Tuti Malas Sekolah

Tuti Malas Sekolah
• Promosi Novel Baru Aku! \(◕ᴗ⁠◕⁠)/ (Hadir di Bulan Mei Mendatang!)


__ADS_3


*Cover*


Judul: My R (My Reason) 'Alasanku'


...----------------...


Sinopsis:


^^^My R (Alasanku), Menceritakan seseorang yang hampir saja bunuh diri karena masalah hidupnya yang kian hari kian memberatkan dirinya. Tampak nya ia tak mampu menampung beban hidup yang cukup rumit yang ia pikul saat ini. Nama ku Rasa, ini cerita ku. Dan menurut isi di kepala ku, mengakhiri hidup mungkin jalan terbaik. Semua masalah mungkin akan hilang jikalau aku tiada.^^^


^^^My R.^^^


...----------------...


Episode 1 :


Saat ku menuju rooftop. Angan ku pasti itu tempat yang sepi. Mungkin ku bisa akhiri ini semua. Aku menaiki anak tangga satu demi persatu. Ku buka pintu dan menuju rooftop. Di hari yang cerah, pasti aku bisa lakukan di hari ini. Saat ku hendak lepas sepatu. Diatas atap aku melihat seseorang. Tapi tak begitu jelas, ia seperti ini hendak mau mengakhiri hidupnya. Aku spontan teriak "Hei, jangan lompat!" Ia terhenti, lalu tiba-tiba aku terbangun. Dengan penuh keringat di tubuhku.


Aku melihat jam, sudah pukul 06:00. Sudah saatnya membuat sarapan, mandi dan berdandan tipis ke rumah Ibu. Ayah dan Ibu ku sudah bercerai 10 bulan lalu. Mereka tak mau membawaku, baik Ayah dan Ibuku. Aku terpaksa tinggal di rumah almarhumah Nenek ku. Aku mengerjakannya semua, Palingan hanya Ayah mengirimi ku uang jajan dan Ibu mengirimi ku uang kebutuhan hidupku. Mereka terlalu sibuk, bahkan di festival akhir tahun saja enggan berkunjung. Melihatku seperti apa dan bagaimana. Tapi aku hiraukan saja, mungkin mereka sudah punya hidup masing-masing. Pernah satu bulan lalu aku mendatangi Ibu, tapi Ibu malah mengusir ku dan berkata


"Ngapain kau kesini? Kurangnya uang yang selama ini kukasih sama mu? Pergi sana, dasar anak sial!" Ia seperti mengutukku.


Aku tak menjawab sepatah kata pun, dan pulang kembali kerumah Nenek menggunakan transportasi kereta api. Aku ingin berjumpa dengan salah satu dari mereka. Saat aku telepon dengan Ayah beberapa minggu lalu, ia pun sama begitu dengan ku


"Aduhh, kau ngapain telepon aku? Jangan ganggu lah anak sial! Aku lagi sama pacar baruku, kau punya kehidupan. Aku juga punya kehidupan. Uang udah ku setor, jadi jangan kau hubungi aku lagi anjing! Bangsat!" Ia langsung mematikan telepon dengan tanpa salam dan tutur kata yang lembut dan hangat.

__ADS_1


Aku sangat merindukan sesosok keluarga. Bagi mereka-mereka yang berkata bahwa, 'Rumah itu tempat kita untung bernaung dan kasih sayang.' Tapi bagi ku rumah itu 'Rumah hanya tepat berteduh di selimuti gelap dan sepi.' Aku selama di rumah merasa kesepian, jadi aku bekerja di toko-toko grosir, tuk mengisi kesepian ku. Tak masalah jika aku pulang larut malam, asal aku tak pulang kerumah lebih awal. Membuat makanan aja tak ada, ucapan selamat datang saja tak terdengar lagi. Hanya ruang rumah yang senyap dan sepi. Aku mencuci muka ku dan tidur, karena besok mulai sekolah.


.........


Di hari Senin yang cerah ini. Burung-burung bernyanyi kecil, angin nyiur menerpa pipiku, dan juga kota yang sibuk untuk pagi ini. Aku menaiki ojek online menuju sekolah, kalau naik angkutan kota bisa kena macet yang ada aku. Jadi aku naik ojek online saja. Tak terasa, itu ojek online yang ku naiki cepatnya sat-set, sat-set, walaupun macet total tadi.


"Makasih ya pak, saya ga telat jadinya. Macet banget tadi." Aku tersenyum tipis.


"Iya Dek, bayar nya cash kan?"


