Tuti Malas Sekolah

Tuti Malas Sekolah
40. Beberapa Tahun Berselang


__ADS_3

Tahun ini aku akan menyelesaikan Madrasah ku. Tak ada lagi Buk Lasmine itu di dalam kehidupan ku, keseharian ku, bahkan benakku. Aku takut jikalau di tahun kedepannya kejadian itu terulang kembali. Tapi aku tidak hiraukan untuk sementara ini. Sebulan lagi aku kembali ke Madrasah untuk mengambil ijazahku. Sekarang, di waktu ini, di jam ini, di detik ini dan tepat pada saat ini, aku sedang kekelas baruku. Sekarang aku kelas enam SD. Aku sedang menunggu diluar bersama temanku yang lain. Di barisan itu diabsen dan ada yang masuk Lokal B dan Lokal A. Dulu kami ada 3 lokal. Sekarang hanya dua lokal, dikarenakan kelasnya dan lahan nya kurang. Jadi kami digabung dan di roker kelas. Pada saat giliranku, kedua guru itu sedang berunding di letakkan kemana diri ini menanti. Oh ya di sebelah kiri itu, guru yang lihat namanya ialah Buk Eriana dan sebelahnya ialah Buk Deriana. Kalian mengira mereka kembar? Tidak, tidak,.. Mereka berbeda, hanya kebetulan saja kok. Mereka tetap saja tak dapat memutuskan. Aku dengan babibu memilih kelas yang sekelas dengan Ningsih. Sedangkan Isa di lokal sebelah. Aku memilih


"Di sebelah sana aja Buk." Aku memilih kelas A. Karena bersama Ningsih.


Aku kegirangan menggapai Ningsih "Heyy, aku pilih kelas ini." Aku senang hingga meloncat-loncat.


"Ihh ga asyik gitu, curang-curang.. Tadinya aku pengen sama Isa malah dimasukkan kesini." Ningsih sedikit kecewa.


Aku meyakinkannya "Ssst, gak apa-apa entar kalo istirahat kitakan bisa ke kelas sebelah." Aku meyakinkannya.


Aku bahagia disitu karena teman-teman ku cepat beradaptasi dan berbaur. Aku mengira semua akan baik-baik saja. Apakah ini hanya naluri ku saja? Mungkin saja, tapi aku tidak yakin juga. Tapi aku hiraukan.


...


Ningsih aku lihat kian hari kian berubah. Kini ia tak seperti Ningsih yang aku kenal. Hatiku merasa ia berubah, tapi Pikiran ku berkata mungkin ia sedang berbaur sama yang lain. Aku mulai menghiraukan nya. Aku berteman dengan yang lain. Ada anak kembar dikelas itu. Bernama Reino Dan Reini. Aku akrab dengan si Reina pada saat ini. Menurutku ia baik dan tampan. Kriteria idaman wanita, tapi mungkin bagi anak Sekolah Dasar seperti ku tak pantas berkata demikian. Apakah diriku sudah mulai menginjak pubertas, aku juga tidak tahu. Disitu ada anak yang bernama Lily. Lily dari kelas sebelah, ku tahu dia juga baik dan ramah. Ia memang gadis yang cantik juga pintar di bagian academic. Banyak anak-anak cowok yang tergila-gila dan terkagum-kagum dengan Lily. Aku coba agar diriku akrab dengannya


"Hai Lily, yuk ke kantin." Ajak ku.


"Oh yuk." Dia menjawab tanpa ragu.


"Ehh Ly kau anak guru kan?"


Ia mengangguk setuju "Iya, kenapa Tuti?"


Aku sedikit terbata-bata menjawabnya "Ya ga apa-apa, sih.. Cuma nanya aja." Aku sesegera melupakan topik aneh itu.


Kami pun segera mengambil kursi. Aku mencari teman ku jikalau Ningsih meninggalkan ku. Bukan untuk berprasangka buruk. Tapi dari gerak-gerik nya aku curiga ia berpaling dari ku. Ia pernah ku chat dan sering tak di balasnya. Kadang kerumah nya saja ia enggan atau merasa kalau aku di rumah itu hanya jadi pengganggu.


