
Hari ini ujian. Aku sedang ke fotocopy membeli pensil merk 2C untuk ujian. Aku juga sudah banyak belajar untuk ujian nanti. Fotocopy ku bersebelahan dengan Sekolah Dasar ku. Setelah aku membeli pensil. Ku mantapkan langkah ku menuju kelas. melewati koridor-koridor kelas itu satu persatu. Menyambut sejuknya embun pagi. Dan sinar fajar yang bersinar cerah kejingga-jinggaan. Kelas masih kosong dan hanya diriku sendiri. Aku membuka catatan untuk ujian yang kubuat, semua kisi-kisi ada didalam secercah kertas yang kubuat. Aku membaca kisi-kisi itu dengan cermat. Belum terlagi ada ujian Bahasa Inggris disitu. Jadi aku baca dengan tekun, soalnya aku agak lemah di Bahasa Inggris. Ada seseorang masuk tanpa permisi dan salam, langsung ku celetuk.
"...Walaikumsalam." Sambil ku baca buku. Kulihat Ningsih masuk tanpa mengucap salam ataupun permisi.
"Ehh, iya assalamualaikum." Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Walaikumsalam." Jawabku singkat dan cepat.
Aku kembali membaca kisi-kisi ku tadi, Ningsih bertanya padaku. "Ehh yang lain mana? Kok kelas kosong, Tut?"
Aku mengangkat bahuku, dan sedikit mengeriput kan alis mataku "Entah, mungkin masih pagi."
"Ohh..."
"Eum." Aku cuma berdehem.
Lalu setelah itu, Ningsih keluar kelas. Dan digantikan masuknya Mifthi. Ia sama saja seperti Ningsih, masuk tanpa salam dan permisi.
Lagi-lagi ku celetuk, sama seperti Ningsih. "...Walaikumsalam."
Ia spontan merasa tidak berdosa. "Oh ya, lupa."
Aku hanya diam dan membaca buku kisi-kisi ku.
__ADS_1
"Ehh, Reini, mana? Kau ada nampak nggak?" Mifthi melepas canggung.
Aku mengangkat bahuku, dan tanpa memandang Mifthi.
"Kau punya mulut ngomong lah, bisu kau?" Mifthi meledek dengan lantam.
"Kau punya etika ga? Kau ga liat aku lagi baca buku. Kau mengganggu waktu ku baca buku. Ya kau kalo punya otak udah spontan 'Oh, kayaknya dia ga bisa diganggu.' atau 'Oh, kayaknya dia sibuk. Tanya yang lain aja lah.' Gitulah. Masa pemikiran kau sempit kali, otak di letak didekul ya gitu!" Aku langsung membalikan keadaan, dengan membalikan meja penuh tatap amarah.
"Ehh kau jangan main otak-otak lah." Ia mencoba membela diri.
"Kalau kau ga mau cari ribut, ga usah mulutmu kelantaman jadi orang." Mifthi terbujur kaku membisu, hening tanpa suara merintih. Aku menunjuk nya, memperingatkan nya dengan tegas. Lalu aku pergi ke samping kelas tuk membaca buku ku kembali. Walaupun bacaan ku udah ingat tak ingat, sebab marah-marah, beradu mulut dengan Mifthi.
.........
Ini sudah jam istirahat. Ujian pertama Bahasa Indonesia dan Ujian kedua nanti Bahasa Inggris. Aku pergi ke kantin sendirian. Dan lalu balik kekelas. Setelah kelas kembali di mulai, Buk Eriana melangkah kearahku, menatap tajam padaku
"Kapan, Buk?" Aku langsung bertatapan dengannya.
"Kapan kamu bilang? Selama ini kamu kata orang-orang ga olahraga cuma di kelas, di kantin, dan di perpustakaan saja. Kamu bilang kapan?"
Aku mau menjelaskannya, tapi Buk Eriana enggan menerima alasanku "I-itu, karena aku—"
"Udah, Cukup! Saya ga mau terima alasan apapun itu. Saya dah muak bicara sama kamu. Udah ga perlu menjelaskan seribu alasan apapun dengan saya. Dari Hendra, yang ini, nanti entah masalah apa lagi yang kamu buat. Sekali lagi kamu buat seperti ini, pemanggilan orang tua kamu. Biar dibawa kedua orang tuamu kekelas ini sekali." Buk Eriana berbalik, meninggalkan ku tanpa dapat dengar naungan lubuk hati ku paling dalam. Para Tedebah dan Reini juga Mifthi? Tentu saja mereka bersorak-sorai akan penderitaan ku. Karena ini komplotan hasil dari mereka dan gank nya.
