
Dikala itu aku mengikuti les yang diadakan Buk Eriana. Aku mengikutinya karena aku lumayan payah di matematika apalagi hitung-hitungan. Jadi aku putuskan untuk les. Beberapa hari aku mengikuti les, pemahaman ku meningkat sedikit demi sedikit. Jadi aku bisa mengajari teman-teman ku yang kurang paham akan di beberapa soal tersebut. Kala itu Buk Eriana memberitahukan kalau les nya di hari Selasa, Kamis dan Jum'at saja. Jadi aku memberi tahu mamak dihari-hari tertentu itu. Dan dibayar 4 Minggu itu nominalnya seratus ribu rupiah, dalam seminggu tiga kali pertemuan. Mamak mengiyakan karena relatif murah jadi Mamak tak ragu memasukan ku ke les itu. Dan ada peningkatan. Selama les aku mendapat nilai yang menurutku cukup memuaskan. Dari 80-90 saja. Jarang-jarang dapat seratus tuntas, terkadang aku lemot dalam berhitung. Itulah diriku, aku agak malas berhitung. Jadi ceritanya berawal dari sini..
Suatu di pagi hari, aku hampir terlambat kesekolah. Dan itu dihari senin. Aku buru-buru untuk sarapan dan bergegas kesekolah. Mamak saja tak sempat membuatkan sarapan untukku karena bablas ketiduran. Jadi aku putuskan tuk mengantarkan nya siang jam Dzuhur saja
"Mak aku dah mau telat. Mamak ngantar bekalnya nanti siang aja gak apa kan?" Mulutku penuh dengan makanan.
"Lho ga ganti baju dirumah? Biasanya ganti dirumah."
Aku menggelengkan kepala ku "Engga lah Mak. Nanti aku telat lagi soalnya ngejer-ngejer waktu. Mendingan ganti baju dan makan ku disekolah aja."
Mamak enggan akan niatku "Engga usahlah, ganti dirumah baru itu makan di rumah. Nanti repot kau entah ada apa-apa disekolah nanti."
"Ga kok, banyak temen yang lain ganti baju dan makan di kelas." Aku masih bersikukuh meyakinkan nya.
"Yaudah, bolehlah." Nada Mamak terbata dan kaku.
Aku tak begitu menghiraukan Mamak, ku pikir dia cuma ga mau aku rempong membawa begitu banyak barang. Dari peralatan sekolah, baju bersih dan baju kotor, bekal, sandal, dan lainnya. Seperti orang mau camping aja. Tapi karena ku juga ya malas kalo pulang-pergi dari rumah ke sekolah terus dalam sewaktu-waktu.
Tiba nya di sekolah aku hampir terlambat upacara, mereka sudah mau hampir memulainya. Tapi Lily menarik ku dan berusaha tuk menutup mulut, seperti tak terjadi apa-apa. Selesai upacara, aku kembali kekelas dan berteman seperti biasanya tanpa masalah apapun. Aku itu orangnya ga mau mencari masalah duluan. Yang ada orang yang suka banget cari masalah sama aku. Padahal aku hanya diam, sopan, santun dan tak ada menyenye atau bertingkah sekali pun. Dikatakan anak baik-baik mungkin tidak seratus persen akurat, karena aku masih ada jahil itu saja minus di diriku sendiri. Aku ada kurang suka temanku, dia cowo namanya Hendra. Dia memang ganteng, kulit putih bersih, mata sipit dan hidungnya yang mancung seperti Pinokio. Tapi yang tak ku suka darinya adalah lantam, lemes dan pandai bersilat lidah. Aku terkadang kesal dengannya tapi aku tak mau cari gara-gara.
__ADS_1
.........
Tiba nya saat pulang. Aku mengambil bekal yang Mamak menunggu sejak sedari tadi di dekat Kantor Guru. Jadi aku menjemput nya dan mengambil nya. Aku melihat kelas di tutup. Aku mengira "Ahh, mungkin teman kelas ku lagi sholat atau makan di kantin." Aku membuka pintu itu tanpa ku tahu-menahu dan ternyata.. ada Hendra disana yang berganti baju. Dengan beberapa teman lain. Aku syok, berteriak histeris dan langsung ku tutup pintu itu dan menunggu mereka siap memakai baju.
