Tuti Malas Sekolah

Tuti Malas Sekolah
26. Lupakan Kenangan Pahit


__ADS_3

Sekarang ku sekolah kembali. Walaupun pakaianku agak kusut sedikit, Dan agak acak-acakan. Tapi tetap ku menuju sekolah dengan muka yang murung. Tetapi terkadang teringat-ingat kejadian kemarin. Ini pas di hari Kamis. Aku melihat Buk Lasmine dari kejauhan, seperti nya mau masuk untuk mengajar kelas. Aku pun mempercepat langkahku menuju kelas. Ya agar tidak buat masalah baru. Kadang kala kesal sama Buk Lasmine. Ada aja tiap kali masuk yang di permasalahkan nya. Dia masuk kekelas, meletakkan payung merahnya, dan duduk di kursi guru. Ia langsung menagih hafalan seperti biasanya. Dan ga perlu kalian tebak lagi, dia menunjukku yang pertama kali


"Ibuk acak absennya. Tuti, maju." Nada datar tak asing.


(Sreett..) Suara kursi yang kudiami, dan beranjak kedepan.


"Cepat."


"T-t-tapi buk, hafalan yang mana? Saya kan ga datang di waktu itu." Kepalaku nunduk, gemetaran, dan kaku.


"Jadi ga ada niatan kau buat hafal satupun? Ga ada nya kawanmu yang bisa kau tanyai?" Nadanya mulai meninggi.


"Saya baru sampai dari rumah buk, saya kemalangan Uyut saya..." Belum selesai menjelaskan.


"Halah! Udah diam, banyak kali alasan kau! Derita kau kenapa ga hafal! Terusnya kau kayak gitu. Main aja kau banyakin, nanti di nasehati ga bisa, ga terima. Kebiasaan!"


Aku tak bisa menahan emosi ku. Kali ini aku keluar, dan hafal di luar. Tak ada satupun aku coba hafal.


"Memang sialan kau Lasmine! Aku sumpahi salah satu anggotamu akan tiadanya disalah satu nya!" Lirih, sumpah serapah dan dendam menjadi satu.


Sebanyak apapun aku menghafal, tetap saja tak ada yang masuk. Aku kesal karena dia tak paham kondisiku. Tapi aku masih bisa bersabar dan menyumpah-serapahi saja. Tapi aku yakin, suatu hari akan bertimbal balik padanya. Dia selalu saja menyalahi ku tanpa sebab. Sedangkan teman ku yang lain, yang belum hafal saja biasa-biasa saja, tidak seperti ku dianak-tirikan.


.........


Aku segera mengemasi air minum, buku-buku, dan pakaian untuk menuju ke Sekolah Dasar ku nanti. Aku melihat banyak anak-anak lain bermain yang namanya Stik. Entah bagaimana pembuatan nya, tapi itu kelihatan menarik. Disertai gambar dan panjang juga tipis. Memainkannya cukup di tepuk-tepuk saja. Ya jika salah satu stik dari kita menimpuk stik lawan, maka yang stik kita tadi dapat memenangkan pertandingan tersebut. Aku coba bermain permainan itu, ya walaupun ada rasa duka di kemarin hari. Semoga saja ini bisa menyembuhkan rasa sakit ku tadi.


"Ehh Andi, boleh minta stiknya sedikit ga?" Aku melas memohon.

__ADS_1


Dia memberikan tiga stik miliknya "Nih."


"Makasih ya Andi!" Aku menerimanya dengan syukur.


"Oh iya." Acuh tak acuh jawabnya.


Kelas segera dimulai lima menit lagi, aku segera meletakkan tas ku di kursiku. Tiba-tiba mainan dari pemberian Buyutku yakni mainan kunci yang berbentuk bintang keluar dari tas saku ku. Aku teringat, dan kembali mengenang saat itu. Walaupun hanya sebuah mainan kunci yang tidak seberapa, namun kenangan dari mainan itu sangat berarti bagi ku. Aku ingat saat itu, senyuman hangatnya, kelembutan nya, kepedulian nya, dan masih banyak lagi hal lainnya.


Ningsih menyentak bahuku "Woy, ngapain kau!"


Terkejut, sentak, menoleh ke kiri "Ihh Ningsih! Kaget tau!" Aku kesal, menyerungut dan memalingkan muka.


