
" AKAN KU BUNUH ANAK ITU !!!! "
Berang raja Weh geram malam itu saat dia mengetahui bahwa anak sulung yang begitu dibangakannya selama ini adalah anak hasil perselingkuhan ratu Safa dan raja Fatar, rivalnya sendiri.
Setelah mendapati kekalahan perang dan sengketa untuk merebut tanah leluhur mereka diperbatasan antara kerajaannya dengan kerajaan Seon. kini raja Weh malah harus mengetahui hal yang langsung membuatnya struk jantung.
Ratu Safa yang juga panik lalu mengambil tindakan tak terduga. Ratu Safa menarik sebuah bantal dan membekap mulut raja hingga raja tak lagi bernafas dan meninggal seketika itu juga.
"Maafkan aku yang mulia tapi aku tak mungkin membiarkanmu membunuh pangeran Yeon. Jika aku tak memilih jalan ini maka sirnalah semua mimpiku untuk menjadi wanita nomor satu dinegri ini. Aku tak bisa melepaskan tahta ini begitu saja. "
Ratu menatap intens raga sang raja yang sudah tak lagi bernafas tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Ratu Safa mencoba menepis semua rasa takut dan sedihnya. Dia ingat bagaimana raja Fatar mendekatinya sebelum dia menikah dengan raja Weh. Raja Fatar adalah sosok yang pertama disukainya tapi tuntutan kerajaan mengharuskannya menikah dengan raja Weh.
Dengan memperalat perasaan ratu Safa, raja Fatar mendekatinya bahkan membuatnya mengandung setelah pernikahannya dengan raja Weh hanya untuk mengetahui strategi perang dan rahasia raja Weh.
Raja Yeon yang masih berusia 13 tahun saat itu hanya bisa diam melihat ayah yang selama ini dihormatinya mati dihadapannya. Ratu Safa lalu bersujud dihadapannya dan memegangi kedua bahunya.
"Ingatlah hari ini pangeran, kelak setelah kau menjadi dewasa ingatlah dendam ini. Dendamku pada raja fatar. Walau dia ayah kandungmu tapi dia bukanlah ayah yang baik. "
Ratu Safa berpesan sembari mencoba tegar dihadapan pangeran Yeon.
"Apa yang harus kulakukan ibu ratu? "
*********
7 tahun setelah itu. Setelah raja Yeon tumbuh menjadi anak muda yang gagah. Ratu Safa mendatangi kerajaan Seon dan menemui raja secara pribadi.
"Aku kesini datang untuk menuntut hakku dan juga anak sulungmu "
kata ratu Safa yang sontak membuat pangeran Juyon terkejut. Dia membulatkan matanya menatap kearah ratu yang kini disegani itu.
Apa maksudnya, bukankah aku adalah anak sulung yang mulia raja, mengapa dia berani berkata begitu ?
"Jangan terkejut pangeran Juyon. Aku tahu hatimu bertanya tanya, tapi itu adalah kebenaran. Kau bukanlah anak sulung raja Fatar dan itu berarti kau bukanlah pewaris satu satunya kerajaan ini. Sesuai tradisi keluarga, anak sulunglah yang lebih berhak atas tahta kerajaan."
"Mengapa yang mulia ratu berbicara buruk seperti itu?! yang mulia akan mendapat hukuman atas semua tuduhan dan penistaan ini."
Ancam pangeran Juyon marah. Dia sampai berdiri melupakan etikanya.
"Yang mulia raja Fatar tolong beritahu anakmu kalau ini bukankah sebuah fitnah semata, atau apa perlu kita melakukan test agar pangeran ini yakin dia bukanlah pewaris yang sah?"
"Yang mulia raja katakan kalau semua ini adalah salah!"
kata pangeran Juyon tak terima pada ayahnya raja Fatar yang masih duduk tak berkutik dikursi kebesarannya.
Raja Fatar hanya terdiam dan tunduk. Ratu Safa tersenyum sinis dan menghampiri pangeran Juyon yang tak jauh disebelah kanannya.
"Mengapa pangeran, apakah kau takut kehilangan tahtamu? tenang saja aku punya penawaran bagus untukmu. "
Tawar ratu Safa sambil tersenyum licik.
" Nikahkanlah putra sulungmu kelak dengan putri dari kerajaanku dan aku akan menganggap kita impas."
"Baiklah jika itu keinginanmu. Aku akan menikahkan putra sulungku kelak pada salah satu putri dari kerajaanmu."
Tanpa fikir panjang pangeran Juyon menyepakati sebab dia tak ingini kehilangan tahtanya. Dia bahkan sampai tak memikirkan apa maksud dari tujuan ratu Safa tersebut.
Bertahun tahun kemudian lahirlah seorang anak lelaki bernama pangeran Adam. Dia diberi nama Adam karna dia anak sulung dan menjadi satu satunya putra raja.
Adam sangat dicintai orangtuanya. Mereka membesarkannya dan melatihnya menjadi raja karna hanya dia seorang satu satunya pewaris tahta dikemudian hari.
