Tuti Malas Sekolah

Tuti Malas Sekolah
58. Kembali Dari Awal


__ADS_3

Semenjak kejadian kemarin aku jatuh sakit hingga beberapa hari. Aku berbaring lemas di kasur ku. Dan setelah beberapa hari aku pun bisa mengikuti kelas kembali. Berjalan aku menyusuri koridor kelas dan menepak kan kaki ku di sekolah itu lagi. Para Tedebah itu tak mengganggu ku lagi bahkan mencibiri ku lagi. Tiba-tiba saja mereka menjadi baik dan perhatian pada ku. Aku heran, kenapa dan mengapa mereka berubah 180⁰ seperti itu? Aneh. Lily pun yang tengah menyapu itu bertegur sapa dengan ku


"Eh Tuti, dah sembuhnya kau?" Melihatku sekilas, ia duluan yang menyapaku kala itu.


"Iya nih, baru sembuh."


"Hai Tuti." Sapa para Tedebah.


Aku hanya mengangguk saja, meletakkan tas ku di meja ku. Lalu aku keluar dan lagi menghirup udara pagi yang segar. Awan-awan putih indah itu bertebaran di langit-langit yang biru. Di tambah banyak kicauan burung-burung yang bernyanyi kecil. Dan kini sang fajar pun menerbitkan dirinya perlahan demi perlahan. Aku sengaja berjemur di sinar mentari. Ingat akan pesan Mamak tuk berjemur sebentar di sinar matahari pagi. Ningsih lewat di samping ku yang tengah berjemur, sahutnya ketus "Hai."


Aku berdalih, melihat ke dirinya. "Hai." Seperti itu saja kami tegur sapa sekarang. Sangat pendek, padat, dan jelas.


Bell kelas pun berbunyi, aku memasuki kelas dan kali ini yang mengajar Buk Eriana. Kelas itu pun dimulai. Namun sebelum kelas dimulai Buk Eriana berpesan agar para Tedebah tak mengganggu lagi. Agar kejadian seperti kemarin lalu tak terulang lagi. Dan mereka memilih tuk mengambil jalur damai. Juga mengurangi tuk menggosipi ku ataupun hal lain. Karena di kelas itu aku kan juga siswa/peserta. Bukannya orang asing yang duduk di kelas 6 itu.


"Sudah sembuh, Tuti." Ucap Buk Eriana.


Aku mengangguk "Iya, Buk. Udah sembuh kok."


"Ya baguslah. Bisa kita pelajarannya kan, Anak-anak?"


Teriak kami penuh semangat "Bisa, Buk!"


.........


Setelah kami belajar Reini dan Mifthi mengajak ku bermain bersama karena permintaan maaf. Kali ini aku benar-benar memaafkan mereka dengan tulus. Mereka senang dengan wajah yang tersenyum lebar. Mereka mengajak ku untuk ke kedai Wi-Fi yang ada didekat rumah nya. Aku mengiyakan tanpa ragu.


Aku menunggu mereka sejenak kedai Wi-Fi. Sambil menunggu, aku pun memesan air teh manis hangat saja. Sesuai perkataan Reini dan Mifthi. Mereka pun datang selang 4-6 menit aku disitu. Mereka aku lihat memiliki handphone yang bagus. Aku pun sebenarnya ingin handphone yang seperti itu. Handphone mereka tampak begitu memukau di mata ku


"Wih, hape nya bagus juga." Aku memuji handphone mereka masing-masing.


"Iya kah? Makasih. Eh, Tut itu kau pake hape apa?" Reini menunjuk handphone ku.


"Iya, kami ga pernah lihat. Boleh pinjam, kan?" Mifthi memelas memohon pada ku.


Aku memberi mereka tanpa ragu "Nih ambilah." Ucapku cepat, dan memberikan sejenak handphone yang kumiliki.


"Nih mereknya apaan?" Mifthi terbenganga.


"Itu BlackBorry, udah lawas sih. Tapi aku suka pakainya. Walaupun udah jadul tapi masih bisa di pakai kok." Aku tersenyum.


"Ohh.."


"Hmm gitu ya." Mereka mengembalikan setelah meminjam handphone ku.


"Kau disitu bisa buka apa aja, Tut?" Celetuk Reini.

__ADS_1


Aku menunjuk kan fitur yang terbatas tapi sangat ku sukai di handphone itu "Ini tuh bisa buka Facebook, Twitter, YouTube, dan internet. Kalau game kayaknya ga bisa deh. Juga nih handphone masih dukung jaringan 3G, ga kayak kalian yang udah support 4G." Ungkap penjelasan ku yang membuat mereka kebingungan.


