
Para Tedebah itu selalu membully ku dan mengucilkannya ku. Padahal aku tak ada masalah dengan mereka, dan lagi tak membuat onar sedikitpun. Mereka mendatangiku dan penjilat karena PR mereka yang belum mereka kerjain sama sekali. Dan tiba-tiba raut muka yang penuh jijik dan enggan melihatku, kini memuji-muji ku
"Tut, yang kemarin aku minta maaf ya."
Aku memaafkannya tanpa pikir panjang dan aku mood di hari itu lagi baik. "Yaudah, aku maafin."
Ia langsung ke poin pentingnya "Ihh aku belum siap PR, mintalah punyamu. Kau kan baik, cantik, baru..." Aku menyangkalnya dan menolak mentah-mentah penawaran nya itu.
"Ahh, enggak-enggak. Kerjain aja sendiri. Belum lagi kan masih ada 15 menit kau buat kerjain." Aku berpaling dan menulis puisi di buku puisi ku itu.
"Gitu kau ya? Oke aku tandai." Ia mengancam ku.
Aku yang remeh akan ancaman sepele nya itu "Yaudah tinggal di tandai aja. Kalau perlu di ceklis sekalian dari pengalaman hidupmu." Ketus ku.
Ia pergi dengan kesal karena kata-kata manis nya itu membuat diri ku enggan untuk terpikat oleh rayuan maut nya itu. Dan ia mengucilkan ku setelahnya itu. Ya aku ga berharap punya teman, mau teman ya syukur engga ya sudahlah. Itu prinsip ku. Lagian kalau mau temanan ya tinggal temenan, toh ga mati juga ga punya teman di hidup kita walaupun hidup itu akan terasa hambar dan hampa saja. Ini tinggal balik ke pemegangnya masing-masing. Sanggup atau gagal kah mereka dalam menanggapi hal itu. Kalau aku sih sanggup-sanggup aja
"Aku juga enggan kalau dari awal memilih berteman sama orang-orang kayak gitu. Tau dari awal aku memilih kelas B aja kalau ujung-ujungnya kayak gini." Lirih ku bergumam dalam hati.
Kini para Tedebah itu menghampiriku, mereka marah ke aku karena ga kasih contekan dan mengancam
"Huu pelit, orang pelit kan kuburannya sempit. Ga usah di kawani Tuti." Reini ngomong secara blak-blakan.
"Kalau aku pelit memang kenapa? Adanya aku minta makan sama mu? Apakah kau keluarga ku? Kalau aku pelit adanya mengusik belenggu di hatimu. Kau pula yang ngatur-ngatur aku pelit. Lagian itu tugas dikasih minggu..." Mifthi langsung mencelaku. "Kalau udah pelit ya pelit aja yakan guys?" Mifthi tertawa bersama teman-teman Tedebah lainnya itu. Dan mereka pun pergi meninggalkan ku selepas mereka mengusikku.
__ADS_1
Tiba-tiba aku seperti kembali ke dunia mimpi tadi malam. Tempat yang gelap dan setitik cahaya saja yang menerangi ruang gelap itu. Tapi aku tak melihat Tinh disana. Aku mencari Tinh sampai ke sudut-sudut ruangan gelap itu. Tapi ruangan itu infinity alias tanpa hujung. Sejauh mana pun aku melangkah pasti kembali lagi ke titik awal. Sampai tiba-tiba aku tersadar dengan ada kehadiran Buk Eriana di situ seperti menyidang ku dan Mifthi. Buk Eriana tampak marah dan seperti menyalahkan ku
"...Kamu terus membuat onar Tuti. Kalau kamu begitu terus saya panggil kedua orang tua mu."
Aku heran, dan tak sadar tadi heran akan apa yang terjadi saat ini "Ohh gitu ya buk. Emang saya ngapain?" Jawabku polos.
