
Ujian ku sudah berakhir. Sekarang, aku tak merasakan lagi masa pahit-pahitnya di sekolah. Guru, Teman, kini tak bertemu lagi. Palingan nanti ambil Ijazah. Itupun tak bergeming dan pulang saja. Jika reunian SD nanti aku tak datang. Aku sudah malas bertemu dengan mereka. Mungkin jika beberapa teman baik ku seperti Lily, akan aku datang berkunjung ke rumahnya saja. Saat itu puasa pertama. Pendaftaran tuk sekolah selanjutnya setelah lebaran nanti. Handphone ku juga sudah upgrade. Udah ga pake BlockBerry lagi. Udah pakai merek Sangsang sekarang. Ya walaupun ga kece abis, setidaknya bisa di pakai buat telekomunikasi dan informasi. Aku menghabiskan malam itu dengan mendengarkan musik di telinga ku. Menatap jendela luar yang gelap di penuhi kunang-kunang yang berterbangan di dekat ranting-ranting. Malam itu malam yang dingin, sejuk dan aman. Tiang listrik menghiasi panjangnya jalan, lampu-lampu jalan menerangi tepi jalan, dan lampu sorot motor dan mobil meriuhkan perjalanan. Aku menyetel lagu di YouTube yang berjudul Kawaki Wo Ameku, yang artinya 'Menangis Untuk Hujan.' Lagu ini mengisahkan tentang sepasang kekasih yang selalu bermain-main dalam tentang percintaan mereka. Dan seseorang ini telah muak dengan percintaan nya ini dan memutuskan hubungan lalu pergi. Lagu dengan beat yang joss, juga arti yang mendalam jika di resapi. Mamak menepis bahuku, menyeletuk padaku.
"Sst,.. Tuti, tidur dah malam. Nanti kau ngantuk besok. Nanti Mamak banguni buat sahur juga. Kita di bis susah mau turun nanti, entah-entah pun ga ada buat sahur nanti." Mamak berbisik padaku.
"Iya, Mak. Bentar lagi ya." Aku berpaling menatap jendela luar.
Tak sangka lama-kelamaan aku pun tertidur di bis itu.
.........
Aku terbangun di tengah malam tanpa sebab. Tiba-tiba terbangun. Samar-samar aku melihat sudah di daerah perkotaan. Aku mengecek di handphone ku, ternyata di daerah Tebingtinggi, Sumatera Utara. Lampu-lampu menghiasi kota Tebingtinggi. Tapi kamu melewati jalan khusus mobil-mobil bus ataupun mobil-mobil yang membawa muatan berat. Tak diizinkan melewati kota Tebingtinggi Tapi melewati jalan belakang itu terasa juga nuansa kotanya. Melihat lampu jalan yang terang jingga, disisi kanan dan kirinya. Di hujung sebelah kanan ku, aku melihat rel kereta api. Aku dari dulu suka naik kereta api. Ketika masih sama Nenek dan ada Buyut ku juga di belakang rumahnya ada kereta api. Sampai sekarang malah. Aku pun melanjutkan tidur. Tiba-tiba, mobil bus yang ku naiki berhenti di rumah makan dan salah satu kernet nya berteriak.
"Ayo-ayo, sahur-sahur! Mari bangun sahur, yang menjalankan ibadah puasa!" Aku pun terbangun, segera membangunkan Mamak.
"Mak, bangun Mak!"
"Hmm, ahh iya?" Mamak setengah sadar terbangun.
"Ayo turun. Sahur kita, udah di bangunin kernetnya tadi."
"Kita dimana?"
"Di Tebingtinggi."
"Wihh, iya?" Mamak menoreh kanan kiri, lalu menatap jendela.
"Eum." Aku berdehem.
"Ambil lauk di bagasi bus itu yuk, Nak." Mamak bergegas mau turun.
"Tapi Tuti ga selera, Mak. Kita beli aja gak apa-apakan, Mak?" Aku memohon dan memelas pada Mamak.
"Yaudah, yuk lah. Mamak pun kayaknya ga selera bekal yang kita bawa. Itu makannya kita pas buka besok ajalah ya?"