*Di rumah Ningsih*


"Ningsih, Ningsih..?" Aku menyapa diluar rumahnya. Aku merasa hampir setengah jam tanpa ada yang menyahut, kecuali Nenek nya.


"Eneng opo ndok?"


(Ada apa?)


"Ningsihnya ada Nek?"


"Ohh? Ning, Ningsih?" Neneknya memanggil dengan nada lembut.


"Ahh! Nenek ini apaan sih? Ganggu Ningsih main Handphone aja!" Ningsih marah dengan Neneknya, padahal Neneknya memanggil lembut padanya.


"Apa lagi Tut?" Ningsih marah padaku.


"Yuk kita ma.." Aku belum menyelesaikan perkataanku.


"Ahh, ga, ga. Ga bisa lagi sibuk aku." Dia menolaknya mentah-mentah, dan tak mendengarkan ku.


"Sibuk ngapain? Yaudah aku dirumah mu aja ya." Aku mengucapkan salam dan masuk ke kamar Ningsih.


"Sibuk main game EphyEphy ini sama pacarku." Aku melihat bahwa mereka duet pacaran di game itu.


"Ohh itu yang buat kau sibuk, ehh aku boleh main juga ga?" Aku meraih handphone nya.


Ia memukul tanganku "Ihh jangan! Nanti kalau cowokku marah gimana? Udahlah jangan mengacau!" Nada Ningsih mulai sinis. Aku kira ia ada masalah, ternyata tidak. Ia sibuk sendiri dengan gawainya.


Lalu aku menonton TV yang ada di kamarnya dan tak sengaja ada acara yang lucu dan tertawa. Tetapi Ningsih marah besar

__ADS_1


"He! Kau jangan berisik disitulah!


Aku lagi main sama cowok ku jadi kalah gegara kau." Ningsih menuduh ku padahal dari tadi aku tidak ngapa-ngapain padanya.


"Iya maaf, aku ke kamar mandi mu dulu ya?" Nadaku pelan, kecewa dan menahan bendungan tangis.


"Iya." Ningsih ketus, tanpa memperdulikan ku.


Sebenarnya aku tidak pergi ke kamar mandi, aku minggat dan pergi dari rumahnya. Aku dirumah nya merasa tak dihargai. Dan ia malah fokus bermain game rusak itu bersama orang virtual yang belum tentu ia bisa bertemu secara langsung. Aku menangis di sepanjang jalan, aku tak jadi bermain kerumahnya. Aku langsung ke taman didekat masjid sendirian. Menangis karena tak menyangka sahabatku itu menjadi kejam padaku. Apa yang sudah ku lakukan? Apakah aku sehina dan seburuk itu? Padahal aku kan hanya diam saja. Tetapi Ningsih merasa aku seburuk ia kira.


*Kemasa sekarang.*


"Tut, Tuti?" Lily menyadarkan ku yang melamun.


"Ah, oh iya?" Aku tersadar dari lamunanku.


"Kau sering melamun ya?" Lily mengkhawatirkan ku.


Aku ngeles dan berkata dusta "Engga kok, cuma entah kenapa tadi pikiran ku kosong aja."


"Ohh gitu. Yaudah yuk masuk kekelas. Udah mau mulai." Lily mempercepat langkahnya menuju kelas, dan aku menyusul dari belakangnya.


Jikalau kalian ingat yang tadi, Ningsih sampai sekarang tak ada kata maaf terlontar dari mulutnya. Padahal ia kemarin aku dirumahnya seperti tak ada harga dirinya. Ia malah menanyakan


"Kemarin kau kok cepat kali pulang?" Ketus Ningsih sambil memakan permen di mulutnya.


"Engga apa-apa kok, cuma pengen pulang aja." Aku berbohong lagi.


"Hmm yaudahlah." Ningsih berbalik pergi meninggalkan meja ku.


