
Berat hati, mataku kantuk masih menyelimuti pagi itu. Ya ini Kamis depan. Kenapa di hari Kamis? Ya karena inilah alur ceritanya. Tepatnya sebuah Guru yang mengajar pelajaran Fiqih. Bukan untuk menjelekkan nya, tetapi inilah kisah yang ku alami. Di Pagi itu, setengah mataku yang masih kantuk dan setengah sadar ke Madrasah untuk Sekolah. Tapi entah kenapa aku datangnya kepagian. Jadi aku menunggu di dalam kelas. Teman-temanku keheranan, kenapa aku datang sepagi itu
"Tut, ngeri nih. Datang jam berapa kau?" Isa terbenganga, mengambil sapu untuk piket.
"Jam delapan pagi tadi, karena Mamakku mau ke pasar. Takutnya kelamaan di pasar. Makanya diantar cepat aku disini aku campur-campur tidur juga." Aku menguap menahan kantuk karena begadang hingga larut menonton film di televisi.
"Kok kayaknya ngantuk berat kau, jam berapa tadi malam kau tidur?"
"Hmm? Berapa ya? Hoamm.. Mungkin jam satu atau setengah dua pagi." Mataku berair di campur kantuk.
"Ihh kalo aku dah di hajar sama Bapak/Mamak ku Ti, lama kali kau pun tidur sampai mengalir air liurmu." Dia menyeringai jijik melihatku seperti mayat hidup.
Aku mengusap dengan lenganku "Engga kok, ehh hari ini aku piket ya?"
"Ihh bener-bener nganguk berat dia, padahal semalam dia dah piket." Isa tertawa.
"Emmph? Iya ya? Entahlah, bangunin aku ya kalo Buk Lasmine dah datang. Ngantuk kali aku." Aku mengelas, kantuk menggurui ku.
__ADS_1
Sayup-sayup seperti dari kejauhan aku mendengar langkah kaki teman-teman ku, semangkin larut dalam tidur seperti semangkin banyak. Jadi aku terbangun dari tidur ku secara tersentak.
"Kau kenapa Ti?" Isa keheranan.
"Engga, tadi orang kayaknya ramai banget. Mana orang-orang?" Aku toleh kanan kiri tak ada hasilnya alias nihil.
"Engga ada lho, perasaan mu aja itu. Atau kau ngelindur." Asumsi Isa. "Baru kau, Aku Sama Yanti tuh, tapi dia kekantin." Ucap Isa.
"Hmm iya ya, jam berapa sekarang?"
Ia melihat jam tangannya "Jam 08:49, beberapa saat lagi sih masuk." Menyelesaikannya menyapunya, duduk di kursi nya.
"Iya loh Isa, tapi seru kali cerita tadi malam. Entah kenapa seru-seru film nya, ada horror, komedi romantis, baru yang lain-lain lah. Kalo ga salah nama channel nya Horrorist. Ihh suka banget aku, beberapa hari ini aku sering nonton film di channel itu." Aku bersinar-sinar terkagum-kagum.
"Iya ya? Ahh nanti aja lah sehabis Dzuhur aja."
"Yaudah, seru-seru nya film nya. Jam berapapun kau tonton masih ada cerita lain. Tapi ngomong-ngomong temen-temen udah pada banyak. Jam udah mau masuk, kenapa Buk Lasmine lagi-lagi ga ada ya?" Jawabku, menoleh kanan kiri, membuka pintu kelas mengawasi sekitar.
__ADS_1
"Iya Ti, mungkin ke pesta. Kayak waktu itu, entah apa yang di carinya di pesta." Isa tertawa kecil.
Yanti menyerobot pembicaraan kami "Ihh ku bilang Buk Lasmine kalian ya?!" Dia mengancam kami.
"Oh berani kau? Ku pijakan kepala kau itu." Isa menggertak kembali.
"Jangan lah! iya-iya aku tutup mulut." Yanti ketakutan, terbujur kaku matanya menatap lantai bawah.
"Entah ini, Yanti kadang bocor sama kompor. Suka kali mau tau omongan orang. Tukang cepu. Entar ga dikawani orang baru tau kau Yan." Aku kesal menyerungut, enggan menatap mata Yanti.
Lalu aku dan kami semua menunggu, menunggu Buk Lasmine tuk memulai kelas. Namun sudah selang satu jam lamanya, Buk Lasmine tak kunjung datang juga. Buk Imah datang kekelas kami berkata
"Nak, hari ini ga belajar tuk kelas kalian. Dikarenakan Buk Lasmine ada urusan, urusannya yaitu pindah rumah ke desa sebelah. Jadi beliau ga ada menyampaikan informasi apapun. Sekian ya nak, kalau bel istirahat ataupun bel pulang segera dengar ya nak." Buk Imah melangkah keluar, meninggalkan kelas kami.
Kami pun riang gembira karena ga ada Buk Lasmine, kecuali si Yanti. Dia tampak murung. Tapi kami hiraukan karena memang kami sih dongkol aja sama Buk Lasmine itu. Orang yang gak pernah sama sekali di maki ataupun di zolimi cuma Yanti. Yang lain ada, tapi ga seburuk diriku. Heran juga kenapa aku harus jadi sasaran Buk Lasmine itu. Menghindar alias alfa ya dicibiri ke ibuk-ibuk sekitar. Belum lagi entar Wak Sari yang mendengar lalu mengompori Mamakku. Ihh entahlah, buruk banget sifat mereka itu. Semoga saja diriku dijauhi dari orang-orang seperti mereka. Tampang dan rupawan boleh saja anggun dan menawan. Tetapi hati tidak boleh kotor dan penuh hinaan. Itu lah prinsip ku.
.........
__ADS_1
Tak terasa kian. Bel sudah menunjukkan pulang. Dan Buk Lasmine tak kunjung memberikan pesan atau amanat baik PR, Hafalan, Catatan ataupun yang lainnya. Aku pun senang dan pulang dengan gembira, walaupun hanya absen kelas saja yang bergilir menandakan ku hadir. Jarang-jarang juga kesempatan hadir dikala ini. Sekarang waktuku tuk menonton televisi di channel Horrorist itu lagi. Ribuan film menarik, aku datang!
(BERSAMBUNG...)