Tuti Malas Sekolah

Tuti Malas Sekolah
47. Guruku Ngambekan


__ADS_3

Kelas kami terkenal ribut dan tak terkendali macam di pasar. Memang kuakui diri ku sendiri, Ya. Ya memang benar. Bukan Wali Kelasku saja yang sudah bosan menasehati kami, guru dan kepala sekolah pun juga tapi manusia di kelas kami ini bebel dan enggan di nasehati. Kami sudah masuk di semester dua, dan sekolah SD ku tinggal beberapa bulan lagi. Kemungkinan aku akan beranjak menuju SMP menempuh pendidikan selanjutnya


"Anak-anak dengar dulu ibu mau menjelaskan materi tentang..." Tak ada yang bisa diam dan hanya beberapa dari aku dan yang lainnya diam dan mendengarkan apa yang di bilang Buk Eriana walaupun kami tak mendengar karena bisingnya kelas.


Buk Eriana naik pitam, wajahnya memerah padam, dan menghentikan telapak tangannya diatas meja guru itu "Kalian ngerti ga sih dibilangin? Udah besar tapi tingkahnya kayak anak kelas dua SD. Saya menerangkan tapi ga ada yang mau mendengarkan. Yaudah kalian aja jadi Guru nya, saya malas." Buk Eriana cabut dan meninggalkan kelas itu hingga pelajaran selesai.


Hari-hari demi hari berlalu. Buk Eriana tak kunjung datang kekelas kami. Kami risau akan Ujian akhir nanti yang seperti apa. Tapi aku tak begitu perduli karena ku mengira itukan bukan kesalahanku. Lalu Ningsih dan teman gank lainnya sibuk akan Buk Eriana yang tak kunjung kembali dan menyuruhku untuk membujuknya


"Tuti, sana bujuk Buk Eriana biar kelas lagi." Ningsih dan gank lainnya menyuruhku secara cuma-cuma.


"Engga ahh, lagian bukan salah ku kok. Itukan kesalahan mu." Aku menolak secara mentah-mentah dan berpaling.


"Ihh Tuti ini ga ada suportif-suportif nya kitakan sekelas." Salah satu teman Ningsih meledekku.


"Lucu kalian, orang kalian yang salah malah mencibiri orang. Lawak banget." Aku tertawa melihat tingkah aneh mereka dan pergi.


Ketika aku di kantin melihat Buk Eriana yang tengah makan diantara beberapa murid-murid, dan aku pun duduk di hadapannya


"Buk, Ibuk mau sampai kapan begini?" Aku menanyakan dan hanya empat mata padanya.


Ia menghabiskan makanannya yang ada di mulutnya "Ya biarin aja mereka yang salah. Biarkan saja mereka yang bujuk. Orang kamu ga salah." Buk Eriana membela ku.


Aku menanyakan beberapa pertanyaan ragu-ragu "Jadi Buk, untuk kisi-kisi atau yang lainnya ujian kami nanti gimana? Kami kan dah mau akhir sekolah." Aku bertanya ragu-ragu dan terbata-bata. Takut jikalau ia bertambah marah dan kesal.


"Udah kalo soal itu aman. Tak perlu risau engkau." Buk Eriana menjawab dengan cuek.

__ADS_1


Aku pun segera makan jajan yang aku beli tadi di kelas. Sebab aku hanya menanya saja di dekatnya tadi. Lalu Ningsih pun menanyakan ku beberapa pertanyaan dari jauh yang ia lihat aku hanya empat mata dengan Buk Eriana tadi


"Gimana say? Berhasil engga?" Ningsih melogat bagaikan menyanyi, nadanya naik turun yang membuatku merinding dan sedikit mual.


"Tanya aja sendiri." Jawab ku ketus sambil masuk kekelas, dan mempercepat langkahku agar tak di tanyakan lagi.


.........


Di sudut sisi aku bingung dengan Buk Eriana tadi dan di sudut sisi lagi bagaimana cara membujuk nya agar ia kembali? Kata-kata itu terus terngiang-ngiang dan berpusing-pusing di kepalaku. Lalu aku pun curhat ke salah satu Mamaknya Si Lily, karena ia yang bisa aku harapkan


"Oh Buk, saya mau cerita."


