
Setelah sarapan pagi itu Kinan mengadakan pertemuan dengan beberapa pasukan pengaman istana. Kinan membagi mereka kedalam beberapa team yang ditugaskan secara khusus dan secara rahasia untuk lebih menjaga ibu suri, raja Adam, selir Yana dan juga bahkan pangeran.
"Aku sangat berharap team ini bisa bekerja dengan baik. Tetap saling menjalin komunikasi dan menjaga jarak. Bekerjalah seperti mana biasa karna aku tak ingin mereka curiga. Jika terjadi hal hal yang tak diinginkan kalian diberi ijin untuk melumpuhkan tanpa mengeksekusi langsung. " jelas Kinan yang duduk didepan para anggotanya. Lalu notifikasi Hpnya berbunyi itu adalah kode bahwa ratu Quina telah sampai disitana.
" Untuk hari cukup sampai disni. Kalian bisa kembali ketempat masing masing."
Mereka lalu bubar dan kembali ke posisi semula. Ratu Quina dan Ram memasuki istana dan mereka berjalan menuju ruangan ratu Quina segera. Kinan yang saat itu akan menuju ruang ibu suri berpapasan dengan mereka.
"Yang mulia.. " Kinan memberi hormat kepada Ratu Quina saat mereka bertemu. Ratu Quina tak merespon namun saat akan lewat dia memikirkan sesuatu dan dia menahan kakinya dan kemudian berbalik.
"Kepala Kinan." panggil ratu dan Kinan segera menolehnya dan berjalan kehadapan ratu.
"Bagaimana soal proyek pembangunan villa diperternakan? belakangan ini kau sangat sibuk mengurus istana."
"Semuanya berjalan dengan baik yang mulia. Sesekali saya menyempatkan waktu untuk memantau perkembangan disana. "
"Ohh baguslah.Oh yah bukankah dayang Grace dulu tinggal disana? "
"Benar yang mulia."
"Dia pasti sedih karna rumahnya akan segera diratakan. " kata ratu lagi lalu dia melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya.
Ratu Quina duduk dikursi kebesarannya dan sesaat dia tersenyum licik membuat Ram yang selalu setia disisinya menjadi curiga.
"Sepertinya yang mulia ratu memikirkan sesuatu."
" Benar pengawal Ram, aku baru saja memikirkan satu cara baru. "
Siang itu saat Grace baru saja keluar dari kamar raja Adam, seorang petugas keamanan datang menemuinya.
"Dayang Grace.. " sapanya. Grace menolehnya dan petugas itu memberikan sebuah kertas berisikan pesan untuk Grace.
Grace bergegas menuju ruangan ibu suri dan menyampaikan sebuah pesan untuknya. Melihat wajah Grace yang sedih ibu suri lalu mengijinkan Grace untuk pergi.
Petugas keamanan itu memberikan pesan bahwa ayah Grace memintanya untuk datang karna rumah mereka akan segera diratakan. Grace dengan segera menuju kepertanakan. Saat dia tiba disana rumah mereka sudah rata dan itu membuat hatinya kacau. Grace merasa bingung karna tak menemukan ayahnya. Lalu Grace menuju peternakan yang berada agak jauh dari lokasi pembangunan.
Para pekerja disana tampak sibuk sendiri sehingga mereka tak memperhatikan Grace berada disana. Grace memasuki gudang didekat kandang kandang kuda disana. Tempat itu tampak sepi. Grace bingung harus bagaimana memanggil ayahnya. Namun tiba tiba seseorang memegang pundaknya. Grace langsung membalik karna berfikir itu adalah ayahnya.
Senyum Grace pudar saat dia melihat seorang pria tak dikenal berdiri didepannya yang kemudian membekap mulutnya dengan kain hingga akhirnya Grace jatuh tak sadarkan diri.
"Selamat siang pak ceo." sapa Johana saat menemui Jero diruangannya siang itu.
" Kau sudah datang, hayo silahkan duduk." kata Jero menawarkan dan Johana segera duduk dihadapannya.
" 3 hari lagi flim pertamamu akan dirilis, tapi aku memanggilmu kesini bukan karna itu. Kau tahu grup idol xx, mereka ingin membuat pertunjukan seni dan mereka ingin kau membuatkan drama singkat untuk itu." kata Jero menerangkan dan hal itu membuat Johana sedikit gugup.
Bagaimana ini ? akukan sama sekali gak bisa nulis.
__ADS_1
"Jo.. jo... " Jero memanggilnya dua kali sampai Johana tersadar.
"Apa ada masalah? "
"Ah bukan begitu pak ceo,, aku akan coba fikirkan dulu"
"Kenapa kau harus berpikir lama. Ini cuma drama singkat. Kau tahu grup idol xx sangat terkenal saat ini. Ku rasa kalau kau bisa membuatnya itu akan mendatangkan keuntungan lebih banyak. Karyamu akan semakin dikenal banyak kalangan. Banyak penulis yang menawarkan diri tapi aku ingin kau yang membuatnya. Ini tantangan baru buatmu. Ku harap kau takkan mengecewakanku." kata Jero
Johana keluar dari ruangan Jero dengan pucat pasi. Dia tak habis fikir bagaimana harus membuat drama singkat tersebut sedang dia sama sekali tak memiliki keahlian tersebut.
Sedang dirumah Kinan siang itu pangeran Jimin merasa sangat bosan. Seharian dia hanya duduk di depan tv untuk menonton siaran berita soal gonjang ganjing perebutan tahta diistana.
