Tuti Malas Sekolah

Tuti Malas Sekolah
51. Bahan Olok-olokan


__ADS_3

Aku sekolah dengan muka yang masih kusam dan semerawut akan terjadinya hal kemarin. Aku melihat Hendra di balik seberang koridor kelas lain. Hendra ku lihat tak mau mencakapi ku, begitupun aku sebaliknya. Aku berjalan di koridor kelas perkelas menuju lokal ku. Pintunya tertutup. Kali ini aku tak mau sembarangan membuka nya, ku ketuk pintu dan di persilahkan masuk. Hal yang tak menyenangkan menyambut pagi yang cerah bagi alam, tapi suram bagi diriku


"Ehh anak mami dateng." Teman-teman kelasku menertawai ku karena perangai Reini dan Mifthi.


Aku hanya diam dan segera meletakkan tas ku dan duduk di depan kelas sendirian. Baru kali itu sifat busuk mereka keluar. Baru aku tahu kalau mereka beraninya main kawan dan berkelompok. Aku hiraukan aja, toh cuma cibiran mulut-mulut sampah yang tidak berguna itu. Kelas pun di mulai, Hendra mencibiri ku dan mengolok


"Minggir kau anak mami, aku mau lewat." Sambil ia tertawa dengan sinis dan pandangan mata yang menyorot tajam pada ku.


Mifthi juga memanas-manasi keadaan "Tuti, Tuti. Itulah kau bertingkah sama geng kami."


"Diam kau, tutup mulut mu yang sok tau itu." Aku marah, muka ku memerah, mataku melotot tajam pada Mifthi, dan meninggalkan nya berpaling dan pergi.


"Woy, dah bagus kau? Woy?!" Dia marah tak terima, tapi enggan mengejarku.


Padahal aku tak sengaja, kenapa harus sedengki itu mereka padaku? Emang orang yang tak sengaja harus jadi bahan olokan? Aku benar-benar kesal dan menatap mereka dengan tatapan kosong ketika meraka kekantin melihatku.


.........


"Isa, aku disini sebenarnya ga baik-baik saja. Aku rindu kali bersama mu dan melindungi ku dikala aku sedang susah dan merintih. Ningsih kini bukan sahabat ku lagi. Aku tak punya siapa-siapa disini. Bagai tiba di negeri orang asing. Memang kalau punya salah tak di sengaja sampai di olok-olok begitu ya. Memang apa salahku pada mereka? Kan yang memulai Hendra duluan. Bukan aku." Aku merenungi nasib ku itu, dan mungkin lama kelamaan nanti juga menghilang. Tapi tak tahu kapan menghilang nya.


Aku pergi ke perpustakaan setelah istirahat kedua. Aku menuju ke sana dan bermaksud hati agar menjauhi dari hal negatif. Disitu ada tata cara membuat Puisi, Pantun, dan Syair. Aku pun penasaran, bergegas meminjam buku itu dari perpustakaan dan kembali kekelas. Orang-orang aneh itu tetap saja mengolok-olok ku. Tapi aku tak perduli. Aku tetap membaca dan aku tertarik cara membuat puisi itu. Aku mencoba-coba buat puisi walaupun tampak sulit. Karena bahasanya puisi agak berbeda dengan bahasa Indonesia pada umumnya. Kalau kata di buku dicampurkan dengan bahasa kiasan. Jadi aku memperdalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dan bahasa kiasan dari setiap puisi yang aku baca. Aku tertarik pada puisi. Padahal aku dulu tak tahu-menahu tentang puisi ini. Palingan festival kemarin saja aku melihat musikalisasi puisi yang dibacakan oleh kakak-kakak waktu itu. Aku perdalam tentang puisi dan cara agar pendengarnya tersentuh akan puisi yang dibuat sendiri. Aku membeli buku di Koperasi sekolah dan segera menulis puisi pertama ku. Aku menuliskan berjudul 'Luka Yang Mendalam.' Aku menulis dengan tata cara yang di ajarkan di buku itu. Lalu jadilah sebuah puisi


'


...Luka Yang Mendalam...


...Karya: Tuti Lasmani...


...----------------...


...Resah hancur lang buta arah...


...Gemuruh sedih mengguncang jiwa...


...Isak tangis lamunan diri...


...Hancur gemirih meronta lirih...


...Karena masalah kian datang dan berganti...

__ADS_1


...----------------...


...Peristiwa yang menerpa kini...


...Lantunan duka menggurui pikiran...


...Semua terjadi di depan mata...


