Tuti Malas Sekolah

Tuti Malas Sekolah
48. Guruku Ngambekan (2)


__ADS_3

Ku bangun lebih awal dan siap-siap menuju kesekolah. Padahal itu masih jam 06:25 Pagi. Tapi aku berangkat jam segitu. Di depan kelas ku melihat teman sekelasku sangat antusias dan bersemangat akan hal yang kami perbincangkan kemarin.


"Widih cepat amat datengnya." Aku meledek Lily.


"Haha Iya, demi Buk Eriana. Biar dia mau masuk kekelas kita lagi."


Aku menjawab dengan singkat "Hmm memang iya juga. Jadi entar kalau dia papasan lewat dari kelas biar dia mau yakan." Aku tertawa kecil akan reaksi nya nanti akan seperti apa.


"Dan semoga saja berhasil." Lirih ku bersuara kecil.


Bel pelajaran pun dimulai. Buk Eriana tak kunjung juga datang. Kami celingak-celinguk di depan jendela kelas kami menunggu ia lewat atau papasan. Hadiah-hadiah kami kelompokan dan niat memberikan nya nanti, kini ia tak hadir disini


"Ihh Buk Eriana ga ada, kita ke Ruang Kantor Guru yuk Ti?"


Aku kaget dan enggan "Ihh ngapain? Segan tau Ly. Ajak yang lain baru mau, kalo kita berdua aja ihh aku dah di paling pojok, paling belakang, pokoknya terpaling-paling deh engga mau aku." Aku menggelengkan kepala ku menolaknya.


"Yaudah, sama-sama kita pergi ke Ruang Kantor Guru. Setuju ga semua?" Teriak Lily.

__ADS_1


Kami pun menyetujui nya termasuk aku yang terpaksa, tapi aku setel di barisan paling belakang. Dan kami pun menghampiri ke Ruang Kantor Guru tersebut


"Assalamualaikum Buk." Lily mengetuk pintu luar Kantor dan masuk.


Aku mendengar sayup-sayup "Mengapa kalian semua kemari? Ada saya suruh? Ini apa lagi bawa-bawa hadiah dan makanan. Kalian kira saya mau kalian suap-suap begini. Ga ada-ga ada, bubar kalian bubar!" Ia menghusir kami dan menutup pintu di ruang itu.


"Yahh rencana kita gagal Total Lily, gimana nih?" Aku sedikit kecewa.


Lily mengangkat bahunya "Ya gimana lagi, yaudahlah. Yang penting kita udah berusaha." Lily jalan menuju kelas tampak kecewa melebihi diri ku.


Kami kembali kekelas yang hening tanpa pengajar itu. Dan kami pun hanya menunggu setitik cahaya harapan agar Buk Eriana dibukakan hatinya yang penuh amarah dan dendam terhadap kami dan mau mengajar kami kembali. Lalu sayup-sayup seperti suara langkah kaki yang memakai hak tinggi terdengar dari koridor, aku berbalik dan ternyata Buk Eriana. Ia menyilang kan tangannya di bahu nya dan enggan masuk kekelas kami


"Kalian pikir saya bisa di suap-suap dengan seperti itu? Saya anti sekali suap-menyuap itu. Asal kalian tahu, saya bahkan enggan menginjakkan kaki saya lagi di kelas ini. Biarkan saja nilai dan ijazah kalian amburadul. Toh saya sebagai guru sudah PNS pula, gaji tetap lancar dan tak ada hambatan. Mau saya santai-santai ya gaji saya tetap mengalir. Biar aja saya makan gaji buta, ga rugi juga saya. Lagian yang rugi itu kalian yang tak mendapatkan secuil ilmu pun dari saya." Kata-kata Buk Eriana begitu menampar kami dan kami pun enggan mengeluarkan suara sama sekali.