__ADS_1
"Padahal aku mau bilang, aku ga dikasih olahraga sama mereka. Padahal aku mau bersandar dengan mu, mendengarkan keluh kesahk**u. Padahal aku mau berkata demikian, namun semua itu terhalang karena para Tedebah ini tak memberikan ku ruang kebahagiaan. Apakah ini yang namanya sekolah? Kenapa di setiap sekolah apapun aku tak dapat kebahagiaan? Dari teman, guru, ataupun yang lain yang bersangkut paut dengan sekolah. Sekali lagi aku tanamkan di dalam diri ku. Tuti Malas Sekolah! " Lubuk hati ku terus berbisik, berbisik mengelabui pikiran ku.
Setelah itu ujian di mulai. Kali ini tak ada kertas soal. Jadi di tulis di papan tulis. Aku malah di letak paling belakang, sedangkan papan tulis di depan. Buk Eriana menulis di papan tulis depan. Aku tak dapat membacanya karena kabur. Jadi aku minta soal ke teman sebelah ku. Aku menyalin soal saja. Buk Eriana menuduhku kalau aku menyontek.
"Apa yang kamu kasih ke si Tuti itu, Reino?" Teriak Buk Eriana.
"Ini ,Buk, si Tuti ga nampak ke papan tulis. Jadi soal nya saya kasih ke dia. Kasian dia ga nampak, Buk." Reino menjelaskan.
"Kamu ga usah jadi pahlawan ya, Reino. Biarkan lah, rasakan dia ga periksa-periksa mata nya sampai sekarang. Itu akibat enggan mendengarkan nasihat saya. Kalau buta pun, makan dialah itu." Buk Eriana dengan cepat dan kejam.
Aku pun menahan tangis ku, ku usap dari baju di lenganku. Aku menulis dengan maju beberapa langkah dan menulisnya di kertasku. Lagi-lagi Buk Eriana memanggil ku "Dah berapa kali saya bilang, jangan kamu mencontek! Ga bisa kamu dengan perkataan saya!" Buk Eriana marah, ia seperti menatapku jijik dan buas. "Keluar kamu sekarang, Keluar!" Ia membentak ku, langsung tangannya gerak cepat menyobek-nyobek kertas ujian ku.
Aku keluar dengan tatapan kosong. Aku langsung berlari ke kamar mandi. Aku menangis dalam diam di kamar mandi. "Kapan lah aku dapat keadilan. Tuti malas Tuhan kalau terus-terusan seperti ini. Kemarin Buk Lasmine, sekarang Buk Eriana di tambah parah Teman Bedebah itu. Aku hanya mau hidup tenang, Tuhan!" Aku menangis sejadi-jadinya. Berteriak dan meluapkan emosi ku di kamar mandi itu. Dan tiba-tiba tersadar akan ketukan pintu diluar.
"Siapa di dalam? Halo?..." (Dor-dor-dor) Ia mengetuk pintu dengan kencang. Baru tersadar, aku tak sadar tadi jika aku menangis kencang.
"Iya, tunggu." Aku menjawab sesenggukan.
"Ya ampun, kau kenapa, Tuti?" Salah satu kenalan ku prihatin padaku.
"Enggak, ga ada apa-apa." Aku menutupi masalahku dan pergi dari sana.
Aku melihat dari luar kelas. Para Tedebah menertawakan ku akan hal tadi. Buk Eriana langsung mengusir ku "Ngapain kamu masih di depan kelas? Udah sana kamu bawa tas dan perlengkapan mu sekali. Muak dan malas saya lihat muka kamu ini, capek tau ngga. Buat onar dan buat malu aja bisa nya." Ia menghardik ku.
__ADS_1
Aku segera beberes dan pergi dari sana. Tanpa basa-basi dan ucap salam lagi dengan nya. Jangankan ucap salam, menyalaminya saja aku enggan. Hari ini benar-benar hari sial ku. Ahh, sudahlah. Aku malas sekolah!
(BERSAMBUNG...)