Unperfect

Unperfect
hembusan angin


__ADS_3

Sebuah mobil memasuki halaman panti asuhan. Suster kepala, suster pengurus dan Juna sudah berdiri didepan menyambut mereka. Tak lama selir Yana keluar dan melangkah mendapati mereka.


Sebuket bunga diberikan seorang anak kecil untuknya dan beliau menerimanya lalu mengusap kepala anak itu.


"Selamat datang yang mulia." sambut suster kepala. Lalu mereka masuk kedalam. Anak anak disana menyambut beliau dengan ramah dan baik. Mereka menuju ruang tengah untuk menampilkan sebuah pertunjukan kecil untuk menyenangkan hati selir Yana.



" Bu.... " suara pengeran Jimin terdengar memanggil beliau. Selir Yana membalik dan dia mendapati pangeran berdiri tak jauh didepannya.


Selir Yana tak mampu menahan air matanya. Dia datang menghampiri pangeran Jimin dan dengan segera memeluknya.


"Anakku..., anakku... maafkan ibu... maafkan ibu yang sudah mengabaikanmu selama ini. Ibu benar benar menyesal. Ibu benar benar ketakutan." keluh selir Yana melepas semua perasaannya. Pangeran Jimin merasa lega mendengar hal tersebut. Dia memeluk selir Yana begitu erat. Itulah moment yang selalu ditunggunya selama ini.



Kinan melihat dengan rasa harunya. Seketika dia tersenyum. Grace meliriknya, senyum itu tampak sedih, Grace tahu Kinan pun begitu merindukan sosok ibunya. Lalu dengan sangat perlahan Grace memberanikan tangan kanannya meraih tangan Kinan.


Kinan menolehnya, dia menatap Grace yang tersenyum padanya dan Grace semakin berani untuk meraih tangan Kinan. Kinan pun lalu menggenggam tangannya erat dan lalu kembali tersenyum menatap kearah pangeran Jimin dan selir Yana.


Vira membuatkan teh dan meletakkannya diatas meja. Selir Yana dan pangeran Jimin kini tengah duduk disana sedang Kinan, Grace, Juna dan Suster memilih untuk menemani anak anak bermain.


"Apakah kau yang selama ini merawat pangeran? "


" Benar yang mulia ." kali ini Vira bertingkah sangat sopan.


"Siapa namamu? "


"Nama saya Vira yang mulia."


"Nama yang bagus,."


" Trimakasih yang mulia."


" Pasti beberapa hari ini sangat berat untukmu. Aku tahu sifat pangeran, dia pasti sangat menyusahkanmu."


"Ah tidak yang mulia ibu suri, pangeran sangat baik, dia sangat penurut ."


"Tapi dia perawat yang berbahaya bu. Dia bahkan ingin mengikatku." lapor pangeran mengadu.


"Benarkah? "


"Ah bukan begitu yang mulia, tolong jangan salah faham."

__ADS_1


" Dia juga memijit kakiku dengan sangat keras hingga aku kesakitan bu dan lagi dia sangat tidak sopan padaku dia memanggilku dengan sebuatan kau, dia tak memanggilku pangeran." sambung pangeran memprofokasi. Vira sampai melotot tak percaya pangeran Jimin benar benar melaporkan semua kelakuannya.


Bibir Vira kian maju karna cemberut dan takutnya. Dia berfikir pastilah selir Yana akan marah dan menghukumnya. pangeran Jimin lalu tersenyum puas melirik Vira.


Ohh sampai hati sekali, padahal akukan hanya bercanda. Dasar pangeran, apa aku beritahu juga perbuatannya waktu itu biar dia tahu rasa?


" Vira... "


" Ah iyah yang mulia." Vira sedikit kelabakan.


"Benar kau berbuat begitu? "


" A aku, aku.... " Vira merasa takut untuk mengakuinya. Pangeran bisa melihat wajah sedih dan cemas yang menerpa Vira lalu pangeran bangkit dan mendekatinya. Vira hanya menunduk malu, tak disangka pangeran Jimin malah mengusap kepalanya dengan lembut. Vira menatapnya tak mengerti dengan mulutnya yang masih cemberut


"Aku hanya bercanda."



pangeran Jimin memberi sedikit ejekan kepada Vira hingga membuat Vira mulai tersenyum dan dia tertunduk untuk tertawa kecil.


"Dia perawat yang baik bu, dia mengurusku dengan baik. Seolah dia mengurus pacarnya sendiri." kata pangeran mantap. Vira langsung meliriknya.


Sekarang apa lagi ?