"Iya, yaudah yuk Mak! Keburu imsak nanti kita, Mak." Aku memegang pergelangan tangan Mamak.
Kami pun makan sahur dan kembali menaiki bus. Dan tidur sampai hingga tak sadar sudah tiba di Kota Medan. Suara Mamak samar-samar terdengar.
"Tut, Tuti, Tuti... Bangun Nak, kita dah sampai." Mamak menepis lenganku.
"Emmh?... Ohh iya nya?" Aku setengah sadar terbangun, bergegas dengan kaget. Belum lagi aku masih setengah sadar, belum terkumpul nyawa ku.
"Kita dah di daerah mana, Mak?"
"Terminal Amplas." Jawab Mamak singkat.
"Naik apa kita ya, Mak?"
"Pesen online aja ya Mak, dari handphone, Tuti." Aku mengeluarkan handphone ku, dan segera memesan Taxi Online.
"Ga, ga usah. Naik becak aja." Mamak menolak mentah-mentah.
__ADS_1
"Oh, yaudahlah." Jawabku ketus.
.........
Setibanya aku dirumah itu. Tempatnya Adik dari Nenek ku. Yang ku sebut, dengan sebutan Kakek. Di sana ada Nenek juga. Aku lihat Nenek sedang menjaga usaha kedai milik istri dari sang Kakek.
"Nenek!" Teriak bahagiaku, memanggil namanya dengan semangat.
Nenek berpaling, melihat kearahku, mengejarku kembali "Ehh cucu Nenek. Kapan kau kemari?" Nenek mencium kening ku.
"Semalam, Nek. Tuti baru aja selesai ujian. Tuti cape Nek, mau istirahat."
"Yaudah sini Nenek bantuin bawain kopernya." Nenek menarik koper yang ada di tangan ku.
Aku pun bergegas cuci muka dan tidur di tempat tidur Nenek. Tak terasa hari sudah sore, aku tidur terlalu pulas. Aku bangun di jam 16:27. Langsung bergegas ku melaksanakan sholat dan setelah sholat, Mamak mengajakku tuk periksa mata.
"Habis ini kau mandi, baru kita pergi ke Optik buat periksa mata."
"Optik?.." Tanyaku.
Mamak mengangguk. "Ya, Optik." Jawab singkatnya.
Aku pun senang, akhirnya mataku bisa cepat teratasi. Aku bersiap-siap dan memakai pakaian yang bagus namun sederhana, untuk kupakai. Kulihat Mamak yang sedang berdandan di kamar, aku pun sudah siap dengan diri ku.
"Mak, ayo cepat! Aku udah siap nih." Teriakku dari ruang tamu.
"Ha, iya. Bentar!" Teriak Mamak dari kamar.
Nenek bertanya padaku dengan singkat. "Memang nya mau kemana?"
"Siapa yang ke Optik, Mamakmu?"
Aku menggelengkan kepalaku. "Bukan, bukan, bukan Mamak. Tapi Tuti, Nek."
"Lah, memang nya kau punya masalah mata?" Nenek melihat mataku, sambil memegang erat kepalaku.
"Iya Nek, dah lama sebenarnya. Ini mau di cek dulu. Nek awas Tuti sesak..." Aku bicara seperti orang kumur-kumur. Nenek segera melepas tangannya dari muka ku.
"Ehh, iya-iya, maaf. Hehe." Nenek menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Udah siap, Ti?"
Aku mengangguk. "Udah dari tadi, yuk lah."
"Yuk."
Kami pergi naik angkutan kota. Lokasinya agak jauh. Tapi ga masalah bagi kami. Karena di lokasi itulah kacamata yang dijual lumayan murah dan terjangkau. Terlagi tuk anak sekolah sepertiku. Aku mengitari kota Medan yang indah dan suara klakson yang berbunyi tan-tin, tan-tin, dimana-mana. Riuh di jalan, namun aku asyik mendengarkan nya. Karena itu ciri khas di tempat itu. Tak terasa tiba di Optik. Nama Optik itu New Optik, Optik itu di lengkapi periksa mata dengan komputer. Kata Mamak kalau yang menggunakan komputer lebih ringkas dan tak perlu mengecek satu-satu. Akupun memantapkan langkah dan masuk.
