Tuti Malas Sekolah

Tuti Malas Sekolah
55. Misterius


__ADS_3

Kalian masih ingat kan dengan Tinh? Aku masih selalu mencari-cari tau tentang informasi nya Tinh. Sebenarnya dia ini apa dan siapa sih? Aku heran dan mencari ke segala penjuru. Kata teman-teman kakak kelas bahkan teman lama ku kalau Tinh ini jelmaan. Ada pula yang bilang dia ini hantu penasaran. Dan ada pula yang bilang bahwa ia memang sosok penjaga. Aku bingung dan hanya memikirkan itu setiap harinya. Akan kah ada konsekuensi-konsekuensi lainnya yang terjadi? Atau hal-hal janggal yang akan menghampiri ku di kemudian hari. Di saat aku lagi merenungi nya aku pun telepati dengan Tinh dengan cara bicara dari hati ke pikiran


"Tinh? Kau disana kah? Aku ada perlu dengan mu." Aku memejamkan mata dan fokus memanggilnya.


"Ya Tuti ada apa?" Suara lembutnya terngiang-ngiang di pikiran dan mimpiku.


"Aku mau tanya, sebenarnya kau berasal dari mana? Bisakah kau jelaskan itu denganku?" Aku menunggu beberapa saat. Tapi sama saja ia tak memberi jawaban apapun.


"Aku bingung. Kenapa kau selalu membantuku akhir-akhir ini? Aku tak memberikan imbalan apapun kan?"


Ia menjawab sepatah dua patah kata "Gak ada." Jawabnya datar.


"Ohh baik lah." Aku mengakhiri telepati itu.


Aku mencari di internet tentang kemampuan telepati, dan kemunculan janggal aneh. Tapi google sama anehnya dengan temanku. Tak ada yang bisa ku percayai satu sama lain. Aku pun terbaring di tempat tidur ku, putus asa namun bersyukur kehadiran nya Tinh ini. Karena aku tak punya jawaban, aku membantu mamak di dapur yang sedang masak dan berbincang-bincang tipis dengan nya


"Mak." Aku menyahut nya.


"Apa? Makan, belum siap nih. Bantuin masak lah."


"Aku ini baru aja memang mau bantuin Mamak." Aku segera mempercepat langkahku.


"Mak kalau ada orang bicara sama mahluk halus emang gimana ya Mak?"


Mamak termanggut, heran dan "Hmm, ya ga gimana-gimana. Emang kenapa?"


Aku panik dan canggung "Oh gitu ya, mmm.. kukira gimana gitu." Aku tertawa kecil, celingukan, mataku menyorot kanan kiri karena dengan jawaban aneh. Lebih aneh daripada jawaban teman-teman ku.


Aku pun menyiapkan masakan itu bersama Mamak. Telah siap makanan itu Mamak masih mempertanyakan hal tadi


"Memang kenapa tadi kau tanya gitu Ti?" Mulut mamak penuh dengan makanan, lalu tersedak.

__ADS_1


Aku sesegera mungkin mengambilnya kan minum dan menepuk-nepuk halus pundaknya "Itulah, makan dulu baru ngomong Mak."


Mamak pun segera lupa akan pertanyaan nya tadi "Mamak ngomong apa tadi ya?"


Aku menyikutkan bahu "Entahlah. Aku pun dah lupa." Padahal aku masih ingat, tapi aku tak mau bahas lebih lanjut.


Malam itu aku tengah duduk-duduk di depan teras rumah. Memandangi langit bersama rasi bintang yang bertebaran juga bulan purnama yang indah menyinari malam yang gelap gulita. Juga seliweran angin yang terbang tipis-tipis menyentuh tubuh ku. Aku pun masih sama, memikirkan siapa itu Tinh. Aku tak mendapat jawaban. Baik di mimpi, secara nyata, ataupun Mbah Googlo. Hasilnya nihil. Iya ga salah dengar kok, N-I-H-I-L, NIHIL.


.........


