Tuti Malas Sekolah

Tuti Malas Sekolah
36. Usil


__ADS_3

Dikala itu Aku, Ningsih dan Isa sholat ke masjid pada Magrib tepatnya. Kami bermain hingga menjelang Isya. Lalu kami pun bosan tak tahu mau bermain apa lagi. Permainan Petak umpet, Lulu cina buta, Batu seremban, Samberlang, Donald bebek, Kereta-kereta apian dan permainan lainnya sudah kami lakukan. Tapi kami tetap saja merasa bosan.


"Ihh bosannya lah, permainan apa lah yang bisa kita mainkan." Ningsih yang terkapar di lantai mesjid.


"Entahlah." Ketus ku.


"Mending nakut-nakutin orang yok, yang di pinggir jalan!" Isa melakukan ide aneh.


"Boleh juga." Ningsih tertawa jahat.


"Caranya?" Aku sedikit heran dan aneh, menggaruk-garuk kepala ku yang tak gatal.


Ningsih merencanakan "Gini, nanti kita sembunyi di pohon-pohon sawit di tepi jalan itu. Kalo ada yang lengah kita kejut kan." Ningsih menepis pundakku.


"Ohh, iya-iya mau." Aku tertawa lepas.


Kami pun langsung ke tempat kejadian. Aku sembunyi bareng Isa sedangkan Ningsih di seberang jalan sana. Tengah mencari mangsa yang lalai akan diperjalanan. Agar bisa kami jahili haha. Kami melihat mangsa kami yang pertama dari kejauhan. Kami melihat kakak-kakak cantik baru keluar malam mingguan


"Ssst.. Kijang satu, kijang satu." Aku mengode-ngode.


"Kehkkk.. Ya kijang satu di sini. Bagaimana disana ganti sssttt.." Ningsih mengode balik.


"Kehkkk.. Ya Rusa dua disini. Siap-siap mangsa di depan ganti ssstt.."


"Oke, dalam hitungan satu, dua.." Kami berkode.


(Heeeuu..Heuuu..


Hihiiiii... Hihi.....iii..) Ningsih meniru suara kuntilanak yang menangis dan tertawa. Dan kakak-kakak itu mulai agak merinding.


"Huaa!!!" Kami keluar dari semak-semak dengan mukena putih yang kami kenakan, Bagaikan kuntilanak.


"Ha!! Memang anak-anak kurang ajar! Awas kalian!" Dia teriak histeris juga kesal karena kami kerjain.


"Seru banget, baru kali ini aku sampe terbahak-bahak." Aku tertawa sampai-sampai menangis karena bahagia.


"Ehh itu tu.. Ada lagi. Sembunyi-sembunyi!" Isa buru-buru mengambil tempat favoritnya untuk mencari mangsa baru.


Kali ini kami berakting beda. Kali ini kami nyamar jadi pocong


Isa keluar dari semak-semak sambil loncat ketika mereka lewat.


"Aaaaa!" Abang-abang yang tampak gentleman auto jadi kemayu saat kami jahili.


"Ihh, bencong." Ningsih tertawa.

__ADS_1


"Awas kalian ya! Anak-anak bangsa(t)!"


Kami lari karena dikejar-kejar oleh abang-abang itu, tapi ga sampai ketemu dan ahkirnya ia menyerah juga.


"Hadeh, hadeh... Fiuh. Capek juga tapi seru!" Aku kegirangan.


"Iya haha, ehh.. denger ga? Udah azan tuh. Yuk ke mesjid!" Ningsih sayup-sayup mendengar, sambil memegang telinganya untuk memastikan.


"Ehh udah tu, yuk lah!" Isa pergi duluan.


Kami pun sholat, selesai sholat kami pun buat janji temu besok. Agar kami mengulangi kejahilan kami lagi. Asik banget kayaknya kalo diulangi lagi.


.........


Keesokannya kami kembali ketempat kemarin. Tempat favorit kami untuk menakut-nakuti atau mengejutkan para pejalan. Itu menjadi permainan baru kami yang menyenangkan. Walaupun lokasi nya agak di semak-semak tapi seru membuat orang menderita diatas ketakutannya. Di lain sisi kami memang agak takut adanya hewan buas nanti nya seperti ular atau kelabang. Tapi kami agak menghiraukan hal negatif itu dan kami tetap melanjutkan. Kali ini kami membawa Putri ikut bermain


"Ehh, Putri ada juga."


