Tuti Malas Sekolah

Tuti Malas Sekolah
46. Pinjam Uang


__ADS_3

Di Siang itu. Tepatnya jam 09:37, pas istirahat Ningsih datang kepadaku dan berkata sambil muka memelas


"Tuti, tolong lah aku.." Mukanya seperti orang-orang tampak susah.


"Kenapa kau?" Aku terkejut heran padanya.


Ia menangis "Aku ga dikasih uang lho sama Mamak Bapakku lagi krisis keuangan orang itu. Pinjamkan lah aku dua ribu dari uang jajanmu ya?" Aku melihatnya dengan tampang kasihan.


"Yaudah ini." Aku mengeluarkan uang jajan ku yang awalan nya lima ribu rupiah, kini menjadi tiga ribu rupiah. "Kau gunakan baik-baik ya." Aku memberikan nya secara cuma-cuma.


Ia berbalik dan pergi tanpa mengucap terima kasih.


Lily sewot menyerungut "Ihh ga tau diri si Ningsih. Buat apalah kau pinjam kan dia? Kau tengok tuh, berterimakasih sama mu aja ga ada."


Aku mengalihkan pembicaraan "Alah kami sahabatan nya, gak apa-apa lah wajar dia. Emang gitu." Aku masih meyakinkan nya bahwa ia memang sahabatku.


"Kayaknya dia dari tampang nya cuma manfaatin kau aja lah deh Tut.." Lily berpikir keras dan mengira-ngira.


"Sst udah mending kita fokus aja sama topik mu tadi. Bahas apa? Agak lupa aku.." Aku ngeles dan mengubah topik.


"Ohh topik pembicaraan itu, ehh.. Sehabis SD ini kau mau kemana?" Kami pun melanjutkan obrolan kami yang tertunda tadi.


Dari perkataan Lily tadi jadi terbayang-bayang aku akan perkataannya. Apakah iya Ningsih udah ga care atau peduli sebagai sahabat atau dia memang memanfaatkan ku aja? Aku terkadang memikirkan itu sewaktu-waktu. Tapi dia emang beda sama yang aku kenal dahulu. Sekarang dia tampak pemarah dan agak kasar.


.........


Pada suatu waktu aku pergi ke rumah nya hendak bermain-main, kala itu aku menggunakan sepeda agar ku tak kecapekan lagi berjalan kerumahnya. Ku ketuk pintu rumahnya dan berkata


"Ningsih, Ningsih.." Aku mengetuk pintunya beberapa kali.


"Yuk main." Wajahku memohon sambil tersenyum menyeringai.


"Alahh, males banget. Ga ahh panas, capek juga." Ia menolak dan sesegera mungkin menutup pintu.


"Hutang ku kapan dibayar juga?" Aku menanyakan hutang nya beberapa tempo hari lalu.


"Hutang apa? Mana ada pernah ngutang aku sama mu." Ia menutup pintunya dengan kuat dan paksa.

__ADS_1


"Hutang yang kemarin di kantin ada aku sama Lily juga. Ning, Ningsih? Ningsih!" Aku menjerit histeris agar ia buka kan. Dan hasilnya ia berlari berpaling dari kenyataan.


"Kenapa kau Tut?" Putri menyahut ku dari luar rumahnya.


"Ihh belum tau kau rupanya. Ningsih emang dah beda, ga kayak dulu. Aku aja ga temenan lagi sama dia, kalau dia pinjam uang atau apapun mukanya yang kayak melebihi anjing itu biarin aja. Ga usah di ladeni, nanti kau yang rugi. Ihh kalo aku sih gitu males sama dia. Dia manggil-manggil aja ku bilang sama mamakku kalo aku dah tidur. Palingan dia hadir ke sini mau pinjam uang dia. Cuih, najis banget Ti.." Putri meludah jijik dan menceritakan panjang lebar soal perihal Ningsih yang kian berubah total.


"Ohh gitu ya.." Aku jatuh dan kecewa.


"Ehh bangun Tut, kalau ada apa-apa main sama ku aja. Yuk masuk dulu, minum teh atau apa?" Putri menawarkan beberapa jamuan.


"Enggak-enggak, engga usah. Aku mau langsung pulang aja. Makasih ya." Aku berbalik dan menaiki sepeda ku.


