Tuti Malas Sekolah

Tuti Malas Sekolah
43. Pasti Ku Hanya Mimpi


__ADS_3

Semenjak kejadian kemarin aku kurang nyenyak tidur. Aku mau cerita ke siapa juga ga tau. Yanti sudah tamat dari SD nya dan Madrasah. Jadi aku benar-benar hambar tanpa teman di sekelilingku. Aku selalu saja bermain sendiri, baca buku sendiri, kekantin sendiri karena aku tak punya gank atau circle atau apapun disitu. Lalu Isa menghampiri ku yang sedang sendirian


"Tuti, kok kau sendirian aja?" Isa duduk disebelah ku dan menghampiri juga menyapa ku.


"Ya gimana, ga ada kawan lagi. Mau dicari kemanapun ga ada yang bisa gantiin Ningsih." Aku kesal melempar batu kecil ke halaman depan kelas.


"Oh, kalau engga kau kekelas kami aja. Daripada kau di kelas mu ga ada teman. Kasian kali kau disitu murung aja tampak muka mu. Salah pilih kelas mungkin kau iya juga Ti. Tapi udah terjadi Ti, ya gimana lagi." Ia mengelus-elus pundakku.


"Ya begitulah Sa." Aku tersenyum palsu.


"Oh ya Ti, ada hal penting yang mau ku omong sama mu."


Aku langsung menoleh, penasaran padanya dan mulai serius "Apa itu? Kasih tau lah!" Ku bersemangat.


"Tapi janji ya, jangan sedih."


Aku mengangguk tanpa pikir panjang "Iya-iya, yaudah cepet apaan?"


"Aku sebenarnya.. aku..." Isa memainkan jari-jemari nya dan muka nya tampak murung dan membendung kesedihan di matanya.


"Isa? Kau kenapa? Cepat, kasih tau aku kalau kau butuh apapun."


Isa langsung menangis, memelukku dan ngomong nya yang terbata-bata "Aku, a-aku mau pindah Ti" Ia menangis dan memeluk ku semangkin erat.


"Jadi, kau beneran mau pindah? kapan dan dimana." Air mataku pecah serta isak tangis ku bergejolak.


"Pindah ke Pasir Pangaraian nantinya. Tepatnya semester dua nanti." Isa sesenggukan.


Aku memeluknya "Nanti aku pasti kesepian ga ada kau Isa. Selama ini ternyata kau lah sahabat sejati aku. Kau selalu ada untuk ku, tapi aku ga menyadari. Terima kasih ya isa kau selalu ada untuk ku." Walaupun dilihatin orang-orang, tetapi kehilangan orang yang selalu dekat sama kita itu adalah hal yang tersakit.

__ADS_1


"Ehh udah masuk tuh, yuk masuk." Aku mengusap air matanya Isa dan mengalihkan perhatian lain agar ia berhenti larut dalam kesedihannya.


"Iya, bye Tuti. Aku akan ingat jasa dan kata-kata mu." Isa berlari kecil ke kelasnya, dan melambaikan tangannya.


"Eum, iya!" Aku berbicara dengan hidungku yang mampet karena menangis.


Aku pun memasuki kelas ku. Lalu Lily menanyakan dengan perasaan yang penasaran


"Tadi kau kenapa nangis-nangis sama Isa?"


Aku menggelengkan kepala "Bukan, bukan apa-apa. Ga ada apa-apa juga kok." Aku menutupi kesedihanku dengan kebohongan.


.........


Lalu aku akhir-akhir ini pun sering bermain tempat Isa. Cuacanya selalu mendukung. Cuacanya tak begitu terik, namun tak begitu mendung. Di tambah kicauan burung bernyanyi kecil. Angin menghembus menerpa pipiku. Dedaunan gugur jatuh tepat di rambut ku. Sebenarnya aku sedih, tapi ku coba untuk tegar


"Isa, Isa?" Aku mengetuk pintu rumahnya.


Aku melambai-lambai enggan "Engga usah yuk ikut aku." Aku menarik lengannya memaksa mengikuti ku.


Ia menangkis tangan ku "Ehh mau kemana? Tunggu aku menutup pintu rumah. Soalnya Orang tua ku ga di rumah." Ia segera mengunci pintu rumah dan memakai sandal merah jambu favorit nya.