Setelah pangeran Adam berusia 22 tahun. Pangeran Adam menyelesaikan masa wajib militernya. Adam begitu dermawan dan berhati baik. Dia tak pernah ingin dibeda bedakan sekalipun dia adalah seorang pangeran.
Setelah masa wamil pangeran berakhir sang raja mengadakan pesta besar untuk merayakannya, sekaligus untuk merayakan ulang tahun sang pangeran.
"Anakku, yang mulia raja ingin engkau segera menikah. Besok adalah hari ulang tahunmu. Raja mengadakan pesta besar dan mengundang banyak gadis gadis untuk merayakannya. Raja ingin engkau memilih salah satu dari mereka"
Kata sang ratu saat mereka sedang duduk diruang keluarga berdua.
Yesika seorang anak petani bunga dari pinggir desa. Yesika diminta ayahnya untuk mengantarkan pesanan bunga untuk keperluan pesta uang tahun pangeran.
__ADS_1
"Nama saya Yesika. Saya ingin mengantarkan bunga bunga ini untuk keperluan acara ulang tahun pangeran."
Jelas Yesika pada petugas kerajaan dipintu gerbang utama. Para penjaga itu lalu memeriksa keranjang keranjang bunga milik Yesika.
"Baiklah, mari saya antar."
Salah seorang petugas kerajaan lalu mengantar Yesika masuk ke istana.
"cantik sekali."
Yesika menatap takjub saat memasuki aula istana yang begitu besar, megah dan dihiasi furniture mewah.
"Kau bisa menata bunganya disini. Mulailah bekerja."
Kata seoarang pelayan yang sudah tampak berusia lanjut. Yesika lalu menata ruangan itu dengan bunga bunga segar yang dia bawakan dari kebun milik keluarganya.
Saat itu pangeran Adam tengah selesai berolah raga. Dia baru saja berenang dikolam yang tak jauh dari aula. setelah selesai pangeran berniat kembali kekamarnya. Dia berjalan perlahan melewati aula.
Dari kaca kaca besar disisi aula pangeran melihat Yesika sedang menaburkan kuntum bunga mawar didalam air dikolam kecil ditengah aula tersebut.
Pangeran Adam begitu terpesona padanya dan dia datang menghampirinya.
"Cantik sekali."
Yesika bangkit berdiri dan menatapnya setelah mendengar pujian itu. Dia belum mengetahui bahwa lelaki tampan dihadapannya itu adalah pengeran.
" Iyah, bunga ini memang sangat cantik tuan. "
Yesika segera memberi hormat sembari tersenyum yang senyumnya itu membuat pangeran kian terpesona.
"Bukan bunganya tetapi kau, Kau sangat cantik."
Pujinya terus terang. Yesika begitu malu sampai dia tertunduk.
"Bolehkan aku mengenalmu? Namaku Adam."
pangeran Adam mendekat sambil menjulurkan tangannya.
"Namaku Yesika."
"Mengapa kau tak mau menyalamiku? "
"Karna tuan tinggal di istana. Sangatlah tidak sopan kalau orang biasa sepertiku menjabat tangan tuan. "
Jelas Yesika rendah hati dan hal itu membuat Adam semakin terpesona.
"Kamu tinggal dimana? "
" Aku tinggal didesa xxx. Tepat dipinggir kota."
"Begitu, jadi semua bunga bunga ini kau bawa dari sana?"
"Benar tuan, pangeran akan berulang tahun. Pengurus kerajaan memesan banyak bunga. Ayahku yang biasa mengerjakannya tapi ayahku sedang sakit jadi aku menggantikannya."
" Begitu.... lalu apa kau juga akan datang keacara ulangtahun pangeran nanti ?"
"Tidak tuan, saya hanya seorang gadis desa biasa. Saya tidak pantas berada disana nanti. Lagi pula ku dengar raja menyelenggarakan pesta ini agar pangeran bisa memilih calon permaisuri. Pastilah pangeran akan menikahi gadis dari kalangan atas. "
"Bagaimana kau bisa yakin siapa yang akan dipilih pangeran? mungkin pangeran sudah menemukan gadis pilihannya."
"Benarkah,, gadis itu pasti sangat beruntung. Aku yakin dia sangat cantik sampai pangeran jatuh hati kepadanya."
"Ehmm dia memang sangat cantik. Benar benar cantik ."
Kata pangeran sambil memandangi Yesika yang tersenyum padanya.
Pesta pun berlangsung. Banyak sekali gadis gadis dari kalangan atas yang datang untuk menghadiri pesta tersebut. Mereka berlomba lomba menunjukkan keahlian dan kelebihan mereka untuk mencuri perhatian pangeran. Namun tak ada satupun yang terkena dihati pangeran. Pangeran malah lebih senang menghabiskan waktunya duduk bersama sahabatnya Albert.
Keesokan harinya pagi pagi sekali pangeran Adam keluar dari istana. Dia pergi ke pinggir desa untuk mencari Yesika dan benar saja dia menemukan gadis itu tengah berada dikebun bunga milik mereka.
