
Aku pergi ke Sekolah Madrasah ku dengan gembira, walaupun itu hari Kamis. Di sebuah koridor kelas aku tak melihat batang hidungnya Ningsih. Melainkan Yanti yang tengah duduk di depan pintu. Entah apa yang dia lamun kan, lalu ku tegur.
"Woy Yanti! Ngapain kau!"
"Ihh surprised me, huh.. what's wrong?"
Mukaku melas "Hmmph.. mulai lagi. Kau juga ngapain depan pintu kelas? Pamali lho kalo orang didepan pintu gini, sambil duduk-duduk."
"Hah? Seriously?"
Aku mengangguk percaya "Iya."
"Hahaha, lucu kau Tuti, itu tuh ya cuma tahayul. Okay, ta-ha-yul. Superstitious, understand?"
"Ha-ha, entah apapun yang kau omong, dah, dah masuk-masuk!" Aku menggeret kursi Yanti yang bandel tak mau mendengar masukanku.
"Hey! stop! Please stop it!" Dia mengerang ketakutan, menyuruhku berhenti.
"Makanya masuk, kan sampai kau yang ku geret masuk." Kesalku.
"Ihh yaudah, i masuk nich. Jangan di geret lagi dong. it's so scary." Dia menggigil kaku.
Kami menunggu Buk Lasmine. Lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit tak kunjung datang. Mata kami mengantuk karena bosan. Tiba-tiba tanpa permisi langsung ulangan. Kami heran dan tak sempat membaca buku. Jadi kami ulangan tebak jinggo saja. Ia membacakan soalnya dan jawaban. Ia tak bilang langsung jawab atau buat soalnya atau bagaimana
"Buat Nama Lengkap, Bidang Studi, Tanggal dan Lembar kertas untuk menjawab." Tegasnya. "Nomor satu, Apabila shalat tetapi tidak membaca surah al-fatihah maka shalatnya menjadi... a. Tidak sah, b. Diterima allah swt, c. Tetap sah. " Ia membacakan selaju kereta api.
__ADS_1
"Nomor dua.."
"Tunggu buk, belum siap jawab saya." Aku tertegun menghentikan nya agar tak tertinggal.
"Ihh kalo kau ini! Cepat dikit, jangan lelet kali kayak orang bodoh." Kasarnya mengucap ku begitu.
Mataku menyeringai tajam dan melotot padanya tanpa bergeming suara lirih pun. "Ya ibuk pun cepat kali menerangkan nya, kemampuan orangkan beda-beda!" Tegasku marah.
"Udahlah mampus kau situ, Nomor dua.." Ia menerangkan tanpa menungguku.
"Yaudah Tut, lihat punyaku aja nih." Isa menyodorkan kertasnya diam-diam. Tapi aku lihat dia tak menulis Soal dan keterangan pada pilihan A,B,C nya.
"Ehh kau kok ga ada soal sama keterangan nya?" Aku menoleh heran pada Isa.
"Entah Ti, tulis aja. Aku malas buat soal. Biasanya sama Buk Lasmine ga pake soal." Ia melanjutkan tulisannya.
Ulangan itu pun usai aku kerjakan. Tapi aku melihat yang lain bercampur-campur. Ada yang menulis soal, ada yang tidak. Ya aku tak hiraukan panjang lebar. Setibanya ulangan itu dibagikan. Buk Lasmine memanggilku
"Woy Tuti! Sini kau!" Ketusnya memanggil ku bagaikan tukang parkir.
Aku melas berjalan enggan "Iya buk, ada apa?"
"Ini buat apa kau tulis soalnya?" Dia menyodorkan kertasku.
"Adanya ibuk suruh kau tulis soal? Ga ada kan?" Ia mulai menyalahkan ku lagi.
__ADS_1
"Tapikan, tadi ibuk ga ada jelasin langsung bilang ulangan. Ya saya ga mau buat ibuk marah ya saya tulis soal. Toh teman-teman lain ada juga yang nulis soalnya." Aku membela diriku.
"Ohh lancang ya kau? Ada yang nulis soalnya selain si bodoh tolol ini?" Ia mencaci maki ku.
"Ada dua orang aja buk, yang lain entah." Yanti menjelaskan.
"Yang lain gak apa-apa, karena udah terlanjur. Buat kau Tuti ga ibuk terima!" Ia menyobek kertasku, pilih kasih dan entah apa salahku?
"Yaudah." Ketus ku pergi.
Si bajingan Lasmine itu tetap saja marah-marah tak karuan, aku sudah bosan dan tak perduli lagi mau bagaimanapun lagi. Dimata nya aku tetap saja salah. Terserah apa mau katanya. Mau di kurangi nilaiku, mau apapun itu, terserah. Aku ga perduli lagi.
.........
"Ehh Tut,"
Aku menoleh, ternyata Isa "Iya Sa, ada apa?"
"Kau tadi ada apa sama Buk Lasmine?"
Aku mengecap, malas menjawab "Entah tu lah, aneh dia kayak setan gitu. Najis pilih kasih dia! Benci aku samanya. Kayak kemarin Buyutku meninggal ga ada prihatin atau duka nya. Malah menuduh yang aneh-aneh. Cape aku sama Buk Lasmine itu sebenarnya."
"Ih kalo aku jadi kau dah keluar aku dari Madrasah itu iya, tapi salut aku sama mu Ti bisa tahan sama prilakunya Buk Lasmine. Yang tabah ya Ti, banyak-banyak berdoa agar di permudah." Isa menyarankan dan mengingatkan ku agar mencurahkan kekesalannya itu pada Yang Maha Kuasa.
Lalu bel pemberitahuan waktu pulang. Aku pun pulang dan mungkin 70% keputusan ku sudah bulat. Aku benar-benar sudah tak tahan dan dongkol sekali dengan Buk Lasmine. Di tambah Ningsih ga ada di Madrasah. Kurasa dia juga sama seperti yang dikatakan Isa. Dia udah ga tahan. Kemungkinan Isa juga keluar di Madrasah itu, atau tidak? Aku tidak tahu. Saatnya diriku negosiasi dengan mamak.
__ADS_1
(BERSAMBUNG...)