Tuti Malas Sekolah

Tuti Malas Sekolah
45. Selamat Tinggal


__ADS_3

Sudah waktunya kesedihan itu akan berlarut. Hari ini adalah waktunya Isa pergi meninggalkan daerah ini. Semoga saja ku masih sempat untuk mengunjungi nya sebelum ia pindah dan pergi tuk selamanya dari permukiman ini. Aku berlari menyusuri jalan setapak yang biasa aku lewati menuju rumah Isa dari jalan ini. Dan setiba nya aku tepat waktu


"Fiuh, syukur aku masih sempat." Aku terpaku, mengatur nafas dan ngos-ngosan.


"Ya ampun Ti, ga akan langsung cabut aku. Aku nunggu juga ini." Ia tertawa kecil.


"Ia takutnya kau dah pergi duluan. Ga sempat ucap perpisahan. Gitu deh."


"Aku pergi nanti kok, jam-jam 05:00 Sore nanti. Kita masih ada waktu buat main. Gimana mau ga?" Isa memberi ku sedikit waktu.


"Yaudah yuk." Aku mengangguk menyetujui nya.


"Hadiah yang sebenarnya itu adalah ini.." Aku menunjukkan foto yang ku cuci kemarin dan itu adalah foto kami sewaktu di festival.


"Oh ya aku ada sajak kecil untukmu."


"Iya kah? Boleh bacain ga." Air matanya mulai berlinangan.


"Aku bacain ya" Aku membuka lembaran sajak kecil yang ku cari-cari di internet minggu lalu dan memilih yang terbaik.


"


...Titisan Secercah Cahya...


...Karya: RasaLanu...


...----------------...


...Dikala ku gundah gelisah...


...Ku tak tahu lari ke siapa...


...Dikala ku luka dalam sedih...


...Kau datang layaknya malaikat...


...Datang tanpa pamrih dan pandang siapa...


...----------------...


...Kau menolong ku, bersama ku di setiap menit dan detiknya...


...Bersamaku hingga saat ini, kau pergi pun aku masih setia menemani...


...Jangan berpaling menjauh karena perpisahan ini...


...Sahabatku, terimakasih sudah mau hadir di hidupku saat ini...


...Maaf jika aku belum bisa jadi pahlawan yang selalu hadir menemani...


...Maaf jika tingkah laku dan salah tingkah ku yang buat kau ilfeal dan kau menjauhi...

__ADS_1


...Maaf jika aku ga bisa bersandar saat kau butuh tempat bersandar...


...Maaf jikalau ku dikala itu tak ada tempat bernaung dikala kau butuh tempat bercerita...


...----------------...


...Kau perlu tahu sahabatku, aku sekarang merintih sedih bergeming...


...Tanpa kian kehadiran mu, aku selalu pura-pura hening...


...Tapi ini semua demi kebaikanmu, aku ikhlaskan kau pergi dan berpaling...


...Darimu, sahabatmu....


^^^"^^^


Isa langsung memeluk ku dan kali ini tanpa berkata banyak "Terimakasih ya, aku mau pergi dulu. Jangan ingat-ingat aku terus ya. Nanti kau tambah sedih dalam diam." Ia langsung pulang kerumah nya dan aku mengikuti langkah nya dengan tatapan kosong tanpa ekspresi.


"Ga terasa ya, hari-hari cepat berlalu." Aku memecahkan suasana.


"Haha, iya tuh. Ga nyangka juga secepat ini kita berpisah Ti. Tapi aku janji aku akan ke sini lagi suatu saat nanti." Ia masih mengingat dan memegang janji yang kami lukiskan.


"Iya deh. Tuh dah di tungguin mamak bapak mu disitu. Buruan sana." Aku mendorongnya sedikit paksaan.


"Ihh iya sabar napa." Ia tertawa.


Aku melihat nya menaiki mobil pick up dan kala itu aku melihatnya jauh dari rumah yang hendak mau ia kosongkan. Dan Isa memanggil ku


"Iya." Aku melangkah berat jalan kearahnya.


"Ada apa lagi Sa?"


"Aku cuma mau ngucapin makasih banget buat semuanya ya. Sampe detik ini kita masih sempat main tuk yang terahkir di saat ini. Oh ya aku punya sesuatu buat mu." Isa mengambil dari barang bawaannya.


"Apa itu?" Ia memberikan ku hadiah yang di berlapis kan kertas kado.