"Ihh maaf lah, kau pun melamun. Nanti kesambet setan lho!" Dia tertawa kecil sambil sungkeman.


"Iya-iya"


Aku tersentak "Ahh, iya? Oh... itu, kemarin Buyutku meninggal dunia. Jadi aku ga datang, tapi itulah aku kemarin di prasangka yang aneh-aneh sama Buk Lasmine. Memang dia, palak kali aku. Padahal aku benar-benar ga cuma ngeles aja." Kesalku menghela nafas.


"Ihh iya ya, memang kek gitu aku aja geram. Pengen berhenti aja."


"Ehh kenapa?" Aku heran sembari menatap langit-langit.


"Ihh males lho Ti, aku aja sama kek kau. Serasa di zolimi, suka-suka hatinya aja. Padahal aku saudaraan sama dia. Yanti juga saudara ku, tapi gitu.. Pilih kasih, males ahh Ti. Bolos aja aku Madrasah." Matanya Ningsih menyeleneh toleh kanan kiri.


"Ihh jangan lah Ning, entar kalo aku di hukum sama Buk Lasmine ga ada lagi yang menemaniku di pojok ruangan, palingan Isa." Aku membujuk, mohon agar ia tak berhenti.


"Keputusan aku dah bulat Tuti, ga bisa lagi. Daripada aku digituin terus, sama kayak kau. Mendingan berhenti aja lah." Dia menepis tanganku, dan pergi.

__ADS_1


.........


"Hmm.. Kalo di pikir-pikir, benar juga kata Ningsih. Apa aku berhenti aja ya? Sebenernya sayang Madrasahnya, sebentar lagi udah mau tamat. Tapi malas karena ada Buk Lasmine itu. Duh, gimana ya? mau jelasin ke mamak gimana? Tapi ga dulu deh, aku harus kuat menyikapi nya. Mau bagaimanapun, ya jalani saja. Kalau sudah tamat, ga akan ku sikapi, cakapi dan lainnya. Aku benci banget sama si Lasmine itu!" Gumam ku, mencengkram erat tanganku sendiri dan kesal.


Samar-samar ku mendengar suara Isa memanggil.


"Ti,.. Ti.. Tut? Tuti!"


Aku tersentak dalam lamunan "Ahh? I-iya?"


"Oii.. lah, sukanya kau melamun. Nanti kesurupan ga ada yang bisa nolongin kau kecuali ustadz kemarin. Jangan asyik melamun aja. Ada yang mau ku tanya sama mu." Dia mendekatiku, dan seperti wartawan yang kehendak mewawancarai seseorang.


"Iya? Mau, nanya apa?" Nadaku terbata-bata.


"Kau kenapa ya, asal pelajaran Buk Lasmine selalu aja dimarah-marahi? Sampe sekarang aku bingung loh Tuti. Kayak kasihan gitu samamu, tapi kok kau bisa aja betah kelas dia? Emang napa sih Tuti?"


Aku mengingat-ingat "Ohh, karena ya itu. Aku pengen dapat ilmu agama aja. Udah gitu aku dari dulu suka Madrasah." Aku tersenyum menyeringai.


"Hmm gitu, tapi kalo aku jadi kau ya Ti, aku dah pergi aja. Bolos,.. serius, kalo gurunya kayak gitu. Good bye aja ku ucapkan samanya." Isa tertawa kecil.


"Yang sabar aja ya Tuti." Isa mengelus-elus bahuku dan menyemangati ku.


"Iya, Makasih ya Isa." Berat hati ku ucapkan, menahan tangisku yang terbendung lama.


Setelah itu termenung-menung, memang iya juga yang dikatakan Ningsih dan Isa. Sebenarnya perangai Buk Lasmine udah kelewatan. Ga pantas disebut sebagai pengajar. Gimana ga pantas coba? Sikapnya ga patut di teladani atau di terapkan. Dari ungkapan curah hati teman-teman ku saja sudah merasa enggan mengikuti atau tak suka sama Si Buk Lasmine itu. Tapi diantara mereka, mungkin akulah yang paling dongkol. Tapi masih saja ku jalani. Karena sayang uang Bapak yang mencari nafkah tuk makan kami, biaya sekolah kami, jikalau diriku berhenti secara sesuka hati. Tapi entahlah, bingung juga aku.


(BERSAMBUNG...)

__ADS_1


__ADS_2