
Aku terbangun karena haus. Aku melihat Nenek membuat sarapan. Bau-bau nya seperti memasak Nasi Goreng kesukaanku. Aku penasaran dan mendekati ke dapur
"Hmm.. baunya enak, Nenek masak apa?" Aku memujinya.
Tersenyum, tertawa kecil "Dah bangun cucu Nenek? Ini Nenek masak Nasi Goreng Putih kesukaanmu."
Aku tergiur, lapar dan tak sabar "Wihh enak itu! Tuti mau Nek!" Aku segera mengambil piring dan sendok tak sabar menyantap masakan Nenek.
"Sini ambil piringmu." Nenek menyodorkan spatula yang berisi nasi goreng itu, di isi ke piringku.
Aku pun lahap memakan masakan buatan nenek. Sudah lama aku tak memakan masakannya. Masakannya begitu enak. Sebelas dua belas lah sama masakan mamak. Tapi jika boleh kuakui masakan Nenek lebih legendaris dan enak! Kalau Mamak kalah cepat bangun nya dari Nenek. Nenekku jam empat pagi sudah bangun. Sedangkan Mamak jam lima pagi baru bangun. Tapi itu tak masalah, aku saja bangunnya jam enam pagi atau jam setengah tujuh pagi hehehe. Nenek pun makan di sebelah aku sedang makan. Nenek meminta tolong padaku
"Tuti, nanti bantuin Nenek buat kue mau?"
"Kue apa Nek?" Aku melahap sesuap penuh nasi di mulutku.
"Kue ongol-ongol, lapis, dan lainnya lah." Nenek membuat banyak sekali.
"Jam berapa kita buatnya?" Aku termenung sejenak.
"Hmm, kira-kira jam tiga sore nanti aja lah. Sehabis ahsar juga kan?" Nenek meyakinkan.
"Kalau jam dua belas,satu, dua Ti, entar Nenek masih tidur. Hehe biasa lah Nenek-nenek. Bawaannya pengen tidur mulu."
"Wih banyaknya, nanti ga habis kita makan." Aku terbenganga melihat Nenek membuat rencana begitu banyak. Keluarga kami sebenarnya kurang suka makanan ringan, kalau mau pun jarang.
"Gak apa-apa, sedikit-sedikit entar Nenek buat. Kau belum pernah merasakan kue-kue itu kan?"
Aku menggelengkan kepala "Belum sih?" Heran, menatap langit-langit, penasaran bagaimana rasanya nanti.
"Nah, maka nya bantuin Nenek buat. Ehh sebentar ya, Nenek mau masak air hangat dulu. Untuk air minum Nenek, kalau ga ada air hangat Nenek suka batuk-batuk gitu." Nenek memegang tenggorokan nya.
"Ohh iya Nek." Mengangguk paham, beranjak dari makan ku dan siap makan juga.
__ADS_1
.........
Kini t'lah Sore hari. Seperti yang Nenek rencanakan. Kulihat di kamar, Nenek sedang tertidur. Mungkin ketiduran. Jadi ku berniat membangunkannya. Aku menghidupkan lampu kamar, dan aku bangunin dengan menepisnya pelan
"Nek, Nek, Nek? Yok bangun, katanya mau buat kue."
Samar-samar Nenek membuka matanya yang baru bangun, setengah sadar itu "Hmm, ha? Oh, iya-iya. Tunggu ya." Nenek beranjak dari kasur, merenung sejenak dan bangkit dari kasurnya.
"Tunggu ya, Nenek mau ambil wudhu. Mau sholat dulu, habis itu buat kue. Mulai dari kue mana dulu ya Ti?" Nenek bingung.
"Kue lapis aja Nek, aku penasaran kayak mana bentuknya kue lapis itu."
"Ohh yaudah buat itu dulu baru yang lain." Nenek ke kamar mandi buat ambil air wudhu nya.
.........
Setelah Nenek menyelesaikan ibadahnya. Aku dan Nenek pun bergegas membuat kue itu. Bahan-bahan nya terdiri dari: 25 sdm tepung beras, 25 sdm tepung tapioka (kanji), 25 sdm gula pasir (yang suka manis boleh di tambahkan), 1000 ml santan, Garam secukupnya dan Pewarna makanan. Alat-alatnya adalah: Loyang, Dandang berisi air untuk mengukus, Piring dan Pisau. Walaupun itu membuatku pening dan sepertinya rumit. Tapi tidak bagi Nenekku
"Nah langkah yang pertama itu, Rebus santan dan gula sampai mendidih kalau bisa jangan sampai pecah. Harus mendidih ya, tujuannya agar tidak cepat basi kue lapis nya nanti, jika sudah mendidih. Lalu diam dan di dinginkan." Nenek menjelaskan sambil tersenyum, dan mempraktekkan cara membuat lapis tersebut.