Hendra tak terima ia langsung meninggi kan nada nya dengan lantam nya "Hei Tuti, maksudnya kau buka-buka pintu kelas kau mau apa? Kau mau lihat kami bugil tadi iya? Ohh, ngeri juga kau lihat-lihat kami tadi selera kau nampaknya. Kau ga nampak di luar itu ada yang jaga?"
Aku bersikukuh dan bahwa semua itu salah paham "Engga ada siapa-siapa diluar, aku kira kau makan di kantin atau pergi tah kemana. Aku ga ada maksud apa-apa."
Hendra menyangkal dan terus menyalahkan ku "Halah namanya orang cabul mana ada yang mau ngaku layaknya maling. Udahlah kau jangan ngeles, udah ke tangkap basah."
Aku menghina nya balik "Ihh amit-amit aku mau sama mu, emang aku mau masuk dan ga ada orang diluar. Jadi ya aku masuk aja, mana ku tau kalo kalian ganti baju. Ya jadi kau jangan nyalahin aku lah. Kan sepenuhnya bukan salah ku."
Aku naik pitam, tak terima dihina "Apa kau bilang? Perempuan murahan? Jijik aku tau ngga ngelihat mulut mu yang lemes juga lantam itu. Ga sudi aku lihat-lihat badan mu yang bau itu." Aku menampar nya dengan keras, nada ku tinggi dan aku tak pernah semarah dan bergejolak seperti itu.
Teman Hendra yang disebelahnya "Kau Ti udahlah salah, ga mau ngaku."
Aku tak terima di putar balikan fakta seperti itu "Kan aku ga sengaja, aku ga tau kalian ganti di dalam. Udah aku bilang ga ada orang diluar itu. Dia hina-hina terus aku, apa ga emosi aku. Cobalah kau di posisi aku." Aku menangis, kesalahpahaman itu malah mengundang teman-teman ku yang lain dan tak ada yang membela ku.
Aku sudah bilang ke mereka beberapa kali dan mereka tak mau dengar. Sampai Buk Eriana datang "Ada apa ini? Kenapa kamu tampar dia jadi seperti ini?" Buk Eriana menyidang ku dan Hendra disitu. Hingga datang Mamakku. Mamak heran akan kejadianku.
__ADS_1
"Ada apa ini Tuti, kenapa?" Mamak mencemaskan ku.
Teman-teman ku berdalih berbisik kecil "Hih ada anak mami di kelas." Teman-teman ku yang lain mencibiri ku "Tau tuh, pengecut." Mereka tidak memandang siapa yang patut di bela dan siapa yang patut disalahkan.
Kami disidang dan tetap aku yang paling bersalah karena aku menampar Hendra? Hati lirihku berkata "Tunggu apa? Hanya kesalahpahaman itu ditambah mulut Hendra yang lantam itu aku yang disalahkan? Aku kan tidak sengaja kenapa aku disalahkan?" Aku tak bisa berbicara lagi, energi ku sudah habis. Muka ku kusut dan tak sempat makan siang.
"Itulah Ti, kau dibilang ganti dan makan di rumah engga mau." Mamak membelai ku dan menasehati ku. Lalu Mamak pun pulang.
Teman-teman ku menyoraki ku "Ihh anak mami, aku jadi kau malu banget sih" Reini mengolok ku.
Aku hanya diam, padahal mamak yang datang sendiri karena insting keibuannya yang kuat. Aku tak berharap ia datang juga. Aku di ceramahi Buk Eriana
"Kamu udah besar, ga sepantasnya kamu masih mengadu sama orang tuamu. Harusnya kamu bisa menyelesaikan masalahmu sendiri. Kayak Siska itu, dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri." Ia menunjuk ke teman ku yang pendiam dan sholehah itu.
"Saya ga ada manggil lho Buk, tiba-tiba Mamak saya datang dan.." Buk Eriana memotong pembicaraan ku.
"Sudahlah saya pusing, kamu selesaikan aja masalah mu dengan Hendra saya mau mengajar les dulu." Tanpa ia mendengarkan kata isi hati ku.
Mending aku mendengarkan kata Mamak. Mungkin inilah akibatnya ku melawan dan enggan mendengar apa yang mamak bilang. Aku menyesal tak mendengarkan orang tuaku. Dan berakhir seperti ini.
__ADS_1
(BERSAMBUNG...)