Tuti Malas Sekolah

Tuti Malas Sekolah
23. Bapak Pergi Merantau


__ADS_3

Kali ini ekonomi kami semangkin hari kian semangkin sulit. Belum lagi bahan pangan, sandang dan papan sudah melambung tinggi. Kami menjalankan usaha bengkel. Tapi disini masih pedesaan dan jalannya masuk ke dalam, bukan pas dijalan besar sumatera. Benar-benar sepi, hanya 1 atau 2 sepeda motor yang lewat. Kalau mobil sih jarang lewat. Jadi bapak bilang


"Tuti.." Bapakku memanggil dengan nada datar.


"Ya, apa pak?"


"Keuangan kita mulai menipis, nanti yang menggaji karyawan dan kehidupan makan kita kayak mana?"


"Jadi, bapak mau kemana?"


"Rencananya Bapak mau cari info lowongan kerja PKS. Di PT gitu lah." Bapak menyebat rokoknya.


"Ohh, memang Bapak dah ngomong sama mamak?"


Menggelengkan kepalanya "belum" bapak menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Yaudahlah Bapak mau mandi dulu."


"I-iya, yaudah ya pak. Mandilah sana udah bau asem soalnya haha." Aku tertawa kecil.


Bapak pun menyelesaikan mandinya. Memang bapakku sering sekali merantau dan Long Distance Relationship, atau yang disingkat LDR-an sama mamak. Kemarin ketika aku di Tebingtinggi, Mamak di Medan, bapakku masih di tempat yang tak bisa ku katakan dan pindah lagi ke pulau Kalimantan. Bapakku memang sering berpindah-pindah kayak orang-orang purba dulu loh.. yang itu tuh sebutan nya Nomaden. Nomaden itu berpindah-pindah ke suatu tempat lain secara berkesinambungan. Pola hidup nomaden ini udah mulai dilakukan sejak Zaman Paleolitikum atau zaman (Batu Tua). Bukan guru ya.. wkwk. Tapi ini memang kayak gitu tuh bapakku, aku juga kurang tau kenapa sering pindah dan masuk kerja dalam waktu singkat dan belum ada setahun malah.


"Tuti, sini." Bapak mamakku memanggil.


"Ha, apa?"


"Bapak mau kerja di daerah Riau. Kayak mana Ti? Kau mengizinkan engga?"


"Ya kalau itu kebutuhan dan kemauan bapak yaudah kerjalah. Daripada kita tercekik karena ekonomi hidup yang pahit dan melonjaknya harga pangan, sandang dan papan. Ya aku izinkan ajalah."


"Mamak juga gitu, tapi mamak ga mau sebenernya pisah jarak lagi sama bapak mu."


"Ya tapi mau gimana lagi dek, udah kayak gini nasib nya. Nantikan bisa ketemuan lagi kita. Entah seminggu atau dua minggu sekali mas pasti pulang." Bapakku meyakinkan Mamakku.


"Hmm, yaudahlah." Dengan sedikit berat hati mamak mengiyakan nya.

__ADS_1


Bapakku pun mulai mencari-cari lowongan pekerjaan dari Mbah Googlhe. Browsing satu demi satu. Berkas satu demi satu di cetak dan di isi di amplop coklat. Aku terkadang menemani bapak yang membeli amplop coklat, printan, dan lainnya. Aku berharap agar sesegera mungkin dapat. Tiba-tiba...


(Ting..) Notifikasi pesan dari HP bapak



"Ti, tengok ini!" Bapak menepis bahu ku berulang-ulang.


"Iya-iya apa pak? Wihh.. ini beneran bapak diterima?" Aku terbenganga tak percaya karena ada dan sesegera itu.


Aku pun mengucapkan rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa, karena diberikannya petunjuk agar keluar dari masalah kami ini.


"Mak, Mak!" Aku berlari huru-hara memberikan info ini pada Mamak.


Mamak batuk tersedak karena minum air "Ada apa Ti?" Menoleh padaku dan aku menarik-narik tangan Mamak.


"Ahh masa, tunggu ya."


"Iya mak."


"Iyalah, orang udah terpampang gini. Tinggal interview aja kalo udah diterima bapak langsung siap-siapan lah." Bapak tersenyum padaku.


Mamak menangis "Iya mas, syukurlah. Udah dapet kerja." Mamak memeluk Bapak.


"Sini ndok" Aku memeluk bapak juga dan tertidur sampai keesokannya.


