Unperfect

Unperfect
bidadari hati juna


__ADS_3

Johana mempoutkan mulutnya. Sedari tadi dia hanya duduk diam dibelakang Juna yang sedang melukis Sonia disalah satu ruang khusus berwarna putih dan dihiasi dekorasi seolah berada ditepi sungai dipenuhi bunga.


Kalau bukan ingin menjaga Juna mungkin Johana ingin memaki gadis yang sudah jelas jelas berani menggoda Juna dihadapannya. Sonia berani berpose seksi seolah dia bidadari yang baru turun dari kayangan. tubuh S linenya hanya ditutupi kain panjang berwarna pink.


Juna sendiri tampak begitu serius menggoreskan kuas diatas kanvas putihnya. Sesekali Johana melirik hasil karyanya. Sebuah senyum kekaguman tampak menyertainya.


"Benar benar cantik."


Juna tampak selesai dengan kerjanya. Dia memandanginya sesaat dan tersenyum seraya melirik Johana disisinya. Tak disangka Sonia dengan santainya mendekati mereka dan langsung merangkul bahu Juna yang duduk dihadapannya.


"Ini bagus sekali. Aku benar benar terlihat seperti bidadari. "


Sarkasnya kepedean membuat Johana mencibir kecil dibalik Juna.


"Juna kau sangat hebat, ini sanhat bagus. Aku sangat suka. "


"Baguslah kalau kau suka. "


"Aku akan mempromosikan karyamu ini pada ayahku. Ayahku pasti suka. Kebetulan dia juga sedang mencari seorang yang berbakat sepertimu untuk bergabung diperusahaannya. "


"Trimakasih, kau baik sekali. "


Juna hanya tersenyum sekilas untuk membatasi Sonia yang kian agresif meraih wajah kanan Juna. Juna tahu Johana kesal, tangan kanannya sudah diremas oleh Johana sebagai kode kemarahannya.


"Baiklah, karna ini sudah selesai. Kami akan pulang dulu. Sekali lagi trimaksih buat jamuanmu. "


"Kenapa begitu terburu buru? padahal aku masih ingin mengajakmu makan malam."


"Aku masih ada urusan. "


"Kalau begitu besok saja bagaimana? aku ingin makan berdua denganmu. "



"Aku... "


"Jangan menolak. Kau sudah melukisku anggap saja ini sebagai ucapan trimakasihku."


Sepanjang jalan pulang Johana hanya diam. Dia kesal karna akhirnya Juna menyetujui ajakan Sonia untuk makan malam berdua saja. Bahkan sesampainya dirumah Johana segera masuk kekamarnya dan mengabaikan Juna yang juga merasa bersalah.


Keesokan harinya Grace berisap siap diruangannya. Sebelumnya Jero sudah mengirimkan dress dan hils baru untuknya. Sesaat Grace memandangi dirinya dicermin. Dia tampak ceria membuat dokternya tersenyum.


"Grace diluar dingin jadi gunakan coat yah. Jangan makan sembarangan."


"Baik dokter. "


"Kau tampak sangat ceria, pasti pacarmu yang mau datang yah? "


Grace hanya tersenyum malu mendengar hal tersebut. Tak lama dokter pun pamit. Grace memakai coat dan syal yang dilikitkan dilehernya. Sekali Grace melirik jam dihpnya kemudian terdengar suara ketukan di pintu.



Sebuah senyuman kecil tampak terukir disudut bibirnya. Grace lalu melangkah mendekatinya dan entah kenapa jantungnya berdegup tak karuan.


"Kau tampak lebih baik. Maaf aku baru datang melihatmu. "


"Tidak apa apa."


Balas Grace lewat pesan textnya. Lalu tanpa berlama lama lagi Kinan meraih tangan Grace. Grace mengikuti langkah Kinan yang disepanjang jalan terus mengenggam tangan Grace.

__ADS_1


Bolehkan kedepannya kau terus mengenggam tanganku begini ? Kinan tunggulah sebentar lagi, aku akan berusaha menjadi gadis yang sempurna untukmu.


Seharian itu Kinan mengajak Grace jalan jalan. Mereka berjalan dipinggir pantai. ke mall dan juga ketempat lainnya yan selalu membuat Grace tertawa lebih dari biasanya.


Hari itu mereka lalui seolah mereka tak bertengkar sebelumnya. Terlihat Kinan juga enggan untuk melepaskan genggamannya.


Malamnya Kinan mengajak Grace kesebuah restoran untuk makan malam. Sebelum duduk Grace melapas coat dan syalnya. Setelah duduk dihadapan Kinan, Kinan melihat tak ada lagi bekas dileher Grace. Kini kecantikan gadis itu tampak sempurna dimatanya.



Ditempat lain Juna juga sedang dalam perjalanan menuju sebuah restoran. Sonia sudah lebih dulu dan menunggunya disana.


Disepanjang jalan Juna terus teringat bagaimana Johana mendiaminya seharian karna hal tersebut.


"Maaf aku sedikit terlambat. "


Juna duduk dihadapan Sonia. Sonia tersenyum lebar karna Juna benar benar datang seorang diri dan dia terlihat sangat tampan.


"Tidak apa, aku juga baru. "


Setelah selesai makan malam Kinan pun mengantarkan grace kembali keruangannya.


"Kamarmu bagus, kau pasti betah."


"bagaimana aku bisa betah? "


"Kapan kau bisa bicara, ku harap saat sudah bisa bicara lagi kau takkan berubah menjadi gadis yang cerewet."


