Tuti Malas Sekolah

Tuti Malas Sekolah
38. Pasar Malam


__ADS_3

Kala itu, sehabis Magrib tepatnya hujan melanda daerahku. Angin dingin malam menembus ke sekujur tubuhku. Malam itu terasa sunyi dan ada pengumuman keliling bahwasannya ada Pasar Malam di dekat balai kota. Aku memberi pesan di grup kami



Lalu aku menunggu di Simpang. Isa dan Ningsih sekarang mungkin lagi siap-siapan. Aku bolak-balik mengecek handphone. Apakah ada tanda-tanda pesan grup chat? Atau jam berapakah ini sekarang? Aku ga mau juga kalau terlalu larut malam. Bisa di marahin Mamak entar.


"Ouy!" Samar-samar ku dengar seperti suara Isa.


Menoleh ke belakang, menyipitkan mataku "Ohh Isa! Mana si Ningsih?"


Menggelengkan kepalanya karena tak tahu "Entah, tadi katanya dia pergi. Kita duluan aja yuk, ga sabar aku!"


Aku memegang lengannya, mencegat agar ia tak pergi "Jangan dulu! Nanti si Ningsih gimana? Ya kali kau mau tinggalkan dia. Ga best friend forever banget kau." Aku menghela nafas panjang juga kesal.


"Hehe iya maaf-maaf" Ia membungkuk-bungkuk kan badannya.


Kami tunggu ia. Lima menit berlalu, sepuluh menit berlalu, lima belas menit berlalu. Muka kami yang jenuh dan bosan menunggu Ningsih yang tak kunjung datang.


"Wihh berkerak lah aku disini Ti, lama kali si kawan." Isa mengusap-usap mukanya yang kesal.


Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal "Wihh iya yaudahlah yuk pergi kita." Dan kami pun pergi.


.........


Aku disana dan Isa masuk dari gerbang depan Pasar Malam yang di gelar. Ada Bianglala, Ombak banyu, Mandi Bola, Tong Setan, Lempar Bola, Kereta api mini juga tak luput dari Rumah Hantu dan beberapa kuliner juga souvenir yang di perdagangkan disana. Bagaimana rasanya jika di Pasar Malam tanpa ada tempat horor dan menegangkan. Pasti tidaklah seru jadinya. Aku sengaja membawa uang yang pas-pasan agar tidak boros. Semua wahana di kenai tarif biaya Lima Ribu Rupiah/Wahana nya. Kalau jajanan kuliner dan souvenir bisa berbeda-beda tergantung apa yang ia jual atau perdagangkan.


"Tuti yuk kita naik itu, itu, itu sama itu!" Isa kegirangan.


"Ihh kau ajalah, banyak kali yang mau kau naiki. Duitku aja cuma Lima Belas Ribu. Palingan dua wahana, sisanya jajan." Aku menggocek dari sakuku dan menunjukkan pada Isa.


"Kau pun, kenapa ga kau minta banyak?" Isa berderik.


Aku memelas karena pelit "Yahh banyak-banyak entar tekor lah aku, lagi pun ga meski semua di naiki. Enakan jajan juga sih."


Muka Isa mulai masam "Hmmph.. Kalau kau ga heran lah Ti, Tuti.." Isa tertawa lepas.


"Heyy Tunggu!!!" Samar-samar suara asing himpun menghampiri kami.


"Ehh itu Yanti?" Isa menunjuk kearah gelap dan samar di jalan setapak.


"Iya ini aku." Nafas Yanti terengah-engah karena lari nya yang seperti dikejar setan.


Aku celingak-celinguk "Sendirian aja nih kau?"

__ADS_1


Ia menggelengkan kepala, menunjuk kearah belakangnya yang samar-samar tak terlihat bahkan "Engga tuh sama Ningsih." Sambil Yanti menarik dan membuang nafas.


"Maaf ya aku telat." Ningsih menggaruk lengannya yang di gigit nyamuk dan tertawa polos.


"Hmmph.. Lama kami pun kau. Tau gitu kami cabut aja duluan kesini. Berkerak kami nungguin kau aja Ning." Kesalku dengan jawaban jutek.


"Hehe maaf banget ya, soalnya tadi aku mau langsung. Ehh Mamakku juga malah nyuruh aku beli kecap di warung nya pak Somad." Ia memohon maaf pada aku dan Isa.


Kami mengangguk "Yaudah iya, kami maafin." Serentak kami dan pergi.


