Tuti Malas Sekolah

Tuti Malas Sekolah
62. Lily & Aku


__ADS_3

Pengumuman Ujian akhir nya keluar. Melewati beberapa Ujian Semester, Ujian Try Out, dan Ujian Nasional. Aku tak ada kata bermain-main lagi. Aku sudah mulai fokus mengikuti ujian ku. Aku harus les dan mengingat rumus, pelajaran, dan lainnya agar nilai di hasil nanti lebih bagus


"Tuti, nanti kita main yuk. Kami mau buat masak-masakan nih." Salah satu teman sebelah bangku ku mengajakku.


"Duh, maaf nih. Ga bisa, aku lagi fokus buat ujian. Udah gitu di rumah aku juga harus beberes rumah." Aku merunduk, dan bertutur dengan lembut padanya.


"Hmm, gitu ya. Ya udah deh, lain kali aja. Sebenarnya aku agak suntuk, karena dah dekat ujian gini. Butuh kayak main-main." Ia sedikit murung.


Aku mengelus bahunya, dan memberi nya semangat "Sebenarnya aku juga sama. Tapi nantilah, kita main habis ujian. Tetap semangat. Entar kalo bosan kita belajar samaan aja, gimana?"


"Kayaknya belajar sendiri aja. Nanti malah main-main kita. Yang ada ga belajar entar kita." Ia tertawa kecil.


"Yaudah deh."


Ia hanya mengangguk kan kepalanya


Setiba jam pelajaran Pendidikan Jasmani, kala itu ada Reini dan Mifthi juga para Tedebah. Mereka melarang ku olahraga


"Ehh, ngapain kau disini? Sana keluar kau!" Reini mengusir ku, enggan membiarkan ku bermain bola yang tersedia itu. Kebetulan guru pembimbing Pendidikan Jasmani sedang tidak ada, karena ada urusan keluar kota. Tapi guru lain yang menilai kami.


"Ya mau olahraga lah, ngapain lagi?" Jawabku cuek.


"Ga boleh kau main. Cuma jadi beban aja. Udah sana pergi kau." Mifthi mengata-ngatai ku, dan ia tertawa dengan jahat.


"Yaudah, aku tinggal pergi aja kok ribet." Aku berpaling dan meninggalkan mereka.


Ku lihat dari kejauhan, Lily seperti marah, lalu ia kembali kekelas, mengajak ku keluar dan bermain bersama. "Udah, Tut, ikut aku aja. Masa kau ga di bolehin sm mereka olahraga. Macam sekolah bapak dia aja." Lily menatap mereka sinis.


"Udah Lily gak apa. Males lagian aku lihat orang itu, muak pun iya juga aku. Orang-orang kayak gitu di ladeni. Biar aja di makannya lah itu bola sampe kenyang." Aku tertawa, dan tersenyum menyeringai.


"Beneran ga apa nih, Tuti?" Ia meyakinkan ku.


"Eum, iya. Lagian aku di situ juga ga di hargai, di perduli kan, cuma jadi bahan olok-olokan juga buat apa?"


"Iya Tut, sabar-sabar aja ya." Ia memelukku dengan hangat juga empati.


"Iya, makasih." Aku memeluknya kembali dan air mataku menetes satu demi persatu.


"Aku temani kau disini juga deh, kasian juga kau sendiri." Ia duduk di dekat samping bangku ku.


"Sebenarnya ga sendirian juga. Orang ada, Tinh—"


"Hah, apa, Tinh? Siapa dia?" Lily celingak-celinguk menatap kosong kelas itu yang tak ada penghuni.


"B-bukan apa-apa kok. Aku kata Tinhta atay tinta. Ya, t-tinta ku habis. Punya pena ga, kalo ada ada aku pinjam hehe..." Aku berdalih, sedikit panik, dan mengalihkan perhatian Lily.


"Ohh tinta, kirain apa. Tunggu ya." Ia mengambil pena miliknya. "Nih." Langsung memberikan nya padaku.

__ADS_1


"Oh, ya, terimakasih." Aku mengambil pena itu, padahal aku sendiri ada pena.


"Emang kau mau buat apa, Tut, sampe mau pakai pena?"


Aku mengambil buku puisi ku "Nih, mau buat puisi."


"Judulnya..." Aku masih berpikir.


"Ahh, gimana kalo engga judulnya kebahagiaan?"


