Tuti Malas Sekolah

Tuti Malas Sekolah
60. Bermuka Dua


__ADS_3

Hubungan ku dengan Reini, Mifthi, dan para Tedebah kini tak lagi seperti dulu. Sudah tak ada lagi beradu mulut, masalah, atau bersifat menjatuhkan ku. Aku juga mulai berkurang tentang menulis puisi ku. Karena aku lagi sibuk berbaur dan mengulang pergaulan ku dari awal lagi. Kala itu, tepatnya siang yang cerah terang benderang. Bahkan awan mendung saja tak ada menutupi teriknya sinar matahari. Panas dan gerah, kini menyelimuti sekujur tubuhku. Kipas angin saja sudah tak mengeluarkan angin sejuk, melainkan angin panas. Memang, benar-benar hari yang cerah. Reini dan Mifthi mengajak ku tuk bermain di rumah Mifthi. Tapi aku menolak secara halus, sebab di siang itu sangat panas. Mereka cuma jawab "Oh, Oke. Yaudah gak apa." Jadi aku tak cepat berprasangka buruk. Sampai ketika di sekolah...


"Tuti!" Reini menatapku dengan tatapan tajam menyorot.


"Iya apa?" Jawabku santai.


"Kenapa kemarin kau ga datang?" Ia tampak kesal.


"Lah kemarin kau bilang ga datang aku gak apa? Lagian kemarin panas lho. Malas aku keluar panas-panasan nanti—" Aku belum menyelesaikan pembicara ku.


"Alah lebay kali kau, cuma panas dikit aja. Takut hitam kau? Cuih,.. lemah kali. Kayak kami lah, hitam, tapi mana ada lebay nya kayak kau ini." Mifthi mencemooh ku, juga mulai menunjukkan sifat lamanya.


"Kok kayak gitu kalian? Memang aku ada salah sama kalian." Aku pinta penjelasan.


Mereka marah "Ya bagus kau sadar diri. Banyak salah mu, semua-semua kau tolak, semua-semua kau ga mau."


"Ya tapi kan, cuma yang kemarin aku enggak pergi karena panas. Ga ada—" Mifthi mencela ku lagi.


"Alah udahlah, kalo lemah ya lemah aja." Ia tertawa jahat dengan Mifthi.


"Ya kali aku ikutin ego kalian. Kalo kalian mau hitam-hitaman kena sinar teriknya matahari, ya kalian aja. Orang memang aku udah bawaan kulit putih dari lahir. Palingan kalian aja yang iri, aku sering kok keluar-keluar, bepergian gitu, kau aja yang ga tau. Udahlah males ngomong sama orang kayak kalian. Buang-buang waktu tau ngga!" Aku menghentakkan tangan ku di meja dan pergi keluar kelas. Mereka tetap saja ngomel-ngomel ga jelas, tapi aku hiraukan.


Setibanya saat ada tugas kelompok tugas Bahasa Indonesia. Di tugas kelompok itu disuruh membuat drama yang naskahnya di tulis sendiri. Aku pun tak tahu cara membuatnya. Ya palingan aku cuma tahu buat puisi doang. Untung saja di kelompok ku sekelompok sama Lily, tapi ada Mifthi. Ya aku hiraukan aja. Tiba-tiba tanpa angin dan hujan menyambut, Mifthi minta maaf padaku. Dan meminta bantuan padaku, tentang masalah drama ini. Ya aku memaafkannya, lalu berkata


"Ya, aku maafin. Emang ada apa?" Jawabku ketus.


"Dialog ku jangan panjang-panjang ya..." Ia mohon memelas.


"Yo ndak tahu, kok tanya saya. Namanya juga drama pasti ada dialog buat diucapkan. Mau ga mau harus di hafalin."


"Tapi,... Aku ga pandai dalam akting." Rupanya tampang-tampang muka prihatin.


"Ya DL lah kau." Salah satu teman ku celetuk.

__ADS_1


"DL itu apa?"


"Derita Loe!" Teman ku tertawa, Mifthi menyerungut masam. Aku dan Lily pun tertawa.


.........


Tibalah kami saat drama di mulai. Aku sudah menghafal dialog-dialog ku dari seminggu lalu. Aku memerankan antagonis di tokoh itu. Dan tentu saja Mifthi masih tak ada niat menghafal dialog-dialog nya itu. Palingan dia cuma jadi tokoh pengganti di cerita yang kami buat.