Tiba-tiba Buk Eriana masuk. Ia memperkenalkan dirinya lebih detail, asal usulnya, menempuh pendidikannya dan lain sebagainya yang menurutku aku ga perlu tahu-menahu lebih dalam. Tapi aku dengarkan saja. Ia menyuruh kami menulis nama kami, asal usul, tempat tanggal lahir, alamat, dan data diri lainnya. Aku pun menulisnya dan bergegas mengantar ke meja nya.


...


Aku tiba di rumah yang Reino beri alamat nya dari chat. Aku tiba lima menit lebih awal dari jam yang ditentukan, dikarenakan aku tak mau membuatnya kecewa.


"Ihh cepat kau datang Ti?" Reino terkejut.


Aku menggaruk kepala ku yang tak gatal "Ehe iya, aku ga tau tadi kalau kecepatan datangnya. Aku datang-datang aja sih."


"Yaudah sini masuk, tapi aku ga ada apa-apa lho." Ia menyambut kehadiran ku.


Aku mengangguk, segan rasanya kalau masuk cuma sendirian "Iya, disini aja aku kok sambil nunggu yang lain datang juga." Aku menolak secara halus.


"Oh yaudah." Reino pergi masuk ke dalam rumahnya, seperti mengambil sesuatu.


Teman dekat Reino datang Yakni Indhra. Indhra sebenarnya bukan dari SD kami dahulu, ia anak pindahan beberapa tahun silam. Ia dari Bangkinang pindah ke daerah ku karena ikut pekerjaan ayah nya.


Indhra datang setelah aku.


"Cepet Ti?" Indhra turun dari sepeda motor yang ia tumpangi bersama Andi.


"Iya, kami aja baru pas-pasan ini nyampe nya." Andi mengunci stang sepeda motor nya, turun, dan menghampiri ku.


"Ehe iya nih." Aku bingung mau ekspresi dan menjawab bagaimana. Jadi aku kaku seperti robot yang berbicara.


Kami menunggu teman-teman kami yang lain, lama-lama banyak juga tapi mereka datang telat banget. Hampir jam satu jam setengah barulah mereka datang, itu pun tidak semua. Mungkin 3 diantaranya berhalangan karena tak dapat mengikuti. Kami pun belajar senam itu bersama beberapa temanku yang lain. Aku mengikutinya dengan serius dan sebisaku saja. Latihan kami berakhir di pukul 17:35 Sore itu. Aku pun bergegas untuk pulang dan berpamitan dengan teman-teman ku lebih awal. Jika tidak, aku bisa dimarahin Mamak.

__ADS_1


"Udah siap latihannya Ti?" Mamak menanyakan pertanyaan singkat.


Aku mengangguk ragu-ragu "Udah sih, tapi aku pulang cepat. Kalo mereka mungkin masih lama. Tapi belum semua gerakan senam dapat ku hafal." Sambil ku memainkan jari-jemari ku sendiri.


...


Tiba di minggu depan. Kali ini aku sudah merasa cukup latihan. Buk Eriana memanggil maju seluruh yang ada dikelas kami. Yang tidak hafal ya aku tidak tahu. Karena kan mereka sudah di peringati untuk datang, tapi mereka juga tak kunjung datang


"Baik, untuk senam minggu kemarin silahkan maju. Ibuk hendak mengambil nilai." Sambil Buk Eriana memegang buku nilai dan pena merah nya.


Aku maju di barisan dua dari tiga. Aku berusaha yang semampuku dan ahkirnya aku mendapatkan nilai yang lumayan memuaskan. Ternyata setiap orang dinilai berbeda-beda. Syukur nilai pertama ku memuaskan dan tiada mengkhianati hasil


"Ini memang maju sekelas tetapi untuk nilai masing-masing pribadi. Karena ibu ingin kalian menguasai senam itu engga? Atau ada yang ga datang? Ha, rasakan lah itu." Buk Eriana dengan nada tegas, dan matanya menyorot tertuju pada yang senam nya kurang baik.