Aku berpikir sejenak. "Ide yang bagus juga." Aku menyeru, segera menulis puisi itu.


"Aku juga mau samaan buat tuh puisi. Boleh kan, Tut?"


Aku mengangguk, mengiyakan permohonan nya "Boleh lah, malah senang aku. Bisa kolaborasi di satu puisi kita hehe." Aku tertawa kecil, dan tersenyum lebar padanya.


...----------------...


...Kebahagiaan...


...Karya: Tuti & Lily...


...----------------...


...'Bahagia ' bukan berasal dari bentuk rupa...


...----------------...


...Bahagia selalu kita dambakan...


...Bahagia cukup hanya syukur pada Tuhan...


...----------------...


...Bukan dari Harta,...


...Bukan dari Tahta,...


...Bukan dari Kasta,...


...----------------...


...Tapi bahagia berasal dari lubuk hati kita paling dalam...


...----------------...


...Damailah dengan hatimu...

__ADS_1


...*Senangkan ego nan anganmu...


...Lupakan sejenak masalah yang selalu mengguruimu*...


...----------------...


...Ketika kita bahagia, kita kan lupa dengan Tuhan...


...Begitu nikmat nya sangatlah dahsyat, itulah nikmat Tuhan...


...Jika kita jatuh, saat itu kau baru sadar, jika nikmat itu di tarik kembali oleh Tuhan...


...----------------...


...Untuk apa harta berhambur, jika kita hati mu sekeras es batu...


...Untuk apa tahta di miliki, jika kesetiaan mu setipis tisu...


...Untuk apa kasta kau punyai, jika kau masih membedakan antar yang lain...


...----------------...


...Kebahagiaan muncul dari diri sendiri...


...Yang pandai menikmati dan mensyukuri...


...Kebahagiaan didapat dari hati...


...Bukannya dari orang lain yang masuk ke hati...


...----------------...


"Wih, cepat juga jadinya puisi kita!" Aku mengagumi puisi yang kami buat.


"Iya, ini lah kenang-kenangan kita ya. Tuti, kau jangan lupakan aku kalau kita ga satu sekolah lagi, ya?..." Lirihnya, nadanya rendah juga sedih.


Aku menggenggam erat kedua tangannya. "Enggak akan. Enggak akan, Lily. Mana aku bisa lupakan teman yang baik kayak kau. Selalu ada untukku, membelaku, dan tak pernah berpaling dariku. Kaulah teman yang sesungguhnya. Terimakasih ya, Lily." Aku menatap matanya dengan penuh harap.


Ia tersenyum, dan melepaskan air mata kebahagiaan. "Terimakasih kembali juga, Tuti. Aku juga senang punya teman kayak kau. Semoga aja pas tamat ini kita bertemu lagi." Lily memelukku. Aku pun memeluk Lily kembali.


*


"Quotes: Terkadang yang kita anggap teman, malah berpaling dan beringas bagai bajingan. Kadangkala teman yang tulus dengan kita, tak kita sadari bahwa ia siap sedia untuk kita. Jika kamu punya teman baru, jangan lupakan lah teman yang lama. Jika kamu tak punya teman, kamu masih bisa bergaul dengan dirimu sendiri. Karena hanya dirimu sendiri yang paham apa yang kau rasakan dan dengarkan."


^^^*^^^


Sesudah kami membuat puisi, kami pun pergi kekantin. Kami menghabiskan waktu tuk melepas suntuk karena yang sebentar lagi mau ujian. Dan kami memikirkan untuk membuat puisi-puisi baru kami. Ia mulai menyukai puisi semenjak aku buat puisi di waktu lalu. Aku suka puisi, mengapa? karena puisi itu bagaikan diary ku yang ku curahkan menjadi sebuah sajak yang indah. Aku tak lagi kesepian jika membuat sebuah puisi itu. Ialah yang selalu menemani dan mengisi ruang kesepian ku. Ialah tempat aku tercurah isi hatiku yang kian gundah gelisah. Ialah tempat aku bersandar akan kata-kata yang ingin aku sampaikan, namun tak pernah terucapkan. Semenjak saat itu, aku mulai menyukai puisi-puisi. Kebanyakan puisi yang kubuat adalah puisi sedih. Karena kondisi ku saat ini banyak kekosongan, kesedihan dan keputusasaan. Aku berharap dengan menulis puisi, dapat mengobati luka di hatiku.

__ADS_1


(BERSAMBUNG...)


__ADS_2