Tuti Malas Sekolah

Tuti Malas Sekolah
41. Yang Aku Dambakan


__ADS_3

Ahkirnya aku dapat kesenangan yang selama ini aku bahagiakan. Mendapat teman yang sehat, guru yang cukup peduli, dan tanpa keburukan apapun. Disuatu kala aku pernah bermimpi buruk. Mimpi itu terasanya nyata. Teman-teman ku jadi pembully, yang membully diri ku, dan Buk Eriana acuh tak acuh padaku dan tak mau ikut campur dalam pembullyan itu. Aku terbangun dan ternyata sudah jam 06:37 Pagi. Aku terlambat setengah jam yang lalu, aku pun bergegas untuk pergi ke sekolah. Dan segera bertemu teman dan guruku. Aku menghiraukan mimpi ki tadi malam. Toh kan cuma mimpi juga? Pasti ga mungkin sih jadi kenyataan...


Gerbang hampir di tutup, aku mencoba menghentikan Security itu "Pak tunggu!"


"Duh, hampir aja kan. Makanya usahakan datang lebih awal dek." Pak Security menegur ku yang hampir terlambat.


"Iya pak, makasih ya." Senyum ku dan segera berlari kencang kearah kelas ku.


Aku segera memasuki kelas, syukur tak ada Buk Eriana disitu. Aku pun masuk dan segera meletakkan tas ku dan duduk di kursi ku dengan nafas terengah-engah


"Kau terlambat ya Ti?" Lily menatap ke arahku dari kursinya.


"Hampir sih, untung aja belum." Nafasku belum stabil dan masih terengah-engah karena berlari tadi.


"Syukur kau, untung ga ditutup tuh gerbangnya. Kalo sempat ketutup ga bisa masuk kau." Lily tertawa.


"Haha iya ya." Aku tertawa balik.


Kelas itu pun dimulai. Pelajaran pertama itu ialah Matematika. Aku bahkan lambat sekali menghitung, walaupun ku tahu jawabannya. Temanku pada saling contek-menyontek, tapi aku enggan. Aku lebih baik ga bisa sama sekali daripada saling menyontek, gumam ku dalam hati. Tiba-tiba soal diberikan, aku tak tahu jawabannya sama sekali. Aku menanya pada Ningsih


"Sst, Ning, Ningsih!" Aku berbisik kecil padanya.


Ia menoleh, enggan memberitahu ku "Apa? Jawaban? Engga tau." Ia berbalik dan tak mendengarkan ku.


"Padahal aku kan belum ada ngomong, dia malah tau ya?" Lirih ku.


Lalu aku pun terpaksa menyontek teman ku yang lain. Daripada ga siap? Mending lewat jalan tikus saja


"Reini, bagi jawaban nomor satu sama empat dong." Padahal jawaban lain aku belum siap sama sekali. Aku menyontek dengan berbeda orang juga berbeda jawaban.


Ia membuat secercah kertas kopekan "Nih, jangan sampe ketahuan." Bisiknya, memberikan kertas itu padaku dari balik bawah meja.

__ADS_1


"Makasih ya." Bisik ku.


"Iya." Ia mengangguk panik.


Lalu waktunya telah habis. Soal yang baru ku jawab adalah nomor 1, 3, 4, dan 7. Padahal ada sepuluh soal sedangkan aku hanya sanggup empat soal saja yang ku jawab, belum terlagi itu menyontek.


.........


Setelah nya aku pulang sekolah. Mamak membahas kapan Ijazah Madrasah ku di terbitkan. Aku pun yang baru meletakkan tas sekolahku menjawab


"Ijazah nya paling semester dua. Kata Kepsek di Madrasah sih gitu." Aku duduk di sofa.


"Ohh yaudah lah sana ganti baju, habis itu makan. Lauknya ada di tudung saji itu nasinya juga disitu." Mamak menunjuk kearah dapur, tepatnya di tudung saji.


Aku pun tak ada bermain-main, karena aku lelah. Jadi aku putuskan menonton TV dan tak sangka ketiduran di depan TV. Bukan aku lagi yang menonton TV. Tetapi TV yang menontonku, haha. Samar-samar dari luar ada suara Ningsih yang mengetuk pintu.


