
Aku kembali ke sekolah. Walaupun aku malas karena banyak hal-hal seperti teman-teman ku yang sifatnya sangat tak etis. Aku masuk dan membuka buku tulis yang berisi puisi itu. Aku membaca puisi-puisi yang telah aku buat. Kini aku menulis puisi tentang cinta. Aku menulis bebas di situ. Dan teman yang tak pantas di bilang teman aku singkat saja jadi Tedebah alias (Teman Bedebah). Masuklah ini di hari Kamis. Di hari ini jam pelajaran Pendidikan Jasmani nya di jam pertama. Kami yang pertama adalah pelajaran Bola Voli. Aku kurang tahu tentang pelajaran yang mengandung unsur 'bola'. Dari kecil malah, aku ga tau apapun tentang bola. Setiba kelas 6 ini mempelajari tentang Bola Voli. Awalnya Guru mengajar Pendidikan Jasmani atau (Penjas) ini tata cara bermainnya, aturan-aturan nya, dan teknik bermainnya, semua ia ajarkan. Tapi hanya aku dan beberapa anak lain yang tak mengerti betul tentang Bola Voli. Jadi aku ingin belajar
"Pak kalau cara passing atas Bola Voli gimana?" Aku menanyakannya pertanyaan simple, tapi berarti buat ku.
Bapak itu menjelaskan caranya, tapi Tedebah ini tak suka termasuk Reini "Halah cari perhatian aja nya kau, nanya-nanya belum tentu bisa." Ia tertawa dengan geng nya yang lain. Aku tak perduli dan mengabaikan nya.
Setiba kami latihan, aku yang kurang di bagian bidang olahraga ini. Tedebah itu semangkin menjadi-jadi "Itulah kan nanya-nanya ga penting sama mu, ga akan nya meningkatkan skill main mu. Main Voli kok kayak tempe gitu, lemes kali." Reini menghinaku didepan Guru itu.
Guru Penjas membela ku "Memang kenapa kalau dia ga bisa di bidang ini? Kemampuan manusia kan berbeda-beda. Ga bisa paksain lah, seharusnya kalian sebagai teman mensupport dia bukan menjatuhkannya." Teman ku di permalukan balik.
Hati ku berkata lirih "Teman? Teman macam apa mereka, yang ada hanyalah sampah yang menumpuk di kerumunan orang bakat terpendam." Aku menatap pada Tedebah itu dengan jijik dan sinis. Dan mereka pun seperti tak terima di permalukan.
Ketika jam olahraga mereka memanggilku kekelas dan menatap penuh kebencian terhadap ku "Memang kau Ti, gegara kau kami dimarahi, gegara kau.." Aku langsung memotong omong kosong Si Mifthi
"Salah ku? Bukannya itu karena mulutmu yang penuh bisa itu? Mulut mu yang selalu cari gara-gara, dan mulut mu yang tajam nya melebihi pisau yang mengiris-iris lara jiwa dan batin ku selama ini? Ini ya, nih pakai otak mu. Jangan kau terus menyalahkan orang." Aku menghina nya balik, menunjukkan-nunjuk jari ku ke kepalaku sendiri. Mengisyaratkan bahwa mereka memang salah dan tak pantas didiami atau ya,.. semangkin menjadi-jadi. Setelahnya aku pergi ke kantin karena memang pada jam olahraga di bebaskan tuk kekantin selama 15 menit saja.
Lalu mereka mengikuti ku kekantin dan berbisik lantam padaku "Jangan kau ikut jam olahraga lagi sama kami."
Aku menyanggupi nya "Terserah mu, aku pun ga sudi kalau sekelompok atau selokal sebenarnya sama mu. Cam kan itu!" Aku berteriak hingga orang-orang di kantin berempati padaku. Mifthi pun pergi bersama Reini juga dan para bedebah lainnya.
Aku kembali kekelas, dan tak berbicara sepatah katapun sama mereka. Awalnya aku hanya tidur sampai tiba-tiba teman ku yang bernama Rini ketakutan, dan aku pun terbangun
__ADS_1
"Tuti, kau kenapa? Jangan gitulah kami takut lho." Rini ketakutan di pojokan, merinding sekujur tubuh nya yang tampak pucat dan kaku, sama kejadiannya saat kemarin. Bagaikan anjing yang meraung-raung, tapi kali ini sangat mencekam dan menyeringas buas.