"Yuk."


Aku hanya mengangguk kan kepala.


Tiba aku untuk memberi Isa kejutan. Yakni tempat yang aku kreasikan sendiri. Tempatnya itu didekat danau kecil yang tak jauh dari rumah Isa. Aku pun menutup matanya sepanjang jalan dan ku tuntun ia berjalan hingga menuju tempat yang ku tuju


Aku berbisik di telinganya dengan lembut "Sekarang kau bisa buka matamu." Perlahan-lahan ia membuka matanya.

__ADS_1


"Ahh! Ini, ini hanya untukku aja Tuti?" Isa terkejut akan hadiah kejutan yang ku berikan.


"Ehe iya, tak lama lagi kau pasti pindah. Jadi agar sedihku tak berlarut, ini untuk mu. Maksud ku hadiah ini untukmu." Aku memberikan hadiah dan beberapa foto memori aku dan beberapa foto teman yang lain bersama Aku, Isa, Ningsih dan lainnya.


"Aku ga berharap ini semua Tuti, aku ga butuh hadiah yang mewah atau mengagumkan. Aku hanya butuh.. Aku hanya butuh kau tidak berubah dan seperti, Tuti yang aku kenal. Ya, Tuti yang seperti ku kenal. Oh, terima kasih Tuti. Aku akan mengingat jasa dan pertemanan kita." Isa memelukku erat, ia kagum akan semuanya dan ia sangat berterimakasih telah berteman denganku selama ini.


"Iya terimakasih Isa." Aku terasa menyentuh dan tak menyangka akan berderai air mata.


"Ya masih ada kesempatan, yuk bangkit. Kita makan kue ini sambil kau buka hadiah ku yang lain." Aku bangkit dan mengusap air mata yang mengenai pipiku.


Isa mengangguk "Hm.." Ia menangis terharu sesenggukan.


Kami pun makan dengan senda gurau. Krim kue yang ku beli ku isengi, meletakkan ke wajah Isa. Kami tertawa lepas, dan sambil ia ku lihat membuka hadiahku dengan penuh bahagia. Masih ada kesempatan untuk beberapa waktu dengannya. Meskipun nanti Isa udah ga disini lagi. Tapi akan ku kenang saat-saat aku dengan-nya.


.........


Keesokannya aku bangun, dan aku bangun lebih awal. Aku mengecek handphone ku akan kah ada chat masuk lewat handphone ku. Ternyata tak ada. Itu jam 05:19 Pagi. Aku Sholat Subuh dan langsung mandi. Berdandan sewajarnya dan memakai pakaian seragam sekolah yang rapi. Sarapan dengan buatan Mamak dan bergegas menuju sekolah. Aku tak sabar akan bertemu dengan Isa nantinya.


Aku tiba di sekolah jam 06:39. Sekolah masih sepi. Aku merenung didekat pohon yang berada disamping kelas. Dedaunan yang gugur dan semangkin gugur, seperti perpisahan ku dan Isa nantinya. Bunga yang tumbuh subur saja bisa jadi layu dengan sendirinya.


"Ah, Begini banget ya hidupku"


"Kenapa orang yang ku sayangi harus pergi?"


"Baru saja aku merasakan bahagia."


"Apakah aku harus mencari teman baru? Tapi sepertinya itu tak akan menggantikan aku dan Isa." Isi hatiku berbicara secara bertubi-tubi.


Lalu aku tak sengaja dari kejauhan melihat Ningsih. Aku tak perduli lagi dengannya. Ia sudah punya teman baru dan melupakan aku dan Isa. Aku tak bergeming lagi melihat sosok kehadirannya. Aku terpaku membisu ketika ia menyapaku. Tapi aku hiraukan dan kosong. Lama kelamaan semangkin banyak siswa pada berdatangan. Satu demi satu kelas terisi dan banyak yang hadir. Disitu aku masuk karena kelas segera dimulai. Ketika aku hendak masuk kelas Isa dan aku berpapasan dari sebelahan kelas. Ia mengangguk mengisyaratkan menyapaku. Aku menyapanya balik sambil tersenyum.

__ADS_1


(BERSAMBUNG...)


__ADS_2