada kertas yang bertumpuk di meja Buk Eriana "Kurang tau, Buk. Tapi ada surat di meja, Ibuk."
"Ya ampun banyaknya. Nanti cabut nih mereka, coba Ibuk mau konfirmasi satu-satu dulu orang tua mereka." Buk Eriana keluar dari kelas, dan menelepon para Tedebah yang tak hadir itu.
"...Barusan Ibuk telepon, mereka memang tak hadir. Tapi kasihan lagi dengan Reini dan Mifthi. Mereka kemarin sore sedang jalan-jalan, dan naas nya kecelakaan di persimpangan empat jalan. Tepatnya di Simpang Nanas sana. Bagaimana kalau kita jenguk mereka setelah sepulang sekolah nanti, nanti kalian kumpul di sekolah. Bagi yang mau saja, kalau yang sibuk boleh tak datang. Paling ya, Ibuk tunggu disini selama 15 menit saja."
"Iya, Buk." Mereka menjawab dengan serentak, kecuali aku yang enggan lontarkan satu kata patah pun. Karena aku enggan menjenguk Reini dan Mifthi.
Tinh seperti berbisik di telinga ku. "Itulah yang mereka tuai. Kepercayaan mu dibalas dengan penghianatan, kuberikan mereka kesialan."
"Astaga, jadi mereka yang ga datang—"
"Ya, itu aku." Tinh menjawab singkat dan cepat.
"Tapi baguslah, terimakasih ya." Aku tersenyum sinis, menjawab dengan telepati.
__ADS_1
"Ahkirnya mereka merasakan penderitaan. Ga tau aja mereka kalau itu semua teman tak kasat mata ku ya g membuat nya. Aku sangat berterimakasih padanya, walaupun memang agak sedikit kejam." Lirih ku dalam hati.
"Tuti, kau ngapain senyam-senyum?" Ningsih tiba-tiba bicara padaku dari kesekian lamanya.
"Ga, ga ada apa-apa. Mau tau aja." Sinis ku menatap Ningsih.
.........
Sudah dua minggu, Mifthi dan Reini tak ada kabar. Para Tedebah mulai bersekolah, tapi mereka enggan atau tak berniat mengganggu atau mengusikku. Mungkin karena tak ada Reini dan Mifthi. Samar-samar ku dengar, para Tedebah berbincang akan Mifthi dan Reini.
"Ihh gimana nih, Mifthi sama Reini ga sekolah-sekolah. Udah lama banget." Salah satu Tedebah perempuan mulai bimbang akan ketua mereka yang tak kunjung datang.
"Iya lho, udah lama juga. Kasian aku sama Mifthi dan Reini."
Aku berkata dengan tajam dan tersenyum menyeringai "Haduh, masih aja mikirin orang sampah kayak gitu. Apalagi kalian sakit dan izin beruntun, mungkin aja karma yang di berikan Tuhan, sama kalian yang berhati busuk ini."
"Tau tuh aduin aja ke Reini sama Mifthi." Para Tedebah itu tak terima.
"Ngadu? Cuih, aduin aja. Rasakan lah kesialan itu." Aku tertawa kecil dan merendahkan mereka.
Aku tak jahat, aku melakukan apa yang mungkin pantasnya kulakukan. Aku tak bisa cuma diam dan senyap. Walaupun aku cuma tampak satu orang, aslinya aku mungkin dua orang, karena bersama Tinh. Tedebah itu mulai takut dengan ku. Di tambah aku berkata dengan sadis pada para Tedebah itu. Dan mereka berkerumun mendatangi ku.
"Woy Tuti, kau kan yang buat kami semua kayak gini? Kami jadi sial gini—"
"Aku? Apa, coba ngomong sekali lagi?" Aku mulai menjengkeli mereka.
"Jadi siapa lagi kalau bukan kau? Pasti ini semua ulahmu!" Para Tedebah itu mulai menuduhku, walaupun memang iya.
__ADS_1
"Memang kalian punya bukti? Kalau ga punya meratapi nasib aja di pojokan. Atau adu mamak kalian aja, kalau itu semua aku yang buat. Haha, lucu kalian. Kalau kalian berani ngatain aku yang bukan-bukan, siap-siap aja aku tuntut kalian, karena pencemaran nama baik." Aku tertawa dan menatap mereka dengan tatapan tajam, juga nada bicara ku yang tegas dan lantang.
Karena mereka tak punya bukti, mereka meninggalkan ku. Aku tak menghiraukan mereka dan pergi keluar kelas.
.........
Beberapa hari berselang kemudian. Reini sudah bisa sekolah. Tapi ia mengalami patah tulang di bagian kakinya. Ia terlihat memakai tongkat kruk egrang, juga kaki yang di perban. Para Tedebah mengerumuni Reini. Menanyakan keadaan, kejadian, dan kenapa juga mengapa itu terjadi.
Beberapa dari para Tedebah dari cewek itu bertanya pada Reini
"Reini, kenapa kau bisa jadi kayak gini?"
"Iya kenapa, Rei?"
"Ya ampun, Rei, aku kasian liat kau. Jadi susah mau jalan." Aku hanya melihat mereka prihatin, sedangkan aku membaca buku yang ku pinjam dari perpustakaan.
"Ehh Tuti, kau ini kutu buku apa kutu babi? Ga kau lihat ini aku sakit?" Reini mencemooh ku, mencari gara-gara dengan ku. Agar ia merasa di perduli kan dan merasa paling hebat.
"Ya kalau kau sakit emang masalah buat ku? Ya kau sakit ya, derita kau lah." Aku berpaling, dan kembali membaca buku ku.
"Ga ada kau setia kawan—" Aku langsung memotong pembicaraan nya, cewek para komplotan Tedebah itu.
"Setia kawan? Apa itu kawan, sejarahnya aku ga kenal itu kesetiaan, termasuk kawan atau sahabat. Lagian mana ada kawan yang saling menjatuhkan, merendahkan, membully, bahkan mengucilkan kawan lainnya. Udah kayak gini baru kalian bawa-bawa aku sebagai kawan? Najis tau ngga! Munafik." Aku berbalik mencemooh mereka. Dan melawan semampu ku.
"Ihh ga boleh lah kau kayak gitu, kan si Reini—"
"Emang kenapa? Emang kenyataan kan?..." Aku berkata lirih, menahan bendungan air mataku.
__ADS_1
"Aku ga pernah anggap kalian kawan, semenjak kalian semua khianati maaf yang ku beri. Oh ya, satu hal, aku sebenarnya jijik dan muak lihat muka-muka bermuka dua kalian. Di lain sisi nanti, tiba kalian butuh sosok ku, kalian baik-baikin aku. Nanti, kalau kalian lagi senang, adakah kalian ingat aku? Ga usah ingat ajalah, setidaknya ga ada kalian main belakang, tanpa sepengetahuan aku. Udahlah, ga ada artinya juga aku ngomong sama kalian yang berhati busuk." Aku meninggalkan kelas dan tak kembali, walaupun bell kelas udah mulai lagi setelah istirahat tadi.