
Pada suatu ketika aku membuka tentang situs Jepang. Aku melihat komik, manga, anime dan Japan pop (J-Pop). Tapi diantara itu semua aku lebih suka ke anime. Aku suka anime yang berbau tentang keseharian. Karena aku penasaran tentang anime tadi, aku belajar otodidak lagi tentang bahasanya. Aku dalami dasar-dasar nya dahulu. Ternyata baru ku tahu bahasa jepang memiliki tiga jenis huruf. Seperti Hiragana, Katakana, dan Kanji. Aku belajar sedikit-sedikit seperti, alfabet hiragana dan katakana saja. Kalau huruf kanji ya bisa nanti-nanti dulu. Yang ku pelajari hiragana yang menurutku lumayan mudah terdiri dari 46 karakter. Dan katakana memiliki 46 karakter juga. Belum lagi kanji nya. "Wah sulit juga ya, banyak lagi huruf-huruf nya." Lirih ku dalam hati. Karena aku ingin menulis huruf jepang itu ku buat nama ku dan ku tulis nama ku di buku ku tadi. Aku tak berharap akan ada orang yang tahu. Cukup aku dan tuhan saja yang tahu.
.........
Keesokannya ada pengumpulan PR. Aku mengumpulkan nya dan menunggu di bangku ku saja. Aku menulis puisi-puisi baru lagi dan tak menghiraukan yang lain sampai tiba di Buk Eriana memanggil namaku
"Tuti, ini kenapa ada bahasa aneh di belakang cover buku tulis mu?" Itu huruf Hiragana yang kemarin aku tulis di buku.
"S-saya kemarin nulis huruf jepang disitu. Dan saya lupa kalau itu buku sekolah." Aku tertunduk, hanya menatap lantai dan ngomong ku yang terbata-bata juga kaku.
"Alah kamu sok kejepang-jepangan. Ga usah kejepang-jepangan lah kalau masih tinggal di Indonesia. Norak tau ga sih?" Kata-kata yang tak ingin ku dengar terlontar jelas satu kelas. Aku malu, di tambah teman-teman kelas ku yang tambah dan semangkin mengolok-olok ku.
"Tau itu Tuti, gila-gilaan sama jepang. Huu, ga usah jepang-jepang kau!" Reini semangkin mempermalukan ku.
Mifthi ikut mengompori Reini "Entah, ingat masih di Indonesia ga usah berlagak tinggi kali. Udah di Indonesia aja kau, ga akan sanggup kau kesana." Ia tertawa, dan mempermalukan ku.
Aku tidak tau mau diletakkan kemana muka ku. Masa hal begitu saja harus di komentari. Memang salah ya orang mau belajar? Kenapa semua ini menimpa diriku. Semenjak kejadian itu tiba-tiba aku merasa sakit. Aku terbaring lemas di meja ku, pandanganku samar-samar. Dan aku tak sadarkan diri di kelas.
Aku terbangun, tapi tempat itu aneh. Sangatlah gelap tapi tak menyeram kan. Hanya gelap saja, sampai aku melihat sesosok tinggi putih, tapi bukan kuntilanak. Ku melihat dan menyapa nya "Hei? Siapa itu?" Ia berbalik tapi mukanya tak terlihat jelas.
__ADS_1
"Aku adalah Tinh." Ia meletakkan telapak tangan kanannya di dada.
"Tunggu, kenapa aku bisa disini? Bukannya aku tadi di kelas?" Aku meratap melihat sekitar ku yang aneh.
"Aku kasihan sekali melihat mu nak. Aku akan bukakan mata batin mu juga telepati mu."
"Hah? Apa?" Tiba-tiba aku terbangun, tapi bangun ku aneh. Seperti anjing yang meraung-raung. Itu membuat teman ku takut hingga memojok ke di dinding seberang.
"Tut, kau kenapa? Jangan kayak gitu lah. Sadar Tut.." Lily sedikit memberanikan diri.
"Hah? Kenapa? Ga ada apa-apa kok." Aku bersikap seperti biasa, walaupun sedikit heran.
Aku tak mau menceritakan mimpi aneh itu dan aku hanya menyangkal "Entahlah, mungkin aku kecapekan." Dan berbalik dan pergi keluar mencari angin sejuk.
"Kalau di pikir-pikir, tadi emang aku ngapain ya? Terus di mimpi ku itu apa sih? Telepati? Mata Batin? Macam di Televisi saja." Aku berdalih, tertawa kecil akan kejadian tadi di mimpi ku yang ku ingat jelas.
.........
Sejak kejadian kemarin, aku ingat aku ada menulis huruf Jepang itu di buku lain. Tapi aku tak ingat buku yang mana. Sampai ada latihan, buku itu pun di kumpulkan. Aku baru ingat kalau di buku itu ada bahasa jepang nya. Yaitu Buku Agama ku, persis ku tulis di belakang cover buku itu. Buk Agama langsung heran, dan ia tahu bahasa apa itu
__ADS_1
"Ini yang nulis belakang cover buku tulis nya, buku Tuti ya?" Buk Agama langsung menatap ku.
Teman-temanku mulai mengolok-olok ku lagi "Tau itu Tuti, gila-gilaan sama jepang. Huu, ga usah jepang-jepang kau! Mending pindah aja kau ke jepang sana!" Mifthi menghina ku.
"Wosiyosixongihijsksnk..." Teman-teman ku mengolok dengan ngasal dan aneh. Itu membuatku semangkin malu akan keadaan ku saat itu.
"Hei-hei sudah!" Buk Agama menaikan nada nya, marahnya meluap. "Memang salah orang belajar? Sampai kalian hina-hina dia. Dah bagus nya sifat kalian? Itu yang hina-hina Tuti Ibuk tandai muka nya satu-satu. Ibuk Buat C di raport nya. Bagus dia lagi mau belajar sendiri. Kalian belum tentu bisa seperti dia." Teman-teman yang mengolok-olok dan menghina ku terdiam membisu, bagaikan pecundang yang berlindung di sebalik tabir.
Ini lah yang benar-benar guru. Aku salut sekali, aku sangat berterimakasih tapi susah mengatakan nya. Ia malah memuji ku dan menyemangati ku "Tuti, kembang dan asahkan skill yang kamu punya. Mana tau kamu bisa kerja atau jadi sastra bahasa jepang kan lumayan. Semangat ya nak." Kata-kata Buk Agama kini meningkatkan peluang ku tuk mempelajari nya.
"Iya Buk, terimakasih ya buk." Jam pelajaran Agama telah habis, dan suara bell pergantian pelajaran pun berbunyi.
Teman-teman yang di marahi Buk Agama tadi tak terima dan berbalik mengerumuni ku layaknya aku yang salah "Gegara kau Ti kami dimarahi. Tah apa pun kesukaan aneh kau itu!"
Aku berbalik menyangkal omongan para bedebah itu "Ya itukan kesalahan kalian. Ya makan kau lah kata-kata mu itu. Ingat! 'Mulut mu harimau mu'." Aku meninggalkan mereka dan pergi dari kelas, menuju kamar mandi padahal aku tidak ke kamar mandi. Hanya jalan-jalan mencari angin sejuk.
Aku ahkirnya lega, karena ada sosok pahlawan yang menolong ku. Selama ini aku hanya di olok-olok di kelas. Dan aku ga tau mau bernaung pada siapa. Aku tak mau lagi di bilang pengadu, anak mami atau apapun itu. Aku kadang lelah di sekolah itu. Rasanya ingin cepat tamat saja.
(BERSAMBUNG...)
__ADS_1