Tuti Malas Sekolah

Tuti Malas Sekolah
57. Tegak Keadilan Dalam Dendam


__ADS_3

Lily sedang meminjam buku puisi milik ku. Ia menyukai puisi yang aku buat. Dia tak habis-habisnya membaca koleksi puisi yang ku buat itu. Lalu gerak-gerik Lily pun diperhatikan oleh Buk Eriana, tepat pula itu di pelajaran terahkir


"Lily, apa itu yang kamu baca? Coba bawa kemari." Buk Eriana menjawab dengan nada datar dan menakutkan bagiku.


Lily mengode-ngode ku "Duh gimana nih?"


Aku pasrah dan terpaku tanpa rintih suara terucap "Yaudahlah kasih aja."


Ia pun memberikan buku ku itu pada Buk Eriana. Buk Eriana mengekpresi bahwa puisi di buku itu bagus dan terkagum-kagum "Hmm... Bagus nih, siapa yang buat? Kamu ya Lily?" Mata Buk Eriana tertuju pada Lily.


Lily menggelengkan kepala nya dan melambaikan tangannya "Engga buk, bukan. Itu punya Tuti." Semua mata teman-teman kelas ku tertuju padaku. Dan para Tedebah mulai menggosipi ku.


"Iya Ti, Benar kamu yang buat?" Buk Eriana meyakinkan.


Aku mengangguk dan menjawab sepatah kata dua kata "Iya Buk."


"Bagus, terus kamu kembangkan bakatmu. Oh ya besok kita ada latihan buat puisi dan pantun. Dan untuk tak ada yang sama dalam isi puisi, Kecuali judulnya saja. Dan untuk pantun begitu juga." Buk Eriana membagi tugas buat besok.


Reini dan Mifthi ku dengar cibiran mereka sayup-sayup dari kejauhan "Ihh palingan Tuti cari perhatian itu. Buat-buat puisi, mana pernah yakan. Palingan ngejiplak." Reini menjawab "Iya palingan ngejiplak. Orang kerjaan dia nulis-nulis ga jelas di mejanya." Mifthi dan Reini tertawa.


Aku menjawab mereka tegas, singkat, padat dan jelas "Kalau kau iri saingi lah, bukan cerita sana sini." Aku tertawa puas.


"Bisa ya anak-anak?"


Kami menyanggupi "Baik buk."


Lalu Pelajaran pun selesai. Kami di pulangkan tapi aku dicegat oleh Reini "Gegara kau nih Ti bingung kami buat besok." Mifthi mendorong ku "Iya gegara kau, nulis apa kami besok."


Aku menjawab dengan marah sembari bangkit berdiri "Ya derita kau situ, najis aku di dorong sama kau. Ga usah kau dorong-dorong. Beraninya keroyokan aja." Aku pergi cepat dari kelas itu, walaupun para Tedebah itu mencoba mengejarku.


Aku pun pulang. Dan mikir kan judulnya apa ya buat puisi besok. Aku mencari referensi judul di mbah Googlhe. Tapi masih saja aku kurang srek atau menarik akan judul yang di berikan. Aku pun coba membuat puisi baru di buku puisi ku dan sangat pas ketika suasana di hati ku saat itu. Karena aku kesal bercampur dendam ku tahu besok akan ku tulis puisi berjudul 'Dendam.'


Keesokannya ketika Buk Eriana menyuruh kami membuat puisi, kami disuruh membuat puisi di lantai kelas dan kami bebas berkreasi dan agar lebih leluasa saja. Biar lebih refreshing tentang apa puisi yang kami buat. Aku pun mulai menulis puisi ku. Teman-teman ku yang lain termasuk Tedebah itu mulai ketar-ketir terlamun dalam kebingungan. Setelah di tulis di kumpulkan dan dibaca oleh pembuatnya. Aku pun siap paling pertama dan ku baca puisi ku itu


"Saya akan membacakan puisi saya yang berjudul 'Dendam'." Sambil aku membuka buku latihan yang ku tulis puisi itu di pelajaran Bahasa Indonesia.