Ningsih dan Yanti mengikuti Aku dan Isa dari belakang. Kami memutuskan buat melihat-lihat sekitar dulu. Jikalau kami cocok kami akan membayar pada wahana yang sama. Dan kami melihat wahana Rumah Hantu.


"Yuk sana aja!" Aku menunjuk ke wahana itu.


Yanti sedikit merinding dan takut "Ihh jangan, serem kayaknya."


Aku menarik paksa lengannya "Udah ga ada apa-apa, yang cosplay juga manusia yuk!" Dia menjerit pelan.


"Ahh engga mau, engga mau aaa.." Yanti merengek manja.


Kami membeli karcis kami masing-masing. Aku, Isa, Ningsih dan Yanti memasuki Rumah Hantu itu. Aku di barisan paling depan, Isa di kedua, Ningsih ketiga, dan Yanti paling belakang.


"Emm.. Tut, kau luan aja ya" Isa sedikit merinding pucat.


"Oh oke." Jawabku datar.


"Ihh awas lah, berat tau!" Ningsih melenggok-lenggokan badan nya yang di cengkram Yanti.


"Ihh nanti hantu nya keluar gimana?" Yanti menutupi wajahnya, dan satu cela matanya yang tersisa.


"Ihh penakut kali si Yanti ini" Isa tertawa kecil. Tiba-tiba..



Dibalik kain muncul sesosok tangan yang banyak.


"Aaaaa!!!!!..." Yanti menjerit histeris, lari terbirit-birit dan menangis histeris karena benar-benar ketakutan.


Kami terkejut dan mengejar Yanti "Ehh tunggu Yan!" Sahutku.


"Ehh tunggu woy!" Yang lain menyusul dari belakangku.


"Gila banget.. capek ouy ngejer Yanti." Nafasku ngos-ngosan, capek dan lelah.

__ADS_1


"Iya tuh, Yanti penakut betul lah. Capek kami." Isa juga sama ngos-ngosan nya.


"Kalian malah ga menikmati suasana nya. Malah lari-lari, lihat nih aku dikasih duit dari orang hantu-hantuan tadi." Ningsih pamer, menunjukkan uang yang berjumlah sepuluh ribu rupiah itu.


"Ihh nyesel aku, gegara ngejer Yanti. Jadi ga dapet aku." Kesalku menepis lengan Yanti.


"Maaf dong, bener-bener seram lho. Emang kalian engga?" Yanti bicara sesenggukan.


Kami menggelengkan kepala "Engga tuh." Jawab kami serentak.


"Yaudah-yaudah, yuk berdiri. Kita beli jajanan aja. Kasihan pula kau ketakutan tingkat dewa." Jawabku tertawa kecil melihatnya terduduk kaku dan pucat di rumput-rumput.


Ia mengulurkan tangannya "Bantu Tut.." Aku menarik bantu meraih tangannya agar ia bisa bangkit.


"Jadi, kemana lagi nih girlss..?" Isa memolek-molekkan logat bicaranya.


Aku tertawa kecil "Sama aja kau, lama-lama nular si Yanti."


"Hehe, iya. Ehh jajan yuk, laper. Tadi abis lari-lari dah kayak maraton." Ningsih memegang perutnya yang keroncongan.


"Yaudah yuk." Aku melangkah maju mencari yang kami inginkan.


Kami melihat pedagang sate keliling dan kami teriak


"Omm!!" Aku teriak kencang.


Ia merasa terpanggil "Sate nya dek?"


Ningsih mengangguk, mengiyakan "Iya om, pesan empat ya. Makan disini."


Lalu kami menunggu lumayan lama dan ahkirnya dibuatkan juga sate yang kami pesan


"Thanks Uncle."


"Terimakasih Om"


Om tukang sate berbalik tak paham akan perkataan Yanti "Duh dek jangan yang bahasa Inggris Om ga ngerti." Om tukang sate hanya bisa menggaruk kepalanya akan keminiman ilmunya.


"Ups, sorry. Maksudnya aqoeh terima kasih ya om." Yanti menutupi mulutnya, tatapan menggoda, jeloteh ke Tukang sate.


"Astaghfirullah, cuma itu ya dek. Iya sama-sama, yuk makan-makan jangan sungkan-sungkan." Kata om tukang sate sambil membuat sate untuk konsumen lain.


"Hahaha" Kami tertawa lepas karena keunikannya Yanti.

__ADS_1


Itu malam menjadi malam yang bahagia buatku dan aku dan lainnya setelah membeli sate itu. Kami pulang kerumah kami masing-masing.


(BERSAMBUNG...)


__ADS_2