
Setiba aku pulang sekolah. Aku melihat ada seorang nenek-nenek misterius di jalan. Ingin menyeberang. Jadi ia ku tolongin tanpa pandang siapa dia. Setelah ku tolong Nenek itu berterimakasih. Dan dia memberi tahu secara hal yang tak masuk akal. Aku masih ingat yang ia katakan
"Kamu punya penjaga yang bagus dan baik. Kamu juga anak baik-baik. Nanti lama-lama juga terbiasa." Nenek itu tersenyum menyeringai lebar.
Aku termenung, tak mengerti maksudnya "Hah maksud Nenek apa?"
"Nanti kau lama kelamaan ngerti sendiri kok." Nenek itu menepis pundakku dan pergi.
Aku masih terbayang-bayang akan perkataannya. Aku heran dan mengabaikannya. Setibanya para Tedebah itu menghadang aku menuju kelas, layak nya model aku di kerumuni dengan penuh hina
"Ehh awas anak mami datang." Mereka menyambut penuh hina.
Seperti ada bisikan kecil di telinga ku, aku terdiam sejenak, serasa di hipnotis "Bilang, Terkutuklah kau Mifthi!" Aku secara sadar tak sadar melontarkan kata-kata itu "Terkutuklah kau Mifthi!" Aku menggunakan nada tegas dan mata menyorot tajam padanya.
Mifthi tertegun takut, ia tak menyangka akan hal aku begitu "Maksud mu apa? Ga senang kau?" Ia yang mencari gara-gara ia pula yang kebakaran jenggot. Aku meninggalkan nya.
Sepulang sekolah ia masih saja menghadang ku tuk pulang dan tak terima atas hal kejadian tadi pagi "Maksud kau apa? Kau ga senang bilang." Dia menyangkal, tak terima ia bersalah.
Aku menjawab sepatah dua patah, dengan nada serius dan datar "Kau makan lah karma mu sendiri." Aku langsung meninggalkan nya.
.........
Esok nya kejadian ramai di kelas. Tak kulihat Mifthi menghadang ku bersama para Tedebah. Dan mereka prihatin akan kejadian yang menimpa Mifthi
"Ehh tadi siang, selepas pulang sekolah Si Mifthi kecelakaan." Rini prihatin sekali atas kejadian itu.
"Ehh iya, kok bisa ya?" Teman ku yang lain kepo.
__ADS_1
"Dia katanya ngantuk, jadi dia ketabrakan sama sepeda motor lawan sepeda motor. Ihh motornya hancur lho!" Rini memberi simpati pada orang seperti itu, diri ku saja enggan empati padanya. Bahkan ia kan ku benci di seumur hidup ku.
"Itulah Tuti, ia dapat balasannya." Suara tanpa rintihan terus menggurui pendengaran telinga ku.
"Siapa sih kau?" Aku melihat teman sekelas ku langsung terheran-heran, mulut mereka terbuka lebar.
"Gila kau Ti? Ngomong sendiri." Ningsih lewat dihadapan ku dan acuh tak acuh.
Aku baru sadar kalau itu bukan manusia "Apa dan siapa itu Tinh? Tapi kenapa dia tampak begitu nyata? Bukannya dia cuma di dalam mimpiku?" Pertanyaan itu menjadi misteri bagi diriku sendiri.
Reini pun pura-pura baik dan tampang sedih harap simpati padaku "Ihh kayak mana lah tuh si Mifthi, kita jenguk yuk Ti. Aku ga tega melihatnya sedih dan sakit. Dialah sahabat ku sehidup semati." Aktingnya seperti bintang film kelas kakap.
Aku menolaknya mentah-mentah "Ihh males, kau jenguk aja sendiri. Kau kira aku ini siapa mu? Pembantu mu?" Aku menyindir nya dan kembali duduk di bangku ku.