...Dendam...


...Karya: Tuti Lasmani...


...----------------...


...Hati porak-poranda kilat gemuruh...


...Pikiran bergejolak api membara...


...Batin ku kini panas menyala...


...Akan dendam tak kunjung usai menggurui...


...----------------...


...Aku bagaikan air yang suci tanpa noda...

__ADS_1


...Kau bumbui dengan kotoran penuh hina...


...Amarah dan dendam mulai berkelana...


...Karena kalian para manusia bedebah...


...Iri akan keberadaan ku saja...


...kau memojokkan ku dan menghasut rakyat semata...


...----------------...


...Air mataku membasahi...


...Dendam terus kian menyelimuti...


...Air yang jatuh ketanah dan membasahi...


...Kini menjadi api membara tanpa henti...


...Bahkan awan dan langit...


...Tak lagi bersahabat...


...----------------...


...Dendam ku tak akan selesai...


...Aku dan lainnya...


...Menari diatas likuan belati membisu...


...Siulan rintih bergeming tajam...


...Akan hina dan cacian busuk kalian...


...Dendam nan usai berkelanjutan...


...Yang terus telah membutakan...


'Aku membaca sambil melihat ke para Tedebah itu, menyinggung lewat pesan puisi.'


*Sekelas memberi tepukan meriah, akan puisi yang kubaca.*


"Wah sadis ya Tuti puisinya. Judulnya 'Dendam' lagi. Terimakasih silahkan kembali Tuti." Buk Eriana memberi nilai terbaik untukku.


Para Tedebah mulai menggosipi ku lagi "Hih dia ya enak lah yakan. Di kasih nilai A palingan, karena yang bagus buat puisi itu." Mereka berbisik berderik.


"Ihh biarlah, sibuk kali kalian." Lily membela ku.


"Tau tuh, pas di depan nanti ngak-ngok, celingak-celinguk, toreh kanan-kiri kebingungan. Ga bisa berekspresi kayak kanebo kering." Aku dan Lily tertawa akan kebodohan mereka.


"Awas ya kau, habis kau nanti!" Salah satu teman Tedebah mengancam ku.

__ADS_1


"Yaudah tinggal awas aja, lewat deh." Aku tertawa girang lagi dengan Lily, menepis tangan Lily. Mereka palak akan kelakuan ku dan memilih diam sedangkan kami menjadi-jadi.


.........


Keesokannya aku duduk dan seperti biasa menulis puisi-puisi baru ku. Mifthi melihatku menulis. Ia tak senang dan merebut paksa buku ku


Aku terbenganga, meminta balik buku milikku "Ihh apanya kau? Balikin buku ku!" Aku menarik nya paksa.


Mifthi melempar buku itu ke para Tedebah dan Reini "Woy ambil." Ia tertawa puas.


"Jangan sampe jatuh ke tangan Tuti woy!" Para Tedebah tak kunjung memberi buku milikku.


Aku setengah sadar, dengan telinga yang berdenging nyaring, aku jatuh pingsan sesaat. Aku tersadar kalau aku keluar dari badan ku dan mengamuk-ngamuk. Aku bilang "Itu bukan aku dan aku disini." Aku menggoyah-goyah Lily yang melihat kejadian itu. Aku terus membabi buta dan menyerang Reini dan Mifthi secara berutal. Mereka ketakutan, dan memojok.


Buk Eriana datang secara tergesa-gesa dan melihatku yang menghajar Reini hingga ia panik dan tertegun. Aku yang tampak lemas dan langsung pingsan.


"... Tut,Tuti,Tut sadar!" Lily membangunkan ku.


Aku setengah sadar, kepalaku sakit dan telinga ku masih berdenging nyaring "Agh, sakit.." Aku menahan rasa sakit. Buk Eriana segera membawaku ke ruang UKS dan mengobatiku seadanya disana.


Ketika aku mendingan Lily dan Buk Eriana beserta para Tedebah datang menjenguk ku. Buk Eriana sedikit khawatir padaku "Ada apa tadi kamu di kelas. Bisa ceritakan?"