"Nanti aja di buka pas pulang." Ia tersenyum lebar.


"Iya makasih ya Sa." Aku melambaikan tanganku dengan air mata yang bercucuran.


"Kapan-kapan kita jumpa lagi ya Tuti!" Ia melambaikan tangannya dan berteriak sambil menangis.


Aku mencoba mengejarnya, namun tidak kesampaian. Aku menangis di situ dan menuju pulang kerumah. Mamak terkejut dengan tampilan ku seperti di gebukin warga, muka kusut dan sedih, rambut acak-acakan, ditambah dibawah mataku sembab seperti mata panda dan mataku juga merah karena menangis terus dari tadi


"Darimana kau Tuti? Kenapa kau? Coba cerita sama mamak." Mamak memberhentikan langkahnya yang sedang menyapu rumah. "Adanya orang yang jahat sama mu?" Mamak memelukku erat dan mengusap-usap air mataku yang keluar itu.


"Engga kok mak." Jawabku singkat.


"Jadi, apa yang buat kau menangis?" Mamak risau akan keadaan ku.


"Si Isa cuma pindah, baru dia kasih aku ini. Dia ga disini lagi mak."

__ADS_1


Mamak menenangkan ku yang lagi menangis dipangkunya "Ssst, ssst Udah-udah cup-cup..". Mamak berkata "Perpisahan bukan berarti akhir Tuti, tapi perpisahan karena suatu keadaan. Kayak Tuti waktu sama Buk Sus hari itu." Aku mulai mengingat momen itu kembali, terlintas jelas dipikiran ku.


"Iya Mamak benar. Aku ga nangis lagi kok." Aku cepat-cepat menghapus air mata ku dan memeluk Mamak kembali.


Aku membuka hadiah yang Isa berikan. Dan ternyata itu sebuah kotak musik mini yang indah dan sebuah lukisan juga ungkapan kecil terlukis diatas kotak musik itu



"Terimakasih ya Isa. Hadiahnya sangat bagus dan aku suka. Ini akan ku simpan sebagai kenangan terindah dalam hidupku. Jikalau aku gundah gelisah atau sedih aku akan memainkan kotak musik yang kau berikan ini." Lirihku dalam hati. Aku memandanginya dan tersenyum bahagia walau dia pergi untuk waktu yang lama.


.........


Hari ini minggu pagi. Di mana mentari terbit dan embun pagi masih menyambut benderang di waktu ini. Aku memutuskan untuk sarapan dan meminum segelas dua gelas air putih juga ingin bersepeda.


"Mak aku sepedaan ya?"


"Iya." Suara Mamak Sayup-sayup terdengar karena jauhnya di dapur dan sedang masak, dan sedangkan aku didepan pintu rumah ruko ku.


"Pergi Mak." Aku menggowes sepeda ku dan meluncur di jalan.


Aku menikmati pemandangan di pagi itu, kicauannya burung bernyanyi dan orang-orang yang pada masih molor di pagi itu, mungkin? Tapi entahlah. Lalu aku melihat Yanti yang tengah joging start dari mesjid


"Hey Yanti?"


"Ouh hai Tuti!" Ia melakukan pemanasan sebelum jogging.


"Kau mau joging kemana?"


"Not far from here. Kenowhy?"


(Tak jauh dari sini. Kenapa?)


"Kenowhy, kenowhy, matamu kenowhy.


Ngomong yang bener lah Yanti, jangan di buat-buat." Aku kesal juga mengumpat padanya.


"Ehe sorry, Kita dah lama ya ga ketemu. Terakhir kalinya di Madrasah kemarin sama di SD yang sekarang kau gantiin aku."


"Ya gitu lah, di tambah Isa dah pindah juga." Aku menggaruk kepalaku yang gatal akibat keringat dan ketombe basah.


"Hah? seriously?"


"Ya." Aku hanya mengangguk-anggukan kepala.


"Hmm gitu ya." Ia mengangguk-angguk paham.


"Yaudah aku lanjut ya. Bye." Aku langsung menggowes kembali sepeda yang aku tunggangi secara kencang dan cepat.


Suara Yanti tak ku dengar lagi, akibat sepeda yang ku kendarai sangat laju dan cepat. Aku sepedaan agar menghibur diri supaya tak teringat-ingat lagi wajah Isa di pikiranku untuk sementara ini.


(BERSAMBUNG...)

__ADS_1


__ADS_2