
Kelas kami di acak ulang. Sebab untuk menghilangkan aib di masa kemarin-kemarin, tepatnya di tiga minggu lalu. Meja kami disusun bentuk U. Ada 5 di kiri, 5 di kanan, 10 di paling belakang dan terbentuklah seperti huruf U. Alasannya simple, biar menarik, tak membosankan, ataupun kalau menyontek bakalan kelihatan.
*Denah Meja Kelas*
Sebenarnya banyak dari kami tak setuju, alasannya ya kurang nyaman dan membuat kantuk datang juga tak bisa menyender didinding yang biasanya duduk dekat dinding. Kami hanya diam dan tak bisa protes. Dari pada Buk Eriana marah dan merajuk lagi, jadi kami iyakan saja. Aku kebetulan dapat nomor lima di bagian kiri, nomor lima dari belakang. Aku awalnya tak masalah sampai aku tak menyangka, pandangan ku tak begitu jelas dari belakang sana. Aku kira aku cuma ngantuk dan mataku berair. Ya sudah aku hiraukan saja. Karena aku malas melihat kedepan, aku selalu melihat buku milik temanku. Baik menulis soal, catatan, aku melihat bangku sebelah ku saja. Sampai Buk Eriana mengira aku menyontek. Padahal aku memang pengelihatan ku tak begitu jelas. Aku melihat samar-samar dan tak fokus. Itu sangat sulit bagiku di belakang sana untuk memfokuskan pandangan ku. Teman-teman ku bilang
"Itu kau kena rabun atau silinder." Tapi aku hiraukan, palingan mataku cuma kelilipan atau apapun itu.
Lama kelamaan, waktu siling berganti, mangkin parah. Aku mangkin dan semangkin sulit untuk melihat. Aku harus menyipitkan mataku untuk melihat papan tulis dengan jelas. Sampai-sampai Buk Guru yang mengajar agama menghampiri ku dan melontarkan beberapa pertanyaan
"Kamu kenapa lihat papan tulis nya menyipitkan mata nak?" Buk Agama menghampiriku dan menanyakan keadaanku.
"Ga tau buk. belakangan ini mata saya kayak ngeblur lihat papan tulis, ga begitu jelas, susah lihatnya." Aku berusaha melihat papan tulis.
Buk Agama itu membuat huruf-huruf abjad, angka, dari yang kecil dan kapital. Dan sampai ia menunjuk angka itu satu persatu "Ini?" Ia menunjukkan angka yang paling atas dan membentuk piramida.
Aku menjawab santai "A."
"Ini?"
"O"
"Ini?" yang ia tunjuk sudah semangkin sulit aku lihat di bagian barisan ke tiga.
Aku tak tahu mau jawab apa karena susah melihat, dan ku jawab asal-asalan "R".
Buk Agama itu memprasangka ku dan berkata "Pergilah ke dokter mata atau optik ya nak."
__ADS_1
Kata-kata itu membuat ku tertegun sejenak, dan menanyakan balik beberapa pertanyaan "Emang kenapa buk?"
"Kemungkinan kamu rabun jauh, kenapa kamu ga konsultasi atau ngeluh sama orang tua?" Buk Agama bertanya.
"Sudah di waktu itu..." Aku menceritakan masa laluku.
"Mak, mataku kok kayak ngeblur gitu ya? Kata kawan-kawan ku rabun?" Aku mengusap-usap mata.
Mamak acuh tak acuh "Halah palingan masuk angin."
"Hah masuk angin? Emang masuk angin bisa dimata?"
"Mungkin aja, alah lebay pun kau Ti. Ga akan ada apa-apa nya tuh matamu."
"...Gitu sih buk. Udah diceritakan mamak ga percaya." Aku menceritakan yang kejadian ku yang singkat itu saja.
Buk Agama mengangguk "Hmm, iya nantilah Ibuk bicarakan sama Buk Eriana biar orang tua kamu percaya."
.........
