Tuti Malas Sekolah

Tuti Malas Sekolah
39. Hari Kemerdekaan


__ADS_3

Di pagi hari ku bangun. Dan ku lihat tanggal itu tangal merah atau libur/cuti. Tepatnya di tanggal 17-08-2017, terpampang jelas di kalender rumahku. Aku keluar menikmati embun dan sejuknya pagi kala itu. Dan lalu masuk segera membuat secangkir teh hangat dan sarapan dengan nasi lemak yang di belikan Mamak barusan pagi ini. Ku makan dan ku nikmati sambil menonton TV acara anak-anak kesukaanku. Tiba-tiba acara itu di ganti menjadi seperti baris-berbaris.


"Mak, lho? Kok sama semua sih mak?" Aku mengganti-ganti channel TV dari remote yang ku pegang ditangan kiri ku.


Mamak memaklumi ketidaktahuan ku "Ya namanya Hari Kemerdekaan kita, ya jelas di tampilkan orang-orang yang baris-berbaris."


Aku sedikit kesal "Huh! Jadi karena ini aku ga bisa nonton TV acara kartun kesukaanku." Aku berbalik dan pergi.


Mamak menghampiri ku "Kalo ga karena para pejuang Bangsa Indonesia, yang bersikukuh menghusir Belanda dan Jepang dari negara kita, Kita ga akan bisa hidup makmur seperti sekarang ini Tuti. Jadi berbalik dan kau tonton itu." Tegas Mamak, memaksaku menonton Upacara Memperingati Hari Kemerdekaan.


Aku pun mengiyakan walau diri enggan. Daripada Mamak marah karena ku tidak turuti kemauannya. Lebih baik ku tonton dan lihat saja. Tapi lama-kelamaan itu menarik perhatian ku. Dari Pemimpin Upacaranya, latihan mereka yang tampak tegas dan sigap, kecintaan dan kepedulian mereka terhadap tanah air, Pengibaran Sang Merah Putih di sertai iringan instrumen, pembacaan naskah Pancasila & naskah UUD 1945, juga sebagainya. Itu membuatku kagum dan berangan-angan aku bisa seperti dia.


Mamak membubarkan khayalan ku "Heii.. awas-awas, geser dikit kaki nya Mamak mau nyapu." Sambil Mamak menyodorkan sapu kearah kaki ku. "Oh ya nanti kau ya Ti yang mengepel, Mamak mau masak lagi soalnya."


Aku mengangguk "Iya mak."


Aku masih saja menonton dan aku pun lanjut mengepel ku itu sambil mataku tertuju kearah TV


Mamak meriksa ku mengecek aku sudah siap atau belum dan ternyata.. "Tuti, siapkan dulu kerjaan mu baru kau nonton itu lagi." Mamak sedikit marah dan menyuruhku mempercepat pekerjaanku.


"Iya Mak!" Aku panik dan tergesa-gesa.


Selesai itu ku cek Handphone ku dan melewati beberapa chat dari sahabat-sahabat ku.




*Kami mengakhiri percakapan*


...


Lalu kami pun kumpul di janji temu. Tapi kali ini aku yang sedikit terlambat. Karena aku ada hal yang disuruh Mamak barusan. Lalu aku pergi bergegas mengejar ketertinggalan ku


"Tumben cepet Ti?


Darimana aja?" Ningsih sedikit kesal, kakinya di hentak-hentak perlahan.

__ADS_1


"Iya Ti, cepet banget dah jamuran kami nungguin kau." Isa menepis lenganku.


"Ihh maaf ya tadi disuruh Mamakku. Yaudah yuk, kita mau daftar dulu biar bisa main." Aku menarik pergelangan lengan mereka berdua.


"Ihh aduh, sakit Ti.." Isa menarik lengannya kembali.


"Iya-iya kami ikutnya lepas." Ningsih mengelus-elus pergelangan lengannya.


"Ehe, biar cepat sampai aja." Senyumku polos.


Disana kami melihat ada peserta selain kami yang mendaftar lalu ada seorang kakak-kakak yang bernama kak Nina. Ningsih menatap matanya dan menunjuk kami


"Kak Nina!" Sahutnya Ningsih menyapa Kak Nina "Tolong ya kak, masukan aku, Isa, Sama Tuti."


Kak Nina mencatat nama kami di kertas catatan memo kecil "Iya udah, nunggu nya di sana ya. Di ruang tunggu sana. Informasi main apa dibatasi 2 permainan saja. Yang sudah 2 permainan tidak dapat ikut permainan lain. Berdasarkan permainan yang kalian ingin nanti." Kak Nina mengisyaratkan 2 jari nya dan memberi syarat dalam permainan.