Ledek Kinan hingga Grace tertawa kecil. Kinan begitu senang melihat Grace menjadi ceria. Kinan lalu berjalan lebih dekat kehadapan Grace. Dia mengelus lembut pipinya dan menatapnya intens.


"Aku sangat merindukanmu Grace. "



Dengan memberanikan diri Kinan lebih mendekati Grace dan menciumnya sekilas. Mereka saling bertatapan sesaat sebelum akhirnya Kinan menarik Grace kedalam pelukannya sambil menciumnya lembut.


Aku sangat merindukanmu. Aku terlalu merindukanmu.


Grace berteriak dihatinya berharap Kinan akan mendengarnya. Grace mengaitkan kedua tangannya dileher Kinan dan membalas ciumannya itu.


Disisi lain, Johana membolak balikkan dirinya diatas tempat tidurnya. Sudah dua jam Juna pergi dan belum kembali membuat hatinya semakin tak karuan.


Johana lalu keluar dan duduk ditaman sendirian. Suster Rebeka kebetulan lewat dan mereka lihat Johana seperti sedang menangis disana.


"Kau baik baik saja? "


"Yah aku baik baik saja sus. "


Segera Johana menyeka airmatanya saat suster Rebeka berjalan mendekatinya dan duduk disampingnya.


"Kau berkelahi dengan Juna? Juna bilang kau mendiaminya seharian ini. "


"Aku kesal, dia memilih untuk pergi menemui gadis itu dan makan malam berdua walau dia tahu aku tak suka. "


"Kau cemburu? "


"Mungkin Juna mau membalasku. Dulu aku selalu mengabaikannya dan membuatnya cemburu. Dia mungkin ingin aku merasakannya. "


"Jangan bicara begitu. Juna sangat baik dan perduli padamu. "

__ADS_1


"Kalau dia perduli denganku dia takkan pergi dan membuatku cemburu begini. "


Johana tampak tak bisa menahan perasaannya. Airmatanya bercucuran begitu saja sekalipun dia selalu menyekanya. Suster Rebeka dengan sigap segera mengelus kepala Johana mencoba menghiburnya tapi Johana malah semakin terisak isak.


"Jo.... "



Terdengar suara Juna memanggil. Johana dan suster Rebeca lalu berdiri tapi tak lama Johana malah berlari meninggalkan tempat itu. Suster Rebeka memberi kode agar Juna mengejarnya.


Johana berniat masuk kekamarnya tapi tangannya sudah lebih dulu ditahan oleh Juna.


"Jo.... "


"Lepaskan aku, aku benci padamu. Apa kau sengaja membalasku agar aku patah hati? apa kau puas melihatku menagis begini? kau pergi menemuinya sekalipun kau tahu aku marah. "


"Aku memang sengaja pergi menemuinya. "



Johana terdiam, dia melihat tatapan Juna yang begitu serius seolah dia akan mengatakan kalau hubungan mereka akan berakhir dan Juna akan lebih memilih Sonia. Namun sebelum mendengar hal itu Johana segera menepis tangan Juna.


"Kau tak perlu mengatakannya, kalau kau ingin bersama dengannya aku tak apa. Pergilah... "


Johana segera membalik dan membuka pintu kamarnya namun sebelum berhasil menutupnya, Juna mengangkat tangan kananya dan menahan pintu itu.


"Aku memang sengaja pergi untuk meyakinkan diriku kalau kau memang mencintaiku. "


Johana terdiam, dia mendongkakkan kepalanya untuk bisa menatap Juna yang lebih tinggi darinya. Dia masih belum bisa mengartikan maksud dari perkataan Juna.


"Aku pergi agar aku bisa melihat bagaimana kau begitu terluka karna takut kehilanganku. Aku ingin memastikan kalau kau benar benar mencintaiku. "


Johana semakin tak bisa mengontrol air matanya yang rasanya tak mau berhenti mengalir membasahi kedua sisi pipinya. Juna lalu menarik kepala Johana untuk diapitkan kekeningnya.


"Menangislah karna kau mencintaiku, menangislah karna aku milikmu. "


Johana segera menghambur kepelukan Juna dan melepaskan keharuan dihatinya.


"Kau brengsek. Aku akan membalasmu. "


"Baiklah akan kutunggu balasanmu tapi kau juga harus siap menerima seranganku karna aku akan membalasmu juga. Aku akan membuatmu menyesal dan tak bisa meninggalkanku. "


Juna pun lalu melepas pelukannya dan meraih sebuah kotak kecil didalam saku celananya.


"Aku memang sengaja menemui Sonia karna aku ingin menanyakan dimana aku bisa membeli ini untukmu dan karna ini aku menjadi lama. "


"Kau membeli cincin? "


"Ehmm, saat aku sampai disana aku bingung. Semua terlihat cantik tapi saat pertama melihat cincin ini aku merasa tersentuh. Aku tak tahu apa kau akan suka atau tidak. "



Juna meraih tangan kanan Johana dan menatapnya dengan sedikit senyum.


"Jo, maukah kau menerimaku menjadi satu satunya lelaki dihatimu? aku sangat mencintaimu dan berjanji akan mencintaimu selamanya dihatiku. "


Johana yang begitu terharu lalu mengangguk. Juna tampak puas dan langsung memasangkan cincin itu dijari manis Johana.


"Aku mencintaimu, bidadariku. "

__ADS_1


Segera Juna berbisik ditelinga Johana dan menariknya untuk dipeluk erat.


__ADS_2