"Entahlah."
Lily langsung menghampiri ku "Kayak nya kau harus Ruqiyah deh."
Aku menyangkal dengan marah "Jadi kau pikir aku ini kesurupan?" Aku menatapnya dengan tatapan serius dan ia tertegun sejenak.
"Bukan Ti, kayak sikap mu belakangan ini kayak nya aneh."
Aku mengeles "Bukan aku yang aneh Ly, kalian lah yang aneh." Aku keluar dan duduk di samping kelas yang penuh himpunan bunga-bunga disekitar pekarangan itu. Bahkan aku saja tak mendengar secara lengkap yang dijelaskan Lily padaku karena terlanjur kesal dan marah. Di tambah diancam oleh Tedebah itu tadi pagi.
.........
"Tuti, kalau kau mau lawan mereka tapi ga bisa karena kau cuma sendiri. Cukup buat kata-kata balas dendam mu itu dan bilang 'Terkutuklah kau!' maka mereka akan dapatkan karma atas apa yang kau katakan." Ia menjelaskan dalam mimpi itu dengan tampang serius.
Aku tak begitu yakin dengan mimpi yang seperti omong kosong itu "Ahh masa? Oh ya kau kok bisa balik lagi ke mimpi ku?"
Tinh menggelengkan kepalanya "Ini bukan mimpi. Ini alam ku sekarang."
Aku di tarik dari mimpi itu, tersentak bangun dan melihat jam "Astaga masih jam 03:00 pagi? Dahlah tidur lagi, besok kan masih sekolah." Aku memejamkan mataku.
__ADS_1
Lagi dan lagi, Tinh kembali ke mimpiku "Hai Tuti, kembali lagi ya?"
Aku kesal dan marah padanya "Ihh apa sih mau mu? Aku cuma mau tidur dengan nyenyak. Aku ga mau kau datang terus." Aku berteriak padanya.
Tinh tampak begitu manis dan lembut, ia cuma menggeleng-gelengkan kepalanya "Aku akan tetap bersamamu Tuti. Sampai kau benar-benar udah berumur dua puluh lima tahun nanti." Ia tersenyum lebar.
Aku tampak ketakutan, aku heran itu mimpi atau kenyataan. Kenapa mimpi itu tampak realistis. Aku ingin keluar, namun tak bisa. Itu membuat ku panik. Aku berdoa pada Tuhan agar dapat keluar dari sana. Dan Tinh bilang ia akan mengembalikan ku tapi jika aku mendengarkan nya
"Kau bisa kembali tapi kau harus dengarkan aku." Aku menyanggupi nya yang setengah ketakutan itu
"Iya-iya, apa itu?" Aku gemetaran.
"Aku tetap selalu bersama mu, aku akan selalu telepati dan menolong mu jika kau terdesak Tuti." Ia meyakinkan ku.
"Iya kau boleh bersama ku, tapi boleh kan keluarkan aku dari sini. Aku pengen pulang, aku dah capek sama apa yang terjadi disekolah. Aku butuh keadilan Tinh." Aku menangis, kaki ku lemas tak kuat berdiri, dan meratapi nasibku.
Tiba-tiba aku terbangun, pipi ku basah, seakan baru terjadi. Mamak membangun kan ku karena mau sekolah
"Tuti bangun, kau kenapa?"
Aku berbohong dan menyangkal "Engga ada apa-apa kok Mak." Aku tersenyum palsu dan bergegas kesekolah.
__ADS_1
"Kejadian tadi malam sangatlah misterius dan mustahil bercampur mistis. Masa mimpi bisa déjàvu begitu? Tapi kayaknya bukan mimpi. Aku ga bisa bedain mana mimpi mana kenyataan? Entahlah, aku bergegas kesekolah dulu" Lirih ku dalam hati dan berangkat ke sekolah.
(BERSAMBUNG...)