
Saat itu aku melihat Yanti yang tanpa riasan tebalnya dan tanpa jeloteh di dirinya melainkan pakaian yang sopan dan bagus tanpa hal yang aneh-aneh.
"Ehh, ini kau Yan?" Aku memandanginya dari bawah kakinya sampai keatas kepalanya.
"Iya Tut, kenapa? Jangan kagetan gitu ih. Ini aku loh Yanti." Dia menepis ringan tanganku.
"Ng-ngga gitu, maksudnya.. Ehh sudahlah. Aku senang kau berubah." Senyumku lebar menyeringai sambil ke kelas Madrasah ku.
"Iya." Dia tertawa kecil sambil mengikuti jalanku dari belakang.
Pelajaran pun dimulai, alangkah terkejutnya semua terkejut sama diriku. Karena aku menemani Yanti. Biasanya kami aja enggan menemaninya, tapi kini kulihat Yanti berubah. Aku tanpa pikir panjang bergaul dengannya.
"Tut, kok kau mau temenan sama dia?" Isa menunjukkan ku dengan mata melas.
"Ihh dia udah berubah tau, udahlah. Namanya juga manusia pasti berubah dan ga kita sangka-sangka." Aku menasehatinya dengan seksama.
"Ohh gitu ya, yaudahlah." Dia kembali ke tempat duduknya.
Yanti datang menghampiri ku..
"Tuti, nanti kau main ke rumahku aja. Kita main masak-masak. Rencananya aku mau masak mie instan goreng. Mau ga?" Kini ia bicara yang benar dan lantang dan tak lagi bergelalatan.
"I-iya boleh deh." Aku mengiyakan dengan ragu namun setuju.
"Ihh aku ikut lah!" Ningsih menyerobot bahuku dari belakang.
"Aku juga ya!" Isa kegirangan.
"Sstt.. Iya-iya boleh. Itu Pak Nuh di kantor jangan berisik. Senyap-senyap ouy, senyap!" Dia berbisik-bisik.
"Sstt.. iya-iya deh" Kami tertawa kecil.
.........
Setelah pulang Madrasah aku langsung pergi bermain ke rumah Yanti seperti yang ia janjikan. Kami pun berbondong-bondong kerumah Yanti dan membeli keperluan yang kami sepakati tadi. Tetapi ia menyiapkan keperluan seperti alat masak, air dan api dirumahnya.
"Yanti, yanti.." Ningsih mengetuk pintu rumahnya Yanti.
__ADS_1
"Iya? Eh, sini masuk-masuk." Dia temenung sejenak dan bersemangat menyambut kehadiran kami.
"Ya gini lah rumahku, ga bagus banget agak berantakan sih." Dia agak malu dengan kondisi sedikit berantakan di rumahnya.
"Ihh gak apalah, kita mau masak doang kok. Udahlah sans aja deng." Ucap Ningsih menghiraukan nya.
"Keluarkan aja kualimu ke luar, biar Aku sama Isa yang hidupkan apinya diluar." Ucapku.
"Oh yaudah, nih korek api nya."
Aku mengambil korek itu dari tangan Yanti "Oke makasih ya."
"Iya,.."
Kami pun bergegas membuat api dan menyiapkan perlengkapan nya.
"Udah siap Ti?"
"Belum, baru aja hidup." Aku memperlihatkan apiku yang hidup sekecil lilin.
"Ini mana bisa, mau lah sampe malam siapnya Tuti, Tuti.." Dia tertawa terbahak-bahak.
"Woy!" Suara sayup terdengar dari arah pintu depannya Yanti.
"Iya? Siapa?" Sahut kami.
"Ihh sanggup ya kalian ga ajak aku." Putri masuk muka merungut.
"Ihh kami lupa, sinilah masuk. Tapi bayar dua ribu untuk ikut makan." Kami menagihnya.
"Ngga lah, ini aku ada bawa mie instan sendiri." Dia menyodorkan ke Yanti.
"Iya makasih Put. Ehh ini guys ada mie lagi. Mayan ada dua mie tambah punya kita dua, semuanya jadi empat. Mangkin banyak mangkin bagus. Biar puas kita." Asumsi Ningsih.
"Ihh benernya ini kau Yan?" Putri terbenganga sambil meremas pipi Yanti karena tak percaya dengan perbedaan Yanti sebelumnya.