(Kringg...) Bel pintu Optik itu berbunyi.
"Selamat datang di New Optik, ada yang bisa kami bantu?" Tanya penjaga toko itu.
__ADS_1
"Ini Ci, anak saya punya masalah mata. Bisa di cek dulu kan?" Mamak bertanya.
"Oh bisa." Cici cantik nan rupawan itu membawa ku keruangan lain.
"Yuk dik, sini ikut Cici bentar." Sahutnya dengan ramah dan tutur yang lemah lembut.
Aku dibawa di ruangan itu, banyak lensa-lensa kaca, dan tulisan dari terbesar hingga terkecil, juga ada tempat yang besar dan di suruh Cici itu untuk meletakkan kepala ku menghadap satu lensa itu.
"Fokus sama pandangannya, dan jangan berkedip ya." Ia memperingatkan ku.
"Iya, Ci." Aku mengiyakan nya.
Ia sontak kaget, dan langsung bertanya denganku secara beruntun. "Waduh, tinggi juga minus nya? Kamu baru periksa ya? Ini kok sampai tinggi banget. Nanti tanggapan orang tua kamu gimana?"
"Ahh, i-iya Ci, aku baru periksa. Dan belum ada pakai kacamata sama sekali. Emang minus berapa, Ci?" Aku menjawab dengan gugup.
"Minus kanan 8,75. Sedangkan minus kirinya 7,00."
Ia pun langsung mengetes ku dengan lensa dan di periksa. Aku langsung bisa melihat jelas, yang selama ini aku tak bisa melihat dengan jelas.
"Coba jalan-jalan dulu. Di dekat-dekat sini aja." Cici itu menyuruhku tuk mencoba jalan.
"Iya, Ci." Jawabku singkat dan cepat.
Aku berjalan, dan itu sangat pusing. Memang objek yang ku jelas, namun itu pusing bagiku.
"Gimana dik, udah jelas?"
"Iya udah, tapi kok aku ngerasa pusing ya, Ci?" Aku memijat-mijat ringan kening ku.
"Iya wajar, sebab kamu kan baru pertama kali pakai kacamata. Nanti sehari dua hari udah ga gitu lagi kok." Ia meyakinkan ku dan aku pun memilih kacamata ku.
"Ehh iya, Ci, minus anak saya berapa ya?"
"Minus kanan 8,75. Sedangkan minus kirinya 7,00. Tinggi minus nya, Buk. Kurang-kurangi bermain gadget ataupun melihat-lihat yang terpapar sinar biru." Sambil ia menulis sesuatu.
Aku menyangkalnya, kalau itu tak benar. "Engga kok, Ci. Aku baru punya handphone baru-baru ini. Dulu aku sering baca buku dengan cahaya yang kurang. Belum lagi menonton TV dengan dekat-dekat sama layarnya." Aku menyesali perbuatan ku.
"Bisa jadi juga itu, tapi bermain gadget nya di kurangi ya. Besok datang lagi, ini kwitansi nya." Ia memberikan ku satu lembar kwitansi dan lalu bergegas pulang.
Aku pun pulang dan menunggu 1 hari setelah nya untuk kacamata ku itu.
.........
Tak terasa sudah Hari Raya saja. Kacamata ku juga sudah kuambil dari Optik beberapa waktu lalu. Aku melihat ada Bapak yang baru saja sampai, dan ia cuti hingga 10 hari saja. Lalu Bapak pulang lagi. Aku maaf-maafan dengan keluarga ku dan semuanya. Sampai-sampai pesan yang ku tunggu-tunggu dan orangnya tersampaikan juga.
Aku tak sempat membalasnya, karena sibuk di sini dan aku pun bahagia. Isa kembali berkontak dengan ku. Sekarang telah ku tinggalkan sekolah itu. Juga Madrasah ku itu. Tuti udah ga terlalu perduli dengan orang-orang di sana. Tuti Malas Sekolah, Aku benci orang-orang. Aku tak berharap apapun dari orang lain. Dan aku hanya percaya dengan diri ku sendiri. Juga Tinh yang selalu ada untukku. Terimakasih Tinh, telah hadir di hidupku.
__ADS_1
...*Tamat*...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...