Kami pun berpaling dan menunggu di ruang tunggu yang beralaskan lesehan terpal biru. Di situ aku tak melihat batang hidung Yanti sekilas pun


"Ehh Yanti mana?" Aku celingak-celinguk kanan kiri.


"Dia ga ikut." Ningsih berkata.


"Ya karena dia malas keluar. Takut kulitnya kebakar, nanti gosong." Ningsih menjelaskan sambil memakan es krim.


"Beli dimana lagi kau tuh es krim, mau juga aku." Isa kepingin sambil mengecap-ngecap lidahnya karena selera melihat Ningsih.


"Disitu." Ningsih menunjuk kearah sebelah kiri timur.


"Ohh itu Isa, kau sekalian belikan aku ya!" Aku mengeluarkan uang dua ribu rupiah dari saku ku.


Ia mengambil uang ku "Iya, beli yang berapa?" Isa tertegun sejenak.


Aku mengisyaratkan dua jariku "Yang dua ribu aja, tapi pakai roti ya! Biasanya dua ribu itu."


Mengangguk setuju "Yaudah bentar." Ia pergi membeli.


Permainan pun mau hendak di berlangsung kan. Aku melihat Kak Nina bergilir menanyakan permainan apa yang hendak peserta lain mau. Aku menunggu Isa yang tak kunjung datang. Saat nya tiba digiliranku

__ADS_1


"Tuti, mau lomba apa?" Sambil ia memegang catatan dan pena di kedua tangan nya.


"Hmm.. Lomba makan kerupuk sama balap karung aja kak." Aku menunjuk ke beberapa tampilan perlombaan yang di hadirkan di ruang tunggu itu.


"Ohh oke, baru si Isa?.." Kak Nina menoleh kearah belakang.


"Ehh Isa kak! Isa!" Isa nafas yang terengah-engah memanggil namanya.


"Dari mana kau Sa, lama kali. Untung ga di keluarkan." Aku tertawa dengan Kak Nina juga Ningsih.


"Iya, beli es krim aja kayak lagi buang hajat." Ningsih menertawai Isa.


"Ihh rame tadi, aku aja mekik-mekik maksa sama om-om yang jual es krim." Isa kesal dan jantungnya berdegup kencang karena berlari tadi.


"Yaudah cepat tuh pilih opsinya." Aku menyodorkan tampilan perlombaan yang disediakan.


"Aku buat sama kayak si Tuti aja kak." Isa dan Ningsih ga mau beda permainan denganku.


"Oh oke gampang kalau gitu." Kak Nina menggilir peserta lain.


...


Perlombaan itu pun dimulai dari beberapa perlombaan Isa dan Ningsih di dahulukan. Lalu setelahnya aku. Aku melihat tingkah konyol dan kelucuan mereka. Aku tertawa hingga terbahak-bahak juga terpingkal-pingkal. Yang Ningsih Lomba Makan Kerupuk, kerupuknya terjatuh. Isa Lomba Balap Karung ya karung nya yang lepas. Di kala itu aku sangat bahagia. Dan tak terasa telah berselang, kini aku yang dipanggil beserta peserta lain.


"Semangat makan kerupuknya Ti!" Isa memberi semangat sambil teriak di kejauhan, melambaikan tangan nya.


"Iya!"


Perlombaan itu di mulai. Sangatlah syulit bagi ku tuk memasukan kerupuk yang bergelantungan di tali rafia itu. Aku mencoba makan namun kalah cepat, juara satu, dua, atau tiga saja aku tidak dapat raih. Isa terlihat masam di mukanya


"Yahh gimana sih Ti, masa kalah. Kau makannya gimana lah? Tapi kami lucu liat kau makannya kayak orang ga makan tiga hari." Isa tertawa terbahak-bahak dengan Ningsih.


"Kalian pun sama." Aku membalik ulas kata-kata Isa. Dan kamipun menertawakan diri kami sendiri.


Permainan itu sampai berlangsung dan tak terasa telah habis. Tinggal pengumuman hasil juara perlombaan. Aku dapat menang di lomba juara 3 Balap Karung. Isa dapat juara Lomba Makan Kerupuk di juara 1 dan Lomba Balap Karung 3. Ningsih mendapatkan juaea Lomba Makan Kerupuk di juara 2.


Sangat beruntung Isa sih. Tapi aku hiraukan dan kami pulang gembira membawa hadiah kami dengan suka cita.

__ADS_1


(BERSAMBUNG...)


__ADS_2