Dari kesaksian teman-teman ku aku semangkin yakin, kalau Ningsih memang sudah bukan Ningsih yang aku kenal. Aku menggowes sepedaku dan tak sengaja tersandung batu besar akibat ku melamun termenung di tengah jalan.


"Aduh!" Aku terjatuh dari sepeda dan memiliki luka gores di lutut ku.


Reini yang kebetulan lewat langsung menolong dan menghampiriku "Gak apa-apa kau Ti?"


"Kayaknya gak apa-apa, duhh sakit banget." Ku berjalan terpincang-pincang.


"Ihh berdarah tuh Ti, yuk kerumah ku. Biar ku obati pakai P3K di rumahku." Reini menuntun ku dan menyuruh saudara kembar nya Reino membawa sepedaku sementara di rumahnya.


"Iya, kau pun kok bisa jatuh pula. Masa ga nampak batu segede gaban itu kau lindasi." Reini tertawa kecil.


"Iya ga fokus aja, pikiran ku kosong." Aku tertawa.


"Tuh lah kau, lain kali kalo jalan bawa kendaraan apapun itu jangan meleng. Jadi gini jadinya deh." Sambil Reini menetesi dan memberiku obat Betadine. Lalu ia membalut luka ku dengan kasa.


"Nah udah, ehh tumben kau kesini. Dari sini kerumahmu jauh lho?"


"Itulah aku juga ga sadar, main gowes-gowes aja tau-tau dah sampai di mari." Aku heran dengan diriku sendiri.


"Mau ku antar pulang?" Reino memberi tawaran.


Aku menolak, menggelengkan kepalaku dan melambai-lambaikan tangan ku "Enggak jangan, nanti ngerepotin makasih."


"Kau yakin?" Reini menatapku serius.

__ADS_1


"Iya, yaudah ya. Aku pulang. Makasih pengobatannya." Aku segera keluar dari sana.


"Hati-hati Tuti, jangan melamun lagi." Reino menasehati ku.


"Iya." Aku menjawabnya singkat.


.........


Siang itu aku membeli pulsa seharga dua puluh ribu untuk menelepon Nenek. Tiba-tiba Ningsih dengan tampang sok nya ia menuju ke konter dan meletakkan uangnya yang bernilai seratus ribu rupiah dengan cuma-cuma mau di belikan diamond untuk persyaratan jual beli di game online nya.


"Banyak uang mu Ning." Mataku menyorot tajam padanya.


"Iyalah jelas dikasih Abang sepupuku, Bapakku, Mamakku ya ku kumpul-kumpul. Ku mintain satu-satu." Ia berlagak tinggi.


"Ihh ngemis-ngemis rupanya, dia minta-minta bisa bayar hutang orang ga bisa." Isi hatiku berkutik


"Iya ya, banyak juga. Jangan lupa bayar hutang orang dari satu Minggu lalu. Masa beli diamond EphyEphy bisa bayar hutang ga bisa." Aku tertawa puas, mempermalukan nya didepan umum. Sama seperti ia memperlakukan ku tadi pagi. Dan orang-orang tertawa semua di konter dekat rumah ku itu.


Aku mengikhlaskan uang ku walaupun hanya dua ribu. Bagi dia mungkin karena aku ruko jadi uang ku banyak? Tidak lho, justru bisnis yang di kelola ini tak begitu baik. Jadi ngangkrak doang di situ. Uang-uang ini adalah jeri payah dari hasil keringat Bapak ku sendiri. Dan dia seenaknya saja meminjam lalu melupakan nya. Semenjak hari itu aku mulai menjauh dan tak mau berkomunikasi lagi dengan Ningsih. Cukup tahu saja yang dikatakan oleh Isa di semasa itu. Lalu karena teringat Isa aku memberitahu nya lewat chattingan




*Lalu aku segera mengakhiri chat dan langsung menelepon Nenek*


Di selang menelepon Nenek, tiba-tiba ada yang menggedor pintu ruko ku. Aku melihat mengendap-endap takut ada orang jahat dan ternyata aku salah, Itu Ningsih


"Ada apa Ning? Aku sibuk." Ketus ku malas berhadapan dengannya.


"Nih." Ia membayar hutangnya dan pergi.


Nenek pengen tahu dari telepon "Siapa itu Ti?"


Aku berbohong "Engga, ada pengemis minta sumbangan."


"Ohh.." Nenek berdalih membicarakan topik yang tadi kami perbincangkan.

__ADS_1


(BERSAMBUNG...)


__ADS_2