
Tak kusangka, beberapa hari lagi memasuki sekolah lagi. Sudah tak ada tidur panjang seperti Putri Tidur. Sekarang bangkit untuk sekolah. Ya walaupun ku tahu akan ada Buk Lasmine itu lagi. Namun jalani saja tanpa ekspresi. Di kala itu aku bangun, di hari selasa pagi. Dari libur panjang masuk di hari selasa pagi. Dan mata pelajaran nya telah diubah seperti kelas kemarin. Senin Al-Qur'an dan Hadits bersama Pak Sahya, Selasa Fiqih bersama Buk Lasmine, Rabu Aqidah Akhlak bersama Buk Imah, Kamis Bahasa Arab bersama Pak Nuh
(Ting.. Ting.. Ting..) Lonceng masuk berbunyi, dan tidak memakai bell sekolah.
"Lah tumben pakai lonceng, biasanya pakai bell?" Isa keheranan.
"Mati lampu kali. Ya ga tau juga deh." Ucap Yanti, memalingkan muka nya.
Kami menunggu Buk Lasmine hingga berpuluh-puluh menit, detik, namun ia tak kunjung hadir "Duhh Buk Lasmine kok lama banget sich? I'm tired of waiting here." Yanti kesal, sambil kepanasan mengipas-ngipaskan wajahnya.
Bahu ku memanggut naik "Ga tau tuh, kaukan saudaranya. Masa kau ga tau?"
"Ihh Buk Lasmine kan dah pindah waktu libur kita itu. Entah kok dia ga masuk-masuk. Apa sakit ya?" Yanti mulai berprasangka negatif.
Isa menepisnya "Alah palingan juga kecapean, atau seperti rutinitas biasa. Ke pesta pernikahan orang, seperti biasa." Aku dan Isa tertawa terbahak-bahak.
"Ihh kalian i aduin ke Buk Lasmine ya?!" Dia menggertak, mengancam kami.
"Ihh jangan lah, ga asik banget Yanti ini." Muka kami menyerungut masam, mata kami menatap tajam kearah Yanti.
"Haha, just kidding guys. Just kidding." Ia tertawa terbahak-bahak.
"Hilih, pilingin biingin, yikin isi?"
(Halah palingan bohongan, yakan Isa?) Ledekku pada Yanti.
__ADS_1
"Hiih, tinin"
(Hooh, tenan) Kami tertawa bersama Yanti, terpingkal-pingkal, dan menangis.
Kami menunggu dan menunggu, tapi Buk Lasmine tak kunjung datang. Lalu kami bermain di perosotan dekat kelas TK itu, karena kurang pengawasan kelas kami jadi kami bebas mau kemana-mana. Tiba-tiba Buk Imah datang, aku bergegas lari, kami lalu lalang macam lalat yang mengerubungi
"Guru nya ada nak?" Buk Imah toleh kanan dan kiri.
Kami menggelengkan kepala "Ga ada buk, Buk Lasmine dari tadi ga ada masuk."
"Sebagai gantinya ibuk beri kalian tugas, gimana? Biar ga ribut. Ibuk mengajar di kelas sebelah kalian berisik nya macam di pasar." Buk Imah kesal, menahan amarahnya yang tampak meluap.
"Ya buk." Kami membuka buku latihan kami.
"Buka halaman 172, kerjakan essay nya 1-10. Dan jangan ribut! Nanti sehabis istirahat kita koreksi bersama." Buk Imah meninggalkan kelas kami dan pergi menutup pintu kelas.
"I don't know. Mungkin aja sibuk, atau lupa kalau mau mengabari? Entahlah. Ehh kita kerjasama yuk." Yanti mulai sedikit sesat.
"Ihh iya aku ga tau lho yang di nomor 4,7,9 ini. Kalian mau kerjasama ga? Nyontek-nyontekan kita." Isa tertawa jahat.
"Ihh boleh lah, aku ga tau semua pun." Diriku yang tak tahu diri mengacungkan tangan.
"Tapi diam-diam aja ya, jangan kasih tau siapa-siapa." Yanti celingak-celinguk menatap sekitar jikalau aman terkendali.
"Halah entar kau yang cepu, ngadu-ngadu ke Buk Imah." Salah satu temanku ragu-ragu tak percaya.
__ADS_1
"Ihh masalah itu ga akan deh, ya entar aku kena juga. Senjata makan tuan dong. Gimana sich,..." Yanti berderik.
"Ehe iya deh." Aku mengiyakan.
Kami mengerjakan hingga tuntas, kami saling lontar-lintar jawaban. Dari meja satu ke meja yang lain. Kami tertawa dan bahagia disaat itu. Dikala ku paling bahagia ya tiada kehadirannya Buk Lasmine. Entah kemana dia aku juga tak perduli. Sampai selesai sebelum istirahat, ku ingat kurang lebih lima menit sebelum bell istirahat berbunyi. Setelah itu kami istirahat dan kami pun jajan ke kantin
"Misi kita sukses ya." Aku menyeringi tertawa kecil.
"Iya lah, siapa lagi kalo ga agen ini yang namanya Yantieh~" Dia meninggikan suaranya.
Aku spontan menutup mulutnya "Sstt, jangan keras-keras entar ketahuan!" Aku berbisik.
"Ouh, I forget. Sorry.."
(Ouh, aku lupa. Maaf..) Yanti mengedip dan memainkan matanya.
"Iyalah itu." Isa merengut.
"Ehh kelas yuk!" Aku mengemasi diriku hendak kekelas.
"Yuk, let's go!" Yanti lari duluan.
"Hei!" Teriakku. "Tunggu!" Aku mengejarnya.
"Woy, tunggulah. Kurang ajar kalian ini." Isa kocar-kacir mengejar kami berdua.
__ADS_1
Sampailah kami di kelas. Dan langsung duduk manis menikmatinya jajanan yang kami beli. Buk Imah pun masuk kekelas kami. Ia mengoreksi tugas kami. Ya kami ubah-ubah sedikit lah kata-kata nya biar Buk Imah tak curiga. Biar ga nampak banget copy paste nya, haha. Itu pun masih jadi misteri, kemana wujud rupanya Buk Lasmine tadi? Tapi, entahlah.
(BERSAMBUNG...)