
Aku sudah muak. Padahal aku sudah niat datang di hari Kamis yang cerah ini. Selalu saja begitu, ga ada berubah-ubah nya. Ingin sekali ku balikan kata-kata hinanya itu. Karena sekolah Madrasah ku gitu-gitu aja. Maksudnya gini, sama Buk Lasmine itu menurutku parah banget. Udah seribu satu kali aku ceritakan pada mamak. Tapi mamak menyuruh ku sabar dan tabah aja sama Si Buk Lasmine tadi. Mungkin sayang karena udah kelas dua, dan dua kelas lagi ku tamat. Memang Madrasah itu swasta. Mungkin mamak sayang sama SPP yang kerap ku bayar tiap bulannya. Mungkin karena itu, tapi aku sendiri sudah memang benar-benar tidak tahan sama prilakunya.
"Mak, Tuti Capek lho mak."
"Apa yang kau capek kan? Orang Bapakmu yang kerja. Kau cuma sekolah, ibadah, makan, buang hajat, tidur aja kok capek. Lebih capek mamak yang buat makan, nyuci baju dan piring, menyapu, mengepel.. bla-bla-bla." Mamakku mengadu nasib.
"Iya kalo itu Tuti tau, tapi yang ini beda lho mak." Aku memalingkan mata, cemberut masam.
"Jadi?"
"Apa aku berhenti sekolah aja ya mak? Sekolah Madrasah."
"Emang kenapa, kalo si Lasmine itu apa-apa yaudah diemin aja, cuek aja."
"Udah Mak, tapi tetap aja. Suka kali dia cari masalah sama Tuti. Nanti tah apa-apa aja yang di ceritain sama dia." Aku menghela nafas panjang.
Mamak mengelus pundak ku "Yaudah kalo gitu, terserah sama Tuti aja. Mau lanjut atau gimana. Sebenarnya sayang, sedikit lagi dah mau lulus Madrasah, dua tahun lagi. Tapi kalo cape yaudah, terserah Tuti maunya gimana. Mamak ga bisa beri saran apa-apa lagi, emang tau Mamak kayak mana si Lasmine itu."
Aku terpaku, berpikir sejenak "Tapi yang itu Mak, mau berhenti sayang ga berhenti kayak kelas neraka. Kadang Tuti bingung." Aku menunda niatku tuk putus sekolah itu.
Jadi gini kan mak...
.........
(Menceritakan: Flashback kejadian tadi )
Di sebuah koridor kelas aku tak melihat batang hidungnya Ningsih. Melainkan Yanti yang tengah duduk di depan pintu. Entah apa yang dia lamun kan, lalu ku tegur.
"Woy Yanti! Ngapain kau!"
"Ihh surprised me, huh.. what's wrong?"
Mukaku melas "Hmmph.. mulai lagi. Kau juga ngapain depan pintu kelas? Pamali lho kalo orang didepan pintu gini, sambil duduk-duduk."
__ADS_1
"Hah? Seriously?"
Aku mengangguk percaya "Iya."
"Hahaha, lucu kau Tuti, itu tuh ya cuma tahayul. Okay, ta-ha-yul. Superstitious, understand?"
"Ha-ha, entah apapun yang kau omong, dah, dah masuk-masuk!" Aku menggeret kursi Yanti yang bandel tak mau mendengar masukanku.
"Hey! stop! Please stop it!" Dia mengerang ketakutan, menyuruhku berhenti.
"Makanya masuk, kan sampai kau yang ku geret masuk." Kesalku.
"Ihh yaudah, i masuk nich. Jangan di geret lagi dong. it's so scary." Dia menggigil kaku.
Kami menunggu Buk Lasmine. Lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit tak kunjung datang. Mata kami mengantuk karena bosan. Tiba-tiba tanpa permisi langsung ulangan. Kami heran dan tak sempat membaca buku. Jadi kami ulangan tebak jinggo saja. Ia membacakan soalnya dan jawaban. Ia tak bilang langsung jawab atau buat soalnya atau bagaimana
"Buat Nama Lengkap, Bidang Studi, Tanggal dan Lembar kertas untuk menjawab." Tegasnya. "Nomor satu, Apabila shalat tetapi tidak membaca surah al-fatihah maka shalatnya menjadi... a. Tidak sah, b. Diterima allah swt, c. Tetap sah. " Ia membacakan selaju kereta api.
