
Selang seminggu pun berlalu. Kini Buk Lasmine di hari ini tidak datang lagi. Aku kira Buk Lasmine seperti biasa menghadiri acara undangan orang lain. Entah dia hobi sekali pergi ke undangan. Orang yang ga dikenal aja ia datang menghadiri pesta itu. Bagiku sih seperti membuang-buang uang dan waktu. Aku, Isa, juga teman-teman kelas lainnya menunggu kehadiran Buk Lasmine. Tapi, Buk Lasmine tak kunjung datang. Tapi juga Yanti tak hadir, biasanya dia selalu hadir dan tanpa keterangan seperti ini. Lalu Pak Sahya mendatangi kami
(Tok-Tok-Tok) Ketukan pintu kelas terdengar.
"Assalamualaikum w.b.
Selamat Pagi." Pak Sahya membuka pemberitahuan penting.
"Walaikumsalam w.b." Jawab kami serentak.
"Berita duka bapak sampaikan, Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Telah berpulangnya ke Rahmatullah dari salah satu Suami nya Guru kalian yang tercinta dan kalian sayangi, yakni Suami nya Buk Lasmine. Atau nama aslinya yaitu Kusumo Purnasaptanto, yaitu nama panggilannya Pak Kusumo. Berpulang ke Rahmatullah sejak pukul siang ini, yaitu jam dua belas lewat empat belas. Di kiranya memberikan sumbangan seikhlas hati, dan tidak kiranya di paksakan oleh pihak manapun." Pak Sahya berjalan gilir memintai uang sumbangan.
"Ha, tulah. Palingan Buk Lasmine kena karma. Hahaha, makan lah itu karma. Kemarin aku lagi berduka malah di olok-oloknya. Sekarang dialah yang dapat karma. Biarin situ, biar ia tau rasa sakitnya gimana!" Dendam ku sambil berderik, enggan memberikan selimpir pun uang sumbangan.
Yanti berbalik menanya kearahku "Ihh kau kenapa ga nyumbang Ti?" Dia menyibiri.
Aku tersentak sejenak "Oh, ya? Ga ada uang ku. Pas-pasan buat jajan." Ketus ku sambil menutupi kebohongan.
"Ihh masa minimal seribu pun kau ga ada, parah banget. I can't stop thinking." Dia memolek-molekkan nada bicaranya.
"Ya kalo aku bilang ga ada ya ga ada! Terus mau gimana?" Nadaku mulai tinggi dan menyentak meja.
Yanti terkejut, terbujur kaku dan ketakutan "Ouh oke, sorry." Dia berbalik dan kembali ke posisi nya semula.
"Kenapa kau marahin Yanti, diakan cuma nanya aja. Entar minta maaf, kasian dia." Isa membujukku yang tengah kesal ini.
Aku tetap pendirianku "Ya habis dia nanya-nanya terus. Gimana aku ga kesel coba? Orang ga ada uang di paksa nyumbang. Dahlah." Aku semangkin kesal dan badmood.
Isa dan Yanti menghiraukan ku yang tengah marah-marah itu. Karena mereka tak mau membuatku mangkin dan semangkin kesal. Aku sengaja ga mau menyumbang, karena perangai nya di beberapa minggu lalu membuatku dendam pribadi. Aku enggan bercampur dendam jadi tak ingin membantunya yang tengah berduka itu.
.........
Aku t'lah pulang. Aku menceritakan nya semua pada Mamak. Aku lihat mamak tengah tidur-tiduran di ruang tamu tengah bersantai
__ADS_1
"Mak, Assalamualaikum!"
"Ehh, Walaikumsalam. Dah pulang Ti?" Mamak bangkit dari tidurnya.
"Iya mak. Ehh tau ga mak?"
"Apa? Soal apa?"
"Tadi ada kabar duka Buk Lasmine, suaminya meninggal."
Mamak menepisku dan bergairah semangat "Wihh, iya tau Mamak. Barusan di umumkan Pak Sahya dari mesjid."