Keesokannya aku melihat Nenek yang ku tolongi pada waktu lalu itu, di tempat yang sama. Syukurlah aku bisa tanya lebih jelas tentang nya


"Nek!" Aku menyahut nya, berusaha mengejar dan mempercepat langkahku.


"Ehh kamu yang kemarin itu ya, ada apa nak?"


"Aku mau tanya Nek. Soalnya ada perlu sama Nenek sebentar." Nafas ku terengah-engah dan berlari dengan tergesa-gesa.


"Maaf nih Nek, tapi Tuti ga punya uang." Aku menjawabnya masih nafas yang belum stabil akibat berlari.


Nenek itu menggelengkan kepala tanpa ragu "Enggak apa-apa, Nenek yang traktir kok."


Aku segan, tapi juga perlu dengan Nenek itu "Ihh serius gak apa nih Nek?"


Nenek itu termanggut-manggut kepalanya "Iya, gak apa-apa. Anggap aja balas budi di waktu itu."


"Yaudah, makasih ya Nek. Maaf kalau Tuti ngerepotin." Aku pun mengikuti Nenek itu.


Nenek itu memesan 2 teh manis hangat, dan kembali ke meja kami "Ada apa kau perlu sama Nenek?"


"Ini teh nya." Pelayanan memberikan teh hangat kami pesan.

__ADS_1


"Ya kak, terimakasih." Ucap ku.


Aku melanjutkan apa yang aku tanya "Jadi gini Nek, yang kemarin Nenek bilang aku.." Nenek itu menyela omongan ku.


"Kau udah tau kan? Dia memang seperti itu. Tapi di ga mau tau siapa dia sebenarnya."


"Memang dia siapa sih Nek? Jangan-jangan nanti dia minta tumbal lagi." Aku sedikit ketakutan dan merinding.


Nenek tertawa, menyeruput teh hangatnya dengan anggun "Nggak kok, dia penjaga mu yang memang diwariskan dari leluhurmu. Kamu akan baik-baik saja dengan nya." Sembari Nenek itu memberikan uang untuk membayar teh.


"Nih nanti bayarkan, kembalian nya ambil aja." Aku menerimanya malu-malu dari Nenek itu.


"Iya Nek sebentar lagi Tuti bayarkan.


Jadi Nek dia bukan manusia? Jadi dia apa dong?"


Nenek menjawab tanpa ragu "Dia itu sebangsa Jin sebenarnya. Tapi untuk melindungi kamu, tapi kamu jangan terlalu hanyut dengan nya. Ingat Tuhan juga. Diakan juga makhluk ciptaan-Nya."


Aku mengangguk "Iya sih Nek. Aku bayar teh nya dulu ya Nek." Aku beranjak ke kasir.


Kakak-kakak kasir itu tampak pucat karena aku bicara dengan kuat dan sambil senyum-senyum sendiri dan kakak-kakak itu bertanya padaku "Dek maaf lancang nih, kamu ngomong sama siapa? Dari tadi kamu bicara sendiri lho."


Aku menyangkal dan terbata heran "Ahh Kakak ngawur, orang aku bicara sama Nenek... itu?" Aku menoleh ia tak ada disana. Aku segera membayar uang teh nya.


"Nek? Nek?!" Aku menoleh dari kanan ke kiri. Mencari kehadiran Nenek itu. Tapi ia hilang tanpa jejak. Aku bertanya lagi pada kakak-kakak yang berada di kasir.


"Masa iya Kak?"


Kakak itu mengangguk ketakutan "Iya dek, sampai-sampai pembeli kami ketakutan dan minta bungkus. Kami juga sama takutnya, malah ini disiang bolong dek. Please jangan bawa hal-hal yang berbau mistis ya, kami takut dek. Mental kami ga kayak adek." Bulu kuduk kakak itu merinding, baru kusadari pembeli pada berlarian karena ketakutan.


Tapi aku berpaling dan pergi, aku semangkin penasaran dengan Nenek itu pula. Ia siapa dan Tinh juga siapa. Apakah aku berhalusinasi? Tapikan aku masih sadar, gak mungkin. Tapi inilah kenyataan nya.

__ADS_1


(BERSAMBUNG...)


__ADS_2