"Selamat pagi nona Yesika."
Sapa sang pangeran, Yesika begitu terkejut dan langsung bangkit dan membungkukkan badannya.
__ADS_1
"Selamat pagi tuan."
"Bisakah kau jangan bersikap begitu terhadapku? Kita masih tampak seumuran."
"Orangtuaku selalu mengajarkanku agar menghormti keluarga kerajaan dan para petinggi kerajaan."
Jawab Yesika dan Adam tertawa kecil.
"mengapa tuan tertawa? "
"Ah tidak apa apa. Tapi tolong jangan bersikap seperti itu lagi. Anggaplah aku sebagai temanmu."
"Kenapa tuan ingin berteman dengan saya, apa tuan tidak takut keluarga tuan akan marah? "
"Tak ada yang berani memarahiku."
"Benarkah ?"
"Ehmm"
"Lalu mengapa tuan kemari ?"
"Aku hanya ingin menemuimu."
"Menemuiku? "
Yesika kembali tak percaya. Pangeran Adam melangkah mendekatinya dan menjulurkan tangannya kembali.
"Maukah kau berteman denganku? aku jauh jauh datang kemari, ku harap kau akan menjamuku dengan baik."
Kata pangeran Adam lalu Yesika dengan sedikit rasa ragu menyalami tangannya.
Dalam waktu singkat Adam dan Yesika menjadi sangat dekat. Adam sering datang untuk membantunya memanen bunga dan Yesika sering memasakkan kue bakpau untuknya. Adam sangat menyukainya dan hal itu disembunyikannya dari keluarganya.
Suatu ketika sang raja jatuh sakit. Adam tak datang lagi membuat Yesika merasa sepi dan khawatir. Suatu hari dihari minggu Yesika disuruh ayahnya mengantar bunga kekerajaan karna diistana akan mengadakan upacara pertunangan antara pangeran dan seorang gadis keturunan berada lainnya.
Yesika berfikir itu akan menjadi cara untuknya agar bisa menemui Adam. Dia pergi keistana kembali untuk membawakan bunga bunga mawar yang baru dipanennya.
"Anakku, mengapa kau tidak tampak bahagia? ini adalah hari pertunanganmu."
Tanya ibu ratu saat melihat wajah sedih Adam dikamarnya hari itu. Pangeran Adam menatap ibundanya. Beliau adalah satu satunya sosok yang paling mengerti hatinya.
"Aku mencintai gadis lain bu."
Jawab pangeran Adam terus terang. Sontak hal itu membuat sang ibunda ratu sedikit syok.
"Bu , hatiku merasa sangat sedih. Hatiku terus memikirkannya."
"siapa gadis itu, apakah ibu mengenalinya? "
"Tidak bu, dia hanya gadis biasa yang tinggal didesa. Dia putri seorang petani bunga. Dia bernama Yesika. Dia gadis yang sangat baik. aku sangat mencintainya bu."
"Anakku...., ibu mengerti perasaanmu. Tapi kau satu satunya pewaris kerajaan. Kau kelak akan menjadi raja menggantikan ayahmu. Bagaimana bisa kini hatimu dipenuhi gadis biasa itu. Yang mulia raja akan begitu murka bila mendengar ini."
"Aku tahu bu dan karna itulah aku merasa sangat marah terhadap diriku sendiri. Aku tidak bisa mencintai gadis lain selain dia bu. Aku ingin dia menjadi permaisuriku."
"Adam... "
Seketika ibu ratu menangis sedih. Tak ada yang dapat mereka perbuat untuk merubah keadaan.
Upacara pertunangan akan segera berlangsung pangeran Adam dan calon tunangannya duduk dihadapan sang raja dan ratu. Yesika juga berjalan mendekati gerbang . Dia melihat banyak spanduk dan karangan bunga yang bersusun rapi didepan gerbang. Ada nama Adam disana.
Perasaan Yesika kian kacau kala membaca nama tersebut. Dia memberanikan diri untuk masuk dan melihat apakah Adam yang dimaksud adalah Adam kekasih hatinya.
Saat itu kedua mempelai berdiri untuk saling bertukar cincin. Yesika berjalan semakin kedepan. Dia bagai tak peduli jika orang lain tengah memandangnya rendah.
"Adam.... "
Panggi Yesika tak percaya saat Adam akan memasangkan cincin dijari manis calon tunangannya itu. Seketika suasana hening, para tamu undangan berbisik bisik disekitar mereka. Adam menatapnya hingga membuat raja, ratu dan yang lainnya jadi penasaran.
"Pangeran hayo pasangkan cincinnya."
Saran pendeta yang berdiri diantara Adam dan calon tunangannya. Lalu dengan berat hati Adam memasangkan cincin itu dan begitu pun sebaliknya.
__ADS_1
Yesika menangis, dia meninggalkan istana sambil berlari. Hatinya begitu syok dan terluka. Ternyata Adam adalah seorang pangeran dan pangeran Adam sudah bertunangan.