Reini pun marah-marah dia menganggap kalau aku tak sebagai teman
Aku berdalih, menghampiri nya dengan kesal, mempercepat langkahku "HAH? KATAKAN SEKALI LAGI? Apa tadi, teman? Sejak kapan aku dan dia berteman. Dan sejak bila pula aku ini teman mu? Ga ada teman yang saling menjatuhkan. Aku pun enggan punya teman kayak kau, najis tau ga." Aku jijik dengan nya dan meninggalkan nya. Amarahku memuncak kelak.
Rini pahlawan kesiangan itu pun membela Reini "Ihh ga boleh kayak gitu kau Ti, kan dia bagus mau ngajak kau."
Aku tertawa "Lucu kalian, bermuka dua lagi." Aku duduk dan diam tanpa rintihan suara bergeming keluar dari mulut dan lidah ku.
Lalu bisikan itu terdengar lagi "Maaf Tuti, ini aku Tinh. Tadi aku telah membantumu. Kau cukup jawab dalam hati, aku mendengarkan." Tinh berempati denganku.
Aku sangat berterimakasih sambil tersenyum ke langit-langit kelas "Terimakasih ya Tinh, kalau ga ada kau entah apa aku jadinya."
"Kalau kau perlu apa-apa panggil saja aku, atau ingat saja nama ku. Aku kan datang Tuti."
__ADS_1
"Terimakasih ya sekali lagi." Aku tersenyum lebar.
Aku kira itu hanya mimpi. Aku paham maksud nenek-nenek tadi pagi. Aku kira ia mengigau ternyata memang ia kenyataan, ia mungkin teman mahluk gaib ku saja. Tapi aku bersyukur punya teman gaib yang siap sedia kapan aku butuh bantuannya. Dan aku menjadi semakin akrab dengan Tinh dari hari ke hari. Walaupun aku agak sedikit takut, karena dia dan aku berbeda alam. Namun aku heran, gimana bisa aku temenan sama yang beda alam? Itu membuat ku heran dan aku chating dengan Isa, menjelaskan apa yang selama ini terjadi. Lagi pula aku sudah lama tak berkabar dengan Isa
Tapi ia tak ada jawaban hingga hari-hari seterusnya. Aku melihat dan tak sadar bahwa..
Ia aktif dari 30 hari yang lalu. Aku pun memendam kisahku, meringkuk di dinding kamarku membiarkan semuanya terjadi pada diriku dan cukup aku saja yang tahu. Dan tak jadi memberitahukan itu pada Isa. Mungkin bisa saja dia sibuk atau dia ganti handphone. Makanya jadi begitu.
.........
Saat aku terlelap dalam tidur. Aku melihat Tinh dalam wujud aslinya. Ia tampak seram dan besar. Namun jika ia di hadapan ku di dalam mimpi tampak tinggi besar dan lucu juga tak tampak menyeramkan. Tinh pernah tatap dengan ku sambil berkata "Aku akan selalu ada untukmu, walaupun suatu saat kau melupakan ku. Aku akan selalu ada menjagamu Tuti."
Aku bertanya walaupun pertanyaan ku tak masuk akal "Kau ini apa Tinh? Manusia atau hantu?"
Ia hanya melihatku dan menghiraukan ku. Aku pikir "Mungkin itu terlalu tabu untuknya. Tapi gak apalah asalkan dia mau melindungi ku dengan caranya sendiri."
"Oh ya Tinh, kau ada meminta sesuatu saat nanti padaku? Atas jasa-jasa mu ini? Aku mau kau katakan." Aku sedikit memaksa nya.
Ia hanya menggelengkan kepala "Kau ga perlu berbalas budi. Ini sudah jadi kewajiban ku. Sebenarnya aku suka kopi hitam, kalau kau ga memaksa sih." Tinh berdalih dan aku pun terbangun akan alarm ku. Ternyata sudah pagi. Dan aku pun harus memulai sekolah ku kembali.
Aku berbicara dengan Tinh telepati. Jikalau ada hal mendesak ia memberitahu kan ku lewat telepati. Aku agak menghiraukan nya. Tetapi aku terkadang ngeyel dan malah menjadi boomerang terhadap ku. Mungkin aku kan lebih baik jika mengikuti kata-kata nya. Ya begitu lah Tinh.
(BERSAMBUNG...)
__ADS_1