Keesokannya Buk Eriana memasuki kelas, ia memulai kelas dan menyuruhku kedepan. Aku kira ia menyuruhku sesuatu, ternyata ia membenarkan kalau omongan Buk Agama itu benar
"Tuti, kemari." Nada Buk Eriana datar dan dingin.
Aku melangkah maju dengan ragu dan sedikit takut "Iya Buk ada apa manggil saya?"
"Kemarin ada Guru Agama dikelas kita ini bicara sama Ibuk, bahwasannya kamu mengalami rabun. Emang iya? Kamu sementara ini didepan saja. Dan kamu ga ada bilang sama orang tua?"
Aku mengangguk "Ada kok buk, tapi mereka ga percaya." Aku sedikit kesal jika mengingat-ingat.
__ADS_1
"Oh yaudah, nanti lain kali kamu tempah kacamata mu saja. Sekarang boleh duduk."
"Iya Buk." Aku segera duduk di bangku ku lagi.
Setelah pulang sekolah, mamak menjemput ku, kali ini beda. Mamak menjemput ku sampai kekelas karena kelamaan, dikira ada masalah apa. Dan padahal kami belum pulang. Pas disitu mamak di beritahukan oleh Buk Eriana kalau aku menderita rabun dan coba memastikan di optik. Awalnya mamak tuk mamak menyuruh aku dan Bapakku nanti ketika pulang baru ke puskesmas. Aku dan Bapak pun ke puskesmas. Disitu cuma periksa mata saja, tak ada alat tes, tempahan dan lainnya. Jadi aku di periksa, dan di suruh merujuk di Rumah Sakit atau Optik yang ada di Duri atau Dumai. Jelas kami tak tahu dimana lokasi yang dekat dan akurat. Di tambah waktu Bapak libur disini tak banyak. Lalu Bapak memilih rujuk ke Rumah Sakit yang ada di Duri. Aku lega akhirnya pergi untuk merujuk disuatu Rumah Sakit dan mata ku yang rabun ini tertolong. Tapi ujung-ujungnya ga kesampaian juga. Aku bertanya pada Mamak dan Bapak, kapan mataku di rujuk
"Nanti aja pas di Medan." Aku kesal mendengar nya, karena aku lelah melihat tanpa pengelihatan yang jelas di papan tulis.
Aku pun harus menunggu sampai tamat SD nanti baru mendapatkan kacamata ku. Aku ga tau berapa jumlah minus ku, apakah bisa sembuh, atau parah aku tidak tahu. Tapi ku dengarkan saja kata Mamak dan Bapak.
.........
Selang beberapa minggu berlalu. Buk Eriana melihatku tak merujuk sama sekali dan tak ke optik sama sekali. Buk Eriana terus bertubi-tubi melontarkan kata-kata itu padaku
"Periksalah matamu itu."
"Periksalah matamu itu."
"Periksalah matamu itu."
"Periksalah matamu itu." Kata-kata itu teringat jelas di dalam memori otakku.
Aku selalu menjawab "Iya Buk, kata Mamak pas di Medan nanti."
"Ngapain di tunda-tunda? Lebih cepat lebih bagus." Ada iya nya juga dan ada tidaknya juga.
Kata mamak "Di Medan modelnya lebih banyak dan lebih bagus. Terlagi murah-murah lho." Aku menjadi bingung. Jadi aku putuskan tuk tak membahas masalah mataku itu.
Dan Buk Eriana pun mungkin lelah memberi tahuku tuk periksa mata dan tak terdengar lagi. Palingan aku hanya duduk di meja depan saja bagian di kiri pertama itu saja. Dan beberapa teman-teman ku juga bertanya "Kapan kau periksa mata?". Aku katakan pada mereka "Belum tau juga, nunggu kepastian dan secercah harapan orang tuaku." Ketus ku. Jadi ku pertahankan lah saja mata rabun ku itu dan berusaha tuk memfokuskan mataku dengan meminum jus wortel, rimbang dan pengobatan lainnya yang membuat ku mual.
__ADS_1
(BERSAMBUNG...)