
Rencanaku aku dan Isa pergi ke Festival Akhir Tahun yang diadakan didekat pekarangan rumah ku. Lalu aku mengajak Isa di Minggu pagi ini dengan chating
*Aku mengakhiri chatting*
Aku pun bersiap-siap mandi dan mengganti bajuku. Hampir setengah jam lamanya sibuk ku mencari baju yang bagus untuk bersama Isa nanti nya. Dan mencari baju terbaik ku. Kebetulan aku memakai baju berwarna hijau dengan rok panjang kuning menjuntai hingga mata kaki. Aku menunggu Isa didepan rumahku akan menunggu kehadirannya.
Isa menyapa ku dari kejauhan "Oi!" Ia melambai-lambai kan tangannya.
Aku sesegera mungkin menghampiri nya dan meraih pergelangan tangannya "Udah kan? Yuk."
Ia mengangguk tanpa ragu "Hmm, ya." Ia tersenyum lebar.
"Oh ya di festival itu diadakan acara apa aja kalau boleh tau?"
Aku menjawab singkat "Festival Musikalisasi Puisi."
"Hmm tentang puisi ya.. Menarik kayak nya deh." Isa mengangguk-angguk kepala nya, penasaran bagaimana akan jika sampai disana.
Ternyata sudah berbondong-bondong orang-orang datang kesana. Kami pun berusaha untuk menyalip-nyalip agar kami anak-anak dapat melihat musikalisasi puisi itu. Kami pun mendengar musikalisasi itu dengan indahnya
Seorang kakak-kakak yang membaca puisinya, dan membaca isi puisi nya penuh hikmat dan diiringi sedikit musik sedih
"
...Tak Akan Terpisahkan...
...Karya: RasaLanu...
...Persahabatan kita...
...Takan pernah luput...
...Dari kata-kata...
...Orang-orang rintih semrawut...
...----------------...
...Teman yang begitu hangat...
...Mengalahkan teriknya sinar mentari...
...Dan sekarang kau melekat...
...Namun, kau berpaling dan pergi...
...Pergi, bukan berarti meninggalkan...
...Tetapi pergi yang engkau berikan...
...Ialah pergi karena perpisahan...
...----------------...
__ADS_1
...Perpisahan bukan berarti putus hubungan...
...Namun karena keadaan yang harus aku jalankan...
...Ku tahu, perpisahan ini akan menyakitkan...
...Namun supaya kau tahu, kalau perpisahan bukanlah akhir dari permasalahan...
...----------------...
...Kepergian ku wahai sahabat...
...Bukanlah tanpa kabar bersurat...
...Namun karena keadaan yang terjerat...
...Maaf kan daku wahai sahabat...
...Aku tak bisa temani mu disini...
...Perpisahan bukan berarti ungkapan tangis larat...
...Tetapi ada hal yang harus aku kejar...
...----------------...
...Persahabatan kita akan melekat dan tak kan pernah goyah...
...Akan selalu kekal di hati kita bersama...
...Lalui hari bersama...
...Tawa duka suka bersama...
...Itulah yang dinamakan sahabat, Dariku Sahabatmu....
^^^"^^^
Aku sangat terharu mendengarkannya, langsung ku peluk Isa dan menangis sendu dengannya. Mengingat akan kepergian nya yang tak disini lagi membuatku pecah akan suasana di siang hari yang terik mentari itu
"Isa terima kasih udah mau menjadi sahabatku. Aku kira Ningsih terbaik buat aku. Tapi aku salah, ternyata itu adalah kau. Aku sangat-sangat berterimakasih sudah dipertemukan Tuhan denganmu walau sesingkat ini." Tangis haru ku pecah, begitu juga orang lain yang mendengarnya.
"Ya sama aku juga, maaf kalau aku pergi. Aku pasti selalu berkabar sama mu Tuti. Maaf aku ga bisa jadi yang terbaik buat Tuti." Ia menangis memeluk ku erat tanpa lepas.
"Aku bahkan berterimakasih banget karena kau mau hadir disini Isa."
Isa sesenggukan menjawab tulus dari hati nya yang terdalam "Ya, Aku juga mau berterimakasih karena cuma kau lah Tuti yang ga mau berpaling dari pertemanan kita. Dan berterimakasih udah mau ajak ke festival ini." Ia meyakinkan ku dari matanya yang berkaca-kaca tak tampak seperti kata manis dusta.