...*Kami sedang menampilkan drama kami*...


"Hei, kau sudah cuci baju ku belum?!" Aku memerankan menjadi Ibu tiri.


"M-maaf, Bu, Aku belum—" Lily berakting menjadi protagonis nya, dan di tindas Ibu tiri nya. Ibu tirinya langsung mencela omongannya dan menamparnya.


"Bagus sekali, kau tau, baju itu kan di kenakan ke acara kelas atas. Dengan para pejabat, dan orang-orang terpandang. Kenapa sih kamu ga bisa membuat Ibu senang dan tidak memarahi mu selalu!" Aku membentaknya, memerankan Ibu tiri dengan penuh hikmat.


Lily berakting menangis, memohon pada Ibu tiri yang ku perankan "Maaf, Bu. Maafkan Nina." Nama tokoh yang di perankan Lily adalah Nina. Aku memerangi semangkin kejam dan jahat.


Kali ini dialognya Mifthi "..."


Teman ku yang moderator berbisik ke Mifthi "Ssst, Ssst... Mifthi, dialog mu mana?"


"Aku ga hafal, gimana nih?" Jawabnya dengan polos nya.


"Hmmph, bener-bener ga ada niatan kau. Matilah kau situ." Teman ku yang jadi moderator tampak kesal.


"Ada apa nih moderator, dan kawan-kawan, Kenapa ngestuk?" Buk Eriana menunjukkan kearah moderator, dan kami semua.


"Ini, Buk, Mifthi ga hafal dialognya. Jadi gimana—" moderator berkata, namun di potong oleh Buk Eriana.


"Segera keluarkan dia!" Jawab Buk Eriana dengan nada tegas dan marah.


"T-tapi, Buk..." Mifthi masih memelas, berharap di beri kesempatan.

__ADS_1


"Tak ada tapi-tapi, udah di kasih kesempatannya buat hafal. Lagian kamu jadi tokoh pengganti. Dialog kamu sedikit. Masa gitu aja ga bisa hafal?!" Buk Eriana tampak menunjukkan sangarnya. Mifthi pun tercengang pucat.


"Lanjutkan dramanya, Mifthi keluarkan saja. Nilainya kosong di buku nilai saya." Buk Eriana mengeluarkan Mifthi tanpa ba-bi-bu.


Kami pun yang menjalan kan drama tercengang, dan tak tahu bagaimana nanti si Mifthi. Tapi kami hiraukan saja dan melanjutkan drama. Setelahnya Mifthi mendatangiku dengan wajah kesal dan penuh amarah


"Tuti!" Ia mendatangiku dan mendorong bahuku paksa, sampai-sampai jatuh kelantai.


"Aduhh, ada apa sih?" Aku menahan sedikit sakit, dan menatapnya heran, aku bangkit dan berdiri.


"Ini semua gegara kau!"


"Hah, Aku?"


"Iyalah, siapa lagi? Kau ga mau bilang ke orang itu kalo dialog ku dibuat singkat aja!" Ia seolah-olah menyalahkan ku.


"Lah, meski kali aku yang bilang. Kenapa ga kau aja? kan kau yang perlu!" Aku meninggikan suaraku, dan mendorong bahunya balik dengan kuat.


Lalu para Tedebah menolong Mifthi, dan mereka mulai membully ku dan mengata-ngatai ku lagi


"Dasar kau Tuti, ga tau diri." Salah satu teman laki-laki di kerumunan Tedebah membela Mifthi.


"Ya habisnya dia yang dorong aku duluan?!" Aku pinta pembelaan.


"Ihh, orang kayak kau mending ga ada di kelas ini. Buat onar, jijik aku lihat nya." Reini berkata dengan lantam dan sadis. Lalu setelah nya mereka melempari ku dengan kertas yang berisikan batu kerikil kecil.


"Kalian..., kalian..." Raut ku mulai aneh, kepalaku pusing. Dan terhuyung-huyung.


"Tinggalin aja dia. Ingat ya Tuti Lasmani, anak mami. Aku ga pernah sejarahnya mau berbaikan sama mu. Aku selama ini cuma memanfaatkan mu." Mifthi berbisik di telingaku, Ia mencengkram daguku dan menamparku.


Mereka pun meninggalkan aku di kelas, aku pun tak tahu kenapa semua terjadi padaku. Dan aku menyumpah-serapahi mereka setelah mereka pulang nanti.


(BERSAMBUNG...)

__ADS_1


__ADS_2