.........


Kali ini aku tak diantar oleh Mamak. Sekarang Bapak yang antar karena Bapak udah mau pergi interview kerja. Ya ucap perpisahan bapak gitu.


"Tuti. Rajin-rajin ya belajarnya. Nurut kata Mamak, jangan melawan dan rajin bantu-bantu." Bapak menasehati ku.


"Iya pak, emang ada apa bapak nasehati Tuti?"


"Ya Bapak udah mau berangkat interview kerja soalnya. Doain Bapak ya, semoga aja Bapak lulus."

__ADS_1


"Iya pak, Tuti sekolah dulu ya pak." Aku menyalami Bapak dan sambil pergi.


"Iya, hati-hati." Bapak menancapkan gas sepeda motor nya.


Setibanya aku pulang, aku tidak melihat bapakku lagi. Bapak udah pergi interview kata mamak di Pekanbaru. Aku pun menunggu kapan bapak pulang dan diterima atau tidak aku juga tidak tahu. Aku pun segera sembahyang sholat Dzuhur. Dan aku berdoa kepada Allah SWT agar diterimanya Bapakku dan bisa mencukupi ekonomi keluargaku. Doaku pun di kabulkan oleh Sang Yang Maha Kuasa. Aku pun sujud syukur dan ahkirnya yang ku tunggu-tunggu dari kemarin sudah diterima kerjanya. Di terima bagian Minas, Riau. Agak jauh tapi tak masalah. Disini masih daerah Riau juga. Masih bisa pulang Bapak. Aku pun menunggu bapakku pulang. Aku pun mengantuk karena Bapak tak kunjung pulang.


"Tuti, Ti.. Bangun ndok." Suara bapak samar-samar dari kejauhan mimpiku.


Aku setengah sadar "Emm? Bapak?" Aku segera bangkit dari tidur ku yang lelap itu.


"Ayo bantuin bapak beberes barang Ti"


"Iya pak."


Aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 03:47 AM. Pagi sekali, dan Bapak menyuruh membantunya beberes beberapa barang seperti bantal, tempat tidur dan beberapa alat kerja Bapak. Aku membantu walaupun kantuk masih menyelimuti ku. Bapak memesan tiket dan datang tiba bus itu di jam 05:30 AM. Masih ada beberapa waktu untuk beres-beres. Tak disangka sudah mau jam 05:20 AM. Bapak bergegas mengoper barang satu persatu menuju ke Simpang yang tak jauh dari rumahku.


"Ehh dah jam berapa ini?"


"Ga tau pak, ga lihat-lihat. Coba tengok jam berapa?"


"Wih, Udah jam berapa ini? Udah ga sempat. Sarapannya di bekal aja Dek." Bapak ngomong sama mamakku yang tengah masak.


"Iya Mas!" Mamak segera menyiapkan bekal dengan terburu-buru.


Aku pun membantu mamak dan bapak secara bersamaan. Memang lelah tapi ya mau gimana. Aku pun segera menyiapkan apa yang bisa ku bantu. Dan tiba tepat bus itu di simpang.


"Ti, bus nya udah sampai. Bapak pergi dulu ya."


"Hati-hati ya mas" Mamak menangis dan menyalimi bapak.


"Iya, udahlah jangan nangis. Udah ya! Bapak pergi dah!" Bapak melambaikan tangannya.


"Ya pak, hati-hati ya!" Aku melambaikan tangan hingga bus yang bapak naiki sudah tak terlihat lagi.


Aku pun balik kerumah untuk mandi dan bergegas untuk lagi pergi kesekolah. Aku merasa ada yang kurang gitu, tapi ya sudahlah bapak kerja demi kami. Ia memang benar-benar bapak yang tangguh. Rela merantau jauh hanya demi mencari sesuap nasi untuk keluarga tercintanya. Bapak, sekali lagi aku ungkapkan ribuan terimakasih yang tak bisa aku ucapkan. Sekali lagi aku ucapkan bapak, terimakasih untuk bertanggungjawab dan menyayangi kami. Terimakasih sekali lagi aku ucapkan, walaupun kau bawel dan pemarah namun kau berhati baik. Terkadang mau kuucapkan sangat sulit. Tapi kata dalam kiasan ini yang aku bisa curahkan. Terimakasih bapak, Terima kasih untuk sebisa mungkin menjadi bapak yang terbaik buat Tuti.

__ADS_1


(BERSAMBUNG...)


__ADS_2