"Nomor dua.."
"Ihh kalo kau ini! Cepat dikit, jangan lelet kali kayak orang bodoh." Kasarnya mengucap ku begitu.
Mataku menyeringai tajam dan melotot padanya tanpa bergeming suara lirih pun. "Ya ibuk pun cepat kali menerangkan nya, kemampuan orangkan beda-beda!" Tegasku marah.
"Udahlah mampus kau situ, Nomor dua.." Ia menerangkan tanpa menungguku.
"Yaudah Tut, lihat punyaku aja nih." Isa menyodorkan kertasnya diam-diam. Tapi aku lihat dia tak menulis Soal dan keterangan pada pilihan A,B,C nya.
"Ehh kau kok ga ada soal sama keterangan nya?" Aku menoleh heran pada Isa.
"Entah Ti, tulis aja. Aku malas buat soal. Biasanya sama Buk Lasmine ga pake soal." Ia melanjutkan tulisannya.
"Aku tulis aja lah, takutnya salah dimarahi lagi aku. Males sebenarnya." Unekku meninggikan suara.
__ADS_1
Ulangan itu pun usai aku kerjakan. Tapi aku melihat yang lain bercampur-campur. Ada yang menulis soal, ada yang tidak. Ya aku tak hiraukan panjang lebar. Setibanya ulangan itu dibagikan. Buk Lasmine memanggilku
"Woy Tuti! Sini kau!" Ketusnya memanggil ku bagaikan tukang parkir.
Aku melas berjalan enggan "Iya buk, ada apa?"
"Ini buat apa kau tulis soalnya?" Dia menyodorkan kertasku.
"Adanya ibuk suruh kau tulis soal? Ga ada kan?" Ia mulai menyalahkan ku lagi.
"Tapikan, tadi ibuk ga ada jelasin langsung bilang ulangan. Ya saya ga mau buat ibuk marah ya saya tulis soal. Toh teman-teman lain ada juga yang nulis soalnya." Aku membela diriku.
"Ohh lancang ya kau? Ada yang nulis soalnya selain si bodoh tolol ini?" Ia mencaci maki ku.
"Ada dua orang aja buk, yang lain entah." Yanti menjelaskan.
"Yang lain gak apa-apa, karena udah terlanjur. Buat kau Tuti ga ibuk terima!" Ia menyobek kertasku, pilih kasih dan entah apa salahku?
"Yaudah." Ketus ku pergi.
Si bajingan Lasmine itu tetap saja marah-marah tak karuan, aku sudah bosan dan tak perduli lagi mau bagaimanapun lagi. Dimata nya aku tetap saja salah. Terserah apa mau katanya. Mau di kurangi nilaiku, mau apapun itu, terserah. Aku ga perduli lagi.
.........
Mamak tertegun kesal "Kok gitu ya nak gurumu itu? Aneh. Ga suka Mamak sama dia. Mamak aja ga pernah gituin Tuti, kok dia pula yang gitu sama Tuti?"
"Itulah terkadang Tuti capek nya kenapa-kenapa. Tapi adek jangan di masukan ke Madrasah itu ya mak, cukup Tuti aja yang sengsara. Jangan Mamak sekolah kan dia di Madrasah itu. Takutnya dia ga sekuat Tuti." Aku meyakinkan mamak.
"Iya yaudah, yok makan dulu. Ntar baru pergi ke Sekolah SD." Mamak menggenggam erat tanganku.
"Yok." Mulutmu menyeringai lebar, mataku bersinar cerah.
Aku pun segera menurut kata Mamak dan juga lupa akan niatku yang berhenti sekolah itu. Aku juga kasihan sama Bapak dan Mamak yang menyekolahkan ku, Sekarang ku jalani sajalah. Kalau Buk Lasmine itu entah apalah nanti. Yang penting ku gapaikan angan Mamakku agar ia tak sia-sia dan kecewa.
__ADS_1
(BERSAMBUNG...)