
Di kala itu aku terlambat. kini aku sudah tidak masuk siang lagi, tidak masuk siangnya itu pada sekolah dasar. Jadi aku masuk sekolah dasar itu pada pagi hari. jadi aku masuk madrasah nya itu pada siang hari. Aku sempat ketiduran dan lupa kalau aku Madrasah di siang itu. Ditambah dan kan tidak perlu menyangkal atau menduga kalau itu di pelajarannya Buk Lasmine. Aku heran, terkejut, dan malas jika aku harus dihukum lagi. Ku ketuk pintu dan ku ucap salam
"Assalamualaikum Buk, maaf saya telat." Aku keringat dingin.
Buk Lasmine hanya mengangguk-angguk setuju dan dengan muka yang tampang sedih.
Aku heran dan berbisik pelan, merunduk ke telinga Yanti "Ehh Yan, itu Buk Lasmine kenapa?"
"Ya biasalah say, Berduekah" Nadanya mentel membuatku muntah.
"Kau ngomong itu yang jelas lah, ngomong kayak orang kumur-kumur."
"Iya-iya dech, Lagi berduka. Udahkan?" Tangannya berisyarat.
"Iya juga, masuk akal. Yaudah deh" Aku menepis bahunya dan pergi ke meja ku.
Disitu aku melihat Buk Lasmine kaku membisu tanpa percakapan. Hanya sepatah dua patah kata saja yang keluar dari mulutnya. Tak seperti hari kemarin yang selalu marah-marah, mencaci maki dan hal negatif lain membuatku gelisah nan resah. Tiba-tiba Buk Lasmine membuat klarifikasi meminta maaf. Tapi bukan seperti yang viral-viral di TikoTokik itu, ia meminta maaf sebab kehadirannya yang tanpa keterangan.
__ADS_1
"Hai Peserta didik yang ibu sayangi dan ibu cintai.
Izinkan Ibu berbicara sebentar dan meminta waktunya sebentar?" Nada Buk Lasmine sedih bergeming.
Kami mengangguk setuju "Iya Buk, Boleh. Silahkan buk." Kami siap menjadi pendengar, kecuali aku yang malas berbasa-basi dengannya.
"Sebulan lalu, tepatnya hampir satu bulan lalu ya? Ibu pindah. Ibuk lupa mengabari kalian. Jadi Dua minggu lalu Suami Ibu kerja di Aquary sana. Membuka lahan dan..." Air mata Buk Lasmine jatuh, isak tangis mengingat momentum itu. "...suami Ibu disengat ratusan Tawon Tanah. Lalu ia dilarikan lah ke Rumah Sakit Hati Insan. Perawatan disana, dan Ibu siang menjelang malam, malam menjelang pagi melihatnya terbaring lesu. Tak kuat Ibu melihatnya, Ibu bilang Udah ikuti aku ya mas, *Mengucapkan dua kalimat syahadat* Dan Ibu Bilang Yang tenang ya mas, Aku rela kok. Jangan pergi dengan berat hati. Maaf selama ini aku belum bisa jadi yang terbaik. Terus suami Ibu pergi, pergi tuk selamanya di jam siang kemarin. Ya begitulah, umur ga ada yang tahu. Ibu minta maaf kalau ada salah sama kalian. Kalian maafkan kan?" Mata Buk Lasmine dipenuhi air mata penuh dosa.
"Maaf.." Ucap teman sekelasku dan aku sendiri yang tak memaafkannya karena dendam dan dongkol bersatu di jiwa raga ku.
Aku telah pulang. Dan Mamak menyapaku kala itu. Dan aku lihat ia lagi menyapu halaman
"Ehh Tuti dah pulang?"
Aku menghampiri Mamak, meraih tangannya dan menyalimnya "Hehe iya Mak, barusan kok."
"Sama siapa?" Mamak menoreh kanan kiri dan celingak-celinguk.
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala "Ga ada tuh, sendirian aja."
Aku menghentikan langkahku dan menceritakan pada Mamak "Eh Mak tau ngga?'
"Tau apa?" Ketus Mamak.
"Rupanya Buk Lasmine selama ini dia pindah rumah di desa seberang. Udah gitu selama sebulan ini Suaminya sakit di sengat puluhan tawon. Pantes, rupanya penyebabnya karena Tawon Tanah."
Mamak tersentak dan terkejut, menghampiriku sesegera mungkin. Meletakkan sapu yang ia pegang "Ohh pantes lah. Kok dia ga datang-datang ke Madrasah. Mamak perhatiin kok dia ga nampak batang hidungnya belakangan ini."
"Iya Mak, Yaudah ya Mak. Tuti mau ganti baju." Aku memasuki rumah.
Mamak menyapu kembali*
"Iya." Sayup-sayup suara Mamak terdengar.
(BERSAMBUNG...)
__ADS_1