Aku pun mengajak nya untuk beli beberapa jajanan angkringan disitu. Kali ini aku yang mentraktir nya makan
"Kita beli siomay itu yuk, kayaknya enak deh." Aku menunjuk ke abang-abang jualan siomay.
"Yaudah tunggu sini aja Ti, biar aku yang kesana." Isa memantapkan langkah nya kesana tanpa pamrih.
"Ini pake uang aku dulu." Aku mengejarnya dan memberikan uang ku.
"Oh oke." Ia melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Setelah itu ia mengembalikan uang yang dia pakai tadi "Ihh ga usah, kali ini aku yang traktir."
Matanya membuka lebar "Hah serius!"
Aku menangguk, mengedipkan mata "Ya, mana mungkin bohongan." Aku tertawa kecil.
"Yaudah duduk di pojokan pohon itu, ga bagus lho makan berdiri." Ia mengalihkan pembicaraan.
"Yaudah, yuk." Aku duduk bersebelahan dengannya, bertepatan dengan rindangnya dari angin pohon menyiur lalu.
Aku pun pulang, berjalan menyusuri jalan setapak dengan pepohonan dimana-mana. Aku mengajukan beberapa pertanyaan pada Isa
"Sa, sebelum kau disini. Maksudnya di tempat ni, kau gimana?"
Isa mengingat-ingat sambil berjalan pulang "Ya aku sebenarnya males sih kesini, tempatnya lumayan terpencil menurutku. Tapi aku terima aja dan sampe detik ini." Ia meyakinkan dengan menatapku empat mata.
Aku menangguk "Diterima aja ya? Kalau aku sih Sa karena ikut orang tua aku. Jadi di tempatku yang lama aku juga di kucilkan. Terahkirnya males aku ke sini deh."
Isa terkejut, menghentikan langkah nya dan menatapku "Di kucilkan? Kok bisa?"
Aku tertawa atas kebodohan kala itu "Kalau aku ingat-ingat aku dulu cepu, udah gitu jahil juga sih."
Isa menggelengkan kepala "Engga benar Tut, secepu-cepu nya orang nih ya. Ga mungkin gegara itu aja kau di kucilkan. Bisa aja orang ga suka sama kita, itu sih menurut ku pribadi." Ia melanjutkan perjalanan.
Aku mengangguk setengah percaya dan ragu padanya "Emm, bisa aja mungkin? Tapi entahlah." Aku sedikit menaikan bahu ku.
Tak terasa kian sudah mau didekat rumahnya Isa, aku pun menanyakan beberapa pertanyaan kembali "Sa, kalau kau ga disini aku sama siapa lagi ya?"
"Kalau ga ada teman main mu kau bisa teleponan, sms-an atau chat atau apapun sama aku." Ia tersenyum dan menggenggam pergelangan tangan ku.
"Ohh gitu ya." Aku nyengar-nyengir.
"Hmm." Iya mengangguk-anggukan kepala nya.
"Minggu depan, kau udah mau pindah ya." Kepalaku merunduk tampang sedih.
Isa membujukku "Ssst, kitakan udah buat hari-hari bersama? Jangan sedih lagi dong. Suatu saat mungkin kita akan bertemu lagi. Kalau kamu ga kontak bahkan, aku akan datang di sini. Kalau aku dah besar mungkin aku balik kesini untuk kunjung ke kau lagi Tuti."
"Janji ya?" Aku menyodorkan jari kelingking ku tanda perjanjian kecil.
"Hmm, janji." Ia membalas janji jari kelingking dariku.
"Yaudah ya Ti, aku mau masuk. Baru beres-beres barang buat keperluan pindah juga."
"Mau ku bantuin?" Aku menawarkan bantuan.
"Engga, engga usah. Takutnya ngerepotin kau. Biar aku aja sama keluarga aku." Ia tersenyum.
"Ohh oke. Bye." Aku melambai seraya berpisah menjauh pulang kerumahku.
Ia juga berbalik melambaikan tangan nya.
"Banyak hari-hari berlalu ya? Bahkan bertemu sosok yang tulus aja pergi tanpa di sangka. Banyak hari ku lalui, sedih dan kecewa lebih tepatnya. Tapi aku harus memikirkan hadiah terakhirnya untuk Isa. Ya, untuk isa" Hati kecil ku berbisik padaku.
(BERSAMBUNG...)
__ADS_1