"Hei... " panggil Vira saat baru masuk dan masih berdiri didepan pintu.
"Apa? "
"Aku punya kejutan untukmu."
"Apa...? " tanya pangeran Jimin tak bersemangat. Vira lalu melemparkan sebuah masker kearah pangeran dan membuat pangeran kesal.
"Hei,, kenapa harus melemparkannya, apa tidak bisa menyerahkannya langsung? sungguh tidak sopan ."
"Hei kalau kau masih saja bawel aku takkan membantumu."
"Memangnya siapa yang minta bantuanmu ? memberikanku masker, memangnya ini bisa membantu apa? "
" Eh.. tungu tunggu. "pangeran Jimin segera bangkit dan berlari mendapati Vira yang mau keluar dari sana.
"Hei,, aku sudah berbaik hati untukmu tak melaporkanmu pada ibu suri. Apa tidak bisa kau bersikap lebih baik lagi ? "
" Kau begitu bawel."
"Setidaknya kau harus memberitahukanku dengan cara yang lebih tepat. Apa susahnya langsung mengajak ? tak harus pake cara lempar lemparan."
"Iya iyah"
"Lalu kau mau mengajakku kemana? " tanya pangeran Jimin antusias.
Vira pun lalu mempersiapkan pangeran Jimin dengan menambahkan jaket dan juga topi untuk menutupi penampilannya.
"Wah... begini kau terlihat sangat menggemaskan." kata Vira setelah selesai merapikan jaket pangeran.
"Kita sebenarnya mau kemana? "
"Aku juga tidak tahu. Aku juga belum pernah berkencan. "
__ADS_1
"Oh jadi kau berencana pergi kencan denganku."
"Ehh bukan begitu. Tadikan aku sudah bilang aku kasihan karna melihatmu merasa bosan disini"
"Lalu mengapa kau mengungkit soal kencan ?"
"Lalu aku harus bilang apa lagi. ?" vira balik bertanya dengan kesal.
"Yah sudahlah, hayoo." ajak pangeran Jimin yang langsung menggandeng tangan Vira untuk segera keluar dari sana.
" Pangeran pakai mobilku saja." kata Juna saat mereka telah sampai didepan panti asuhan. Juna menyerahkan kuncinya pada pangeran Jimin.
"Sebenarnya aku belum bisa menyetir. "
"Ahh payah sekali,, yah sudah kita naik angkutan umum saja."
" Hei aku tak terbiasa naik angkutan umum."
"Sudahlah jangan bawel. Hayo cepat. " Vira menarik paksa tangan pangeran Jimin sehingga Juna merasa geli melihat tingkah keduanya.
Pada akhirnya mereka pergi menaiki bus. Vira yang sudah terbiasa hidup sederhana mencoba menunjukkan pada pangeran bagaiman kehidupan masyarakat umum
dikota. Walaupun terkadang merasa risih dengan beberapa tempat umum tapi pada akhirnya pangeran Jimin mulai menikmatinya dan mereka tak menyadari ada 4 orang petugas istana yang menjaga mereka diam diam.
"Ku fikir berkencan dengan seorang pangeran akan sangat membosankan ternyata aku salah." kata Vira saat mereka berjalan bergandengan sambil menikmati ice crem ditangan mereka.
"Aku juga berpikir cara berkencan masyarakat umum sangat norak, ternyata aku salah." sambung pangeran Jimin dan sesaat mereka tertawa kecil. Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka menyusuri taman melewati pepohonan satu persatu. Pangeran menggenggam erat tangan Vira yang juga tampak bahagia disisinya.
"Jika nanti kau sudah kembali ke istana maka ini hanya akan menjadi kenangan."
"Mengapa kau bicara seperti itu? "
" Karna... " Vira menghentikan langkahnya dan berjalan kehadapan pangeran Jimin.
"Karna kau seorang pangeran."
"Kalau nanti aku sudah kembali kau akan merindukanku? "
" Mengapa kau ingin tahu? "
"Supaya aku tidak merasa terbebani sendirian dengan merindukanmu. Aku tidak mau merasakan rindu sendirian. Itu sama seperti cinta bertepuk sebelah tangan."
"Jadi kau juga akan merindukanku ?"
"Ehmm, aku akan rindu mengengam tanganmu seperti ini." jawab pangeran Jimin sambil melirik kearah tangan mereka yang saling bergenggaman erat. Vira terdiam namun bibirnya masih tersenyum kecil.
"Aku juga akan merindukanmu." ungkapnya sedikit sedih. Pangeran Jimin menatapnya. Vira masih berusaha tersenyum.
__ADS_1
"Kalau begitu tetaplah disisiku agar aku tak punya waktu merindukanmu. Aku ingin kau disisiku agar aku bisa meyakinkan diriku bahwa aku hanya akan membahagiakanmu." kata pangeran Jimin serius. Vira kian tersenyum dan pangeran memberanikan diri untuk mencium gadis itu dengan mesra.
"Oh my God." para penjaga yang dikirim Kinan untuk mengawasi mereka segera balik badan untuk menghindari adegan itu. Tak lupa mereka melarang para pengunjung untuk mendekati area itu agar pangeran bisa bermesraan dengan Vira yang juga memeluk pangeran dengan mesra. Vira mengaitkan kedua tangannya dileher pangeran dan menjinjit kedua kakinya agar bisa mencium pangeran lebih leluasa.