...Lesu pasrah akan masalah yang aku alami...


...----------------...


...Angin berpondai-pondai menyaut hati...


...Hujan gemertak basahi diri...


...Menangis di tengah hujan tanpa ada yang mengetahui...


...Cukup ku tau seorang diri...


...----------------...


...Tangisan, teriakan, keputusasaan menghantui lara ini...


...Samar-samar pandang secercah harapan...


...Namun harapan itu, t'lah sirna sudah...


...Sekarang meratap luka yang tiada henti merintih...


^^^'^^^


Aku pun menulis puisi ku di buku pertama ku. Lily berjalan kearah menghampiri ku, ia penasaran apa yang aku buat di tambah aku senyum-senyum sendiri meratapi buku yang berisikan puisi itu


"Ihh Tut, nulis apa kau?" Ia melihat buku ku.


Aku menunjuk kan buku milik ku "Nih, belajar buat puisi."


Ia terbenganga "Wih keren ya, nanti boleh kan ku pinjam?!" Ia tak sabar hendak meminjam buku yang kubuat puisi itu, walaupun tulisan ku agak amburadul macam ceker ayam.

__ADS_1


Aku mengangguk, mengiyakan permohonan nya "Iya boleh kok. Kalo puisi yang ku buat udah banyak boleh-boleh aja. Ini aku mau buat puisi lain." Sahutku.


"Yaudah Ti, nunggu banyak nanti aja. Biar puas aku bacanya." Ia tertawa kecil.


Mifthi pun menghampiri ku dan kalimat iri terlontar dari mulut nya "Halah puisi apa yang kau buat itu. Ga guna, habisin waktu aja."


Aku menyangkal nya dan tak terima "Biarin daripada kau ga ada karya nya. Taunya ngomentari orang aja, karya ga ada lagi. Ihh najis kali, Cuih!" Aku meludah kelantai, menghinanya atas perilaku dirinya yang membuat ku jijik.


Ia pun pergi meninggalkan ku dan sementara ini tak mengusikku. Aku senang ahkirnya ia tak mengganggu dan membuat onar dengan ku sementara waktu. Karena aku saja sudah muak melihat tingkah laku nya itu. Aku terus-menerus membuat puisi yang indah. Dari puisi sedih, senang, dan lainnya. Hari demi hari aku menulis satu puisi di buku ku.


.........


Aku mulai menyukai puisi. Aku target satu hari minimal satu sampai dua puisi. Aku menyukai hobi baru ku itu, yaitu hobi menulis. Sebelumnya aku tak punya hobi, apalagi minat bakat. Aku hanya menghabiskan waktu ku dirumah tuk menonton TV ataupun chattingan dan melihat video-video lucu dan unik di Facebook saja. Lily penasaran akan puisi yang aku buat, dia menghampiri ku dan meminta janji ku di waktu itu


"Tuti, pinjam buku puisi mu." Ia berlari kecil kearah ku, menyerobot mengambil buku ku.


Aku belum sempat bilang 'iya' dia sudah mengambilnya saja "Iya,.. main ambil-ambil aja ya." Aku tertawa kecil.


"Hehe maaf Ti, sebab aku penasaran kali sama puisi yang kau... Eh? Bagus lho? kau belajar dimana?" Lily memuji ku.


Aku menunjukkan panduan membuat puisi, pantun dan syair itu "Dari buku ini, aku pinjam di perpustakaan kemarin."


Ia mengambil buku panduan itu dan ia tak menyangka akan ada buku seperti itu di perpustakaan "Wih kok aku bisa ga tau ya ada buku kayak gini di perpustakaan. Nanti aku pinjam dan cari lah." Ia membuka halaman buku panduan itu halaman demi halaman secara cepat, hanya membalik-balik isi bukunya.


"Kalau kau mau bisa pinjam buku panduan itu, tapi harus ganti nama. Nanti aku pula yang kelamaan, jadi nya bayar denda yang ada."


Ia mengajakku ke perpustakaan "Yaudah sekarang aja gerak kesana."


"Hah sekarang juga?"


Ia berderik "Tahun depan lah Ti." Ia tertawa lebar dengan senyuman yang indah menawan.


"Yaudah nanti aja." Aku berdalih, tertawa balik.


"Ihh sekarang, yuk." Ia meraih tangan ku.


"Yaudah yuk." Aku ditarik secara buru-buru. Kami pun ke perpustakaan dan segera mengganti nama peminjam buku itu.


(BERSAMBUNG...)

__ADS_1


__ADS_2