"Bu,, apa menurut ibu dia pantas menjadi pacarku? "


"Ohh" selir Yana tampak terkejut dan dia seolah sedang berfikir.


"Ayolah bu, berpihaklah padaku atau apa aku harus ditabrak lagi agar ibu mau membelaku? "


" Memangnya kau sudi meninggalkannya? "tanya selir Yana lagi menantang. pangeran Jimin tersenyum kecil. lalu dia berlari menuju selir Yana dan memeluknya segera



"Kau yang terbaik bu, aku tahu itu. Dukunganmu yang paling ku butuhkan."


" Ibu akan selalu mendukungmu, ibu janjikan itu."



Kinan dan Grace naik ke lantai 3 gedung itu dan mereka melihat keindahan kota dari sana. Grace hanya diam memandangi anak anak yang bermain ditaman dia teringat dulu ibunya selalu menemaninya ketaman untuk bermain ayunan.


"Kau baik baik saja? " tanya Kinan yang berdiri disebelah kanannya. Grace segera mengangguk lalu Grace membalik dan bersandar didinding. Kinan datang dan berdiri dihadapannya.

__ADS_1



"Ada yang ingin kukatakan padamu." kata Kinan pelan. Grace menolehnya, angin berhembus dan meniup rambut Grace. Kinan dengan lembut kembali mengaitkan rambut grace kebelakang telinganya hingga membuat hati grace kembali berdebar debar.


"Aku tidak pernah merasakan hal yang seperti ini, aku juga sempat beberapa kali mencoba menyangkalnya tapi semakin aku menghindarinya aku semakin gelisah. Entah mengapa aku selalu nyaman saat disisimu. Aku bahkan merasa sangat tersentuh saat tadi kau menggenggam tanganku. " jelas Kinan pertama, Grace yang malu hanya bisa menunduk, dia seolah sadar Kinan mulai menyukainya dan itu semakin membuatnya gugup.


"Aku tidak tahu seperti apa perasanmu, Apakah kau juga merasakan kegelisahan seperti yang ku rasakan?" tanya Kinan, Grace merasa bingung untuk menjawab lalu dengan rasa malu dia mengangguk kecil. Kinan tersenyum kecil.


"Kalau begitu bolehkan aku menyukaimu? "tanya Kinan lagi, Grace langsung menatapnya. Jantungnya kian berdebar tak terkendali. Grace lalu menunduk dia tahu Kinan mencoba menciumnya jadi Grace menutup matanya.


Angin masih saja berhembus tapi bibir dan pelukan Kinan yang hangat serasa membuatnya merasa nyaman.


Apakah ini hanya mimpi, jika ini mimpi tolong jangan bangunkan aku, aku ingin berlama lama memelukmu dan menciummu seperti ini. Aku ingin berada disini. didekatmu, menemanimu. Walaupun hembusan angin akan mencoba mengentarkan tubuhku tapi jika bersamamu aku bisa bertahan. aku mencintaimu Kinan.


Johana baru saja pulang dia melangkah perlahan memasuki halaman panti asuhan. Saat dalam perjalanan dia melihat Kinan ada diatas dan dia tengah mencium Grace dengan mesra. Johana menggigit bibirnya, amarah langsung membakar hatinya dan dia segera berlari kedalam.



Juna melihat Johana yang tampak menangis berlari menuju tangga. Juna tahu Kinan dan Grace ada disana jadi Juna lalu mengejar langkah Johana dan menahan tangannya sebelum Johana menaiki tangga.


"Jo... "


"lepaskan aku !" elak Johana seraya menarik tangannya tapi Juna memeganginya dengan erat.


"Ada apa denganmu? "


" mengapa kau bertanya? apapun itu, itu bukan urusanmu."


" Aku tahu kau hanya akan menangis karna kak Kinan dan kak Kinan ada diatas."


" Lepas"


" Jo... " Juna sedikit membentaknya.


" Dia yang berjanji padaku. Dia yang berjanji akan memacariku jika aku berusia 20 tahun tapi kenapa dia sekarang menyukai gadis bisu itu, apa baiknya dia? dia bisu."


" Itu bukan urusanmu Jo. Walau dia bisu, cacat, buta dan apapaun itu. Cinta tak memandang itu semua dan kau juga tak bisa memaksakan hati kak Kinan."


" Kau hanya cemburu, kau cemburu karna aku menolakmu."


"Aku tidak egois sepertimu Jo."


" Terserah" tegas Johana dan kali ini dia berhasil menarik tangannya.

__ADS_1


"Karna kau sudah tahu perasaanku jadi jangan halangi aku." kata Johana memperingatkan lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai berikutnya.


__ADS_2