"Kamu ga lihat ini teman mu udah luka-luka lebam karena kamu? Apa ga liat luka-luka lebam yang ada di sekujur tubuhnya Mifthi. Makanya periksa dan beli kacamata kamu, dah tau rabun masih aja di paksain ngelihat yang ga bisa kamu lihat." Ia membubarkan ku dan Mifthi. Di mata Mifthi seperti marah sekali, aku menyangkal dan anggap cuek aja atas kejadian tadi.
Sontak Lily menghampiri ku dan menceritakan apa yang terjadi tadi secara ulang "Tadi kau ngapain Ti mukul Mifthi sampe dia luka-luka? Katanya kau yang mulai, kayak membabi-buta gitu. Memang ada apa Ti? Aku ga pernah lihat kau semarah itu." Lily sedikit cemas.
Aku sontak kaget, kok aku bisa kayak gitu. Aku pun menolak dan bahwa aku ga perprasangka seperti itu "Engga ahh, aku mana ada kayak gitu."
"Buktinya tadi Tut? Itu Mifthi sampe memar."
.........
Setelah sebelum malam mau tidur aku memasang alarm dan tidur. Di dalam mimpi aku masuk ke ruangan gelap itu lagi. Kali ini ada Tinh disana. Ia tengah duduk layaknya Bos yang sedang bersantai di kursi favoritnya. Aku menyahut nya dari sudut ruangan gelap itu
"Tinh!" Aku berlari kecil, menghampiri nya.
Ia berbalik dari kursinya dan melihat kebelakang "Ah? Iya Tuti. Ada apa?" Ia menyapaku kembali dengan senyuman manis terlukis di bibir dan lesung pipit nya.
Aku berlari-lari tergesa-gesa, nafasku yang terengah-engah dan berkeringat "Tadi siang kok aku ga sadar baru di tempat ini ya?"
__ADS_1
Tinh menjawab tapi nadanya terbata-bata "Aku ada perlu jadi kau harus ku bawa ke tempat ini."
Aku heran dan mendesaknya "Lah kenapa, kenapa kau tiba-tiba masuk ke raga ku? Kan aku ga ada memanggil mu atau apapun."
Tinh memegang kedua bahu ku dengan erat "Tapi ini untuk kebaikan mu."
Aku berpikir sejenak "Kebaikan ku? Maksud mu balas dendam. Aku ga mau balas dendam."
Tinh berdalih dengan sedikit marah "Kau emang mau terus-menerus di tindas dan di ganggu sama mereka. Emang kamu mau terus-terusan di putar balikan fakta. Dan emang kamu mau selalu di hasud mereka? Ini tuh, ini tuk kebaikan mu Tuti." Tinh memelukku penuh kasih sayang. Aku terpecah dalam lamunan. Kaki ku kaku dan aku memeluknya kembali dan enggan aku lepaskan.
"Ya terimakasih udah mau jadi pelindung ku. Terimakasih udah mau jadi pembela ku. Terimakasih juga udah mau hadir di hidupku walaupun kita beda dunia dan hanya bertemu dalam mimpi saja. Aku sangat bahagia bersama mu." Aku memeluk nya dengan tangis haru.
.........
Aku pun terbangun tiba-tiba terbangun lebih awal. Tak biasanya, aku bangun jam 03:03 dan tak bisa tidur lagi. Aku pun menonton televisi dan sholat subuh ketika azan subuh. Mamak pun heran karena ku bangun lebih awal
"Lho Ti? Bangun nya pagi bener. Biasanya juga masih molor."
Aku mencari-cari alasan dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal "Entah Mak, mungkin lagi bosen."
"Hah? Tidur bisa bosan?" Mamak terheran-heran akan pertanyaan ku yang aneh dan ia pun pergi berjalan kearah dapur.
Aku pun malu karena pertanyaan ku yang aneh dan aku pun bergegas mandi dan mengganti baju tuk persiapan menuju ke sekolah ku.
__ADS_1
(BERSAMBUNG...)