"...Tut, Tuti? Tuti?.. Tuti!" Suara sayup-sayup Ningsih dan aku masih setengah sadar terbangun, ku kucek mataku dan melihat secara jelas, memang itu ialah Ningsih.


Aku membuka pintu ruko ku itu (Sreeett... ret..) Suara pintu ruko berdecit nyaring ditelinga.


"Aku di tipu cowokku, katanya dia janji kalau dia transfer pulsa seratus ribu nanti dia bakalan semangkin sayang sama aku. Tau nya dia malah ninggalin aku. Itu seratus ribu punya Mamakku uangnya." Ningsih nangis sesenggukan.


Dalam hatiku "Itulah kau mampus kau situ. Pacaran virtual lagi kau." Mataku menyorot tajam padanya yang tengah menangis.


Aku berkata "Ohh yaudah yang sabar aja, lagi pula ngapain lah kau bisa sampai pakai uang Mamak mu demi cowo yang entah berantah itu?" Aku mengelus punggung nya dengan lembut.


"Ya namanya aku cinta berat sama dia. Dialah separuh jiwaku, hidup dan matiku, pokoknya the best forever lah Ti." Ia mengusap air matanya.


"Ihh geli pula aku dengarnya, cinta-cintaan pula. Cinta, cinta monyet nya itu." Lirihku bergeming.


Aku memberinya nasehat "Yaudah lah kau minta maaf aja sama Mamak mu sana. Baru jangan kau ulangi lagi." Sambil ku menutup pintu.

__ADS_1


"Iya yaudah, makasih ya Tuti." Nada bicaranya terbata-bata sambil terisak-isak. Dan pergi pulang, berbalik dari rumah ku.


"Iya, bye." Aku segera menutup pintu dengan rapat.


"Hih, dia pas aku butuh dia ga ada. Ini pas dia butuh aku selalu ada. Males juga lama-lama sama Ningsih." Derik ku memelas karena kesal. Taunya datang-datang curhat tentang cowok yang ga jelas ia kenal dari game online nya itu.


.........


Keesokannya ketika aku sudah pulang dari Sekolah Dasar ku, aku bermain di tempat Reini saudaranya Reino. Aku bermain dengan Reini yakni bermain masak-masak. Tapi menggunakan masakan sungguhan. Aku memanggil Reini dari luar rumahnya, tetapi ku lihat ada orang asing yang berada dari rumah nya


"Ehh ada Reini?" Aku menunjuk ke arah pintu rumah nya, yang terbuka tanpa orang tuan rumah.


"Ada tuh." Orang asing menganggukkan yang berarti ada/iya.


"Ehh ada apa Tut?" Reini celingak-celinguk melihat ku, dengan maksud kedatanganku.


Aku mengajaknya bermain "Yuk kita main." Mataku bersinar-sinar, berharap ia mengiyakan.


"Ayo, tapi aku lagi nyuci piring sebentar. Gak apa kan?"


"Iya ga apa-apa kok." Aku di persilahkan masuk, duduk di ruang tamu nya dan menunggu.


Orang asing itu memulai percakapan denganku


"Oh ya namaku Lina, namamu?"


Aku gugup dan terbata-bata "N-nama ku? Oh nama ku Tuti Lasmani. Panggil aja Tuti."


"Alah jangan gugup, kita sebaya kok." Ia menyikutkan lengannya ke bahuku dan tampak akrab.


"Ohh i-iya, aku agak gugup aja hehe.." Keringatku bercucuran karena gugup dan merasa karena tak terbiasa dengan dia.

__ADS_1


Reini pun mulai bermain denganku, kali ini kami memasak tempe goreng krispy. Aku membantu layaknya ibu-ibu yang sedang rewang. Aku pun mulai sedikit demi sedikit melupakan Ningsih. Mungkin aku tidak lagi berteman dengannya atau memisahkan diri dari persahabatan kami. Ku harap saja Reini bisa menggantikan persahabatan ku dengan Ningsih. Ya semoga saja.


(BERSAMBUNG...)


__ADS_2