Buk Ara atau Mamak nya Lily bertanya "Hmm nanya apa nih Tuti?"


"Wihh kalo ibuk pun malas masuk kalau ada kelas kayak gitu, nah lanjut-lanjut." Buk Ara masih mendengarkan ku kembali sehabis kritikan nya.


"...Nah, setelah itu ada seorang Guru yang menjadi wali kelasnya. Ia marah dan merajuk Buk, enggan masuk kelas itu lagi. Gimana lah cara membujuknya?" Aku berunding dan mencari solusi dengan Buk Ara.


"Wahh lumayan rumit juga tuh masalah. Kalau jadi Ibuk ya sih ga sampai segitunya. Namanya murid itu adalah anak-anak Ibuk. Emang Buk Eriana begitu?"


Aku mengangguk dan berbisik pelan "Ya begitu lah buk, tapi jangan bilang-bilang ke Buk Eriana nya ya buk. Kita-kita aja,.." Aku mengingatkan Buk Ara tuk tutup mulut dan secara rahasia.


Buk Ara mendapatkan ide yang lumayan menakjubkan "Coba kasih tau teman-teman buat surprise, hadiah, atau apapun itu yang kesannya memberi sesuatu. Agar balik Buk Eriana nya."


Aku mendongak dan menatap dengan tatapan penuh harapan "Yang beneran bisa nih Buk?"

__ADS_1


Buk Ara menganggukan kepala "Hmm, ya. Coba aja. Dulu Ibuk gini karena Guru di sekolah semasa Ibuk sekolah dulu juga gitu dan berhasil." Ia percaya akan masa lalu yang ia terapkan dahulu.


Aku pun pamitan dan pergi meninggalkan nya. Aku segera memberitahukan pada teman-teman ku agar Buk Eriana kembali dan mengajar seperti biasanya. Tapi aku bicarakan ini pada Lily agar mereka mau mendengarkan nya


"Lily, aku dah tau cara membujuk Buk Eriana!" Semangatku membara dan memantapkan langkah ide ku.


Teman-teman ku yang awalannya sibuk dengan mereka masing-masing malah berbondong-bondong mengerumuni kami "Ihh gimana caranya tuh? Capek lho kita-kita sekolah ga ada Buk Eriana masuk. Sia-sia aja rasanya ga ada Buk Eriana." Temanku salah satu berkata di kerumunan. "Beneran ga? Nanti akal-akalan mu aja." Salah satu teman ku yang meragu menyindir.


Aku meyakinkannya "Ihh serius tau! Gini caranya." Aku berbisik-bisik pada mereka dan mereka pun menyetujui rencana yang di berikan oleh Buk Ara tadi Mamak nya Si Lily.


"Ohh gitu, ya Ti. Kapan mau di buatin kek begituan?" Ningsih bertanya tenggatnya.


"Besok aja, lebih cepat lebih bagus."


"Hmm setuju! Aku sependapat sama mu Ti." Lily setuju dan segera merencanakan besok.


Kami pun membagi-bagi tugas kami. Ada yang tugas membawa makanan, hadiah, bunga dan lainnya. Aku pun membawa hadiah yang mungkin menarik perhatian Buk Eriana. Aku bertanya-tanya apa kesukaan nya Buk Eriana pada Buk Deriana. Tapi Buk Deriana seperti enggan memberitahu kami. Jadi kami pun harus berpikir keras hadiah apa yang ia suka, makanan apa yang ia favorit kan? Kami pun tak tahu. Jadi mau tidak mau kami memilih makanan yang manis-manis, hadiah-hadiah yang lucu-lucu dan imut agar menarik perhatian nya dan mau kembali ngajar-mengajar seperti sebelumnya


"Udah kan? Siap?"


"Siap!" Kami memberikan tos satu sama lain.


Aku berharap rencana tuk besok bisa berhasil, dan aku tak sabar menunggu besok bagaimana hasilnya.


(BERSAMBUNG...)

__ADS_1


__ADS_2