"Saya asal ada kelas yang kosong, saya ajar aja disitu. Seperti kelas 4 lokal B. Kadang bapak itu sering sakit, ya maklum mungkin sudah lanjut usia. Jadi saya aja masuk ke kelas-kelas yang kosong, saya ajari, berikan ilmu pada orang-orang yang mau menghargai saya. Kelas yang lebih anak-anak saja mau menghargai saya, tidak seperti kalian ini. Saya tau kok ada yang dongkol dengan saya atau apapun itu. Saya tak perduli lagi inti nya dengan kelas ini. Sudah ya malas juga saya berbuih mulut saya panjang kali lebar. Belajar otodidak aja kalian, juga buka dan makan hadiah untuk menyuap saya itu." Buk Eriana melangkah pergi dan meninggalkan kelas kami. Kami masih termanggut terdiam.


Kami kehabisan ide, dan begitulah kami pulang tanpa membawa ilmu. Dan kami juga kecewa karena ga ada yang bisa membujuk Buk Eriana.

__ADS_1


.........


Esok pagi yang cerah aku tetap sekolah walaupun ke sekolah itu hanya menghabiskan uang jajan saja. Karena tak ada ilmu satupun yang ku dapat. Gimana ga dapat coba? Orang Buk Eriana aja ga ada. Palingan cuma guru agama dan guru pendidikan jasmani saja yang masuk kekelas kami. Pagi itu aku tak diantar Mamak. Aku jalan ke sekolah, ya aku pengen jalan saja. Biar sehat juga sih, soalnya belakangan ini aku banyak tidur dan minim untuk bergerak. Jadi aku jalan saja. Burung-burung bernyanyi kecil, seliran tiupan angin yang menghembus ke diriku dan dedaunan yang rindam melindungi ku dari terik sinar fajar. Tak terasa kian aku sampai di sekolah. Ternyata teman-teman ku banyak yang mogok sekolah. Jadi pada alfa dan tanpa keterangan. Hanya ada beberapa murid saja, bisa di hitung dengan jari lagi. Aku melihat Lily yang belajar sendiri, membuka beberapa lembaran buku, kelas yang kotor tanpa ada yang piket. Debu-debu menyelimuti papan tulis dan meja guru juga langit-langit dipenuhi sawang. Seperti kelas tak di tempati saja. Aku terbenganga dan membuka obrolan dengan Lily


"Lily, kelas ini kenapa kayak gini? Ini kan udah mau jam 07:30 kan? Kemana semua? Kenapa cuma aku, kau dan beberapa orang disini." Aku menatap sekitar yang hening tanpa orang banyak dikelas.


Ia menggelengkan kepala tanpa menatapku sekali pun "Entahlah." Ia menjawab hanya sepatah kata saja.


Aku pun duduk dikelas, karena bosan aku pun tertidur. Kali ini aku bermimpi bahwa Buk Eriana akan menuju kelas. Aku melihat Buk Eriana memaafkan kami, dan kelas yang amburadul itu di bangun ulang. Kami pun mengejar beberapa pelajaran yang tertinggal. Tiba-tiba, sayup-sayup ku mendengar suara


"Tuti, Tuti, bangun! Ada Buk Eriana!" Ningsih membangun kan ku yang seperti Putri Tidur.


Aku setengah sadar membuka mataku, terkejut, dan tak menyangka "Ihh kok bisa jadi kenyataan? Perasaan tadi cuma mimpi kok. Apa cuma kebetulan, tapi masa iya kebetulan?" Lirih ku berkata dalam hati dan pikiranku. Aku termenung dan termanggut karena bangun tidur.


"...Baiklah Ibuk akan mulai dari awal. Kita belajar yang ada pelajaran tertinggal di tiga minggu lalu. Teman-teman nya besok di panggil. Jangan seperti ini lagi, dan kalian coba tuk menghargai saya. Jangan seperti kemarin. Saya ga lama juga disini, saya juga mau pindah. Saya sudah urus surat pindah ke Pekanbaru. Saya aja sebenernya malas berurusan, bertatap muka dengan kalian. Jangan lupa nih piket, dah kayak rumah angker kelas ini." Buk Eriana pergi tanpa permisi langsung keluar. Dan hanya beberapa kalimat yang dapat ku dengar.


Aku pun pulang bersama teman ku dengan gembira. Akhirnya Buk Eriana memaafkan kami dan tak marah lagi. Hampir saja kami mengulang kelas itu. Karena etika teman-teman ku yang sangat minus itu. Tapi ya syukurlah.

__ADS_1


(BERSAMBUNG...)


__ADS_2