Aku mengambil dompet dari tas ku. "Oh iya, ini pak uang nya. Sepuluh ribu rupiah kan?" Aku memberikan uang ongkosnya.


"Iya Dek, makasih ya." Pak ojek online itu membalikan setir motornya dan pergi.


Aku tiba di sekolah ku 5 menit sebelum bell sekolah berbunyi. Syukur saja tak terlambat sedikitpun. Aku memasuki kelas. Aku masuk tanpa salam dan permisi. Aku hendak duduk di bangku ku. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu, tajam, dan menyakitkan.


"Rasain tuh, makan tuh jarum!" Para Geng Girls mengganggu ku.


Nathan melihatku, ia langsung spontan empati padaku. "Awas dulu, biar aku bantu bersihin." Ia membuang paku payung itu, dan meletakkan nya ke para pembully itu.


"Ssst, kamu jangan kasih tau. Diam-diam aja." Nathan sedikit jahil.


"Tapi kan,.." Omongku meragu.


"Udah gak apa, buat balas dendam." Tawanya dengan bibir yang tersenyum lebar.


Tiba-tiba Geng Girls kembali, teman mereka yang tercantik duduk di bangku itu, ialah yang menjahili ku tadi. Namanya Yuyun. "Aww..., Ihh, sebel banget! Siapa yang letakan paku payung disini?" Mukanya sebal, langsung mendatangiku dengan tatapan tajam, menarik kerah baju ku.

__ADS_1


"Ini perbuatan kau kan, kau mau mencelakai kita-kita?" Nadanya marah.


Nathan mencela. "Itu aku yang buat. Kenapa, ga seneng?"


Yuyun kesal, dan membawa Geng nya keluar. "Kali ini kau lolos, tapi ga bagi besok. Ku tandai muka kau itu." Ia berjalan dan pergi, seperti mengutukku.


"Ihh, gimana nih dong, Nat?"


Ia memenangkan ku. "Sstt, ga ada yang perlu ditakutkan. Kan ada aku." Ia tersenyum hangat padaku.


Nathan adalah sosok anak yang ga terlalu hits, tapi dia memiliki bakat memainkan alat musik yang baik. Juga ia pandai dalam beberapa bidang olahraga. Aku sebenarnya naksir sama dia. Tapi aku sadar, aku bukan siapa-siapa. Dan aku juga ga berharap, kalau ia menembak ku, akan ku tolak. Aku ga mau akan terjadi di masa lampau. Berharap di berikan setetes prasa cinta, malah berujung pahitnya cinta. Tidak, aku tidak mau lagi seperti dulu. Cukup kenangan itu ku kubur dalam-dalam. Dari dulu aku sulit bergaul, teman saja aku sangat sedikit. Bahkan tak ada mungkin, cuma Nathan saja. Ialah yang pertama kali menerima ku sebagai teman. Tak ada lagi orang kelas yang mau menerima ku sebagai teman.


Aku kadang-kadang ke rooftop. Melihat pemandangan kota yang luas, juga matahari terik yang menyinari ku. Burung-burung menyambut hari itu dengan kicauannya yang memukau. Di tambah pohon-pohon sekeliling didekat sekolah yang rimbun dan sejuk semangkin membuat rooftop nyaman dan tenang. Aku sangat suka di sini. Tapi terkadang, jika aku merasa 'Apakah lebih baik aku mati aja, dari atas rooftop ini? Aku rasa hidup udah ga ada gunanya. Buat apa hidup tanpa penyemangat? Di sekolah juga aku ga punya teman, mereka selalu menjauhi ku dan menyudutkan ku. Di rumah aku selalu sepi dan sunyi. Buat apa hidup penuh hampa...' Lirih ku dengan perasaan yang putus asa.


Andai aja jikalau aku hidup di keluarga sederhana, namun penuh cinta kasih disana. Dan teman-teman yang menemaniku apa adanya. Tak seperti ini, hidup bagiku sangat lah kejam dan tak adil. Tuhan saja tak mewujudkan doa-doa yang selama aku panjatkan. Apakah aku masih pantas hidup di dunia? Entahlah, aku hanya ingin bahagia dan merasakan kehangatan keluarga dan teman. Aku tak menginginkan harta ataupun itu. Aku ingin di cintai dan dihargai. Tak berharap apapun itu.


(BERSAMBUNG...)


...[ Lengkapnya di Novel baru aku. My R! ]...


...Terimakasih:3...


...*...


...•...


...*...

__ADS_1


__ADS_2