"Tapi aku tadi malas nyumbang, biarin aja situ." Ketusku kejam.
Mamak sedikit terkejut "Lho kok kayak gitu, kasihan lho. Ya mau sekejam apapun dia tetap gurumu."
"Halah, kemarin ada momen ketika pas Tuti lagi izin kan, yang Uyut meninggal. Jadi ga tau tentang hafalan. Itu malah Tuti disangka yang neko-neko. Palak Tuti ga Tuti kasih sumbangan. Mampus situ, haha." Aku tertawa jahat, menjawab dengan setengah-setengah tentang kejadian yang sebenarnya.
(Flashback Masa Lampau)
"Jadi ga ada niatan kau buat hafal satupun? Ga ada nya kawanmu yang bisa kau tanyai?" Nadanya mulai meninggi.
"Saya baru sampai dari rumah buk, saya kemalangan Uyut saya..." Belum selesai menjelaskan.
"Halah! Udah diam, banyak kali alasan kau! Derita kau kenapa ga hafal! Terusnya kau kayak gitu. Main aja kau banyakin, nanti di nasehati ga bisa, ga terima. Kebiasaan!"
... Suara seseorang samar-samar terdengar "Ti, Tuti, Tuti!?" Suara Mamak memanggilku.
"Ahh, iya? Ada apa?
"Ihh!" Mamak menepis ku. "Jangan melamun, nanti kesambet setan lho! Dari tadi Mamak nanya kau."
"I-iya, u-udah. Nanya apa mak?" Aku terbata-bata keringat dingin berkujur di tubuhku.
__ADS_1
"Lupa lah. Tadi kau ngelamunin apaan? Ada cowokmu?" Mamak menggodaku.
"Ihh engga lah. Ada-ada aja Mamak." Aku merengut kesal ke Mamak.
"Ya jadi apa? Cerita lah!" Mamak mulai penasaran.
"Engga, bukan apa-apa kok." Aku menghiraukan.
Mamak menanyakan lagi "Emang,.. Suami nya sakit apa ya Ti?"
"Nah, itulah Tuti pun ga tau."
Mamak putus asa mendengar jawaban ku "Hmmph! Orang kau yang disana masa kau pula yang tak tahu-menahu."
"Orang ga dijelasin penyakit apa, cuma dikabari meninggal aja. Yaudah." Aku menjawab informasi yang masih setengah-setengah.
.........
Keesokannya masuk pelajaran Buk Imah. Lalu ketika sebelum kelas dimulai aku bertanya pada yang Buk Imah
"Buk, saya mau tanya."
"Iya apaan tuh Ti?" Buk Imah tertegun sejenak.
"Kalau boleh tau suami nya Buk Lasmine sakit apa kok bisa meninggal?"
"Dengar-dengar katanya disengat puluhan Tawon Tanah Ti, Tawon kan ga begitu berbisa. Tapi kalo banyak yang mengeroyoki nya bisa meninggal juga lah. Ataupun udah memang ajal yang menjemput nya. Itu rahasia Sang Maha Pencipta lah nak. Kita manusia tak tahu-menahu kapan akan di jemput. Bisa Bayi, Anak-anak, Orang Dewasa, Tua, Muda kapan aja bisa. Hanya berserah diri pada-Nya saja lah kita. Yang penting perbanyak ibadah dan amalan ya nak." Buk Imah menjelaskan serta menasehati ku.
"Ohh gitu ya Buk. Yaudah ya buk." Aku pergi meninggalkan Buk Imah.
"Oh, iya nak. Yuk nak kelas mau dimulai."
Aku memanggut setuju "Iya Buk, yuk."
__ADS_1
Sekali lagi, aku sudah tau kenapa sebabnya. Ya biarlah itu jadi rahasia tuhan. Entah pun Tuhan membalaskan rasa sakit hatiku, dan diberikan pada ujian untuk Buk Lasmine. Sekali lagi, Itu rahasia tuhan dan biarlah semua terjadi dengan alamiah. Sekian.
(BERSAMBUNG...)