Iya tersentak "Iya nih ehe. Katanya kalian nakut-nakutin pejalan disini. Yaudah aku juga pinisirin"


^^^(...Penasaran)^^^


"Yaudah kau bawa apa?" Isa mulai kepo.


"Yaudah yuk, mulai!" Ningsih mengambil posisi kemarin dengan si Putri. Dan aku mengambil posisiku juga.


Disana sangat gelap dan sepi. Kami melihat dari kejauhan ada seorang anak remaja yang lagi kambuh di cinta monyet mereka. Kami tanpa pandang bulu langsing menyiapkan rencana. Putri memasang suara lagu Lingsir wengi lalu kali ini aku yang menjadi hantunya.


(Heeeuu..Heuuu..


Hihiiiii... Hihi.....iii..) Suaraku menggelegar ditambah lagu dengan nuansa horor.


Pejalan cewek yang di bonceng bilang "Yang, jangan lewat sini yuk. Takut.."


"Ssst. Usah, ga usah kan ada aku yang selalu lindungi kamu." Kata-kata manis cowok itu membuatku muntah, tapi tidak bagi cewek nya.


"Huaaa!!" Aku loncat, menyergap mereka yang tengah lengah.


"Aaaa!!"


"Woy Anj(i)ng! Awas kalian ya! Sini kau pa(n)tek!" Cowok nya berbalik mengejar kami.


"Lari woy!" Kami lari terpingkal-pingkal sampai ke mesjid.


Kami ngos-ngosan, capek dan lelah karena dikejar "Capeknya, ngeri kali dia. Ngejar nya, kayak kesetanan." Aku menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Iya, tapi kita belum puas. Masa cuma satu, yuk lagi." Putri tertawa kecil.


Aku menyengkram lenganku ke dagu Ningsih "Ayo Ning, kita buat orang kesal." Ningsih sedikit sesak karena tercekik.


"Uhuk, uhuk!


Iya-iya. Ekhem-ehkem.. emrm, emrm.." Ningsih berdehem, mengiyakan ajakan ku.


Kami pun memulai atraksi kami. Ada seorang kakek-kakek yang lewat, kami langsung mengerjai


nya. Tapi kali ini kami beda. Kami tidak berakting seperti biasa dan kami melakukan


"Haaaa!!" Serentak kami mengejuti nya.


"Astaga naga!" Ia tersentak, terkejut dan kaku juga pucat.


Ia turun dari sepeda motor nya "Sini kalian anak-anak nakal!" Ia mengejar kami semua.


"Ehh, woy lari!" Kami lari lalu lalang. Ada yang ke masjid, kerumah teman kami, pulang dan ada yang ke semak-semak belukar.


Sayup jauh terdengar "Dimana kalian? Anak kurang ajar. Biadab kalian! Keluar!" Kakek-kakek itu terdengar menaikan amarahnya dan meletup-letup.


Aku bersembunyi dengan Isa di tong besar tak terpakai. Disitu kami berharap agar tak di temukan. Kami tidak tahu jika ia marah sebesar itu. Hampir 2 jam kami bersembunyi dan tak sholat Isya sama sekali. Merasa aman, kami pun keluar. Kami langsung pulang kerumah lewat jalan belakang masjid, yakni lewat jalan kuburan dan jalan dari ladang-ladang orang. Kami bersyukur tak di temukan dan ahkirnya pulang kerumah kami masing-masing.


Aku mengetuk pintu, dan hening "Assalamualaikum, Mak?" Tak ada yang menjawab.


Adikku menghampiri ku "Baru pulang?"


"I-iya, kemana Mamak?" Aku gemetaran meremas jari-jemari ku.


"Dah tidur." Nadanya jutek.


"Ohh gitu." Aku buru-buru masuk kedalam.


Aku mengganti bajuku, tiba-tiba Mamak keluar dan menyila tangannya ke dadanya "Darimana aja? Tumben baru pulang?" Nada mamak sedikit kesal.


"Dari mesjid lah Mak, masa.."


"Mana ada dari masjid jam segini, ini dah jam sembilan malam! Udah sana cuci muka, habis itu langsung tidur." Tegas Mamak membuat sekujur tubuhku merinding.


"I-iya Mak." Aku lari terbirit-birit.


Semenjak hari itu, Aku, Isa, Putri, dan Ningsih mengurungkan dan mengubur dalam tentang menjahili orang-orang random lagi. Kami takut hal itu terjadi kedua kali. Dan,.. Kami juga takut kalau sampai kelakuan kami di adukan pada orang tua kami.


(BERSAMBUNG...)

__ADS_1


__ADS_2