"Hmm jadi ga bisa main game kayak EphyEphy gitu." Mifthi tertegun sejenak.


Aku tertawa. "Ihh, EphyEphy aja kau. Kayak, Si Ningsih."


Suasana kami pun pecah dan kami malah kebanyakan membahas tentang handphone ku yang kubawa daripada menggunakan WiFi nya dan bermain internet.


.........


Aku pun pulang dari bermain WiFi bersama teman ku tadi. Sangat menyenangkan, kini aku beberes rumah. Aku menyapu halaman rumah ku karena banyak daun-daun yang berjatuhan dan gugur. Setelah aku menyapu halaman, aku berlanjut menyiram bunga milik Mamak. Mamak langsung menghampiri ku dan membantu ku


"Wihh rajin nya anak, Mamak. Sini Mamak bantuin."


Aku memberikan ember yang ku pegang dua-dua itu. Kuberikan satu tuk Mamak. "Nih Mak." Cetus ku


Kami pun menyirami bunga-bunga itu. Dan selepas menyirami bunga-bunga itu, aku pun bergegas untuk membuat puisi ku. Karena tadi aku tak sempat membuat puisi sebagai mana mestinya aku buat. Aku pun membuat puisi itu berjudul "Untuk Diriku."


...Untuk Diriku...


...Karya: Tuti Lasmani...


...----------------...


...Hai......


...----------------...


...Tetaplah tegar di penghujung jalan setapak yang semak belukar...


...Tanpa goyah akan sedikit rusak jalan setapak yang kau jejak kan...


...Meskipun engkau di jalan itu kendala rusak dan becek tak sanggup jalan...


...----------------...


...Diri ku butuh belas kasih...


...Cinta, manja, harapan yang tak kunjung tersampaikan...


...Harapan nan angan terus jauh di awan-awan...


...Semua harapan itu terbungkam rintik bergeming diatas angan...


...----------------...

__ADS_1


...Diriku......


...Sudahlah, kau tak perlu berharap dari orang lain...


...Pendam, biarlah memori itu terbawa siulan angin lalu...


...Meskipun mentari tenggelam, ia kan terbitkan sinarnya fajar...


...Tapi, peruntuk diriku tetaplah tegar walau masalah mengguncang terus-menerus...


...----------------...


...Untuk diriku...


...Sekali lagi aku sampaikan...


...Walau rasa terucap dari sebuah kiasan sajak...


...Masa lalu tiada hilangkan jejak...


...Yang akan terukir selalu didalam sejarah kelak...


...Pupuk dan cuai hikmah kenangan itu...


...Kini pendam dan lukis kisah yang baru...


*Aku selesai di menulis buku milik ku.*


Mamak penasaran, melihat aku sedang menulis "Nulis apa, Ti?"


Aku berbalik, menyodorkan buku milik ku ke Mamak. "Nih buat puisi. Lagi pengen buat aja sih, Mak."


"Mana, Coba Mamak lihat." Mamak mengambil buku ku. "Ohh bagus juga. Suka kau baca-baca puisi?" Mamak bertanya.


Aku mengangguk "Ya begitulah, Mak."


"Yaudah Mamak masuk dulu. Mau masak, belum masak dari tadi."


"Ohh iya, Mak."


Entah kenapa aku suka membuat puisi. Seperti menulis adalah hobi baru ku. Aku suka menulis puisi-puisi baru dan hanya berbau tentang kesepian, motivasi diri sendiri dan kesedihan saja yang mampu kubuat. Dan aku buat puisi yang berjudul "Untuk Diriku" karena, biar mengingatkan diri ku agar aku tak berharap dari orang lain. Karena belum tentu sih orang lain bisa dipintai pertolongan dan 100% mau membantu dengan sukarela. Jadi, aku bersyukur untuk diriku. Karena hanya diriku sendiri yang mau membantu ku. Hanya diriku sendiri yang bisa mengerti perasaan ku. Dan terahkir, hanya diriku sendiri yang bisa membangkitkan semangat jua yang telah padam itu. Tuk menjadi diri sendiri yang lebih baik.


.........


Hari ini juga aku mengambil Ijazahku, aku melihat ada Buk Lasmine. Dan ia memberikan Ijazah ku beserta raport lama ku. Aku tanpa ucap berterimakasih dan pergi meninggalkan nya, menyalami saja enggan. Begitu muak nya aku dengan diri nya dulu. Setelah ku ambil Ijazah ku aku pun pulang dan memberitahukan pada Mamak.

__ADS_1


(BERSAMBUNG...)


__ADS_2