"Iya lah jadi siapa lagi?" Yanti ngomong kumur-kumur karena di remas Putri pipinya.
__ADS_1
"Ga percaya? Bohongan kan ini? Coba wee kalian cubit tantan kananku." Putri tak percaya.
Aku mencubit raih tangan Putri "Nih!". "Adoh!" Dia terkejut dan dia percaya bahwa itu nyata.
"Udah percaya kan?" Ningsih tertawa kecil.
"Iya, duh.." Putri kesakitan.
Setelah itu kami pun segera memasak butuh waktu cukup lama karena apinya kecil. Jadi ya kami bercerita ngulur ngidul wae, haha. Kembali ke topik, setelah itu kami lupa akan mie kami tadi dan tak sadar mie nya jadi ngembang semua dan besar-besaran seperti mie ramen.
"Ihh Tuti, mie nya gimana?!" Yanti terkejut lupa.
"Mie nya woy!" Isa langsung lari-lari ke belakang untuk melihat mienya, sedangkan kami tadi diruang tengah alias ruang tamu nya Yanti.
"Gimana?" Aku menengok-nengok.
"Ya gini lah, ngembang semua mie nya." Menunjukan kuali nya Yanti tadi.
"Astaga, yaudahlah mau kek mana lagi?" Yanti menghela nafas panjang.
Aku dan Isa pun segera mengangkat kuali tadi untuk menyaring mie instan yang kami masak tadi. Lalu Buk Lasmine yang tepat berada di sebelah rumah Yanti langsung mencibiri kami
"Tuti! Woy? Itu kalian ngapain? Ha? Ngapain!" Dia membentak dengan nada marah.
"Kalian kira ga bisa kebakaran? Entah apa-apa aja kerjaannya. Ini lagi Si Tuti, ngajar-ngajarin anak orang main yang aneh-aneh. Dimana kau letak itu otakmu? Kalo nalar pasti paham dan gak main kayak gituan. Udah pulang sana kalian!" Dia yang sok tahu berlagak tinggi.
Kali ini batas ambang sabarku kian padam "Enak aja ibuk nuduh aku! Ibuk kira aku ga punya hati ha? Ibuk kira ini usulan aku aja? Emangnya ibuk siapa ngelarang-ngelarang kami? Emang ibuk ga pernah jadi anak kecil?!" Nadaku kian lama kian tinggi dan dendam jadi satu, mataku tertuju tajam sengit pada Buk Lasmine.
"Kalo di bilangin orang itu.."
"Ya,ya ya! Teruslah, teruslah mengelak dari kata-kata itu. Kenapa lah coba ibuk dengki kali samaku. Memangnya aku salah apa? Taunya ibuk kronologi nya? Kenapa ibuk selalu merusak suasana orang? Kenapa ibuk selalu menggunjing Tuti? Udah hebatnya Ibuk? Kenapa ibuk selalu pilih kasih dalam setiap masalah atau bahkan mencari kesalahan orang lain? Jawab itu sekarang!" Aku berteriak keras dan marah yang membara-bara.
"Aghh!! Udah bubar kalian semua!" Dia berteriak, menggelengkan kepala dan memotong unek-unek ku selama ini.
"Ga senang ibuk udah ga usah mengatur kami! Pergi aja sana!" Aku kesal dan kembali kerumah Yanti bersama teman-teman ku yang menghadang ku sedari tadi.
Aku memang sabar-sabar aja selama ini, tapi karena sifatnya tidak etis dan buruk sekali akupun geram melihatnya. Mau kali ku cabik-cabik dirinya yang hina itu. Tapi tak akan bisa aku raih. Aku palak sekali dengan dia. Sumpah, aku ga akan bisa melupakan kejadian itu. Entah siapa yang merencanakan dan menjalankan entah siapa pula yang dimarahi dan dinasehatinya. Padahal kami disitu hanya bermain-main biasa selayaknya anak-anak. Tapi semua dirusak olehnya. Selalu saja aku yang dimarahi, padahal seharusnya Yanti yang dimarahi karena diakan yang pertama mengajak kami main tadi pagi. Dan malah aku yang dimarahi habis-habisan. Ahh.. dahlah.
__ADS_1
(BERSAMBUNG...)