Aku mau menceritakan, tapi mulutku enggan terbuka. Aku hanya menjawab melas "Saya mau istirahat dulu Buk." Aku menyelimuti diri ku dan berbalik menghadap dinding. Buk Eriana memaklumi nya dan membiarkan ku istirahat sejenak.


Samar-samar aku mendengar Lily menceritakan semuanya dan membelaku. Sementara Reini dan para Tedebah dinyatakan bersalah dan meminta maaf padaku. Saat aku akan memaafkan nya aku malah di kendalikan oleh yang lain. Aku kembali seperti tadi. Serasa keluar dari raga ku sendiri, dan raga ku menyeringas buas ke Reini dan Mifthi juga pada Tedebah "Kalian selalu mengganggu anak ini, membuatnya menderita dan terus merenung. Apa salah dia sampai-sampai kalian buli dia terus-menerus? Kalian harus dapat apa yang anak ini dapatkan!" Ragaku menatap sorot tajam pada mereka dan mengejar Reini dan Mifthi yang berlari terbirit-birit dan ketakutan. Mereka berlari sekuat tenaga mereka hingga mereka lelah. Namun raga ku segera di cegat Buk Eriana dan beberapa guru.


Mifthi dan Reini terpaksa di pulangkan sedangkan aku di tenangkan sampai Mamak datang dan melihat kondisiku. "Buk, Pak ada apa ini?"


Buk Eriana meratap penuh sedih "Dia seperti kerasukan. Tapi kami coba yang terbaik."


Aku setengah sadar bilang ke Mamak "Aku ga mau terus terang ke Mamak. Aku sebenarnya selalu merasa depresi di sini. Aku ga mau di sebut pengadu.." Tiba-tiba suaraku menjadi berat dan ia mulai masuk ke raga ku dan berkata berdesis "...Waktu ku tuk balas dendam. Haha, balas dendam telah membutakan raga dan jiwa ku. Penghinaan harus di balas dengan,.. Dendam!" Itu membuat Mamak takut dan para guru yang lain juga. Suasana terus mencekam dan angin berporak-porandai mengguncang ruangan itu. Petir terus bergemuruh ditambah hujan yang deras membasahi. Seketika sekeliling menjadi hampa dan ngeri.


Aku di sembuhkan dan diobati oleh ustadz yang dulu semasa di kelas kami menyembuhkan kerasukan massal. Salah satu anak dari ustadz itu menunjuk kearah sudut salah satu ruangan "Ayah lihat ada baju putih tinggi tampak marah Yah." Ustadz itu langsung berdalih dan Sosok itu menampakkan diri.


"Assalamualaikum." Ustadz itu memberi salam


Sosok itu tak menjawab.


"Aku kasihan pada anak ini." Rintih nya bergemih.


"Kenapa kau rasuki anak ini?"


"Aku kasihan melihatnya. Tak dapat pengakuan, tak dapat keadilan dan terus menyesat di kesengsaraan. Dia hanya ingin di beri keadilan. Setiap ia melakukan hal yang bagus itu semua di rusak para badjingan itu. Aku tak tahan lagi dan mengambil alih tubuh anak ini." Sosok itu menunjuk ku, mengerang, dan walaupun ia seram aku sangat berterimakasih padanya.


"Tapi kan, Tuti ga minta?.."


Ia mengangguk "Ya memang kau tak pernah meminta, tapi saya kasihan. Sekali lagi ia diganggu, maka saya turun tangan." Sosok itu pergi dan menghilang secara misterius.


"Sudah-sudah nak, yuk kita pulang." Mamak memelukku dan menyemangati ku. Dan melupakan apa yang barusan terjadi juga enggan memberi tahu bapak.


"Iya sebaiknya Tuti cepat pulang. Biar saya buat sakit saja." Buk Eriana segera kembali kekelas. Dan aku pun pulang.


(BERSAMBUNG...)

__ADS_1


__ADS_2