Ahkirnya praktek senam itu selesai. Kami duduk di kursi kami masing-masing. Ningsih ku perhatikan semangkin lama semangkin rengang denganku. Lalu keluh kesah ku, ku ceritakan pada Isa setelah sepulang sekolah lewat chat




*Aku pun sesegera mungkin mengakhiri chat.*


Aku pun masih terbayang-bayang akan perkataan Isa "Apa iya ya? Ningsih begitu? Tapi.. mungkin dia lagi ga mood aja mungkin belakangan ini, makanya begitu. Aku ga terlalu percaya banget perkataan Isa. Mungkin aja karena Isa udah ga sedekat dulu makanya gitu." Lirihku berbisik di dalam hati.


Karena tak yakin, aku pun mencoba bermain sama Ningsih. Aku pergi pamitan dengan Mamak dan bergegas ke rumah Ningsih


"Ningsih? Ning.. Ningsih?" Aku mengetuk pintu rumah nya beberapa kali.


"Apa Tuti?" Wajahnya ketus dan tidak seriang dulu.


"Yuk main, ke tempat Isa kita!" Aku meyakinkannya dan meraih lengannya.


"Ih ga usah kau pegang-pegang, tau nya aku dimana rumah Isa. Yaudah ayo kalo mau kesana." Ningsih memukul pergelangan lenganku dan ia tak mau lagi jika berkontak secara fisik.


Dari situ, aku mulai curiga dari perkataan Isa. Emang benar ya? Tapi entahlah. Ningsih ya Ningsih. Ga akan yang lain. Ia tak mungkin berpaling dari ku. Diakan sahabat sejati ku. Lalu ku bawa Ningsih ke rumah Isa untuk bermain.


"Isa, isa?" Aku mengetuk pintunya beberapa ketukan.


"Iya, eh tumben ada Ningsih." Mukanya berbeda secara drastis, terpancar di raut wajah nya.


"Yaudah yuk masuk, Tuti." Isa berbicara denganku penuh basa basi.


"Masuk Ning." Berbanding terbalik jika ia berbicara sama Ningsih.


Kami pun main monopoli dengan isa, Ningsih menolak karena itu disebutnya permainan anak-anak TK


"Ihh males kali main permainan kayak gini. Kayak permainan anak TK, ga ada seru-serunya. Pulang lah aku." Ningsih pulang tanpa pamit, dan meninggalkan kami berdua.


Isa memperingatkan ku lagi "Tuh lah kan, tah apa pula kau ajak Si Ningsih. Udah bukan teman kita lagi dia. Kau tengok aja, mukanya udah beda gitu. Main aja dia udah ga sefrekuensi lagi. Lain kali Tut, jangan kau ajak lagi dia kerumahku ya." Isa berbisik dan merasa jijik dan enggan melihat sifat Ningsih.


"Bukan gitu maksudnya tadi, maksud ku datang kemari biar kita semua akrab kayak dulu lagi dan.." Isa memotong pembicaraan ku.


"Dan sekarang udah jelas kan Ti? Kalo dia udah ga mau temenan sama kita lagi? Aku kasihan sama mu kok mau kau di bodoh-bodohi sama Si Ningsih. Sebenarnya Ningsih itu ga seperti yang kau bayangkan." Isa memelukku.


"Ahh begitu?..." Aku memeluk balik Isa membisu dan tanpa ekspresi terbaca di raut muka ku.


Sekarang ku tahu apa maksud dan kata Isa. Di lain sisi aku punya banyak teman yang baik dan baru padaku. Tapi di lain sisi aku merenggang jalin persahabatan dengan temanku Ningsih. Aku takut kalau semisal kehilangan sahabat. Nanti dimana lagi aku bernaung? Siapa yang mau mendengarkan keluh kesah ku? Ga ada lagi kebersamaan seperti di waktu itu lagi. Apa iya ya, yang di katakan Isa? Apa aku yang terlalu baik atau terlalu bodoh menanggapi nya? Jikalau benar, masa aku sebodoh itu? Aku bingung dengan semua yang aku alami saat ini. Hanya aku bisa berdoa pada Tuhan agar di berikan kemudahan dari semua masalah yang kian aku hadapi. Dan Ningsih, semoga kita bisa bersama lagi dan bermain seperti ini dahulu.

__ADS_1


(BERSAMBUNG...)


__ADS_2