"Terus langkah kedua itu, Campur tepung beras dan tapioka (kanji). Kemudian tuangkan santan yg sudah dingin tadi sedikit-sedikit sampai tercampur adonan tidak kental jg tidak encer. Lalu kasih garam secukupnya yaa.." Sambil Nenek mengerjakan pembuatan kue nya.
Mamak datang menghampiri kami "Wihh, buat apa nih? Mamak bantuin ya." Mamak mengacau kami.
Aku menepis tangan nya "Engga usah Mak. Biar kami aja, Mamak yang lain aja."
"Ohh yaudah." Mamak pergi mengerjakan pekerjaan lain.
"Nah, baru masuk langkah ketiga nih Tuti. Bagi adonan menjadi 3, kasih warna. Warnanya sebenarnya bisa apa saja. Tapi karena kita ada warna hijau Pandan, kopi coklat, sama adonan putih yaudah ini aja yang kita pakai. Warna hijau Pandan, kopi coklat dan yg 1 tetap adonan putih."
Aku mengangguk terbenganga "Ohh gitu ya Nek, banyak juga langkah-langkah nya. Ribet juga." Aku mulai sedikit pusing.
"Halah karena ga terbiasa itu kau. Kalau terbiasa entar Tuti enak kok buat sendiri. Misal kau merantau jauh, ga ada yang jual. Bisa Tuti buat sendiri." Nenek tertawa kecil.
__ADS_1
"Ehe iya sih Nek. Ini udah matang Nek!?" Aku tak sabar menyantapnya.
"Ehh belum!" Nenek menepis tangan ku yang meraih kue lapis itu. "Lalu langkah keempat. Panaskan dandang nya berisi air tadi. Oles loyangnya dahulu dengan sedikit minyak. kemudian tuang perlayer 5 menitan Tuti, pastikan kukusan sudah panas dulu.."
"Kalo ga panas sempurna emang kenapa Nek?"
"Ya bisa aja gagal lah." Nenek tertawa menyerungut.
"Yang terahkirnya nih. Lakukan sampai habis, tunggu benar-benar dingin baru di balik Dan bisa di potong." Sambil Nenek menjelaskan dan menunggu Kue lapis buatan kami dingin.
Aku heran, dan tak sabar menunggu "Nek, berapa lama ini siap dingin kue nya?"
"Ya di toel-toel aja. Kalo kerasa dingin, yaudah di hidangkan. Tapi harus benar-benar udah dingin yang di adonkan tadi."
"Walaupun ga jalan-jalan, di libur kali ini yang lumayan panjang, tapi berarti bisa belajar kue sama Nenek. Libur penuh arti buat Tuti." Aku tersenyum lebar dan bersyukur.
Nenek memeluk ku "Oalah, gak apa-apa. Libur panjang ga meski jalan-jalan ya Tuti. Bisa hal lain, gak apa-apa kan ndok?" Nenek tersipu akan perkataan ku.
"Ehe iya Nek." Aku tersenyum dan memeluk Nenek kembali.
.........
Setelah kue bisa dimakan, Nenek memotong kue itu dan menghidangkan nya di meja makan. Aku setelah mandi dan mencomot kue yang berada di meja makan itu
"Ihh siapkan dulu mandi mu itu." Mamak menyerungut kesal.
"Ehe Tuti penasaran. Hmm enak ya!" Aku mengecap, rasanya lembut, kenyal, dan lengket juga manis.
"Iyalah, namanya Nenek yang buat." Nenek merasa paten.
"Iya lah itu Nek." Aku tertawa kecil.
Aku merasa sangat bersyukur di hari ini. Banyak yang bisa ku ambil ilmu dari libur panjang ini. Walaupun ga pergi kemana-mana setidaknya sepadan bisa bersama Nenek. Aku jadi lupa jikalau libur-libur panjang tahun lalu itu membuatku bosan jika tidak pergi entah kemana-mana. Yang penting jalan-jalan. Itulah diriku.
__ADS_1
(BERSAMBUNG...)